Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bima melangkah maju dengan sangat tenang dan menduduki kursi utama yang berada tepat di tengah ruangan.
Dia menyilangkan kakinya dengan santai dan menatap Pak Tommy yang wajahnya masih pucat pasi.
"Selamat pagi, Pak Tommy," sapa Bima dengan senyuman yang sangat mematikan.
"Semalam Anda bilang kalau pemilik baru hotel ini pasti cuma anak konglomerat bodoh yang mudah ditipu, benar?"
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahi Pak Tommy membasahi kerah kemejanya.
Dia tidak pernah menyangka bahwa obrolan rahasianya di dalam mobil semalam didengar langsung oleh sang target utama.
"I-itu cuma salah paham, Tuan Bima, saya hanya bercanda semalam," elak Pak Tommy dengan suara terbata-bata.
"Lupakan soal semalam, mari kita bahas bisnis kita secara profesional."
Pak Tommy mencoba kembali menguasai keadaan dengan memasang wajah tegas yang dibuat-buat.
"Hotel Anda sangat bergantung pada pasokan daging dan sayuran dari perusahaan saya."
"Jika Anda tidak menandatangani kontrak ini, saya pastikan dapur hotel bintang lima Anda tidak akan bisa beroperasi besok pagi."
Ancaman terang-terangan itu membuat beberapa manajer hotel menelan ludah dengan cemas.
Bima sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan murahan tersebut.
Sring.
Mata Identifikasi Tingkat Dewa milik Bima kembali aktif, menembus tumpukan dokumen dan sampel bahan makanan yang ada di atas meja.
[Objek: Draf Kontrak Suplai PT Bumi Pangan]
[Status: Kontrak jebakan dengan klausul penalti sepihak sebesar seratus miliar rupiah jika hotel memutuskan kerja sama]
[Objek: Sampel Daging Sapi Impor]
[Status: Daging beku kualitas rendah yang sudah disimpan lebih dari satu tahun di gudang, harga di-markup 300% dari harga pasar]
Bima membaca semua informasi emas itu dengan seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengambil dokumen kontrak milik Pak Tommy.
Srek srek.
Bima merobek dokumen kontrak bernilai puluhan miliar itu menjadi dua bagian tepat di depan wajah semua orang.
Lalu merobeknya lagi hingga menjadi potongan-potongan kertas kecil yang tidak berguna.
"Apa yang kamu lakukan, anak gila!" teriak Pak Tommy histeris melihat kontraknya dihancurkan begitu saja.
Bima melemparkan serpihan kertas itu ke udara hingga berjatuhan mengotori meja rapat.
"Saya sedang membuang sampah, Pak Tommy," jawab Bima dengan suara dingin yang menusuk tulang.
"Kamu pikir saya sebodoh itu untuk menandatangani kontrak jebakan yang berisi penalti sepihak senilai seratus miliar?"
Seluruh manajer hotel langsung tersentak kaget mendengar fakta tersebut.
Frans langsung membelalakkan matanya dan menatap Anton dengan penuh amarah.
"Penalti seratus miliar? Klausul itu tidak ada di draf yang kalian berikan padaku kemarin!" bentak Frans merasa ditipu mentah-mentah.
"Kalian diam-diam menyelipkan halaman baru di dokumen final ini?"
Wajah Anton memucat, dia tidak berani menatap mata para eksekutif hotel yang kini menatapnya penuh kebencian.
Bima lalu mengambil kotak pendingin kecil yang berisi sampel daging sapi dari perusahaan Tommy.
Dia melempar kotak itu hingga tergelincir di atas meja dan menabrak cangkir kopi milik Pak Tommy.
Prang.
Kopi panas tumpah membasahi celana mahal pengusaha buncit tersebut.
"Aw! Panas!" keluh Pak Tommy sambil melompat dari kursinya.
"Bawa pulang daging beku kualitas rendahan yang sudah disimpan setahun di gudangmu ini," perintah Bima tanpa ampun.
"Jangan pernah berpikir untuk memberi makan tamu hotelku dengan sampah yang harganya kamu naikkan tiga ratus persen dari harga pasar."
Ruang rapat itu mendadak hening sejenak sebelum suara riuh para manajer hotel meledak.
Mereka benar-benar marah mengetahui bahwa penyuplai ini berniat meracuni reputasi hotel bintang lima mereka demi keuntungan kotor.
Pak Tommy berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar tanpa bisa membantah sepatah kata pun.
Bagaimana pemuda ini bisa tahu rahasia terdalam dari isi gudang dan skema mark-up perusahaannya?
Bahkan Frans dan tim audit hotel pun belum menyadari hal tersebut selama ini.
Bima bersandar kembali di kursi utamanya bagaikan seorang raja yang baru saja mengeksekusi pengkhianat kerajaannya.
"Pak Frans, putus semua kerja sama dengan PT Bumi Pangan mulai detik ini juga," titah Bima mutlak.
"Dan hubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki indikasi penipuan dalam bisnis mereka selama ini."
"Baik, Tuan Bima, akan segera saya laksanakan!" jawab Frans dengan semangat yang menggebu-gebu.
Dia merasa sangat kagum dan bangga memiliki bos muda yang begitu tajam dan tegas dalam mengambil keputusan bisnis.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Pak Tommy putus asa melihat hancurnya kerajaan bisnis suplainya.
"Tanpa pasokan dariku, dapur kalian akan mati besok pagi!"
Bima hanya tertawa pelan dan mengibas-ngibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.
"Dunia ini luas, Pak Tommy."
"Dengan uang triliunan yang kumiliki, aku bisa membeli peternakan sapinya sekalian kalau aku mau."
Bima melirik tajam ke arah dua petugas keamanan yang berjaga di dekat pintu.
"Seret dua penipu ini keluar dari gedungku, dan pastikan wajah mereka di-blacklist dari seluruh cabang hotel kita."
Kedua petugas keamanan berbadan kekar itu langsung melangkah maju dan mencengkeram lengan Pak Tommy serta Anton.
Mereka berdua diseret keluar dari ruang rapat secara paksa tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti.
Suara teriakan dan makian Pak Tommy perlahan menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Keheningan kembali menyelimuti ruang rapat eksekutif tersebut.
Belasan manajer hotel menelan ludah dengan gugup, menyadari bahwa bos muda mereka ini bukanlah orang yang bisa diremehkan atau dibodohi.
Bima menatap seluruh karyawannya satu per satu dengan pandangan yang tenang namun penuh wibawa.
"Nah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya."
Bima merapikan kerah kemeja flanelnya perlahan.
"Mulai hari ini, aku adalah aturan mutlak di hotel ini."
"Bekerjalah dengan jujur, maka aku akan memastikan kalian semua hidup makmur selama hidup kalian."
Bima menggebrak meja perlahan, membuat jantung semua orang di ruangan itu berdetak lebih cepat.
"Tapi jika ada satu saja dari kalian yang berani bermain di belakangku seperti resepsionis di bawah tadi..."
Bima tidak melanjutkan kalimat ancamannya, membiarkan imajinasi liar para manajernya membayangkan sendiri konsekuensinya.
Semua orang di ruangan itu serempak menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Kami mengerti, Tuan Bima!" jawab mereka serempak dengan suara lantang dan penuh rasa hormat yang tulus.
Bima tersenyum puas melihat loyalitas dan ketakutan yang berhasil dia tanamkan di hati para bawahannya.
Kerajaannya kini telah benar-benar berada dalam genggamannya.