NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Mendadak Jadi Ibu Tiri Putra CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / CEO / Orang Disabilitas / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kinara, seorang gadis berusia 24 tahun, baru saja kehilangan segalanya, rumah, keluarga, dan masa depan yang ia impikan. Diusir ibu tiri setelah ayahnya meninggal, Kinara terpaksa tinggal di panti asuhan sampai akhirnya ia harus pergi karena usia. Tanpa tempat tujuan dan tanpa keluarga, ia hanya berharap bisa menemukan kontrakan kecil untuk memulai hidup baru. Namun takdir memberinya kejutan paling tak terduga.

Di sebuah perumahan elit, Kinara tanpa sengaja menolong seorang bocah yang sedang dibully. Bocah itu menangis histeris, tiba-tiba memanggilnya “Mommy”, dan menuduhnya hendak membuangnya, hingga warga sekitar salah paham dan menekan Kinara untuk mengakui sang anak. Terpojok, Kinara terpaksa menyetujui permintaan bocah itu, Aska, putra satu-satunya dari seorang CEO muda ternama, Arman Pramudya.

Akankah, Kinara setuju dengan permainan Aksa menjadikannya ibu tiri atau Kinara akan menolak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Sekitar pukul 17.30, gerbang rumah terbuka perlahan. Kinara baru saja melangkah ke teras ketika sesuatu yang kecil dan hangat menghantam perutnya.

“Mommy!”

Aksa memeluknya erat, begitu kuat seolah takut Kinara menghilang lagi. Bocah itu langsung mengoceh tanpa jeda,

“Mommy kerja lamaaa … Aksa nggak bisa lihat Mommy, nggak bisa main … Daddy juga sekarang paksa Aksa ikut les…”

Kinara tertawa kecil, mengusap rambut Aksa dengan penuh rindu. “Maaf ya, Sayang. Besok Mommy pulang lebih cepat.”

Langkah kaki pelan terdengar. Nyonya Ratna keluar dari dalam rumah, tatapannya tenang namun mengamati.

“Selamat sore, Kinara,” sapanya dingin tapi sopan.

“Sore, Nyonya,” balas Kinara menunduk hormat.

Tiba-tiba terdengar suara deheman pelan dari arah belakang. Aura udara langsung berubah. Pria itu duduk di kursi rodanya, didorong oleh Rudi. Tatapannya jatuh pada Kinara, sekilas saja dan lalu berpindah ke arah lain.

“Rudi,” kata Arman pelan namun tegas, “biar Kinara yang mendorong kursi rodaku ke garasi.”

Semua orang terdiam.

Rudi jelas terkejut, Aksa mengedipkan mata bingung. Bahkan Ratna sedikit mengangkat alisnya. Padahal Rudi masih berdiri di sana.

Kinara sendiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia menatap Rudi sejenak, lalu mendekat ke belakang kursi roda Arman dan mulai mendorongnya.

Garasi terbuka otomatis.

Dan di sanalah, sebuah mobil merah metalik berkilau di bawah lampu putih. Desainnya elegan, modern, dan sangat sempurna.

Kinara terdiam, matanya membesar, lalu berbinar tanpa bisa disembunyikan.

“Itu…” suaranya nyaris bergetar.

“Aku memilih yang matic,” kata Arman datar. “Supaya mudah kamu pakai.”

Jantung Kinara berdegup cepat. Mobil itu, mobil impiannya sejak dulu. Ia menelan ludah, menahan emosi yang tiba-tiba naik.

“Terima kasih…” ucapnya lirih, tulus.

Arman menoleh. “Ayo di coba dulu,”

Kinara melangkah mendekat, menyentuh bodi mobil dengan hati-hati seolah takut ini hanya mimpi. Lalu, dengan spontan sebuah refleks penuh hormat dan kebahagiaan ia menoleh pada Arman.

“Mau … ikut duduk di dalam?” tawarnya lembut. “Sebelah aku.”

Sekejap, kening Arman mengerut. Ada sesuatu di matanya, bayangan lama, ketegangan yang cepat disembunyikan. Tangannya menegang di sandaran kursi roda.

“Aku tidak ikut,” jawabnya singkat.

Aksa yang sejak tadi memperhatikan langsung menyela, “Daddy ikut dong! Aksa juga mau ikut!”

Arman menoleh ke anaknya. Tatapan kecil itu penuh harap tanpa rasa takut, tanpa beban.

Hening beberapa detik. Akhirnya Arman menghela napas pendek.

“Baik.”

Wajah Aksa langsung bersinar. Kinara tersenyum lebar dan kali ini tak bisa ditahan.

Rudi membantu memindahkan Arman ke kursi penumpang depan. Aksa duduk di belakang dengan wajah paling bahagia di dunia.

Kinara duduk di balik kemudi. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakan mesin. Mobil itu melaju pelan keluar garasi dan tanpa disadari siapa pun, itu bukan hanya mobil baru yang mulai berjalan. Tapi sebuah perjalanan, yang perlahan tanpa izin, mulai menyentuh hati Arman Pramudya.

Ratna masih berdiri di ambang garasi, matanya mengikuti mobil merah metalik itu hingga benar-benar menghilang di tikungan. Ada sesuatu yang jarang muncul di wajahnya sebuah raut pikir yang dalam, bercampur harap dan kekhawatiran.

Rudi berdiri di sampingnya, sama-sama terdiam.

“Rudi,” ujar Ratna akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Kau melihatnya sendiri.”

Rudi menoleh hormat. “Iya, Nyonya.”

“Kinara … dia wanita yang terlihat begitu tulus,” lanjut Ratna. “Cara dia memperlakukan Arman bukan dibuat-buat. Tidak ada ambisi, tidak ada kepentingan.” Ratna menghela napas pelan. “Aku hanya berharap satu hal.”

Rudi menunggu.

“Semoga Amira tidak kembali mengusik Arman,” ucap Ratna lirih, namun sarat luka lama. “Kepergian perempuan itu … sudah cukup menghancurkan hidup Arman. Aku tidak ingin bayangannya kembali menyeretnya jatuh.”

Rudi mengangguk pelan. “Saya mengerti, Nyonya.”

Dia lalu menambahkan dengan nada yakin, “Kinara berasal dari keluarga terpandang juga. Pendidikan dan lingkungannya baik. Hanya saja … hidupnya seperti cerita Cinderella. Segalanya direnggut darinya, satu per satu, tanpa pernah ia minta.”

Ratna menoleh, menatap Rudi sejenak. Ada keheningan singkat di antara mereka.

“Mungkin,” gumam Ratna, “justru karena itu Tuhan mengirimnya ke Arman.”

Rudi menunduk. “Semoga begitu, Nyonya.”

Di kejauhan, suara mesin mobil makin menjauh, sementara di dalam rumah besar itu, harapan kecil mulai tumbuh, pelan tapi nyata.

Aksa duduk manis di kursi belakang, kakinya bergoyang-goyang kecil sambil terus mengoceh tentang sekolah, tentang gambar yang ia buat hari ini, tentang betapa ia senang karena bisa ikut naik mobil baru bersama Mommy dan Daddy. Suaranya riang, polos, mengisi kabin dengan kehangatan yang jarang Arman rasakan.

Kinara menyetir dengan hati-hati. Tangannya mantap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Namun di sebuah tikungan, semuanya berubah dalam hitungan detik. Sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba menyalip dengan brutal, terlalu dekat, terlalu cepat.

“Hentikan!” teriak Arman keras, suaranya pecah oleh kepanikan. Teriakan itu hampir membuat Kinara kehilangan konsentrasi. Jantungnya berdegup kencang, tapi reflek tubuhnya jauh lebih cepat, ia membanting setir ke arah aman, menginjak rem, lalu menepi dengan jarak tipis dari tabrakan yang nyaris tak terelakkan.

Mobil berhenti, sunyi di dalamnya, hanya suara napas yang terengah terdengar dari kursi depan.

Kinara menoleh. Wajah Arman pucat, rahangnya mengeras, kedua matanya terpejam erat seolah sedang bertarung dengan sesuatu yang tak terlihat. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan.

Saat itulah Kinara mengerti, bukan sekadar takut, bukan sekadar tidak suka keluar rumah. Trauma Arman ada pada mobil. Dengan lembut, nyaris berbisik, Kinara bertanya, “Pak Arman … kamu baik-baik saja?”

Tidak ada jawaban, tanpa banyak berpikir, Kinara melepaskan sabuk pengamannya dan meraih tangan Arman, menggenggamnya hangat, berusaha menyalurkan ketenangan. Refleks Arman begitu spontan, ia langsung menarik Kinara ke dalam pelukannya, memeluknya erat, seolah Kinara adalah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap waras. Kedua matanya masih terpejam, lengannya gemetar, namun pelukannya kuat terlalu kuat untuk seseorang yang ketakutan.

Kinara membiarkannya.

Ia tidak menarik diri. Tidak bertanya, dan bahkan tidak panik. Ia hanya diam, menepuk punggung Arman pelan, membiarkan detak jantung pria itu perlahan menyesuaikan dengan miliknya.

Di kursi belakang, Aksa memperhatikan pemandangan itu dengan senyum kecil. Ia tidak mengerti apa yang membuat Daddynya begitu takut. Yang ia tahu, Daddy memeluk Mommy dan Mommy tidak menolak.

Bagi Aksa, itu sudah lebih dari cukup.

Mobil itu akhirnya tetap diam di tepi jalan, sementara di dalamnya dua orang dewasa yang sama-sama terluka sedang belajar, tanpa kata, bagaimana saling menenangkan.

Beberapa menit berlalu hingga napas Arman mulai teratur. Tubuhnya tak lagi menegang. Perlahan, pelukannya mengendur lalu benar-benar terlepas. Kinara baru saja hendak bertanya lagi ketika suara Arman memecah keheningan.

“Kamu itu kalau nyetir pakai otak!” bentaknya tajam. “Tidak lihat jalan? Hampir celaka!”

Kinara terdiam, matanya menatap lurus ke depan, jemarinya masih menggenggam kemudi. Jelas-jelas mobil lain yang menyalip sembarangan. Jelas-jelas ia sudah menyelamatkan mereka semua.

“Putar balik. Pulang sekarang,” lanjut Arman dingin, seolah insiden barusan sepenuhnya kesalahan Kinara. Dari kursi belakang, Aksa langsung menyela, suaranya kecil tapi tegas.

“Daddy jangan marahin Mommy. Tadi mobil itu yang jahat, Mommy sudah hebat…”

“Aksa!” bentak Arman, membuat bocah itu terlonjak dan langsung terdiam.

Itu titik terakhir, Kinara menoleh cepat, matanya menyala marah.

“Cukup, Pak Arman,” suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi. “Jangan bentak Aksa. Dan jangan salahkan saya untuk sesuatu yang jelas-jelas bukan kesalahan saya.”

Arman terdiam.

“Kalau Bapak takut naik mobil, bilang. Saya akan mengerti,” lanjut Kinara, kini menatap Arman tanpa gentar. “Tapi melampiaskan ketakutan Bapak ke saya dan Aksa itu tidak adil.”

Arman tidak menjawab, tidak membela diri. Tidak membentak balik. Rahangnya mengeras, matanya memalingkan wajah ke jendela.

Kinara menghela napas kasar, lalu menyalakan kembali mobil dan memutar arah, membawa mereka pulang dengan jarak yang kini terasa lebih dingin, meski mereka duduk begitu dekat.

Kinara melirik Arman sekilas dengan mata tak berkedip, pria itu duduk dalam diam dengan tangan yang masih gemetar.

1
Lies Atikah
ah jadi geuleuh ka si Arman kayanya dia menik mati juga bukti nya sama2 telan jank pura2 nyesel tapi gak marah sama si jalang nya . gak ada nelakukan apa2
Lies Atikah
si Arman juga menikmati bukti nya di pegang dan di peluk kamu diam dsar tikus got
Sri Peni
cerita yg bagus , logika ada itu yg paling aq suka
Ummee
cobaan apa lagi?
Lies Atikah
semoga Arman dan Kinara lebih peka dan pintar menghadapi si gatel mira dan si bodoh bagas yang mau aja di bohongi dasar laki pecundang otak udang
Lies Atikah
itu kan bukan kesalahan Arman dia hanya berusaha menyelamat kan diri kenapa si kinara benci sama Arman jangan bodoh mikir yang waras jangan bedegong yang jahat nya siapa yang di benci nya siapa . jelas2 si widia pakta nya ah au ah jadi geuleuh
Lies Atikah
mak lampir baru nyadar lantas selama ini kemana saja euyyyy
Sri Afrilinda
🤣🤣🤣🤣
Dinatha
menurutku malah Kinara egois..
bukankah Rudi sudah jelaskan detail termasuk alasan suaminya menempuh jalur itu.
tidak memberi tau bukan berarti khianat atau apapun..
ada yg harus diberi tau dan ada yg tidak dengan alasan kebaikan. apalagi wanita hamil.
Pengaruh kehamilan... it's oke.
jutaan wanita hamil di dunia ini. mereka bisa negatif thinking, egois juga..
tapi semua itu kalah dengan akal bersih...
kehamilan hanya merubah mood tapi tidak mengakibatkan kebodohan..
sebaiknya ini menjadi pemahaman dan pembelajaran..
terutama yg muslim.. makanya Islam menganjurkan wanita hamil memperbanyak ibadah.. terutama baca Al-Qur'an
Dinatha
iya sihh..
Author tegaan.. sakit mental kok di borgol.. tega banget 😔
di pasung aja Napa?🫣🫣🫣😁
Dinatha
Dan karena pertemuan pandangan itu mereka jatuh cinta.
cerita Tamat..
ehhh.. kabur ah.. sebelum author ngamuk 🏃🏃🏃🏃🫣🫣😁
Dinatha: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Dinatha
Jangan jangan Amira bukan keponakan..
tapi anak kandung sendiri Atika sebelum menikah dengan papa Rome🫣🫣😁😁
mungkin lhooo 😁😁..
jangan dihujat... kirim saya THR saja 🤣
Sri Peni
wl hny cerita tp logika hrs tetep ada. contoh kl settingnya seklh TK guru hrs tetep ada di ruang. sehngga tdk terjd cerita yg msk akal🙏
Dinatha
Ahhh...
seandainya Keahlian Rudi bisa berlaku di polisi Kanoha 🤣
Dinatha
mungkin Pelampung lebih cocok Thor..
atau sekoci tempat dia bertahan hidup..
kalau jangkar kan emang untuk ditenggelamkan..
maaf jika salah 🙏
mimief
dasar ibu ga punya hati nurani
ngorbanin calon anaknya karena ambisi dan drama ga mutu 🥹🥹
Dinatha
Saran Thor
Sebaiknya lain x gunakan istilah "Ibu Sambung" itu lebih terdengar bersahabat dan menyentuh daripada Ibu Tiri, walaupun maknanya sama..
Dinatha: maafkan Thor.
bukan menggurui.. cuma saran
sukses selalu 🙏
total 2 replies
Lies Atikah
kaya nya Rome lebih baik dari pada si batu Arman yang munafik dan sombong
say't
aduh jngn2 istrinya sair ni si kartika nih 🤣
say't
nah ini kesempatan kartika nih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!