NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayuran Untuk Semua

Keesokan harinya, di pagi hari. Maerin memilah dan merapikan barang-barang yang perlu dibawa atau ditinggalkan. Sesekali Maerin teringat kenangan bersama kakek dan nenek di rumah ini. Ia merasa sedih meninggalkan desa yang indah dan penduduknya ramah ini. Maerin menatap sekelilingnya, menatap setiap detail ruangan tempat dia berada. Bahkan ia memerhatikan bercak noda di dinding pula. Dia tak memiliki bayangan bagaimana kedepannya kehidupan yang akan dijalaninya. Satu hal yang dia yakini adalah ia akan selalu mengikuti kemanapun Theo melangkah.

Sementara itu, Theo sedang di luar rumah dan memanen sayuran di kebun samping rumah dengan dibantu oleh Silas. Silas terlihat cukup terampil untuk ukuran orang yang pertama kali berkebun. Theo yang diam-diam memerhatikannya pun merasa cukup takjub. Sebab jika mengingat saat ia mulai belajar berkebun, yang dia lakukan bukannya membantu kakek, namun menambah kerjaan kakek. Kakek dengan sabar dan pelan-pelan mengajarkan banyak hal tentang berkebun pada Theo. Lalu Theo teringat masa-masa menjalani hidup dengan kakek, nenek serta Maerin. Theo menatap kubis di depannya tanpa kedip, ia membayangkan kedepannya apa yang akan terjadi setelah ia sampai di istana. Yang jelas bukanlah kehidupan damai seperti sekarang. Ia cukup gundah dan khawatir. Ia tak memiliki apapun untuk melindungi Maerin jika di istana. Pikirannya terhanyut begitu dalam. Silas yang menyadari Theo yang sedang merenung memutuskan untuk memanen sayuran di area yang cukup jauh dari Theo. Silas memulai memanen buncis, mentimun serta kentang dan ubi.

Matahari semakin naik, hari sudah mulai siang. Anak-anak kecil berlarian di jalan setapak di sekitar rumah Theo. Mereka melihat Theo yang berada di kebun dan menyapanya. "Halo paman Theo!" Kata mereka bersamaan. Sapaan itu seketika membuyarkan lamunan Theo, ia tersadar dan menyapa anak-anak itu. "Kalian mau kemana?" Tanya Theo.

"Kami mau mencari serangga di hutan." Jawab salah seorang.

"Paman Theo sedang panen sayuran ya?" Tanya seorang anak.

"Iya, mau membantu? Kalian nanti bisa bawa pulang sayuran-sayuran ini juga lho." Ajak Theo dengan ramah.

"Wah.. ayok kita bantu paman Theo." Ajak salah satu dari anak-anak itu.

"Ayok-ayok." Mereka berlari menuju ke arah Theo. Namun seketika terhenti saat di dekat Theo sebab anak-anak itu melihat wajah asing Silas yang belum pernah mereka temui. Theo pun sadar dan memanggil Silas untuk mendekatinya. Supaya mudah untuk memperkenalkan Silas pada anak-anak itu, "Kenalkan, ini teman paman. Namanya Silas, kalian bisa memanggilnya paman Silas." Ucap Theo.

Anak-anak memandang Silas dengan perasaan sedikit takut sebab wajah tak rumahnya Silas cukup membuat mereka takut. Meskipun begitu, Silas mencoba tersenyum, namun terlihat kaku dan makin menakutkan. "Hentikan senyum konyolmu itu, kau menakuti anak-anak." Kata Theo pada Silas.

"Maaf. Saya hanya mencoba untuk bersikap ramah." Jawab Silas.

"Aku paham, tapi nggak usah memaksakan diri. Anak-anak ini cukup mudah bergaul dengan orang-orang dewasa. Jadi mereka mungkin yang akan memulai mendekatimu. Jangan kaget dengan keusilan mereka. Cukup tanggapi dengan santai." Kata Theo menjelaskan.

"Kau cukup mengenal mereka ya?" Tanya Silas.

"Tentu saja. Awalnya aku selalu diusili oleh mereka, tapi aku cukup menikmatinya."

Mereka mengobrol sambil memanen sayuran.

"Paman? Bukankah ini sudah cukup banyak? Lihatlah gundukan hasil panennya. Itu cukup untuk makan bersama semua warga desa." Tanya seorang anak.

"Paman sengaja memanen semuanya, sebab paman akan membagikan pada semua warga desa. Apa kalian juga mau membantu paman untuk membagi-bagikan sayurannya?" Jawab Theo.

"Yah, apa boleh buat jika paman butuh bantuan." Ucap seorang anak yang berlagak sombong.

"Haha.. Terima kasih ya." Kata Theo dengan ekspresi lembut.

"Tapi bagaimana kita akan membawa sayuran sebanyak ini?" Tanya seorang anak.

"Jelas paman mengajak Milo lah. Masa kau masih bertanya." Jawab salah satu anak.

"Wahhh... nanti setelah selesai ayok kita bermain dengan Milo ya." Anak-anak saling mengobrol dan sangat antusias.

Theo melihat mereka sambil tertawa pelan, Silas hanya diam mengamati sambil memanen tomat.

Maerin yang menyadari suara gaduh dari arah kebun pun melihat ke arah kebun dari jendela kamar. Ternyata ada anak-anak di desa yang membantu panen. Lalu Maerin membuatkan minuman dan camilan untuk mereka.

Beberapa waktu kemudian tepat saat Theo dan Silas beristirahat bersama anak-anak, Maerin datang menghampiri mereka dengan membawakan minuman dan camilan. Anak-anak pun berteriak senang. Mereka memakan camilan dan minuman bersama.

***

Menjelang sore, Theo dan Maerin mulai berkeliling bersama anak-anak dengan menuntun Milo yang menarik gerobak yang berisi penuh dengan sayuran. Sementara Silas tinggal di rumah dan membereskan serta membersihkan sisa-sisa hasil panen.

Theo dan Maerin mendatangi setiap rumah di desa. Mereka membagikan hasil panen sayurannya dan sekalian berpamitan. Reaksi setiap warga selalu sama, mereka sangat terkejut dan tidak rela jika Theo dan Maerin pergi meninggalkan desa. Mereka selesai membagikan sayuran hingga hari menjelang gelap. Dan rumah terakhir yang dituju adalah rumah kepala desa. Karena hari sudah mulai gelap, kepala desa menyuruh anak-anak untuk pulang, tak lupa Theo juga membagikan anak-anak itu banyak sayuran. Terlihat kekecewaan pada wajah anak-anak sebab mereka tak jadi bermain bersama Milo. Akhirnya Theo menjanjikan bahwa seharian besok anak-anak bisa bermain dengan Milo. Anak-anak yang mendengarnya pun kembali bersemangat dan pulang.

Theo dan Maerin mengobrol dengan kepala desa. Mereka ingin berpamitan serta mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diterima di desa ini. Theo berkata jujur bahwa berat hati meninggalkan desa ini, namun Theo memang harus pergi sebab ayahnya telah menunggunya kembali. Kepala desa tak menahan mereka, tapi mengatakan desa ini selalu menerima kedatangan Theo dan Maerin jika mereka kembali ke sini. Maerin yang matanya sudah bengkak sebab banyak menangis saat berpamitan dengan semua orang, kini kembali menangis mendengar perkataan kepala desa. Hal itu membuat kepala desa dan Theo tertawa kecil karena penampilan Maerin yang terlihat lucu itu. Maerin makin menangis sebab ditertawakan oleh keduanya. Tak lama kemudian istri kepala desa bergabung dan berusaha menenangkan Maerin yang menangis sesenggukan itu. Maerinpun memeluk istri kepala desa. Istri kepala desa pun memeluk Maerin dengan lembut. Mereka cukup lama berbincang, saat hendak berpamitan untuk pulang. Theo menitipkan kembali rumah kakek dan nenek yang ditempatinya itu pada kepala desa, sekaligus menitipkan makam kakek dan nenek. Kepala desa menepuk pundak Theo dengan hangat dan berkata, "Tanpa perlu kau minta, tentu saja akan kurawat mereka."

Dengan penuh pertimbangan, Theo meminta hal yang mengejutkan pada Kepala desa.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!