Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lancang
Kesokan harinya, saat rombongan Theo berkemas. Lumi sedang bersama Milo, ia terlihat sedih sambil mengelus Milo seolah menyampaikan perpisahan untuk selamanya. Maerin yang menyadarinya kemudian mendekati Lumi dan mengelus lembut rambutnya, "Kau sangat menyayangi Milo ya?"
"Tentu saja, bibi Maerin! Aku benar-benar akan sangat merindukannya. Memikirkannya saja membuatku merasa sangat sedih." Jawab Lumi dengan lesu.
"Bagaimana jika Milo tetap tinggal di sini?" Tanya Maerin.
"Jika itu benar terjadi, aku pasti sangat bahagia. Tapi kan Milo sangat berharga untuk Paman Theo dan bibi Maerin. Pasti kalian akan membawanya pergi." Lumi terlihat semakin sedih.
"Sebenarnya paman Theo dan bibi sudah memutuskan untuk Milo tetap tinggal di sini bersama kalian." Ucap Maerin.
"Sungguh? Benarkah itu?" Wajah Lumi dihiasi senyumnya yang lebar.
"Ya, tapi kami harus membicarakan dengan ayah dan ibuku terlebih dahulu. Apakah mereka bersedia merawat Milo." Kata Maerin.
"Pasti ayah dan ibu sangat menerima Milo. Jika mereka tak mau, aku saja yang merawatnya!" Ucap Lumi antusias.
"Hahaha.. kau sangat bersemangat sekali. Kalau begitu bibi akan menemui ayah dan ibumu terlebih dahulu. Kau lanjutkan bermain dengan Milo dulu ya.." Ucap Maerin.
"Baik!!!" Lumi terlihat bersemangat.
Saat Maerin ingin menemui Sophie dan Rowan, ternyata Theo sudah bersama dengan mereka dan telah membicarakan tentang Milo yang tetap tinggal di sini.
"Apa kalian yakin? Bagaimana pendapat Maerin?" Tanya Sophie pada Theo.
Maerin yang bergabung dan duduk di dekat Theo.
"Nah, Maerin sudah di sini. Kau bisa menanyakan langsung padanya. Sebenarnya ini usulnya kok." Jawab Theo.
"Kalian sedang berdiskusi tentang Milo ya?" Tanya Maerin yang baru bergabung.
"Benar. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Sophie.
"Sejujurnya aku merasa berat hati dan tidak enak dengan merepotkan kalian untuk merawat Milo. Namun ini adalah pilihan terbaik. Sebab Milo sudah terbiasa hidup di lingkungan damai dan bebas seperti di sini." Jawab Maerin yang sambil menatap ke arah Theo.
"Maaf merepotkan kalian lagi, kami merasa kasihan jika membawa Milo melakukan perjalanan jauh dan berpindah-pindah sebab majikan kami yang seorang pedagang ini. Kami tak menyalahkan siapapun, hanya saja situasi kurang memungkinkan membawa Milo." Imbuh Theo.
"Kami tidak keberatan sama sekali untuk merawat Milo, bahkan Lumi dan Lior juga sangat menyanyanginya. Jadi kalian tak perlu khawatir tentang Milo lagi." Kata Rowan.
"Sekali lagi, terima kasih banyak." Ucap Theo dengan lega.
"Bisakah kalian menunggu sebentar?" Tanya Sophie.
"Ada apa, Sophie?" Tanya Maerin.
"Sebenarnya dokter Wendy ingin berpamitan dengan kalian juga. Semalam beliau berencana menemui kalian, namun beliau sedang mempunyai beberapa pasien untuk diobati. Jadi beliau memintaku untuk menyampaikan pada kalian untuk menunggunya sebelum berangkat melanjutkan perjalanan kalian." Jawab Sophie.
"Sebenarnya kami juga ingin bertemu dengan beliau, namun saat kemarin melewati klinik. Beliau memang terlihat sibuk karena banyak orang di klinik. Jadi kami memutuskan untuk tak mengganggu beliau. Jika memang itu keinginan beliau untuk menemui kami, kami akan menunggunya." Kata Theo.
"Apa majikanmu tak keberatan? Bukankah kau sebaiknya meminta ijinnya terlebih dahulu?" Tanya Sophie.
"Oh... i-itu, beliau masih memantau pelayan-pelayan lain yang sedang mengecek dan memastikan barang-barang yang akan dijual serta barang-barang yang telah terpesan." Jawab Theo yang terlihat sedikit gugup.
"Apa tak masalah kalian tak ikut membantu?" Tanya Rowan.
"Iya, tak apa-apa. Sebenarnya saat diperjalanan sebelum sampai di sini, beliau berkata tak apa-apa jika kami menginap di sini selama beberapa hari kok. Namun kami meminta untuk menginap semalam saja. Jadi mungkin karena itu beliau sedikit melonggarkan pekerjaan kami." Theo membuat alasan agar Rowan dan Sophie tak bertanya lebih lanjut atau merasa curiga.
"Syukurlah jika begitu." Jawab Sophie.
Tak lama kemudian dokter Wendy datang. Theo dan Maerin pun menyapa. Mereka mengobrol sebentar dan setelahnya berpamitan. Mereka bersama-sama menuju kereta kuda. Di luar ternyata Silas sedang bersama Lior dan Lumi serta Milo. Silas pun berpamitan dengan mereka lalu berjalan mendekati Theo. Theo pun memperkenalkan Silas sebagai majikannya pada dokter Wendy. Silas berpamitan dan menaiki kereta kuda terlebih dahulu. Disusul Theo dan Maerin juga berpamitan pada semua orang. Sebelum mereka menaiki kereta kuda, mereka memeluk Milo untuk terakhir kalinya. Theo bergumam pada Milo, "Semoga kamu lebih bahagia di sini, Milo. Aku tak akan melupakanmu." Theo mengelus Milo untuk terakhir kalinya. Setelah itu menaiki kereta yang sama yang dinaiki Silas. Mereka melambaikan tangan pada semua orang. Kereta kudapun perlahan mulai berjalan dan menjauhi orang-orang.
Rowan, Sophie, dokter Wendy serta Lior dan Lumi melambaikan tangan hingga kereta tak terlihat. Lumi kemudian mengajak Milo bermain bersama dan ditemani Lior.
Sementara Sophie berkata, "Bukankah sedikit janggal ya, menaiki kereta yang sama dengan majikan?"
"Yah itu memang terlihat sedikit janggal sih. Seolah mereka seperti menyembunyikan sesuatu." Imbuh Rowan.
"Terlepas mereka merahasiakan atau menyembunyikan sesuatu. Fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang baik tidak berubah. Jadi cukup kenang hal-hal baik saja, tak perlu mencurigai mereka." Kata Dokter Wendy.
"Maaf, anda benar, dokter. Kenapa bisa saya berpikiran buruk pada mereka. Semoga mereka selalu baik-baik saja dimanapun mereka berada." Ucap Sophie.
***
Beberapa minggu telah berlalu, perjalanan rombongan Theo berjalan lancar. Tibalah mereka di istana kerajaan Cyrven. Dalam hati Theo ia merasa perasaan bercampur-campur. Rasa rindu, sesak, serta tertekan bercampur jadi satu di dalam hatinya. Maerinpun terlihat sedikit pucat namun Theo maupun Silas tak menyadarinya.
"Apakah anda mau istirahat terlebih dahulu di kediaman anda?" Tanya Silas pada Theo.
"Tidak. Sebaiknya aku langsung menemui Yang Mulia Raja." Jawab Theo dengan tegas.
Silas mengantarkan mereka menuju kediaman Raja. Theo berjalan sambil menggenggam erat tangan Maerin. Beberapa penjaga cukup terkejut melihat kedatangan Theo, namun mereka langsung menundukkan kepala. Theo merasa sangat canggung.
"Bukankan ini jalan menuju kamar Yang Mulia Raja? Kenapa kau mengantarkanku ke sini, Silas? Bukankah seharusnya menuju ruang kerja beliau?" Tanya Theo.
"Sepertinya yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kesehatan beliau sedikit menurun. Nah anda melihatnya kan, Tuan Garrick sedang berdiri di depan pintu kamar beliau. Sudah dipastikan beliau sekarang ada di dalam kamar." Jawab Silas.
Saat mendekati pintu kamar Raja, Garrick masih mengenali Theo yang dalam kondisi lusuh dan menyapa, "Salam Yang Mulia Pangeran Kedua Theodore."
"Apa kabar paman Garrick?" Jawab Theo.
"Seperti yang anda lihat, saya semakin tua." Jawab Garrick.
"Paman masih saja seperti dulu, tak berubah." Kata Theo dengan ramah.
"Pujian anda berlebihan, Pangeran." Jawab Garrick dengan ekspresi lega.
"Bisakah saya bertemu dengan Baginda, Paman?" Tanya Theo.
"Tentu saja, namun di dalam sedang ada Yang Mulia Putri Mahkota Sylvaine." Jawab Garrick.
'Deggg' dalam hati Theo terkejut mendengar nama Sylvaine. "Sebaiknya saya menunggu di sini saja."
"Baiklah jika itu yang anda inginkan." Jawab Garrick. Lalu Garrick melihat ke arah Maerin dan Theo menyadarinya.
"Perkenalkan, ini Maerin istri saya, Paman." Kata Garrick.
Garrick terlihat terkejut namun lega, "Selamat untuk anda berdua. Maafkan saya karena terlambat mengetahuinya."
"Bukan salah paman, saya saja yang memang tak pernah memberikan kabar. Maerin, ini paman Garrick, ajudan ayahanda." Kata Theo.
"Salam, Tuan Garrick. Saya Maerin." Kata Maerin.
Tiba-tiba pintu terbuka, muncullah sosok Sylvaine dari dalam dan berjalan keluar.
Sylvaine yang terkejut masih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya, ia hanya mengangguk elegan dan berjalan pergi. Lalu Garrick masuk terlebih dahulu dan menyampaikan kedatangan Theo. Setelah ia keluar, ia mengantarkan Theo dan Maerin masuk. Silas undur diri.
Raja terbaring di ranjangnya, Garrick berdiri di dekat Raja. Theo dan Maerin berdiri tak jauh dari Garrick.
"Bantu aku untuk duduk." Kata Raja pada Garrick.
Setelah Raja duduk sambil bersandar di ranjangnya, ia menatap tajam Theo dan Maerin bergantian. Lalu berkata, "Pantaskan penampilan seorang pangeran seperti ini? Dan siapa wanita di sampingmu itu?" Raja bertanya dengan nada dingin dan tajam.
Entah kenapa Theo merasakan rasa takut yang telah lama tak ia rasakan, "Maafkan saya atas penampilan lusuh saya ini, yang Mulia. Kedepannya saya akan lebih berhati-hati. Wanita di samping saya ini adalah istri saya."
Raja menatap Theo dengan tatapan merendahkan dan kesal, "Lancang sekali kau menikah tanpa ijin dariku!"
Bersambung...