Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Gibran, Kevin sudah memanggil mu Papa selala 8 tahun ini. Dan anggap saja Kevin sebagai anak kandung mu sendiri, toh kamu sendiri tidak bisa memiliki keturunan!" Bu Tuti berkata pada Gibran.
"Keterlaluan, ternyata selama ini kalian semua sudah bersekongkol untuk menipu ku. Keluarga tidak tahu malu" Gibran semakin tersulut emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulut bu Tuti.
"Mas Gibran, benar apa yang di katakan oleh ibu. Kevin menganggap mu sebagai Papa nya, dan hal itu tentu bukan lah suatu masalah!" Ujar Santi sambil berdiri.
"Bukan masalah kau bilang? selama 8 tahun kalian sudah bersekongkol menipu ku. Kalian sebagai orang tua nya jelas tahu bahwa Kevin bukan anak ku, tapi kalian benar - benar manusia laknat!" Maki Gibran menendang vas bunga yang ada di atas pelaminan.
Di bawah, semua orang melihat adegan itu. Kini semua orang satu kampung ikut mengetahui semua kebenaran ini.
"Tidak ku sangka Santi selicik itu, dia sudah mengotori kampung kita dengan menjadi wanita perebut suami orang lain. Dasar pelakor jahat!" Warga kampung mulai mencaci mereka.
"Penampilan nya saja yang lugu dan sederhana, tapi nyata nya dia adalah wanita perusak dan perebut!" Timpal yang lain nya.
"Mas, benar yang di katakan oleh ibu ku. Kau sendiri tidak bisa memiliki keturunan, jadi anggap saja Kevin sebagai anak mu sendiri!" Ujar Santi dengan penuh percaya diri.
Plaaakkkk.
Gibran mengayunkan tangan nya, sebuah tamparan di layangkan oleh Gibran dengan sekiar tenaga ke wajah Sri.
"Gibran, berani nya kau menampar anak ku!" Bentak bu Tuti dengan suara lantang.
"Dasar laki - laki mandul dan tak berguna, tidak nisa memiliki keturunan masih saja menyalahkan orang lain!" Pak Deni ikut membela anak nya.
"Tak berguna? Kalian bilang aku tak berguna! Jangan lupa siapa yang memberi kalian makan selama ini, siapa yang memberikan kalian tempat tinggal yang layak ini? Aku, aku lah orang nya!" Gibran berkata sambil menunjuk dada nya sendiri.
"Itu memang sudah kewajiban mu sebagai anak dan juga menantu di sini!" Pak Deni berkata sambil tersenyum sinis.
"Baik lah kalau begitu, cepat kembalikan semua uang yang telah aku berikan pada kalian. Termasuk uang untuk membangun rumah ini!" Gibran menadahkan tangan nya.
"Atas dasar apa kau meminta nya kembali, semua itu kau berikan secara sukarela pada kami!" Ujar pak Deni lagi.
"Benar, kau sudah memberikan semua nya secara suka rela. Jadi kami tidak punya kewajiban untuk mengembalikan semua nya!" Jawab Bu Tuti.
Pak Deni dan bu Tuti menunjuk kan senyuman penuh kemenangan, senyuman licik untuk Gibran.
"Kalian, dasar parasit!" Teriak Gibran.
Bugggghhh.
Tidak terima di katakan parasit, pak Deni menendang perut Gibran sehingga dia terhuyung dan jatuh terpental ke belakang.
"Pergi kau dari rumah ini!" Pak Deni mengusir Gibran.
Gibran langsung berdiri, dia menatap Santi dan kedua orang tua nya dengan tatapan nyalang.
"Baik lah, aku akan pergi dari sini. Santi, silahkan kau tebus sendir rumah ini!" Ujar Gibran sambil malas memamerkan senyuman licik di sudut bibir nya.
Seketika wajah Santi langsung berubah pucat, dia teringat bahwa untuk mengadakan pernikahan Mewah ini mereka menggadaikan rumah ini. Dan jika Gibran pergi, maka siapa yang akan menebus nya.
"Mas, jangan pergi mas. Maafkan aku, mas!" Santi langsung mengejar Gibran.
"Santi, kenapa kau memohon pada nya. Biarkan saja laki - laki tak berguna ini pergi dari sini!" Pak Deni berkata pada anak nya.
"Tapi pak, siapa yang akan menebus sertifikat rumah ini jika mas Gibran tidak ada!" Santi berkata dengan wajah yang tertunduk.
"Apa maksud mu Santi? Sertifikat apa?" Tanya bu Tuti.
Orang tua Santi memang tidak tahu tentang sertifikat rumah yang di gadaikan untuk pesta pernikahan ini, setahu mereka semua biaya pernikahan ini di tanggung oleh orang tua nya Gibran.
"Bu, sebenar nya sertifikat rumah ini di gadaikan pada rentenir untuk biaya pernikahan kami!" Jawab Santi dengan suara lirih.
"Apa??? Bukan kah pesta ini di bayar oleh orang tua nya Gibran?" Tanya Bu Tuti dengan nada terkejut.
"Ibu nya mas Gibran berjanji akan melunasi nya setelah pesta ini selesai!" Jawab Santi lagi.
Pak Deni dan bu Tuti menatap pak Burhan dan bu Siti dengan tatapan tajam, sehingga kedua nya tampak gugup.
"Pak Burhan, bukan kah pesta ini tanggung jawab kalian? Tapi kenapa harus menggadaikan rumah kami?" Tanya Bu Tuti dengan geram.
"Saya tidak tahu akan hal itu, bu. Itu semua urusan ibu nya Gibran, saya tidak ikut campur!" Pak Burhan menolak untuk di salahkan.
"Tidak bisa, kami tidak mau kehilangan rumah ini. Cepat kalian lunasi dengan rentenir itu!" Pak Deni memberi perintah.
"Silahkan saja lunasi semua nya sendiri, aku tidak mau ikut campur lagi!" Kini giliran Gibran yang buka suara.
"Keterlaluan kau Gibran, kalian tidak bisa melakukan ini pada kami. Kami tidak mau kehilangan rumah ini!" Pekik bu Tuti lagi.
"Gibran, bagai mana ini?" Tanya bu Siti setengah berbisik di telinga Gibran.
"Biarkan saja mereka menyelesaikan maslaah mereka sendiri, kita tidak perlu ikut campur lagi. Ayo pak, kita pergi!" Ajak Gibran lagi.
"Ayo sayang!" Pak Burhan meraih tangan bu Siti agar segera pergi bersama nya.
"Mas Gibran, jangan pergi mas!" Santi langsung mengejar Gibran.
"Gibran, kau tidak bisa melakukan ini pada kami. Tebus rumah ini sekarang juga!" Pekik bu Tuti.
Gibran tidak perduli dengan teriakan mereka semua, dia langsung masuk ke dalam mobil nya. Begitu pula dengan bu Siti dan pak Burhan. Sedangkan bu Meri dan Sarah sudah lama meninggalkan tempat itu, setelah memberi kejutan untuk mereka tadi.
Gibran menghidupkan mesin mobil nya, dia langsung melaju meninggalkan tempat itu. Sementara itu, bu Siti tidak mampu menahan rasa sakit dan keterkejutan nya. Dia memegang dada nya yang terasa sakit, dan tidak berselang lama dia pun ambruk ke tanah.
"Ibu, apa yang terjadi pada ibu?" Tanya Santi.
Santi langsung meraih tubuh ibu nya yang saat ini terkulai lemas, pak Deni pun terkejut melihat keadaan istri nya.
"Tolong, tolong bawa istri saya ke rumah sakit!" Teriak pak Burhan pada warga kampung yang masih berkumpul di sana.
Tapi warga kampung sudah terlanjur kecewa dengan perbuatan Santi dan keluarga nya, mereka pergi meninggalkan tempat itu tanpa ada yang berniat untuk membantu bu Tuti
"Kalian semua tidak punya hati, kami butuh bantuan tapi kalian pergi begitu saja! Dasar orang - orang kampung!" Maki pak Deni seperti orang kesetanan.
"Pak, cepat bantu ibu dan bawa dia ke rumah sakit!" Santi berkata sambil menangis dan memeluk tubuh bu Tuti yang sudah tak sadarkan diri.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah