NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suara palu kayu yang diketuk oleh petugas lelang terdengar seperti dentuman meriam di tengah ballroom yang hening.

"Sold! Seratus miliar rupiah untuk Nyonya Karin dan Tuan Arlan Dirgantara!" suara petugas lelang itu bergetar, jelas tidak menyangka bahwa lelang amal biasa akan berakhir dengan angka yang bisa membeli satu pulau kecil.

Tuan Suwono berdiri di dekat podium, wajahnya pucat pasi seperti mayat yang baru saja dibangkitkan lalu dibunuh lagi. Madame Tania yang tadi tersenyum lebar kini memegang dadanya, seolah-olah jantungnya lupa cara berdetak. Dan Vanessa? Wanita itu menunduk dalam-dalam, kuku-kukunya yang panjang menancap ke telapak tangannya sendiri hingga memutih. Mereka baru saja dibungkam dengan cara yang paling menyakitkan bagi kaum konglomerat: dibungkam dengan uang.

Arlan tidak membuang waktu untuk menikmati kemenangan. Ia mengeluarkan ponselnya, mengirimkan satu pesan singkat kepada kepala keuangannya, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku jasnya.

"Transfer sudah dilakukan," ucap Arlan datar, suaranya bergema di seluruh ruangan berkat mikrofon yang masih menyala di podium. "Lukisan ini sekarang milikku. Dan siapa pun yang berani meragukan kesehatan mental atau nilai dari istriku, akan berurusan langsung dengan tim hukum Dirgantara Group."

Ancaman itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, tapi aura membunuh yang dipancarkan Arlan membuat seluruh ruangan serentak menelan ludah.

Karin, yang berdiri di samping podium, tiba-tiba menarik lengan jas Arlan. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya, dan berbisik dengan nada panik yang sangat asli.

"Kak Arlan! Seratus miliar?! Itu uang jajan kita seumur hidup! Kita bisa beli pabrik bakso sepuluh ribu! Kita bisa beli pulau buat tempat tinggal kunang-kunang!"

Arlan menoleh, menatap wajah istrinya yang tampak benar-benar menderita memikirkan angka nol yang banyak itu. Sudut bibir pria itu berkedut, lalu ia tertawa kecil. Tawa yang tulus dan renyah.

"Tenang saja, Nyonya Pabrik Bakso," bisik Arlan balik, suaranya sangat lembut. "Uang seratus miliar itu berasal dari dana amal keluarga Suwono yang memang harus mereka sumbangkan. Aku hanya memindahkan uang mereka ke yayasan anak yatim piatu atas nama lukisanmu. Jadi, kita tidak rugi. Kita hanya membeli karya seni dan melakukan amal sekaligus."

Mata Karin yang tadinya panik langsung berbinar. "Wah! Jadi kita orang baik?! Kak Arlan hebat!"

Arlan menggelengkan kepala, lalu menggenggam tangan Karin. "Ayo pulang. Aku lelah melihat wajah-wajah menyedihkan di ruangan ini."

Mereka berjalan keluar dari *ballroom*. Para tamu langsung menepi, membentuk lorong penghormatan layaknya Laut Merah yang terbelah. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Tidak ada lagi bisik-bisik jahat. Yang tersisa hanyalah rasa hormat, dan sedikit ketakutan, pada pasangan Dirgantara.

***

Di dalam mobil Maybach yang gelap dan sunyi, suasana berubah drastis.

Pembatas kaca pemisah antara kursi depan dan belakang sudah dinaikkan. Arlan melepaskan dasinya yang terasa mencekik, lalu bersandar di kursi kulit yang empuk. Ia menoleh ke arah Karin. Wanita itu sedang sibuk memeluk tas tangannya, menatap jendela yang gelap dengan pipi yang masih merona.

"Karin," panggil Arlan pelan.

"Iya, Kak?" Karin menoleh, memasang senyum lebar khasnya. "Kak Arlan mau makan bakso lagi? Aku masih bisa makan lima porsi!"

Arlan tidak tertawa. Ia menggeser duduknya, menutup jarak di antara mereka. Tangannya yang besar dan hangat terulur, lalu dengan lembut menangkap dagu Karin, memaksa wanita itu untuk menatap matanya.

"Berhenti," ucap Arlan, suaranya rendah dan serak. "Berhenti berpura-pura. Untuk malam ini... tolong, berhentilah berpura-pura."

Senyum di wajah Karin perlahan memudar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Arlan bisa mendengarnya. Topeng yang ia pakai selama berbulan-bulan, topeng yang menyelamatkannya dari kematian, kini terasa sangat berat.

"Kak Arlan..." suara Karin terdengar kecil, tidak ada lagi nada riang yang dibuat-buat. "Kalau aku berhenti... Kakak masih mau sama aku?"

Arlan menatapnya dengan mata yang begitu dalam, seolah-olah ia sedang menatap satu-satunya bintang di langit yang gelap. "Aku sudah gila padamu, Karin. Sejak kau menyusun balok kayu. Sejak kau mencium bau teh palsu. Sejak kau menggunakan dokumen cerai sebagai handuk. Aku tidak jatuh cinta pada istri yang idiot. Aku jatuh cinta pada *kamu*. Wanita pintar, keras kepala, dan sangat berani yang bersembunyi di balik topeng itu."

Air mata menggenang di pelupuk mata Karin. Ia tidak bisa menahannya lagi. Pertahanan yang ia bangun sejak hari pertama ia masuk ke dalam novel ini runtuh sepenuhnya.

"Aku... aku bukan dari sini, Kak," bisik Karin, suaranya bergetar. "Aku bukan Karin yang asli. Aku datang dari tempat lain, dan aku tahu semua yang akan terjadi di hidupmu. Aku berpura-pura bodoh karena aku takut mati. Tapi sekarang... sekarang aku lebih takut kehilangan Kakak."

Arlan terdiam sejenak. Otak briliannya memproses kalimat itu. *Bukan dari sini? Datang dari tempat lain?* Bagi orang lain, itu terdengar seperti omong orang gila. Tapi bagi Arlan yang sudah melihat keajaiban demi keajaiban dari istrinya, itu masuk akal. Istrinya memang bukan manusia biasa.

"Entah dari mana kau datang," ucap Arlan akhirnya, jempolnya mengusap air mata yang jatuh di pipi Karin. "Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun."

Arlan menunduk. Jarak antara wajah mereka tinggal beberapa milimeter. Karin bisa mencium aroma *sandalwood* dan *mint* yang sangat ia rindukan. Napasnya tercekat.

"Bolehkah aku mencium istriku?" bisik Arlan, matanya menatap bibir Karin. "Tanpa ada kunang-kunang, tanpa ada bebek kedinginan. Hanya aku dan kamu."

Karin tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Otaknya sudah blue screen. Ia hanya mengangguk pelan, menutup matanya, dan membiarkan dirinya tenggelam.

Bibir Arlan menyentuh bibirnya.

Ciuman itu tidak terburu-buru. Itu lembut, hangat, dan penuh dengan emosi yang selama ini dipendam oleh sang CEO dingin. Tangan Arlan melingkari pinggang Karin, menariknya hingga wanita itu duduk di pangkuannya, memeluknya seolah-olah ia adalah harta paling berharga di dunia. Karin membalas ciuman itu, tangannya mencengkeram kerah kemeja Arlan, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.

Di dalam kegelapan mobil yang melaju membelah malam Jakarta, Karin akhirnya menyadari satu hal.

Sistem, aku menyerah, batinnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Aku tidak butuh panduan untuk menjadi istri CEO lagi. Karena aku sudah menjadi istri Arlan. Dan itu... lebih dari cukup.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!