Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin, bukan?" ucap Zela dengan suara rendah, dingin, dan menusuk, melangkah perlahan mendekati Freya yang masih tersungkur. "Apa kau benar-benar tidak mendengarkanku sama sekali?"
Mata Zela menyipit tajam, memancarkan kilatan kejam yang membuat para pelayan yang menyaksikan ketakutan setengah mati. Zela menunduk sedikit, menatap Freya dari atas ke bawah tanpa sedikit pun rasa iba.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak peduli jika sekalipun kau dilindungi oleh hukum atau status keluarga ini," desis Zela penuh penekanan. "Bagiku, kau itu tidak ada apa-apa nya!"
Freya yang sudah gelap mata oleh rasa malu, sakit, dan amarah meluap-luap, tiba-tiba membelalakkan matanya yang memerah. Dengan sisa tenaganya, ia meraih pisau pemotong buah yang tergeletak di meja samping dekat pecahan porselen.
"Mati kau, wanita sialan!" jerit Freya histeris seraya bangkit mendadak dan mengayunkan pisau tajam itu tepat ke arah dada Zela.
SRAK!
Refleks Zela luar biasa cepat. Ia memiringkan tubuhnya ke kanan, membiarkan mata pisau itu hanya menyayat udara kosong beberapa milimeter dari gaunnya. Sebelum Freya sempat menarik kembali tangannya, Zela mencengkeram pergelangan tangan Freya dengan sangat kuat, mencengkeramnya hingga pisau itu terlepas dan jatuh berdenting di lantai marmer.
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk meloloskan diri, Zela melingkarkan jemarinya yang kuat di cengkeraman rambut panjang Freya.
"ARGGHH!" pusing Freya menjerit kesakitan.
Zela menyentak kepala Freya ke belakang, lalu membenturkannya secara brutal ke tepi meja kayu jati yang tebal dan keras!
BAM!
"Ini untuk kau yang selama ini dari kecil membenci dan menjauhinya!" bentak Zela dengan emosi yang membara.
Darah segar langsung merembes dari dahi Freya, namun Zela tidak berhenti. Ia menarik rambut Freya kembali dan membenturkannya untuk kedua kalinya dengan tenaga yang lebih besar!
BAM!
"Ini untuk kau yang berani memfitnahnya sebagai pembunuh!" teriak Zela, matanya mengkilat penuh dominasi.
Suara jeritan Freya makin melemah, bercampur dengan erangan kesakitan. Zela menyentak kepala Freya sekali lagi dan menghantamkannya ke meja dengan dentuman yang memekakkan telinga.
BAM!
"Dan ini untuk kau yang berani menamparnya kemarin!" desis Zela tepat di depan wajah Freya yang kini dipenuhi lumuran darah. "Semuanya akan kuhitung satu per satu!"
Darah segar yang melimpah membasahi dahi, hidung, dan mengalir deras menetes ke lantai marmer putih mansion, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan. Tubuh Freya melemas total, matanya setengah terpejam meratapi rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.
para pelayan yang menyaksikan pertumpahan darah itu langsung histeris.
"Aaaaa! Nyonya! Cukup, Nyonya!" jerit para pelayan wanita seraya menutupi wajah mereka, sebagian berlarian ketakutan karena tidak pernah melihat Nyonya mereka bertindak se-sadis dan se-brutal ini.
Zela akhirnya melepas cengkeraman rambutnya. Tubuh Freya ambruk tak berdaya ke lantai seperti boneka kain yang rusak, mengerang lemah di tengah genangan darahnya sendiri. Zela berdiri menjulang, mengusap sedikit bercak darah yang menciprat ke tangannya dengan riak wajah sangat datar, seolah ia baru saja membereskan sampah.
Brak!
Pintu utama mansion terdorong lebar secara kasar. Tiga orang pengawal pribadi yang sengaja dibawa Freya dan menunggunya di luar akhirnya menerobos masuk setelah mendengar kegaduhan dan jeritan histeris pelayan.
Begitu melangkah ke ruang tamu, para pengawal itu membeku seketika. Mata mereka membelalak lebar melihat majikan mereka, Freya Deluca, tergeletak bersimbah darah di lantai, sementara Nyonya Zelara berdiri di sampingnya dengan wajah dingin tanpa penyesalan sedikit pun.
"N-Nyonya Freya!" pekik pengawal utama panik.
"Bawa wanita busuk ini pergi dari rumah suamiku," perintah Zela dingin, menunjuk tubuh Freya dengan dagunya. "Bawa dia ke rumah sakit sebelum dia mati kehabisan darah di lantai bersih ini. Dan bilang padanya, kalau dia berani datang lagi, aku yang akan mengantarnya langsung ke pemakaman."
Para pengawal Freya tidak berani membalas sepatah kata pun. Aura menakutkan yang dipancarkan Zela saat itu benar-benar mengintimidasi mereka. Dengan terburu-buru dan napas memburu panik, dua pengawal mengangkat tubuh Freya yang sudah setengah sadar, sementara satu lagi menekan luka di kepala Freya menggunakan kain. Mereka bergegas berlari keluar mansion untuk membawa Freya ke rumah sakit terdekat.
Ruang tamu kini kembali hening. Hanya tersisa genangan darah dan pecahan porselen di lantai, serta para pelayan yang masih berdiri gemetar menatap Zela dengan tatapan penuh rasa takut dan hormat yang belum pernah ada sebelumnya.
Di kantor eksekutif Deluca Corp, Rian melangkah terburu-buru memasuki ruang kerja Bashkar. Wajah asisten pribadinya yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini tampak sedikit tegang.
"Tuan," panggil Rian dengan nada tegas. "Nyonya Zelara baru saja membuat Nyonya Freya dilarang keras berbuat ulah lagi... Nyonya Zelara menghajarnya di mansion hingga Nyonya Freya harus dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan hebat di kepala."
Bashkar yang sedang meneliti berkas di mejanya seketika menghentikan pergerakan pulpennya. Pria itu diam. Tidak ada guncangan emosi atau kepanikan di wajahnya, hanya keheningan membekukan yang memenuhi ruangan. Mata kelabunya berkilat tajam menyimak setiap laporan Rian.
Setelah beberapa detik dalam hening yang mencekam, Bashkar berdiri dari kursinya.
"Ke rumah sakit sekarang," perintah Bashkar singkat dan dingin.
Suasana koridor VIP Rumah Sakit Deluca terasa begitu sepi dan steril. Di balik dinding kaca ruang perawatan intensif, Freya terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Kepalanya terbalut perban putih tebal dengan selang infus melilit di tangannya.
Bashkar berdiri di depan kaca besar tersebut, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya menatap datar pada sosok kakak perempuannya yang tak berdaya itu. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa iba, maupun rasa puas di manik matanya. Bagi Bashkar, Freya hanyalah bagian dari penderitaan masa lalu yang tak pernah selesai membayangi hidupnya.
Langkah kaki pelan beritme santai terdengar mendekat dari ujung koridor.
Zela melangkah mendekat dengan gaun kasualnya yang bersih, hanya bermaksud ingin memastikan apakah wanita arogan itu masih bernapas atau tidak. Namun, langkah Zela terhenti saat mendapati sosok tinggi tegap suaminya berdiri di sana.
Mendengar pergerakan di belakangnya, Bashkar berbalik perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Zela, aura intimidasi yang amat pekat terpancar dari tubuhnya. Tanpa aba-aba, Bashkar mengikis jarak di antara mereka dalam dua langkah lebar.
SREK!
Cengkeraman kuat dan dingin dari jemari Bashkar mendadak mendarat di dagu Zela, memaksa wajah cantik wanita itu terangkat menatap tepat ke manik mata kelabunya yang tajam bagai sembilu.
"Bisakah kau berhenti bermain-main, Zelara?" desis Bashkar dengan suara rendah yang menakutkan, menekan dagu Zela cukup kuat hingga mengunci geraknya. "Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan dengan bertindak sebrutal ini pada Freya?"
Ditatap dari jarak yang sangat dekat dengan dagu tercekik cengkeraman sang suami mafia, Zela sama sekali tidak memancarkan rasa takut. Malah, senyum manis dan menggoda terukir indah di bibirnya.
Zela sengaja memiringkan kepalanya sedikit, menatap mata Bashkar dengan binar jenaka yang diwarnai raut manja yang sangat kentara.
"Main-main gimana maksud kamu, Sayang?" sahut Zela dengan suara lembut nan manja, sengaja memanjangkan nada bicaranya.
Bashkar menyipitkan matanya, mengencangkan rahangnya melihat kepura-puraan istrinya yang terlewat santai.
"Kau membenturkan kepalanya ke meja hingga dia kritis di dalam sana," tegas Bashkar dingin.
"Aduh, Sayang... kamu salah paham deh," goda Zela seraya mengulurkan kedua tangannya, melingkarkan jemari lentiknya secara lancah di pinggang kokoh Bashkar meski dagunya masih ditahan. Zela menyandarkan dada rampingnya ke dada bidang suaminya. "Kakak ipar itu cuma agak kurang keseimbangan aja tadi. Dia cuma terjatuh, terus kepalanya kebentur meja... tiga kali. Aku kan cuma mau bantu dia ngingat bersikap sopan sama kamu!"
Zela mengedipkan matanya polos, memasang wajah tanpa dosa yang sangat menggemaskan di depan wajah kaku Bashkar.
"Lagian, masa kamu lebih belain cewek yang kemarin nabok pipi ganteng kamu ini sih daripada istri kamu yang imut ini?" bisik Zela lagi, menepuk-nepuk dada Bashkar pelan dengan nada merajuk yang dibuat-buat. "Harusnya kamu kasih aku hadiah tau, bukan malah galak-galak melintir dagu istri begini. Sakit tau, Mas..."