Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Pangeran yang Bukan Sepupuku
Bab 5 — Pangeran yang Bukan Sepupuku
Rania masih berdiri di belakang gerobaknya sambil memegang segelas cendol, keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Matanya terpaku ke jalan utama pasar, mengawasi setiap gerak seperti mata-mata amatir.
Sebuah kereta kerajaan bergerak perlahan melewati kerumunan, rodanya berderit pelan di atas tanah pasar yang berdebu. Orang-orang mulai menyingkir memberi jalan. Beberapa pedagang bahkan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, seolah gerakan itu sudah dilatih sejak kecil.
Rania menyipitkan mata, mencoba mengenali lambang di pintu kereta.
"Jangan-jangan..."
[Ting!]
[Pangeran Mukti Samudera telah memasuki wilayah pasar.]
Rania langsung menaruh gelasnya dengan gerakan gugup, cairan cendol nyaris tumpah ke tangannya sendiri.
"Serius?!"
[Tugas utama masih aktif.]
"Tidak perlu diingatkan, makasih banyak."
Ia buru-buru meraih kain lap yang biasa dipakai membersihkan meja, lalu tanpa pikir panjang membelitkannya ke sebagian wajahnya, menyisakan hanya sepasang mata yang mengintip waspada.
Seorang ibu yang sedang menunggu pesanannya menatap bingung. "Nona, kenapa wajahmu ditutup?"
"Debu."
Ibu itu melirik sekeliling, lantai pasar yang cukup bersih karena baru saja disiram air pagi tadi. "...Pasarnya bersih, lho."
"Debunya... batin," jawab Rania serius, seolah itu jawaban paling masuk akal di dunia.
Ibu itu mengangguk pelan, meski matanya masih menyiratkan keraguan besar.
"..."
Rania tidak peduli dengan tatapan aneh itu. Yang penting sekarang cuma satu: jangan sampai sepupunya sendiri menemukannya berjualan cendol di pinggir pasar seperti ini.
Kereta itu akhirnya berhenti tidak jauh dari tempatnya berjualan. Pintu terbuka pelan. Seorang pemuda turun dengan pakaian kerajaan berwarna biru tua yang berkilau ditimpa matahari pagi, rambutnya tertata rapi, senyumnya ramah ke segala arah seperti sudah terbiasa disambut banyak orang. Beberapa pengawal mengikutinya dari belakang dengan formasi rapi.
Rania langsung berjongkok di belakang gerobaknya, nyaris menabrak tumpukan batok kelapa.
"Lewatlah..." bisiknya, mengintip sedikit dari celah gerobak. "Lewatlah tanpa melihat ke sini... lewat aja, please..."
[Ting!]
[Pangeran Mukti sedang menuju arah Host.]
Rania membeku, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Jangan bercanda."
[Tidak bercanda.]
"..."
Rania perlahan meraih sendok kayu yang tergeletak di dekat panci, menggenggamnya erat-erat seperti pedang kecil. Kalau terpaksa, ini akan jadi senjata terakhirnya.
[Tidak disarankan.]
"Aku cuma mau menakut-nakuti dikit," bisiknya membela diri.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang, membuatnya nyaris melompat kaget.
"Putri Wening?"
Rania menoleh perlahan, wajahnya masih separuh tertutup kain lap.
Seorang pengawal berdiri di depannya dengan sikap tegap, menatapnya penuh keyakinan.
"..."
"..."
Rania tersenyum kaku di balik kainnya. "Bukan."
Pengawal itu mengerutkan dahi, matanya menyipit mengamati lebih teliti. "Bukankah Anda Putri Wening Sasikirana? Saya mengenali gaun itu—"
"Nama saya..." Rania berpikir cepat, matanya melirik panik ke arah panci di sampingnya. "Cendolwati."
Pengawal itu diam, menimbang-nimbang nama itu dalam kepalanya.
Rania ikut diam, berusaha keras mempertahankan ekspresi setenang mungkin meski dalam hati sudah berdoa segala macam.
Dari kejauhan, langkah seseorang semakin mendekat, seirama dengan detak jantung Rania yang semakin kencang.
Pengawal itu akhirnya menyerah pada argumen nama dan berkata, "Putri, Pangeran Mukti ingin bertemu dengan Anda."
Rania langsung berdiri tegak, melupakan sepenuhnya samaran "Cendolwati" barusan. "Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Sedang jualan."
"Pangeran hanya ingin berbicara sebentar."
"Bilang saja saya sedang sibuk," Rania mengangkat panci cendolnya tinggi-tinggi sebagai bukti, meski sebenarnya lebih untuk menghalangi wajahnya.
"Putri..."
"Cendolnya tinggal sedikit, harus segera dihabiskan sebelum basi."
Pengawal itu melirik gerobak yang jelas-jelas masih penuh sampai ke tepian panci. "...Masih banyak, Putri."
Rania menatapnya tajam, seolah pengawal itu baru saja mengkhianati kepercayaan yang sudah dibangun susah payah. "Jangan menghancurkan kebohonganku, Pak."
Pengawal itu kembali diam, kali ini dengan ekspresi yang sulit diartikann antara ingin tertawa atau bingung harus bagaimana menghadapi putri majikannya sendiri.
Rania sudah hendak mengambil kesempatan untuk kabur lewat celah kecil di antara gerobak dan lapak sebelah ketika terdengar suara lain dari arah belakang, tenang namun cukup tegas untuk membuat semua orang di sekitarnya diam.
"Biarkan dia."
Suasana pasar mendadak berubah. Orang-orang yang tadinya ramai bertransaksi kini menoleh serempak ke satu arah. Beberapa bahkan langsung membungkuk lebih dalam dari sebelumnya.
Seorang pria turun dari kereta kedua yang sejak tadi berhenti di belakang rombongan Mukti, nyaris tak diperhatikan siapa pun sampai suaranya terdengar barusan.
Pakaiannya hitam dengan kain panjang berwarna gelap, jauh lebih sederhana dibanding pakaian Mukti yang berkilau. Tidak banyak hiasan, tapi lambang kerajaan tersemat jelas dan tegas di dadanya sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi asal-usulnya.
Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya dingin, seolah sudah terbiasa mengamati segala sesuatu dari jarak yang aman. Tidak seperti Mukti yang datang dengan rombongan cukup ramai dan senyum yang menular ke sekitarnya, pria itu hanya ditemani beberapa pengawal yang berjalan dalam diam.
Rania memandangnya, sedikit terpaku.
[Ting!]
[Identitas terdeteksi.]
[Raden Ji Aryasatya.]
Rania berkedip. "...
[Putra mahkota Kerajaan Arkapura.]
[Tokoh dengan reputasi antagonis dalam alur asli.]
Rania melirik pria itu lagi, kali ini dengan pandangan yang berbeda campuran penasaran dan sedikit waspada.
"Oh," gumamnya pelan.
Aryasatya berjalan melewati kerumunan tanpa tergesa, langkahnya teratur seperti orang yang tidak pernah terburu-buru untuk apa pun dalam hidupnya. Tatapannya sempat jatuh sekilas ke gerobak cendol yang masih mengepulkan uap hangat. Kemudian, tanpa diduga, tatapan itu berpindah ke arah Rania.
Hanya sesaat.
Tapi cukup lama untuk membuat Rania merasa seperti baru saja diperiksa sampai ke tulang, seolah pria itu sedang menilai apakah dirinya layak dicurigai atau tidak.
Lalu tatapan itu berlalu begitu saja, dan Aryasatya melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Rania menghela napas yang tanpa sadar ia tahan sejak tadi.
"Kenapa dia lihat aku?" bisiknya pada sistem.
[Tidak diketahui.]
"Dia villain, kan? Yang katanya bakal jadi masalah besar?"
[Benar.]
Rania mengangguk pelan, seolah baru saja mendapat konfirmasi yang melegakan.
"Syukurlah."
Senyum kecil muncul di wajahnya, membuat pengawal Mukti yang masih berdiri di sampingnya terlihat semakin bingung.
"...Syukurlah?" pengawal itu mengulang, tidak mengerti jalan pikiran sang putri.
Rania mengambil gelas cendol yang tadi sempat ia taruh, menyeruputnya sedikit untuk menenangkan diri.
"Berarti dia bukan sepupuku."
[Ting!]
[Sistem tidak memahami hubungan antara villain dan sepupu.]
"Sudahlah, nggak usah dipikir," Rania melambaikan tangan, tidak berniat menjelaskan logika sederhana bahwa villain jelas jauh lebih aman daripada calon suami paksaan.
Ia menatap punggung Aryasatya yang semakin menjauh, mengikuti barisan pengawalnya menuju bangunan balai pasar. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia asing ini, ia merasa menemukan satu orang yang setidaknya untuk saat ini tidak berhubungan sama sekali dengan misi pernikahan menyebalkan itu.
Dan entah kenapa, itu membuatnya merasa sedikit lega.
Sampai
[Ting!]
[Misi tambahan terbuka.]
Rania memejamkan mata, sudah punya firasat buruk.
"Jangan."
[MISI TAMBAHAN: Dekati Raden Ji Aryasatya.]
Rania membuka mata perlahan, menatap tulisan itu dengan tatapan tidak percaya.
"..."
[Hadiah: 50 poin.]
Rania menatap punggung Aryasatya yang kini hampir menghilang di antara kerumunan. Kemudian menatap ke arah sistem dalam pikirannya, seolah bisa menatap wajah sinis di baliknya.
"Lima puluh?" ulangnya, memastikan tidak salah dengar.
[Benar.]
Rania menarik napas panjang, menimbang-nimbang dengan sangat serius—jauh lebih serius dibanding saat menimbang antara kabur dari Mukti atau tidak tadi.
"Bisa ditukar latte?"
[Tentu.]
Mata Rania langsung berbinar terang, semua kewaspadaan tadi lenyap seketika digantikan semangat baru.
Ia langsung mengambil dua gelas cendol tambahan, menuangnya dengan cekatan.
"Villain itu sukanya manis atau tidak?"
[Data tidak tersedia.]
"Ya sudah," Rania mengangkat kedua gelas itu dengan penuh percaya diri, melupakan sepenuhnya bahwa beberapa menit lalu ia sedang bersembunyi ketakutan di balik gerobak sendiri. "Kalau begitu kita cari tahu sendiri."
Ia mulai berjalan mengikuti arah kepergian Aryasatya, meninggalkan gerobak cendolnya begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.
Di belakangnya, pengawal Mukti hanya bisa terpaku menyaksikan Putri Wening yang seharusnya sedang menghindar dari pertemuan dengan Pangeran Mukti justru berjalan mantap mengikuti Raden Ji Aryasatya sambil membawa dua gelas cendol, seolah tujuan hidupnya sudah berubah total dalam hitungan detik.
Sementara itu, Pangeran Mukti yang baru saja turun dari kereta dan berjalan mendekat, menatap pemandangan aneh itu dengan alis terangkat penuh tanda tanya.
"Putri Wening..." gumamnya, menyaksikan sosok sepupunya yang harusnya ia temui kini malah berjalan menjauh sambil menenteng gelas cendol.
Ia menghela napas panjang, entah harus merasa heran, geli, atau sedikit tersinggung.
"...Sejak kapan dia berjualan cendol?"
---