NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.Papah tau

Suasana di ruang keluarga mansion Diksara malam itu terasa sangat kontras. Di satu sisi, ada ketegangan abadi yang dipancarkan oleh Mamah Ratna; di sisi lain, ada kehangatan tersembunyi yang hanya diketahui oleh segelintir orang di rumah megah itu.

Sejak insiden di butik sore tadi—di mana Lea kembali berulah dan berhasil dilibas tuntas oleh Naya—Mamah Ratna meradang hebat. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak terima karena wanita pilihan kesayangannya dipermalukan di depan umum. Sepanjang jam makan malam tadi, Mamah Ratna tidak henti-hentinya melemparkan sindiran tajam berbalut tatapan maut ke arah Naya.

Namun, alih-alih ciut atau merasa kecil hati, Naya justru dengan sangat anggun menyantap makanannya sambil sesekali membalas dengan senyuman savage yang membuat Mamah Ratna kian naik pitam. Damar sendiri di ujung meja hanya bisa mengelus dada, merasa dirinya terjepit di antara ibu kandungnya yang keras kepala dan istri kontraknya yang punya mental sekuat baja.

Kini, selepas jam makan malam yang melelahkan itu selesai, Naya berjalan santai menuju taman belakang mansion untuk menghirup udara malam yang segar. Langkah kakinya terhenti sejenak saat ia melihat sosok Tuan Hendra—ayah Damar—sedang berdiri di dekat kolam ikan koi sambil menikmati cerutu dengan tenang.

"Malam, Pa," sapa Naya ramah, menghampiri pria paruh baya berwibawa itu.

Tuan Hendra menoleh, lalu tersenyum hangat. Garis wajah tegas yang biasanya ditakuti para mitra bisnis mendadak melunak seketika saat melihat kehadiran menantunya. "Ah, Naya. Sini, duduk sebentar sama Papah. Udara malam ini lumayan sejuk buat melepas penat."

Naya menurut, melangkah mendekat dan duduk di kursi rotan yang berada di sebelah sang mertua. Selama ini, Naya tahu betul bahwa di tengah gempuran ketidaksukaan Mamah Ratna yang tidak ada habisnya, Tuan Hendra adalah satu-satunya benteng pertahanan terkuatnya di keluarga besar Diksara.

"Papah tahu, Mamah kamu pasti tadi ngomel-ngomel lagi soal Lea pas makan malam," ucap Tuan Hendra membuka topik sambil terkekeh pelan, menebak isi kepala menantunya. "Jangan dimasukkan ke hati ya, Nak. Mamahmu itu memang keras kepala kalau soal gengsi, status sosial, dan standar pergaulan kaum sosialita."

Naya tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung sedikit pun. "Santai aja, Pa. Saya mah kebal. Kalau cuma sindiran halus ala sosialita kurang kerjaan, masih bisa saya handle pake senyuman manis."

Tuan Hendra tertawa renyah mendengar jawaban menantunya yang santai. Namun beberapa detik kemudian, sorot mata pria paruh baya itu mendadak berubah menyendu, dipenuhi oleh gelombang rasa terima kasih yang amat mendalam. Ia menatap Naya lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Naya... Papah tidak pernah salah memilihkan kamu untuk Damar," kata Tuan Hendra dengan suara berat yang terdengar sangat tulus dari lubuk hatinya. "Mungkin bagi orang lain, pernikahan kalian ini cuma kontrak bisnis atau keputusan strategis seperti yang Damar bilang ke media. Tapi bagi Papah... kehadiran kamu di rumah ini adalah berkah terbesar yang tidak ternilai harganya."

Naya mengerjap pelan, sedikit terusik rasa penasarannya. "Berkah, Pa? Padahal kan saya cuma istri bayaran buat nutupin gosip perusahaan Damar dari media."

Tuan Hendra mengembuskan asap cerutunya pelan ke udara malam, menerawang jauh mengingat masa lalu. "Kamu mungkin lupa, atau bahkan tidak tahu cerita lengkapnya, tapi Papah tidak akan pernah lupa. Delapan tahun lalu, sebelum perusahaan Papah hampir bangkrut total karena dikhianati oleh rekan bisnis terdekat, orang tuamu lah yang mempertaruhkan seluruh aset terakhir mereka untuk menyelamatkan Diksara Group dari kehancuran. Mendiang ayahmu adalah pahlawan terbesar dalam hidup Papah."

Naya terdiam. Ia memang tahu ayahnya dulu seorang pebisnis, tapi cerita mendalam soal penyelamatan Diksara Group di masa lalu tidak pernah dibahas secara detail semasa orang tuanya masih ada di dunia.

"Jadi, ketika Damar bilang dia butuh istri darurat untuk meredam gosip dan menyebut nama kamu..." lanjut Tuan Hendra tersenyum penuh arti, "Papah langsung mendesak Damar untuk segera mengambil keputusan itu tanpa berpikir dua kali. Bukan cuma buat menyelamatkan citra perusahaan, tapi karena Papah tahu, hanya gadis secerdas dan sekokoh kamu yang bisa meluluhkan hati anak saya yang super kaku itu. Utang budi keluarga kami ke keluarga kamu tidak akan pernah lunas, Naya."

Naya tersenyum hangat, hatinya berdesir pelan mendengar ketulusan sang mertua laki-laki yang begitu menghargai keluarganya. "Makasih banyak ya, Pa. Papah terlalu berlebihan muji saya. Padahal aslinya saya ini tukang bikin darah tinggi Mas Damar naik tiap hari."

"Hahaha! Bagus kalau begitu!" tawa Tuan Hendra pecah memenuhi taman belakang. "Damar itu memang butuh digebrak biar tidak terlalu kaku jadi manusia. Biar dia tahu rasa punya istri yang tidak bisa disetir!"

Tanpa mereka sadari, di balik pilar besar dekat pintu kaca taman belakang, Damar berdiri mematung mendengarkan seluruh percakapan antara ayah dan istrinya.

Pria itu mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Selama ini Damar mengira pernikahannya dengan Naya adalah murni keputusan taktis perusahaannya sendiri yang ia ambil secara mandiri. Mendengar fakta bahwa sang ayah ternyata sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari karena utang budi masa lalu membuat Damar menyadari satu hal yang mengejutkan: ia sudah masuk ke dalam perangkap takdir yang dirajut rapi oleh ayahnya sendiri.

Jadi... Papah dari awal memang sengaja menjodohkan aku sama Naya? batin Damar tercengang hebat, lalu melirik sekilas dari balik pilar ke arah Naya yang sedang tertawa lepas bersama ayahnya.

Sialan... kenapa jantungku malah berdegup kencang begini mendengar cerita itu? rutuk Damar dalam hati, merasa salah tingkah sendiri. Merasa tidak boleh ketahuan sedang menguping, Damar buru-buru berbalik melangkah pergi kembali ke kamar, meninggalkan malam yang semakin menyimpan banyak rahasia di antara mereka berdua.

Keesokan paginya, suasana di mansion Diksara kembali memanas, kali ini berpusat di ruang keluarga utama. Mamah Ratna tampak mondar-mandir dengan wajah tertekuk masam, memegang sebuah majalah bisnis terbaru yang memuat foto Damar dan Naya di sampul utamanya.

Begitu Naya menuruni anak tangga dengan santai mengenakan pakaian kasur rumahan yang longgar, Mamah Ratna langsung melotot tajam, melemparkan majalah itu ke atas meja marmer dengan bunyi benturan yang cukup keras.

"Naya! Berhenti kamu di situ!" bentak Mamah Ratna dengan suara tinggi penuh amarah tertahan.

Naya menghentikan langkahnya, mengangkat sebelah alisnya dengan santai tanpa rasa takut sedikit pun. "Kenapa lagi, Mah? Pagi-pagi udah hobi banget marah-marah. Nanti kerutan di wajahnya nambah lho, nanti dikira butuh botox berkali-kali lipat."

"Kamu jangan berani-berani menantang saya!" geram Mamah Ratna, menunjuk majalah di atas meja. "Kemarin kamu mempermalukan Lea di butik, dan sekarang apa lagi ini? Kamu pikir dengan menyingkirkan Lea, kamu bisa berpuas diri menjadi nyonya besar di rumah ini? Asal kamu tahu ya, sampai kapan pun saya tidak akan pernah merestui pernikahan kontrak kalian!"

Naya terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu duduk di sofa seberang Mamah Ratna dengan anggun. "Duh, Mah... restu itu kan opsional. Kalau dikasih puji Tuhan, kalau enggak dikasih ya selow aja. Toh dari awal saya menikah sama Mas Damar bukan buat cari restu Mamah, tapi karena emang ada 'keputusan strategis' yang saling menguntungkan di antara kita."

Mendengar kata-kata 'keputusan strategis' yang diucapkan Naya, wajah Mamah Ratna semakin memerah padam karena kesal. Sebelum Mamah Ratna sempat melontarkan makian balasan, sebuah suara bariton yang dingin dan tegas tiba-tiba memotong dari arah tangga.

"Ada apa ini pagi-pagi meributkan istri saya?"

Damar melangkah turun dengan setelan jas kerjanya yang sangat rapi. Aura dingin dan berwibawa langsung menguasai ruangan begitu sang CEO berdiri di samping Naya, menatap sang ibu dengan tatapan datar namun penuh peringatan.

Mamah Ratna terbelalak menatap putranya. "Damar! Kamu membela perempuan ini? Kamu tahu kan kalau dia sudah mengusir Lea secara tidak hormat kemarin?"

"Lea yang mencari masalah duluan, Ma," jawab Damar dingin tanpa celah. "Dan saya sudah memperingatkan Mamah berkali-kali untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga saya. Naya adalah istri sah saya di hadapan hukum dan keluarga. Sikap Mamah yang terus-terusan memaksakan wanita manipulatif seperti Lea sudah keterlaluan."

Mamah Ratna tertegun kaku, dadanya naik-turun menahan sesak melihat anak kandungnya sendiri berani membela wanita lain secara terang-terangan di hadapannya.

Naya melirik Damar dari samping. Ada rasa terkejut yang terselip di hatinya melihat sang suami berdiri membela dirinya di hadapan sang ibu mertua secara langsung. Meskipun Naya tahu Damar melakukannya demi menjaga wibawa keluarga, tetap saja tindakan itu membuat benteng pertahanannya sedikit bergetar.

"Sudahlah, Mah," lanjut Damar dengan nada final yang tidak bisa dibantah lagi. "Saya dan Naya akan berangkat ke kantor sekarang. Jangan buat keributan lagi di rumah ini."

Tanpa menunggu jawaban Mamah Ratna yang hampir pingsan karena darah tingginya naik, Damar langsung meraih tangan Naya, menggenggam pergelangan tangan istrinya dengan erat, lalu menariknya keluar mansion menuju mobil sport yang sudah terparkir di halaman.

Naya hanya bisa pasrah mengikuti langkah lebar Damar, sementara di dalam hatinya, ia sibuk merangkai kalimat savage baru untuk menghadapi hari-hari berikutnya di bawah atap keluarga Diksara.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!