Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-8
Malam di gang sempit itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada suara jangkrik yang kalah oleh dengung kipas angin tua di dalam kontrakan Elisa. Elisa duduk bersila di lantai, menyandarkan kepalanya pada tepi tempat tidur tempat Aris terlelap. Sebuah kantong plastik berisi mangga muda pemberian tetangga tergeletak di sampingnya, separuhnya sudah habis, namun rasa mual itu tak kunjung hilang.
Ia menangis lagi. Tangisan tanpa suara yang hanya berupa lelehan air mata di pipi. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih datar. Ada ketakutan luar biasa yang mencengkeramnya, ketakutan akan masa depan Aris, ketakutan akan pandangan tetangga, dan ketakutan akan sosok pria yang malam itu menghancurkannya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kayu depannya.
Tok... tok... tok...
Elisa tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ini sudah hampir jam sebelas malam. Siapa yang bertamu selarut ini?
"Siapa?" tanya Elisa dengan suara gemetar. Ia menghapus air matanya dengan cepat dan berdiri, meraih sebuah sapu lidi di dekat pintu sebagai perlindungan diri.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam.
Tok... tok...
"Kalau nggak jawab, saya teriak maling!" ancam Elisa, meski suaranya pecah.
"Ini... ini saya," sebuah suara berat dan serak terdengar dari balik pintu.
Darah Elisa seolah berhenti mengalir. Ia mengenali suara itu. Suara yang menghantuinya dalam mimpi buruk setiap malam. Suara pria dari Hotel Grand Aurora.
"Pergi!" teriak Elisa pelan, takut membangunkan Aris. "Pergi dari sini! Jangan ganggu saya lagi!"
"Elisa, tolong. Sebentar saja. Saya cuma mau bicara," ucap Kalandra di balik pintu. Suaranya tidak terdengar dingin seperti biasanya; ada nada keputusasaan yang nyata di sana.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan! Saya sudah bilang sama teman-teman kamu, saya nggak mau ketemu! Pergi atau saya beneran teriak!"
Di luar pintu, Kalandra bersandar pada dinding tembok yang lembap. Ia mengenakan hoodie hitam sederhana untuk menutupi identitasnya, namun aroma parfumnya yang elegan tetap menguar, beradu dengan bau selokan gang yang tidak sedap. Kalandra sendiri sedang menahan rasa mual yang luar biasa. Efek sympathetic pregnancy itu benar-benar menyiksanya malam ini.
"Saya tau kalau kamu hamil, Elisa."
Kalimat itu membuat Elisa terpaku. Ia membuka kunci pintu dengan tangan gemetar dan menariknya terbuka lebar. Matanya yang sembab menatap Kalandra dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Kamu... kamu memata-matain saya?” desis Elisa. "Kamu itu penjahat! Kamu yang sudah ambil semuanya dari saya, sekarang kamu mau apa lagi? Ha!! Mau ambil anak ini juga?"
Kalandra tertegun melihat kondisi Elisa di bawah lampu teras yang remang-remang. Wajah gadis itu jauh lebih tirus dari yang ia ingat. "Saya nggak mau ambil apa-apa. Saya…saya mau tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Kasih uang? Saya nggak butuh uang kamu!"
"Saya akan nikahi kamu" ucap Kalandra mantap, menatap langsung ke mata Elisa.
Elisa tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan. "Hahah…Nikah? Kamu pikir pernikahan itu kompensasi buat pemerkosaan? Kamu pikir dengan nikahin saya, trauma saya hilang? Kamu bahkan nggak tahu nama belakang saya, kamu nggak tahu apa-apa tentang hidup saya!"
"Makanya saya di sini, Elisa. Saya mau tahu semuanya," Kalandra mencoba melangkah maju, namun Elisa langsung mundur dan mengangkat sapu lidinya.
"Jangan mendekat! Satu langkah lagi anda berani mendekat, saya pastikan akan bangunin semua warga!"
Kalandra berhenti. Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda damai. "Oke, oke. Saya diem di sini. Tapi tolong, dengerin saya dulu. Malam itu saya di jebak sama rekan bisnis saya. Saya nggak sadar waktu itu. Saya juga bukan orang yang suka mainin cewek, Lis. Seumur hidup saya, saya paling benci laki-laki yang kasar sama perempuan. Dan sekarang saya menjadi orang yang saya benci itu."
"Itu urusan anda, bukan urusan saya!"
"Saya nggak bisa biarin kamu nanggung ini semua sendirian," lanjut Kalandra, suaranya melembut. "Kamu punya adik. Gimana kalau tetangga kamu tau? Gimana sekolah dia kalau kakaknya dicap yang nggak-nggak? Saya punya kekuatan buat lindungin kalian berdua."
Elisa terdiam. Kalimat Kalandra menghantam titik terlemahnya, Aris. Ia bisa menanggung semua hinaan untuk dirinya sendiri, tapi ia tidak sanggup jika Aris harus menanggung malu di sekolah karena dirinya.
Tiba-tiba, wajah Kalandra berubah pucat. Ia menutup mulutnya dengan tangan dan berbalik, membelakangi Elisa.
"Ugh..." Kalandra membungkuk, menahan rasa mual yang mendadak menyerang dengan hebat.
Elisa mengernyit bingung. “Anda... anda kenapa?"
"Nggak apa-apa... ugh... saya cuma pusing," gumam Kalandra. Bau mangga muda yang menguar dari dalam rumah Elisa lewat pintu yang terbuka justru membuat perut Kalandra jungkir balik.
"Anda sakit?" tanya Elisa, sedikit rasa kemanusiaannya muncul meski ia sangat membenci pria ini.
"Saya nggak tau... sejak sore tadi saya mual terus tiap cium bau menyengat," Kalandra mencoba mengatur napasnya. "Kayaknya... kayaknya saya ketularan kamu yang lagi hamil.”
Elisa melongo. "Ha, Apa maksud anda Ketularan? Mana ada hamil menular!"
"Kata Gery... ini ikatan batin sama bayinya. Saya nggak tau itu masuk akal atau nggak, tapi rasanya saya mau mati," Kalandra terduduk di lantai teras yang kotor, tidak peduli lagi dengan celana mahalnya.
Elisa menatap pria di hadapannya. Pria yang terlihat sangat perkasa dan dingin malam itu, kini tampak sangat menyedihkan di depannya. Ia menghela napas panjang, lalu masuk sebentar dan kembali membawa segelas air hangat dan sepotong jahe.
"Nih, minum. Terus pulang," ujar Elisa ketus, menaruh gelas itu di dekat kaki Kalandra.
Kalandra mendongak, menatap gelas itu lalu menatap Elisa. "Kamu.. kamu masih mau baik sama saya setelah apa yang saya lakuin?"
"Saya bukan orang jahat kayak kamu," sahut Elisa. "Minum, habis itu pergi. Jangan pernah datang malam-malam begini lagi. Kalau mau bicara, datang besok siang saat Aris di sekolah."
Kalandra meminum air hangat itu, rasa jahenya sedikit menenangkan perutnya. Ia berdiri dengan perlahan. "Saya bakal dateng besok jam sepuluh. Saya harap kamu nggak kabur."
"Saya nggak punya tempat buat kabur lagi," jawab Elisa lirih sebelum menutup pintu dan menguncinya kembali.
Keesokan Harinya, Gery dan Bimo sudah menunggu di kantor Kalandra sejak pagi. Saat Kalandra masuk dengan wajah yang terlihat lebih hidup meski masih pucat, Gery langsung menyambutnya.
"Gimana semalem? Selamat nggak? Nggak dipukulin warga kan?" cerocos Gery sambil melempar bola tenis kecil ke dinding.
Kalandra duduk di kursinya. "Gue ketemu sama dia. Gue bilang mau nikahi dia.”
Bimo menghentikan kegiatannya membaca dokumen. "Terus? Dia setuju?"
"Dia belum bilang iya. Tapi dia izinin gue dateng lagi siang ini buat bicara," jawab Kalandra.
"Wih! Kemajuan pesat!" Gery bertepuk tangan. "Lo bawa apa semalem? Bunga? Cokelat?"
"Gue bawa mual-mual," sahut Kalandra datar.
Gery tertawa terbahak-bahak. "Tuh kan! Gue bilang juga apa! Lo itu udah jadi satu paket sama Elisa sekarang. Sympathetic pregnancy itu nyata, Lan! Lo bakal ngerasain semua yang dia rasain. Entar kalau dia pengen makan bakso jam dua pagi, lo yang bakal keliling cari abangnya sambil muntah-muntah."
Bimo tersenyum tipis. "Tapi serius, Lan. Kalau dia setuju nikah, lo mau taruh dia di mana? Mansion orang tua lo? Sedangkan lo aja belum ngomong masalah ini ke nyokap sama bokap lo.”
Kalandra terdiam sejenak. "Gue bakal pindah ke apartemen gue sendiri. Gue bakal bawa dia dan adiknya ke sana. Gue mau mereka aman dari gangguan orang-orang Pak Danu atau gunjingan tetangga. Dan urusan nyokap sama bokap gue juga masih bingung mau ngomong bagaimana.”
"Lo yakin si Aris itu mau diajak pindah?" tanya Bimo. "Anak kecil itu biasanya susah adaptasi."
"Makanya gue butuh bantuan kalian," Kalandra menatap kedua sahabatnya. "Gery, lo kan pinter ambil hati anak kecil. Lo ikut gue nanti siang. Bimo, lo urus surat-surat pernikahan secara agama dulu kalau dia setuju. Gue mau semuanya sah secepatnya."
Gery memberi hormat. "Siap, Bos! Tugas negara demi ponakan baru! Tapi Lan, gue boleh minta satu hal nggak?"
"Apa?"
"Kalau lo nanti ngidam pengen dandan jadi cewek, jangan ajak-ajak gue ya. Gue nggak kuat liat lo pake wig," goda Gery yang langsung dihadiahi lemparan pulpen oleh Kalandra.
Wakru yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Jam 10 Pagi Mobil SUV Kalandra kembali terparkir di depan gang. Kali ini, Kalandra mengenakan kemeja santai, tidak memakai jas. Gery mengekor di belakangnya membawa beberapa kotak mainan besar dan makanan yang tidak berbau menyengat.
"Inget ya, Lan. Lemes-lemesin dikit tuh muka. Jangan kayak orang yang mau nagih utang," bisik Gery.
Mereka sampai di depan rumah Elisa. Pintu terbuka, memperlihatkan Elisa yang sudah rapi dengan baju terusan sederhana. Di sampingnya, Aris menatap kedua tamu itu dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu.
"Halo jagoan! Inget Kak Gery nggak?" sapa Gery riang, langsung berjongkok di depan Aris.
Aris mengangguk malu-malu. "Yang dibilang Kak Elisa mau kasih bonus ya?"
Gery tertawa. "Haha…Bener banget! Dan hari ini, Kakak bawa temen Kakak yang paling kaya tapi paling kaku sejagat raya. Namanya Kak Kalandra."
Kalandra berjongkok, mencoba tersenyum meskipun kaku. "Halo, Aris."
Elisa menatap interaksi itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa hangat yang aneh melihat Kalandra mencoba bersikap baik pada adiknya, namun rasa takut itu masih ada.
"Masuklah," ucap Elisa pelan.
Di dalam rumah yang sempit itu, Kalandra duduk di kursi kayu, sementara Gery asyik bermain robot-robotan dengan Aris di lantai. Elisa duduk di hadapan Kalandra, tangannya saling bertaut di pangkuan.
"Jadi... apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Elisa tanpa basa-basi.
Kalandra menarik napas dalam. "Saya serius soal pernikahan itu, Elisa. Saya nggak minta kamu cinta sama saya sekarang. Saya cuma mau kamu dan anak itu dapet fasilitas yang layak. Kamu nggak bisa terus-terusan kerja jadi kurir dalam kondisi hamil."
"Saya bisa jaga diri saya sendiri," sahut Elisa keras kepala.
"Terus Aris?" tanya Kalandra pelan. "Kamu mau dia denger omongan orang kalau kakaknya hamil di luar nikah? Di apartemen saya, nggak akan ada yang kenal kalian. Kamu bisa fokus jagain kandungan kamu dan Aris bisa sekolah di tempat yang lebih bagus."
Elisa menunduk. Pertahanan hatinya mulai goyah. Ia memandang Aris yang sedang tertawa bersama Gery. Kebahagiaan adiknya adalah segalanya baginya.
"Hanya pernikahan di atas kertas?" tanya Elisa lirih.
Kalandra terdiam sejenak. "Untuk sekarang, iya. Saya nggak bakal sentuh kamu kalau kamu nggak izinin. Saya cuma mau jadi pelindung kalian. Dan bertanggung jawab untuk anak itu.”
Elisa menatap Kalandra lama, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang dalam.
"Oke," bisik Elisa. "Demi Aris. Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Jangan pernah kasih tahu Aris... tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Biarkan dia tahu kalau kamu adalah... tunangan saya yang baru kembali."
Kalandra mengangguk pasti. "Saya janji. Seumur hidup saya, saya bakal jaga rahasia itu."
Tanpa mereka sadari, sebuah kesepakatan telah dibuat. Sebuah pernikahan yang berawal dari kesalahan besar, kini mulai merajut benang-benang takdir baru yang penuh dengan misteri, komedi ngidam, dan perjuangan melawan trauma.
🍂🍂🍂