Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sumber daya di kota yang telah lama mati
Bau udara lembap bercampur logam berkarat menyambut Ye Chan saat ia melangkah turun ke dalam lorong gelap itu. Tangannya yang memegang lentera kecil bergerak hati-hati, memastikan cahaya berpijar tidak mengenai simbol formasi yang masih samar berpendar di dinding batu.
Langkah kakinya tidak berbunyi. Di sini, ia harus sangat waspada.
'Banyak formasi di sini sudah tidak aktif,' pikirnya.
Beberapa jejak mekanis yang ia lewati terlihat kaku, terjebak dalam keadaan mati akibat kehabisan energi spiritual yang seharusnya terus mengaliri nadi-nadi batu tersebut.
Ia sempat menemukan satu simpul formasi yang masih berdenyut biru pucat, namun ia memilih memutar tubuh, merapat ke dinding seberang agar tidak memicu deteksi sensorik yang tersisa.
Ye Chan berhasil mencapai ujung lorong tanpa menimbulkan satu suara pun. Ia merasa beruntung. Jika pertahanan kota ini masih beroperasi penuh, mungkin ia sudah hancur menjadi debu sejak tadi.
Ia memasuki ruangan yang luas, dengan deretan rak batu yang tersusun rapi. Gudang penyimpanan ini telah ditinggalkan berabad-abad, namun sistem penyegelan kuno masih menjalankan tugasnya dengan sangat efisien.
Ye Chan berjalan mendekati satu rak yang terlihat paling utuh. Tangannya bergerak perlahan, membersihkan lapisan debu tebal dari permukaan peti kayu berpelapis besi. Di dalamnya, tersimpan tumpukan mineral hitam pekat yang masih memancarkan sisa energi murni.
'Batu energi tingkat rendah, tapi ini masih bisa digunakan,' gumamnya dalam hati.
Ia memindahkan mineral itu ke dalam cincin penyimpanannya dengan teliti. Ia juga menemukan beberapa botol porselen yang berisi tanaman obat kering. Meski aromanya telah memudar, kandungan esensi spiritual di dalamnya masih sanggup menahan pelapukan. Ye Chan mengambil apa yang ia butuhkan, meninggalkan sisa yang sudah membusuk atau kehilangan fungsinya.
Setidaknya, ia tidak pulang dengan tangan hampa. Persediaannya bertambah.
Di balik gudang tersebut, Ye Chan menemukan ruangan yang berbeda. Udaranya terasa lebih dingin dan membawa aroma pahit ramuan herbal. Sebuah meja kayu besar berdiri di tengah ruangan, dipenuhi dengan peralatan bedah tumpul dan gulungan perkamen yang sebagian besar telah hancur menjadi serpihan abu saat ia menyentuhnya.
Ia mengamati salah satu lempengan logam yang masih bisa dibaca. Itu adalah catatan medis.
'Memperbaiki meridian memang tidak bisa hanya dengan satu jenis obat,' pikirnya sambil meneliti detail diagram yang terukir di sana.
Catatan itu menjelaskan dengan sangat rinci bahwa kerusakan meridian berat memerlukan kombinasi bahan pemulih tubuh yang spesifik, energi dari inti monster, serta ramuan penstabil aliran Qi agar tidak meledak saat masuk ke jalur energi yang rapuh. Ia mencatat setiap detail bahan yang disebutkan dalam pikirannya, meskipun sebagian besar nama bahan itu terasa asing di telinganya.
Ye Chan beralih ke sudut ruangan, tempat ia menemukan sebuah gulungan perkamen kulit yang tertutup segel lilin utuh. Dengan hati-hati, ia membukanya.
Sebuah resep kuno terpampang di sana. Ini adalah formula untuk memperbaiki meridian yang telah hancur parah. Ye Chan membacanya berkali-kali hingga ia hafal setiap hurufnya. Sayangnya, dari sepuluh bahan yang dibutuhkan, ia hanya memiliki dua. Sisanya memerlukan tanaman atau bagian tubuh monster yang tidak tumbuh di dalam lembah terisolasi ini.
'Jangan terburu-buru,' peringatnya pada diri sendiri.
Ia tidak akan mencoba meracik obat ini dengan bahan yang kurang. Risiko meridiannya pecah permanen terlalu besar. Ia menyimpan catatan resep tersebut, menjadikannya target utama yang harus ia cari ke mana pun ia melangkah setelah keluar dari tempat ini.
Sebelum beranjak, perhatian Ye Chan teralihkan oleh ukiran di dinding paling dalam ruangan arsip. Ia menyalakan lampu lebih terang.
Bukan sekadar catatan pengobatan biasa. Tulisan-tulisan itu menceritakan kegelisahan warga kota. Banyak orang di sini, pada periode yang sama, secara mendadak kehilangan kemampuan mereka untuk menyerap Qi. Mereka yang kuat, tiba-tiba menjadi fana dalam satu malam.
'Ini bukan wabah biasa,' simpul Ye Chan dengan dingin.
Catatan itu tertulis dengan tangan yang gemetar. Ada kesamaan pola waktu. Semuanya terjadi bersamaan, seolah ada tangan tak terlihat yang memutar kunci penyumbat energi di seluruh kota sekaligus.
Ia melangkah lebih jauh hingga mencapai sebuah pintu batu raksasa di ujung fasilitas. Pintu itu berbeda dengan yang lain. Permukaannya dihiasi pola formasi yang rumit, berpendar dengan intensitas tinggi yang membuat Ye Chan harus menyipitkan mata.
Energi di sekitar pintu itu sangat padat, menekan napasnya.
'Jika aku mencoba membukanya paksa sekarang, aku akan kehabisan Qi sebelum pintu itu bergeser satu inci pun,' pikirnya.
Ia memutuskan untuk mundur. Tidak ada gunanya memaksakan diri di saat fondasi kultivasinya sendiri belum kokoh. Ia menandai pola formasi di sekeliling pintu ke dalam ingatannya. Lokasi ini kini menjadi prioritas utama, namun harus menunggu saat ia sudah cukup kuat untuk menghadapinya.
Ye Chan kembali ke tengah ruang pengobatan. Ia terduduk sejenak, mengumpulkan informasi yang telah ia kumpulkan. Meridiannya mulai stabil, namun belum benar-benar pulih. Ia memiliki target bahan obat, memiliki rencana, dan kini ia tahu bahwa ada rahasia besar di balik pintu raksasa tadi.
'Entah sampai kapan aku akan terus tertahan, namun tergesa-gesa hanya akan membawaku pada kematian,' gumamnya.
Ia memutuskan untuk tetap bertahan lebih lama. Ia akan menjelajahi setiap jengkal kota ini, mengumpulkan setiap sumber daya yang tersisa untuk membangun kembali fondasi kultivasinya. Kota ini telah mati, namun bagi Ye Chan, mayat ini masih menyimpan kehidupan yang ia butuhkan untuk bangkit.
Saat ia berdiri untuk pergi, pandangannya tertuju pada samping pintu batu yang baru saja ia tinggalkan. Di sana, tertulis deretan aksara kecil yang luput dari pengamatannya. Ia mendekat, menyalakan lentera sekali lagi.
Itu bukan daftar teknik. Bukan pula harta karun.
Itu adalah catatan mengenai satu-satunya bahan pemulih meridian yang ternyata masih tumbuh subur di wilayah luar reruntuhan ini. Ye Chan membacanya, lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku tahu ke mana harus pergi setelah keluar dari sini."
Tiba-tiba, dari balik pintu batu raksasa yang tadi ia tinggalkan, terdengar suara geraman mesin kuno yang bergeser. Logam yang bergesekan dengan batu memenuhi ruangan, menggema di lorong yang tadinya sunyi. Sesuatu di dalam sana telah terbangun oleh kehadirannya.