NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Larissa, Bram dan Vera

Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak pagi menjadi latar belakang yang sempurna bagi kelabu yang menyelimuti hati Larissa. Butiran air yang menghantam kaca jendela mobil taksi yang ditumpanginya terdengar seperti detak genderang perang yang kian mendekat.

Di dalam tasnya tersimpan sebuah map biru berisi surat gugatan cerai dan dokumen vonis medis dari Rumah Sakit Medika Kirana yang telah meremukkan seluruh harapan hidupnya.

Dia tidak lagi menangis, air matanya telah mengering sejak ancaman telepon dari Bram kemarin siang. Tatapan matanya yang dulu selalu menyiratkan ketakutan dan kepatuhan kini berubah menjadi sepasang manik mata yang dingin menahan luka.

Vonis dokter bahwa rahimnya rusak permanen telah menghancurkan jiwanya, membuatnya merasa bahwa takdir sedang mengutuknya akibat kebohongan yang dia buat sendiri dua tahun lalu demi melindungi aib kemandulan Bram.

Namun, ancaman Bram yang ingin menyebarkan rekam medisnya dan mengusirnya begitu saja tanpa sepeser pun harta gono-gini telah menyalakan pemantik lain di dalam dirinya. Dia menolak menjadi pihak yang bersalah dan diinjak-injak begitu saja.

Taksi berhenti tepat di lobi utama Baskoro Konstruksi. Dia melangkah turun mengabaikan cipratan air hujan yang membasahi ujung blus pastelnya.

Dia berjalan melewati meja resepsionis dengan dagu terangkat tegap. Langkah kakinya terdengar tegas saat memasuki lift khusus direksi dan menekan tombol angka tujuh.

Dia datang bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk mengembalikan berkas itu langsung ke tangan Bram sebagai bentuk penolakan atas klausul cerai yang kejam itu.

Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, Larissa melangkah menyusuri koridor berlantai karpet menuju ruangan suaminya. Dia mendorong pintu kaca buram ruangan kerja Bram yang tidak terkunci.

Namun sosok yang dicarinya tidak ada di balik meja, hanya ada satu orang di dalam ruangan.

Orang itu adalah Vera, wanita itu sedang berdiri di dekat dispenser menyeduh secangkir kopi hitam. Mendengar suara pintu terbuka, Vera menoleh.

Senyuman manis yang biasa dia pamerkan di depan Bram seketika lenyap begitu melihat siapa yang datang. Wajahnya berubah menjadi datar.

"Oh, Ibu Larissa," sapa Vera, suaranya tidak lagi mendayu manja, melainkan terdengar tajam dan dingin.

Dia meletakkan cangkir kopinya lalu berjalan mendekat dengan langkah yang anggun namun mengintimidasi. "Pak Bram sedang turun ke lantai bawah untuk meninjau laporan keuangan bersama tim auditor. Ada yang bisa saya bantu?"

Larissa melangkah tegas, lalu melempar map yang dia bawa ke atas meja kerja Bram dengan ketukan yang keras. Map itu sedikit terbuka, memperlihatkan lembaran kertas gugatan cerai yang pada kolom tanda tangannya masih bersih tanpa ada goresan pena sedikit pun.

"Aku ke sini untuk menemui suamiku, dan mengembalikan berkas sampah ini langsung ke wajahnya," ujar Larissa dingin. Tatapan matanya lurus menatap lekat-lekat pada kalung berlian yang berkilau di leher jenjang Vera.

Vera melirik map yang masih kosong tanpa tanda tangan tersebut lalu terkekeh pelan. Sebuah tawa meremehkan yang sangat menyengat telinga. Dia melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa jengkal. Topeng ramahnya telah tanggal sepenuhnya di depan Larissa.

"Suami?" Vera berbisik, nadanya mengejek dengan sangat kejam. Dia condong ke depan, menatap tepat ke dalam mata Larissa dengan tatapan yang sarat akan kemenangan.

"Ibu Larissa, apakah kamu tidak punya cermin di rumah? Status 'suami' itu sebentar lagi akan tanggal. Wanita mandul sepertimu harusnya tahu diri."

Dada Larissa berdenyut perih mendengar kata "mandul" dilemparkan begitu saja oleh wanita selingkuhan suaminya. Tapi dia tetap mencoba menahan diri, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.

"Pak Bram berhak mendapatkan wanita yang bisa memberikan penerus bagi kekayaan Baskoro, bukan wanita dengan rahim kering dan mati seperti kamu," lanjut Vera, kata-katanya semakin brutal dan sengaja dirancang untuk menghancurkan mental Larissa.

"Seharusnya kamu bersyukur Pak Bram masih berbaik hati tidak menuntutmu ke polisi atas penipuan fisik ini selama lima tahun. Keluar dari sini, tempatmu bukan lagi di samping pria perkasa seperti dia."

"Jaga mulutmu, Vera!" Suara Larissa meninggi, emosinya yang sejak kemarin dipendam kini mulai tersulut oleh kelancangan wanita di hadapannya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang pernikahan kami! Kamu hanya seorang wanita murahan yang merangkak naik ke meja kerja bosnya dengan menjual tubuh!"

Wajah Vera seketika mengeras mendengar kata "murahan". Namun sebelum Vera sempat membalas, telinga tajamnya menangkap suara langkah kaki yang berat dari arah koridor luar

Dalam sepersekian detik, kilat kelicikan melintas di mata Vera.

Larissa yang sudah terlanjur emosional mengangkat tangan kanannya, berniat melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi mulus Vera demi membalas semua penghinaan terhadap rahimnya.

Tapi sebelum telapak tangannya menyentuh kulit Vera, wanita itu dengan sengaja mengambil langkah mundur secara dramatis.

Dengan gerakan yang cepat Vera menjatuhkan dirinya sendiri ke atas lantai marmer yang keras.

Brak!

Tubuh Vera terhempas, membuat cangkir kopi di dekat meja tersenggol dan pecah berkeping-keping, menumpahkan cairan hitam pekat ke atas lantai dan mengenai blus merah marunnya.

Vera langsung meringkuk memegang siku tangannya, dan mengeluarkan tangisan histeris yang sangat menyedihkan seolah-olah dia baru saja dianiaya dengan sangat keji oleh Larissa.

"Aww! Sakit, Ibu Larissa... maafkan saya... saya tidak bermaksud..." tangis Vera pecah, air mata palsunya mengalir dengan sangat cepat, melengkapi aktingnya yang luar biasa rapi.

Tepat pada detik itu, pintu ruang kerja terbuka dengan kasar.

Bram melangkah masuk dengan wajah yang awalnya tampak tenang, namun seketika berubah menjadi horor saat melihat kekacauan di dalam ruangannya.

Matanya membelalak lebar melihat Vera sedang terduduk menangis di lantai di antara pecahan cangkir sementara Larissa berdiri di dekatnya dengan napas memburu dan tangan yang masih terangkat di udara.

"Vera?! Apa yang terjadi?!" Bram berteriak panik.

Pria itu langsung berlari melewati Larissa tanpa memedulikan keberadaan istrinya sendiri. Ia berlutut di samping Vera, mengangkat tubuh wanita itu dengan kedua tangannya yang gemetar penuh kecemasan.

"Pak Bram... maafkan saya... Ibu Larissa tiba-tiba datang dan mengamuk..." rintih Vera di sela-sela tangisnya, menyembunyikan wajahnya di dada Bram dengan tubuh yang sengaja dibuat bergetar hebat.

"Saya hanya mengingatkan beliau tentang dokumen perceraian, tapi beliau langsung memaki saya dan mendorong saya sampai jatuh seperti ini... Siku saya sangat sakit, Pak..."

Mendengar aduan itu, darah Bram langsung mendidih. Amarah menguasai otaknya seketika, dia merasa bahwa miliknya yang berharga telah diusik oleh wanita yang dianggapnya sudah tidak berguna dan cacat.

Bram berdiri dengan sentakan kasar. Pria itu berbalik, menatap Larissa dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.

Tanpa peringatan, Bram melangkah maju dan melayangkan satu dorongan yang sangat keras ke pundak Larissa.

Brak!

Tubuh Larissa yang kurus tidak mampu menahan hantaman kasar dari suaminya sendiri. Dia terhuyung ke belakang hingga tubuhnya membentur pinggiran tajam meja kerja sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas lantai yang dingin.

Rasa sakit yang tajam seketika menjalar di bagian pinggang dan lengannya yang menghantam kayu keras, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa hina yang merobek dadanya.

Dia mendongak, menatap suaminya dari atas lantai dengan pandangan yang tidak percaya. Pria yang selama lima tahun ini dia layani, pria yang cacat tubuhnya dia tutupi dengan air mata dan reputasinya sendiri, kini baru saja mendorongnya hingga terjatuh demi membela wanita lain.

"Berani-beraninya kamu datang ke kantorku dan berbuat kasar pada Vera?!" bentak Bram, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga beberapa staf di luar koridor mulai melongokkan kepala dengan wajah penasaran.

Bram berdiri di depan Larissa yang masih terduduk di lantai, menunjuk wajah istrinya dengan telunjuk yang bergetar penuh murka.

"Kamu benar-benar wanita tidak tahu diuntung! Sudah mandul, penipu, sekarang kamu bertingkah seperti wanita gila dan preman di sini?! Kamu mau menghancurkan reputasi perusahaanku dengan membuat keributan?!"

Larissa menatap suaminya dengan tawa lirih yang mendadak lolos dari bibirnya yang pucat, sebuah tawa getir yang terdengar sangat menyedihkan di tengah ruangan yang tegang itu. "Wanita gila? Kamu bilang aku wanita gila?"

"Ya! Kamu gila karena tidak tahu diri!" Bram menyambar map biru di atas mejanya, lalu melemparkannya tepat ke arah wajah Larissa.

Lembaran-lembaran kertas cerai yang masih kosong tanpa tanda tangan itu berserakan di atas lantai, mengenai tubuh Larissa yang masih bersandar di kaki meja.

"Bawa pergi berkas ini! Aku akan pastikan pengacaraku yang mengurusnya di pengadilan dan membuatmu keluar tanpa sepeser pun uang! Mulai detik ini, aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!"

Di belakang punggung Bram, Vera yang masih bersandar di sofa perlahan menurunkan genggaman tangannya dari wajah. Di balik tangisan palsunya, wanita itu menatap Larissa yang berada di lantai dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan dan ejekan yang mutlak.

Larissa memejamkan matanya sejenak di bawah hujan makian dari suaminya sendiri. Di dalam kegelapan itu, sisa-sisa rasa cinta dan kelemahan di dalam dirinya telah mati, terkubur bersama kebohongannya yang kini berbalik menghancurkannya.

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!