Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
**
"Ayo lah Raf, sekali ini aja ikut. Ini ulang tahun bos, sekaligus perayaan proyek besar pertama kita yang goals!"
Andre masih tidak menyerah untuk membujuk Rafa, sedari pagi lelaki itu tetap giat menggencarkan rayuan maut ke Rafa. Jika biasanya para wanita terklepek-klepek, tapi sayang Rafa malah masuk ke kamar mandi karena mual.
"Males," jawab Rafa, dengan jawaban yang sama kesepuluh kalinya sedari tadi.
"Gak asyik banget sih, lo. Apa enaknya sih, jadi anak rumahan?"
"Enaknya, bisa tidur sampai puas." Jawaban Rafa semakin membuat Andre kesal.
Bisa-bisanya, setahun ini dia tahan berteman dengan makhluk mager anti lingkungan seperti Rafa karena diumur 22 tahun, hidupnya terlalu lurus. Mengikuti alur normal kehidupan sesuai aturan, menghindari hal dilarang. Bagi Andre, kehidupan Rafa yang seperti itu tidak asyik dan terlalu monoton.
Makanya pas sekarang ada acara kantor, Andre sangat semangat untuk mengajak Rafa pergi. Dia terlalu bersemangat untuk mengenalkan Rafa dengan kehidupan club malam yang penuh oleh keindahan.
Tapi sayang, Rafa tetap tidak mau ikut, sekalipun ini acara perayaan penting di kantor.
Dasar kolot!
Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi secara bersamaan. Rafa yang kebetulan sedang bermain game, langsung membuka isi chat itu. Begitupun juga Andre, langsung mengambil ponsel yang tadi ada di saku.
Setelah membaca isi chat tersebut yang ternyata dari grup kantor, kalau sekretaris bos mengatakan jika seluruh karyawan seluruh divisi harus wajib hadir di pesta, apabila tidak hadir ada denda pemotongan gaji.
Sudah jelas bukan, disini yang berteriak kesenangan dan berwajah muram siapa?
"Lest go!" teriak Andre senang, yang dibalas dengusan malas oleh Rafa.
"Raf, ayo kita ke sana!" teriak Andre, yang sudah seperti cacing kepanasan tidak bisa diam setelah satu jam mereka di sini.
Rafa sedari tadi, hanya duduk diam sembari memperhatikan semua karyawan yang sudah larut dalam kesenangan di club malam. Tidak usah disebutkan apa, karena Rafa sangat malas untuk melihat hal-hal menjijikan dan membosankan ini. Pokoknya, lebih nyaman kasurnya kemana-mana. Ah ... Rafa jadi rindu, kan!
"Sana pergi!" Rafa mendorong Andre, yang dibalas lambaian tangan oleh cowok itu.
"Makhluk gila, dasar!"
Berkali-kali Rafa melirik arloji, kenapa jam 12 malam lama sekali, sih? Mereka seperti anak sekolah yang tidak boleh pulang cepat. Jika tidak ada isi absensi pas pulang, mungkin Rafa sudah kabur ah ... mungkin Rafa tidak usah datang sama sekali.
"Hi!"
Seorang wanita sudah duduk di samping Rafa, tapi sepertinya Rafa sering melihat wajah ini di mana, yah?
"Hi Rafa!" sapa wanita itu lagi, melambaikan tangannya di depan wajah Rafa yang terlihat melamun.
"Kamu kenal saya?" Rafa menunjuk dirinya sendiri.
Wanita itu terkekeh. "Kamu gak kenal aku, yakin?"
"Emm ... Sorry, apa kita sebelumnya pernah kenal? Maaf, saya orangnya gampang lupa."
"Aku Bianca." Wanita itu mengangkat satu tangannya. "Sekretaris bos besar. Kita sering ketemu loh, saat ada rapat."
Rafa mengangguk mengerti, eh ... seolah mengerti karena pasalnya dia memang tipe orang yang jarang memperhatikan sekitar. Tapi, memang wajar wanita itu terasa familiar, sih.
"Sudah ingat?"
"Iya, sudah." Lebih baik Rafa pura-pura ingat saja. Bisa bahaya jika bilang tidak ingat, ini orang dekat dengan bos soalnya.
"Kok, aku lihat kamu gak minum?"
"Itu anu-- saya emang gak minum. Tadi nyari air putih, katanya gak ada."
"Gak bisa minum alkohol, yah?" Sekilas terlihat senyum kesenangan, tapi sayang Rafa tidak sempat melihat senyum itu.
"Gak tahu, belum pernah juga. Tapi emang gak mau coba karena di dalam agama saya itu dosa."
"Aku ambilin minuman non alkohol, mau?" tawar Bianca meyakinkan.
"Ok." Tidak ada salahnya bukan Rafa percaya, toh mereka teman satu kantor.
Setelahnya, Bianca pamit pergi. Tidak lama, karena sekarang sudah kembali dengan segelas air bening.
"Ini, minuman bersoda non alkohol." Bianca menyerahkan gelas, yang langsung diambil oleh Rafa.
"Oh, makasih karena kamu sudah mau repot mengambil minuman ini untuk saya."
Sejenak, Rafa memperhatikan minuman itu. Dari penampilannya, ini memang seperti air putih biasa, jadi Rafa yakin ini memang bukan minuman beralkohol. Saat Rafa mulai meminum minuman itu, Bianca semakin tersenyum penuh kesenangan. Entahlah, apa yang sedang direncanakan wanita itu?
Rafa mengernyit, kok rasanya aneh? Apa benar minuman ini non alkohol, yah? Tapi mana mungkin kan, wanita sekretaris bos ini berbohong, bukan?
"Aku pergi dulu yah, sebentar ke sana dulu." Belum sempat Rafa menjawab, Bianca sudah berlalu pergi.
Rafa tiba-tiba merasa pusing, pandangan dia terasa kabur. Sialan! Ternyata dia memang dibohongi.
"Pundak gue berat banget, kaya ada kunti yang dudukin." Setelah mengatakan itu, kepala Rafa sudah ambruk ke atas meja.
Sementara Bianca bersama dua orang wanita di sana, tertawa senang saat melihat Rafa yang sudah ambruk.
"Rencana lo berhasil, Bi," ujar wanita bergaun merah pendek.
"Malam ini, Rafa pasti milik lo!" sahut wanita bergaun kuning pendek.
"Iya, siapa suruh selama ini susah didekati dan jual mahal. Gak ada yang bisa menolak pesona Bianca!"
Bianca sedang memapah Rafa di lorong hotel. Tadi dia sudah berhasil membawa Rafa pergi dari club dibantu oleh teman-temannya. Sekarang, dia sudah chek-in di hotel, berjalan menuju ke kamar.
Bianca sangat senang, karena selama ini hanya Rafa satu-satunya lelaki di kantor yang tidak tergoda oleh kecantikannya. Bianca tidak pernah ada yang menolak, semua lelaki yang ia mau harus bisa didapatkan. Malam ini Bianca pastikan, Rafa memang akan menjadi miliknya.
Saat keluar dari lift, ponsel Bianca tiba-tiba berbunyi berkali-kali. Terpaksa, wanita itu akhirnya mengangkatnya. Saat melihat panggilannya, ternyata itu dari sugar daddy-nya yang kaya raya. Dia tidak boleh melewatkan panggilan ini, ATM berjalan nya jangan sampai marah.
Terpaksa, akhirnya Bianca menurunkan Rafa menjadi terduduk menyandar ke tembok. Bianca memilih menjauh, karena Rafa yang terus berteriak menyanyikan lagu random sedari tadi. Bianca tidak mau mengambil resiko untuk ketahuan.
"Indonesia ... tanah ... airku ... tanah ... tumpah ... darahku!"
Sementara Bianca sudah pergi untuk bertelepon, sedang Rafa di sini semakin heboh bernyanyi yang kebetulan saat ini sedang lagu kebangsaan, dengan suara sekeras-kerasnya. Bahkan, tangannya sudah dalam posisi menghormat. Tadinya Rafa mau berdiri untuk bersikap sempurna, tapi sayang tubuhnya jatuh lagi.
Lagu sekarang sudah berganti ke lagu lain. Rafa sekarang sudah duduk bersila sambil menunduk.
"Telah ... gugur ... pahlawanku ... dihari ... Baan ... Pertiwi!"
"Eh, ternyata di sini. Aku tungguin, ternyata udah mabuk. Ayo bangun, kerja! Uangmu sudah saya transfer! Dav .. angkat dia. Bawa ke kamar Feli!"
*
"Gue berasa belanja ditemani teroris," gerutu Rafa yang entah keberapa kali dari apartemen sampai sekarang di supermarket.
"Laki mulutnya nyinyir banget, sih," keluh Felisa, meninggalkan Rafa di pintu masuk dan Elvan yang berada dalam gandengannya.
"Dia gak sadar diri kali yah, udah jadi tontonan orang-orang berpakaian kaya gitu."
Rafa tidak habis dengan kelakuan wanita satu anak itu, bagaimana bisa dia percaya diri dengan penampilan seperti itu? Topi hitam, kacamata hitam di malam hari ini, syal hitam, masker juga hitam terus ditambah jaket juga hitam. Rafa saja yang berjalan di sampingnya merasa malu, tapi lihat wanita itu masih percaya diri mengelilingi tiap rak.
"Papa, beli eskrim 10, yah?" Elvan bertanya dengan menunjukkan jarinya yang berjumlah tujuh.
Rafa gemas, membenarkan jumlah jari Elvan. "Sepuluh kaya gini. Sekolah belajar apaan, sih?"
"Kan tiga udah aku makan, jadi sepuluh tinggal segini," jawab Elvan dengan cengirannya.
Rafa baru sadar, jika mulut bocah itu belepotan oleh eskrim. Ini mereka belum ada setengah jam di sini, lama-lama sepertinya Elvan bisa membeli eskrim se-troli. Ya salam, anaknya rakus sekali!
"Sampho kamu udah abis, kan?" tanya Felisa, yang tengah berada di rak perlengkapan mandi yang tak jauh dari posisi Elvan dan Rafa berdiri.
Rafa menggeleng. "Gak tahu."
"Kayaknya abis deh, kemarin saya lihat isinya Elvan tuangkan di closet."
Rafa mendelik, menatap Elvan tidak habis pikir. Sekarang, apa lagi? Bocah itu malah sedang anteng mewadahi semua esktrim ke tudung jaketnya, yang entah sejak kapan sudah dibuka.
"Ngapain? Astaghfirullah!" Rafa dengan cepat mengembalikan semua eskrim.
Menggendong Elvan yang malah meronta meminta diturunkan.
Sepertinya, nanti Rafa kapok ikut berbelanja lagi. Kepalanya benar-benar sakit atas semua tingkah ajaib Elvan. Sebenarnya ini pertama kali juga, semenjak sebulan mereka tinggal bersama, Rafa ikut belanja. Kebetulan, saat tadi dia pulang kerja, Felisa mengatakan semua bahan di kulkas habis dan meminta diantar ke supermarket.
Biasanya, wanita itu selalu pergi sendiri, ah ... mungkin berdua dengan Elvan, karena Rafa sudah memberikan satu atm yang setiap minggu rutin dia isi. Tapi sekarang katanya malam ini dia tidak berani, akhirnya sekarang Rafa di sini menemani wanita itu belanja dan dirinya repot mengamankan ulah Elvan. Jangan lupakan penampilan wanita itu yang mirip teroris yang membuat Rafa malu karena banyak orang yang mencuri lirik ke arah mereka.
Setelah hampir 3 jam mereka berbelanja, akhirnya sekarang Rafa sudah bisa merebahkan badan lelahnya di sofa. Sementara wanita itu sedang membereskan belanjaan dan Elvan yang sudah tidur di kamar, setelah tadi tidur di gendongan Rafa saat di supermarket.
"Ini." Felisa sudah menyimpan secangkir coklat hangat di depan Rafa. "Saya sudah siapkan makanan, ayo makan!"
Rafa mengangguk. Terlalu lelah, walau hanya sekedar untuk berbicara. Dirinya lalu berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang makanan. Akhir-akhir ini, Rafa seolah candu dengan masakan Felisa, dirinya selalu menyempatkan sarapan dan makan malam di rumah.
Jika sampai saat ini, kalian berpikiran hubungan mereka menjadi dekat? Tidak mungkin! Selalu ada waktu dimana mereka rutin untuk bertengkar, bahkan untuk hanya masalah kecil. Seperti, kebiasaan Rafa yang selalu menyimpan handuk sembarangan di tempat tidur atau Rafa tidak sengaja ketiduran di sofa karena menonton pertandingan sepak bola dengan berbagai bungkus snack dimana-mana.
Sudah mirip pertengkaran suami istri, bukan? Tidak! Rafa masih menganggap wanita itu, hanya wanita bawel, tukang ikut campur, tukang ngatur, berisik, tukang ngomel dan jenis wanita medusa yang menyebalkan.
"Sayurnya dimakan, dong! Itu badan udah kurus juga!" protes Felisa untuk pertama kalinya malam ini. Rafa menghitung dalam hati, akan berapa kali wanita itu mengomel.
"Pakai sayur, dong! Masa sama daging doang!"
"Please ... deh pelan-pelan makanya, kaya anak kecil banget belepotan!"
Rafa melirik sesaat, kembali melanjutkan makan. Pura-pura tidak mendengar saja, telinga dia juga sudah terbiasa dengan semua omelan itu selama sebulan ini.
"Hei ka--!"
"Aduh, berisik banget sumpah! Fokus aja sama makanannya, jangan lihatin saya yang terlalu tampan ini!"
"Aduh, pedenya minta ampun!"
"Tapi, emang kenyataannya saya tampan, kan!"
"Bodo, gak denger!"
Rafa sudah bersiap memejamkan mata, selimut sudah sampai leher, sampai tiba-tiba suara rengekan Elvan terdengar.
"Kenapa, mimpi buruk lagi?" tanya Rafa yang sudah hapal kebiasaan Elvan yang satu ini.
Felisa mengangguk malas, dengan kedua tangan membawa dua bantal Elvan. Rafa menghela napas berat, menggeser tubuhnya untuk membuat ruang kosong untuk dua orang itu.
Seminggu ini, memang kebiasaan Elvan yang sering terbangun tengah malam, karena mimpi buruk. Bocah itu selalu merengek, meminta untuk tidur bertiga.
Awalnya mereka pasti menolak, tapi karena terlalu sering dan tidak tahan dengan suara tangisan Elvan di tengah malam, akhirnya mereka memilih menyerah untuk menuruti. Toh, Elvan tidur di tengah di antara mereka berdua.
"Good night Pa, Ma!" ucap Elvan mencium pipi Rafa dan Felisa bergantian.
"Good night, Sayang," balas Felisa balik mencium pipi Elvan.
"Pa! " protes Elvan karena Rafa malah tidur, tidak membalas ucapannya.
"Yeah, good night, Boy!" jawab Rafa terlihat malas mencium pipi Elvan.
##