NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi
Popularitas:104.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Hari-hari belakangan ini, gedung sayap kiri kastil tidak lagi terasa sunyi. Jika dulu tempat itu hanya dipenuhi suara angin yang menyelinap melalui jendela tinggi dan langkah pelayan yang hati-hati, kini hampir setiap hari terdengar dua suara yang saling bersahutan, kadang seperti perang kecil, kadang seperti gurauan yang tidak disengaja, Alecio dan Sandrina.

Alecio duduk di sofa panjang, memperhatikan Sandrina yang sedang menyusun buku-buku lama di rak. “Cara menyusunnya salah,” ucapnya santai.

Sandrina menoleh tajam. “Salah dari mana? Ini sudah sesuai warna, aesthetic banget.”

“Buku bukan hiasan.”

“Ya terus? Masa mau disusun sesuai golongan darah?” balas Sandrina cepat.

Alecio menyandarkan punggungnya, menikmati ekspresi kesal gadis itu. “Kau terlalu emosional untuk hal sepele.”

Sandrina mendengus. “Kamu terlalu dingin untuk jadi manusia normal.”

Sejenak hening. Lalu tanpa sadar, sudut bibir Alecio terangkat.

Hari-harinya yang dulu dipenuhi rapat dan rencana gelap, kini lebih sering ia habiskan di sayap kiri itu. Kadang hanya untuk mengusili Sandrina, menyembunyikan bukunya, mengganti gula dengan garam, atau tiba-tiba berbicara dalam bahasa Italia agar gadis itu kebingungan.

“Sei testarda,” gumam Alecio suatu hari.

Sandrina menyipitkan mata. “Itu artinya apa?”

Alecio pura-pura tidak dengar.

Namun, Sandrina kini tidak sebodoh minggu-minggu awal ia berada di kastil itu. Ia sudah mulai memahami beberapa kalimat dari Rosa dan Gianni. Bahkan dari umpatan Alecio saat kesal.

“Testarda itu keras kepala, kan?” kata Sandrina tiba-tiba dengan bangga.

Alecio menoleh, sedikit terkejut. “Kau belajar?”

Sandrina tersenyum puas. “Sedikit-sedikit. Kalau kamu ngomel, aku sudah ngerti setengahnya.”

“Dan kau tidak marah?”

“Ya tergantung. Kalau kamu bilang ‘bella’, aku nggak marah.”

Alecio terdiam sepersekian detik. “Siapa yang mengajarimu itu?” tanyanya pelan.

“Rosa,” jawab gadis itu ringan. “Katanya artinya cantik.”

Tatapan Alecio berubah lembut. “Itu benar.”

Sandrina yang tadinya santai langsung salah tingkah. “Eh, yaudah, makasih.” Ia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan buku.

Alecio memperhatikannya dalam diam. Entah sejak kapan ruangan itu terasa lebih hidup hanya karena keberadaan gadis cerewet itu.

Namun sore itu, suasana berubah. Langkah cepat terdengar di koridor. Max muncul dengan wajah serius, berbeda dari biasanya.

“Tuan.” Nada suaranya langsung membuat Alecio berdiri.

“Apa?” balas Alecio singkat.

Max mendekat, suaranya diturunkan. “Kelompok Serigala Abu-abu bergerak. Informasi terbaru. Mereka akan melakukan pembongkaran barang malam ini.”

Alecio membeku. “Di mana?”

“Pantai timur. Ini dermaga baru mereka, tempatnya sangat rahasia. Hanya orang dalam yang tahu.”

Sandrina yang tadi pura-pura tidak menguping, kini menoleh pelan. “Serigala Abu-abu.”

Nama itu tidak asing di telinganya. Ia pernah mendengar beberapa anak buah Alecio menyebutnya dengan nada takut. Sandirina pun teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu saat Alecio pulang dalam keadaan terluka dan dia menemaninya di ruang kesehatan.

Alecio berjalan ke jendela, menatap halaman yang mulai gelap. “Apa pembongkaran dipimpin Benio sendiri?” tanyanya tanpa berbalik.

Max mengangguk. “Ya.”

Hening panjang menggantung. Aura di ruangan itu berubah drastis. Jika tadi hangat dan penuh ejekan ringan, kini udara terasa lebih berat dan lebih mencekam.

Sandrina memperhatikan punggung Alecio yang menegang. Ia belum pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.

“Ada apa dengan Benio?” tanya Sandrina pelan.

Max ragu sejenak, tapi Alecio yang menjawab. “Dia yang sudah membunuh ayahku,” ucapnya datar. “Dan kakekku.”

Sandrina tercekat. Kalimat itu tidak diucapkan dengan teriakan. Tidak dengan amarah yang meledak. Justru terlalu tenang dan dingin, itu lebih terasa menakutkan.

Sandrina melangkah mendekat. “Maksudmu, dia yang ....?”

Alecio akhirnya berbalik. Matanya tidak lagi sekadar gelap. Ada bara di sana.

“Dia yang memerintahkan penyerangan rumah keluarga kami dua puluh tahun lalu, saat keluarga kami masih dalam keadaan berduka setelah kematian ibuku,” kata Alecio pelan. “Aku melihat sendiri ayahku ditembak. Kakekku ditusuk saat mencoba melindunginya.”

Sandrina menahan napas. Luka itu belum sembuh. Ia bisa melihatnya jelas di mata pria itu.

“Aku tidak bisa menolong mereka,” lanjut Alecio. “Aku terlalu muda. Terlalu lemah.”

Max menunduk. Ia tahu cerita itu. Semua orang dekat Alecio tahu.

“Tapi sekarang,” suara Alecio berubah lebih rendah, lebih tegas, “aku tidak lagi lemah.”

Sandrina merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Ini bukan lagi sekadar persaingan bisnis.

Ini dendam darah yang belum terbalas.

“Ini kesempatan bagus,” kata Max. “Kalau kita menyerang malam ini, kita bisa menghancurkan jalur distribusi mereka.”

Alecio menatap peta di meja. Dia menunjuk titik pantai timur. Di sana ada dermaga rahasia milik kelompok Serigala Abu-abu dan Benio akan ada di sana malam ini.

Tangan Alecio mengepal perlahan. “Aku ikut,” ucapnya mantap.

Sandrina refleks meraih lengannya. “Tunggu!”

Sentuhan itu membuat Alecio menoleh.

“Ini berbahaya,” kata Sandrina lirih. “Kalau ini soal dendam, jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Tatapan mereka bertemu. Wajah keduanya sangat dekat.

“Ini bukan hanya dendam,” jawab Alecio pelan. “Ini soal harga diri keluargaku. Soal darah yang ditumpahkan.”

“Dan kalau kamu tidak kembali?” suara Sandrina bergetar tanpa ia sadari.

Max pura-pura melihat ke arah lain.

Alecio menatap tangan Sandrina yang masih menggenggam lengannya. “Kamu khawatir?” tanyanya lembut.

Sandrina ingin menyangkal. Namun kata-kata itu tidak keluar. “A-ku cuma nggak mau Rosa dan Gianni sedih lagi,” kilahnya cepat.

Sudut bibir Alecio terangkat tipis. “Bohong.”

Alecio mengangkat tangan, menyentuh pipi Sandrina dengan lembut. “Non ti lascerò,” bisiknya pelan.

Sandrina mengerutkan kening. “Apa itu?”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Jantung Sandrina berdebar keras. Beruntung wajahnya tertutup cadar, kalau tidak semua orang akan melihat kulit wajahnya merona.

Di dalam ruangan itu, ketegangan bercampur dengan sesuatu yang lebih lembut, sesuatu yang belum mereka beri nama.

Alecio merasakan desiran pada aliran darahnya. Buru-buru dia menarik tangannya perlahan. Dia pun berbalik menghadap Max.

“Siapkan orang-orang!” perintah Alecio pada Max. “Kita bergerak satu jam lagi.”

“Baik, Bos!” Max mengangguk dan pergi.

Kini di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua.

Sandrina menatapnya dengan campuran takut dan cemas. “Hati-hati.”

Alecio mendekat, begitu dekat hingga napas mereka hampir bersentuhan. “Kau tahu apa alasan terbesarku untuk kembali?” tanyanya pelan.

Sandrina menelan ludah. “Apa?”

“Karena ada seseorang di sayap kiri yang terlalu cerewet untuk kutinggalkan.”

Mata Sandrina memanas. Ia ingin memukulnya karena masih bisa bercanda di saat seperti ini. Namun, yang keluar justru suara lirih, “Jangan lama-lama.”

Alecio tersenyum tipis. Dia merasa dendam dan cinta berdiri di tempat yang sama di dalam dadanya.

Dan hari itu, ketika Alecio melangkah keluar dari sayap kiri kastil, bukan hanya bayangan Benio yang memenuhi pikirannya, tetapi juga wajah seorang gadis yang kini tanpa sadar telah menjadi alasan ia ingin tetap hidup.

1
ken darsihk
😂😂😂😂 guyuuu deweee 🤭
Nar Sih
semangat alecio ,jgn cemburuu dgn tmn,,sandrina lebih baik nikmati keseruan mlm takbir yg pasti heboh dgn ulah konyol ank buah mu
Ninik
Mak othor tega bener ma kite dikasih up nya cuma sekali doang padahal ini justru yg jadi kita terhibur
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
itu mah opor ... Patrick 🤣
Aditya hp/ bunda Lia
gimana tuh para mafia ikutan takbir keliling pasti heboh yah ... 🤣🤣
seftya
lanjut
Mineaa
udah ga sabar liat para mafioso ikut takbir keliling .... pasti seru dengan semua culture shock mereka.....dengan segala tingkah konyolnya.....
belum lagi di liatin para warga lokal....karena mereka " bule "....
mana bule no kaleng kaleng lagi....
thoooorrrr di tunggu update secepatnya ya.... please.....🙏🔥🔥🔥🔥🔥
Sartini 02
lanjut kak double up ya....🤭🤣😍
Lilis Yuanita
lucu🤣🤣
Sartini 02
lanjut kak double up ya...🤭🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😄😄😄😄😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
benar ale. serandom itulah kami kaum cewek
ken darsihk
Ngguyu kemekelennn 😂😂😂
Bule Itali ra umum ha ha ha
Halimah
Astaghfirullah ngakak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
kak Santi kalau up minimal 2 bab donk biar gak nanggung 🙏🙏
seruu soal nya 😘😘
Halimah
dasar somplak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
aku malah kasihan pula sama Ayam nya yg JD panik 🤣
untung gda ayam yg mau bertelur ,, JK ayam yg mo bertelur panik yg ada telur nya masuk lg dan gak JD keluar 🤣🤣🤣
sakit perut aku baca nya sangking ngakak nya. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!