Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Kamu itu sudah tiga puluh dua tahun. Kapan kamu menikah. Kekasih saja kamu tak punya, jadi tak usah sok beralasan kamu menolak perjodohan ini! Mau jadi perawan tua?."
Wanita paruh baya yang duduk di hadapan Nadia itu berbicara dengan nada sinis. Dialah Mayang, ibunda Nadia, yang sejak tadi terus mendesaknya untuk menerima perjodohan.
Nadia hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah hafal betul bagaimana ibunya akan terus mengungkit usianya setiap kali membicarakan pernikahan.
"Tiga puluh dua itu belum tua Bu, banyak wanita di luar sana yang lebih dari umur segitu belum nikah." jawab Nadia dengan nada tenang. “Aku juga masih nyaman menikmati masa lajangku.”
“Lagi pula, bukannya mereka melamar Vanya, Bu? Waktu itu mereka datang dan menanyakan Vanya, kan? Bukan aku.”
Vanya yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut angkat bicara. Wajahnya tampak kesal mendengar pembicaraan itu.
“Aku juga nggak mau, Bu!” serunya dengan nada tinggi. “Aku ini seorang perawat dan aku sudah punya pacar. Pacarku juga seorang tentara. Kalau aku menikah dengan orang lain, mau dikemanakan pacarku?”
Nadia melirik adiknya sekilas. Ia sebenarnya ingin tertawa mendengar alasan Vanya, tetapi situasi di hadapannya sama sekali tidak memungkinkan.
“Aku juga nggak mau menikah dengan duda,” lanjut Vanya tanpa ragu. “Susah-susah aku sekolah sampai jadi perawat, masa akhirnya dapat duda? Apalagi kalau sudah punya anak. Aku nggak mau, Bu!”
Mayang mengangguk setuju. “Betul apa kata adikmu, Nadia. Ibu sudah mati-matian menyekolahkan Vanya sampai sarjana. Masa setelah lulus, dia malah mendapatkan duda?”
Nadia yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya terdiam beberapa saat. Kalimat ibunya terasa begitu menyesakkan.
“Bu...” suara Nadia terdengar lebih pelan. “Bukannya biaya sekolah Vanya dari SMA sampai sarjana itu sebagian besar aku yang bayar?”
Mayang terdiam terdiam sejenak. Lidahnya kaku untuk menjawab fakta yang begitu terang.
Nadia menatap ibunya dengan senyum tipis yang menyimpan kepahitan. “Aku juga dulu mau kuliah, Bu. Aku bahkan sudah punya rencana untuk kuliah sambil bekerja. Aku juga mendapatkan beasiswa.”
Nadia menarik napas panjang, berusaha menahan perasaan yang perlahan kembali memenuhi dadanya.
“Tapi waktu itu Ibu bilang aku lebih baik bekerja saja supaya bisa membantu keuangan keluarga. Ibu bilang, Vanya masih sekolah dan membutuhkan biaya. Jadi aku mengalah.”
“Dan sekarang Ibu malah mengungkit-ungkit Vanya yang sudah sarjana seolah-olah Ibu sendirian yang membiayai pendidikannya.”
Suasana mendadak hening. Mayang maupun Vanya hanya bisa menyimak dengan diam. Tapi di pikiran mayang sudah menyiapkan kata-kata.
Nadia menunduk. Ada luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat, tetapi kini kembali terbuka hanya karena satu percakapan.
“Aku nggak pernah menyesal membantu Vanya, Bu,” lanjutnya lirih. “Aku senang bisa melihat adikku sekolah tinggi. Aku senang ketika akhirnya dia bisa memakai toga dan mendapatkan gelar sarjana.”
Ia tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi kadang aku juga bertanya-tanya... bagaimana kalau waktu itu aku sedikit saja membangkang?”
Nadia menelan ludah.
“Bagaimana kalau waktu itu aku tetap memilih kuliah sambil bekerja? Mungkin sekarang aku juga sudah menjadi sarjana.” Dadanya terasa semakin sesak.
“Padahal waktu itu aku sudah mendapatkan beasiswa. Tinggal satu langkah lagi untuk mewujudkan keinginanku. Tapi aku memilih mundur demi keluarga.” Nadia mengusap sudut matanya sebelum air mata benar-benar jatuh.
“Jadi, Bu... jangan jadikan pendidikan Vanya sebagai alasan untuk mengatakan Ibu sudah berkorban begitu banyak untuknya. Karena kalau bicara soal pengorbanan, aku juga kehilangan banyak hal demi keluarga ini.”
Kata-kata terakhir itu membuat Nadia terdiam. pertama kalinya, ia berani mengungkapkan luka yang selama bertahun-tahun hanya ia simpan seorang diri.
Mayang jelas tidak terima. Wajahnya memerah, matanya menatap Nadia penuh kemarahan. “Kamu pikir Ibu juga tidak berkorban untuk keluarga ini?” bentaknya.
“Bapakmu meninggal, siapa yang menggantikan beliau mencari nafkah? Ibu, Nadia! Bukan kamu saja yang bekerja. Ibu juga banting tulang ke sana kemari supaya kalian bisa hidup. Supaya kalian tetap bisa makan, sekolah, dan punya kehidupan yang layak!”
Nadia terdiam sesaat. Namun, rasa sakit yang selama ini dipendam membuatnya tidak mampu lagi menahan diri. “Tapi di keluarga ini, aku yang paling dirugikan, Bu.”
Suaranya bergetar. “Aku yang paling banyak kehilangan. Ibu selalu membanding-bandingkan aku dengan Vanya. Dulu aku juga pernah ingin menikah. Tapi kenapa pernikahan itu tidak jadi?”
Nadia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Karena Ibu melarangku. Ibu bilang aku belum mapan. Ibu bilang aku masih terlalu muda dan harus membantu keluarga lebih dulu. Aku nurut, Bu. Aku membatalkan rencana pernikahanku dan memilih bekerja.”
Nadia tertawa hambar. “Setelah itu aku mati-matian bekerja untuk keluarga. Aku bantu bayar kebutuhan rumah, aku biayai sekolah Vanya, bahkan aku mengubur keinginanku sendiri untuk kuliah.”
Ia mengusap air mata yang mulai menggenang. “Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun aku melakukan semua itu, kalian malah tega menumbalkan aku.”
“Menumbalkan?” ulang Mayang.
“Iya.” Nadia mengangguk. “Aku diminta menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak kukenal. Seorang duda yang sudah punya anak. Hanya karena menurut Ibu aku sudah tiga puluh dua tahun dan tidak punya pasangan.”
Vanya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. “Lagian, aku juga nggak pernah menyuruh Kak Nadia bekerja untukku.”
Nadia menoleh tak percaya mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir adiknya.
“Aku nggak pernah menyuruh Kakak membayar sekolahku. Kakak sendiri yang mau. Kakak sendiri yang dengan senang hati melakukannya.”
Mayang mengangguk seolah perkataan Vanya membenarkan dirinya. “Nah, dengar itu?”
Nadia menatap adiknya dengan tatapan kecewa. “Vanya...”
“Aku tidak pernah minta semua itu, Kak.”
Nadia menghela napas panjang. “Aku melakukan semua itu supaya kamu bisa hidup lebih layak, Dek.”Suaranya semakin lirih.
“Supaya kamu bisa sekolah sampai selesai. Supaya kamu bisa memakai toga dan merasakan bangga atas pencapaianmu. Supaya kamu tidak berakhir seperti kakakmu ini.”
Vanya hanya diam. Tapi matanya memutar malas, tanda dia jengkel dengan ceramah yang di ucapkan Nadia.
“Aku ingin kamu punya sesuatu yang dulu tidak bisa kudapatkan,” lanjut Nadia. “Aku ingin melihat kamu berhasil. Aku tidak pernah menyesal soal itu.”
Ia menggeleng pelan. “Tapi ternyata semua pengorbananku tidak pernah cukup.”
“Nadia...” suara Mayang mulai melemah.
Nadia berdiri dari tempat duduknya.Wajahnya sudah tidak lagi menunjukkan kemarahan. Justru ketenangan yang muncul membuat Mayang dan Vanya merasa aneh.
Nadia akhirnya sadar. Selama ini, ia terus berharap keluarganya akan memahami pengorbanannya. Berharap suatu hari mereka akan mengerti bahwa ia juga punya mimpi dan kehidupan yang ingin dijalani.
Namun, mungkin ia memang tidak akan pernah mendapatkannya dari rumah ini.
“Oke.”
Mayang mengerutkan kening. “Oke apa?”
Nadia menarik napas panjang sebelum menjawab. “Kapan aku bisa bertemu dengan calon suamiku?”
Mayang terdiam.Vanya juga menatap Nadia dengan mata membulat.
“Aku terima perjodohan ini.”
“Nadia, kamu serius?” tanya Mayang tak percaya.
Nadia mengangguk. “Serius.”
Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. “Anggap saja perjodohan ini sebagai jalan keluar untukku.”
Nadia menatap ibunya dan Vanya bergantian. “Selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga ini. Tapi kalau pada akhirnya aku tetap dianggap tidak tahu berterima kasih, mungkin sudah waktunya aku berhenti berharap.”
Ia mengambil tasnya dari sofa. “Kalau laki-laki itu bersedia menikah denganku, aku akan menerimanya.”
Nadia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak.
“Setidaknya, setelah menikah nanti, aku tidak perlu lagi merasa berutang kepada keluarga yang bahkan tidak pernah menganggap pengorbananku berarti.”
Setelah mengatakan itu, Nadia pergi meninggalkan ruang tengah.