NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama tanpanya

Aku duduk di kasur, menatap ponselku.

Tidak ada pesan baru.

Mungkin dia sedang sibuk.

Aku menarik napas pelan.

Hari pertama belum selesai.

Dan ternyata… bertahan tanpa dirinya tidak semudah yang kubayangkan.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengernyit.

Siapa?

Aku ragu untuk mengangkatnya. Beberapa detik hanya menatap layar. Tapi akhirnya ku geser juga tombol hijau itu.

“Halo?”

“Assalamu’alaikum.”

Aku terdiam.

Suara itu…

Tidak asing.

Tapi aku belum yakin.

“Waalaikumsalam… ini siapa ya?” tanyaku hati-hati.

Terdengar tawa kecil di sana.

“Nah kan. Temennya sendiri dilupain.”

Aku langsung duduk tegak.

“Nina?”

“Iyaaa apaa?” jawabnya heboh.

Aku spontan tersenyum. “Ya ampun kamu! Dari mana aja sih?”

“Lah kamu yang hilang! Susah banget dihubungi.”

Aku tertawa kecil. “Maaf…”

“Gimana kabarnya?”

Aku diam sebentar. Jujur saja pertanyaan itu terasa sulit.

“Baik… tapi nggak terlalu baik.”

Ia langsung tertawa. “Gimana tuh konsepnya?”

“Adalah pokoknya,” jawabku singkat.

Kami tertawa bersama. Dan entah kenapa, rasanya sedikit ringan bisa tertawa setelah seharian dadaku terasa kosong.

“Kamu kuliah di mana sekarang?” tanya Nina.

“Di UI,” jawabku pelan.

“UI?!” suaranya langsung meninggi. “Wah keren banget kamu, kita satu kampus lhoo!”

“Biasa aja.”

“Eh temenku ada juga yang di situ loh sama aku nanti tinggalnya. Mau aku kenalin? Biar kamu nanti ada teman lagi selain aku.”

Aku langsung refleks bertanya, “Cewek kan?”

Di seberang sana hening sebentar.

Lalu Nina tertawa. “Iya lah! Kamu memangnya mau deket sama cowok?”

Aku langsung terdiam.

“Nah loh, kok diem?” godanya.

“Ya enggak lah,” jawabku cepat.

“Yaudah berarti aman. Nanti aku kenalin ya.”

Aku mengangguk walau dia tak bisa melihat. “Iya.”

“Besok aku ke rumahmu boleh kan?” lanjutnya.

“Besok?”

“Iya. Kangen tau sama kamu.”

Aku berpikir sebentar. Jujur saja… mungkin aku memang butuh teman. Rumah terasa terlalu sunyi hari ini.

“Tentu saja,” jawabku akhirnya.

“Asik! Kirim lokasi ya.”

“Iya.”

Setelah beberapa menit ngobrol lagi, telepon pun ditutup.

Kamar kembali sunyi.

Tapi kali ini tidak sesepi tadi.

Aku memandangi ponselku lagi.

Masih belum ada pesan baru darinya.

Aku berbaring pelan di kasur.

Baru saja aku ingin menutup mata, ponselku bergetar lagi.

Nama yang kutunggu muncul di layar.

Aku cepat-cepat mengangkatnya.

“Halo?”

“Lagi ngapain?” suaranya terdengar sedikit lelah.

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Udah makan?”

“Udah,” bohongku pelan.

Ia seperti menghela napas kecil. “Jangan bohong.”

Aku terdiam.

Beberapa detik hening.

“Mas…” suaraku mengecil.

“Iya?”

“Cepat pulang ya.”

Nada suaranya berubah lembut. “Iya.”

Telepon itu tidak lama. Tapi cukup membuat dadaku sedikit lebih hangat.

Setelah panggilan berakhir, aku kembali menatap langit-langit kamar.

Besok Nina akan datang.

Setidaknya besok rumah ini tidak akan terlalu sunyi.

Tapi tetap saja…

Ini baru hari pertama.

Dan aku sudah merasa kehilangan begitu banyak.

Masih ada satu hari lagi.

Keesokan harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

“Assalamu’alaikum!”

Suara itu khas sekali.

Aku yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri dan berjalan cepat ke teras.

“Waalaikumsalam!”

Begitu pagar kubuka, Nina langsung menatapku beberapa detik tanpa bicara.

Ekspresinya berubah.

Matanya membesar.

“MasyaAllah…” katanya pelan.

Aku mengernyit. “Kenapa?”

Ia mendekat sedikit, memperhatikanku dari atas sampai bawah.

“Cantik banget ya kamu sekarang. Sumpah cantiknya naik drastis.”

Aku langsung salah tingkah. “Apaan sih.”

“Serius!” katanya heboh. “Dulu kamu imut-imut pemalu. Sekarang tuh… beda. Auranya beda banget.”

Pipiku langsung memanas.

Di samping Nina berdiri seorang perempuan berambut sebahu dengan senyum ramah.

“Oh iya, kenalin. Ini Sindy,” kata Nina akhirnya.

Sindy tersenyum sopan. “Hai Zahra.”

“Hai,” balasku lembut.

Kami masuk ke dalam rumah. Ibu menyambut mereka dengan hangat dan mempersilakan duduk. Tak lama kemudian teh dan camilan tersaji di meja.

Nina masih sesekali melirikku.

“Serius Zahra, kamu pakai skincare apa sih?” bisiknya tiba-tiba.

Aku tertawa kecil. “Nggak pakai apa-apa.”

“Bohong. Ini glow banget.”

Aku hanya tersenyum tipis. Entah kenapa pujian itu membuatku teringat seseorang. Cara ia menatapku sebelum pergi.

Aku cepat-cepat mengalihkan pikiran.

Obrolan mulai mengalir tentang nanti saat kita mulai perjalanan di kampus.

“Kamu ambil jurusan apa?” tanya Sindy.

Aku menjelaskan. Kami lalu membahas dosen, tugas, dan suasana kampus UI.

“UI capek nggak sih?” tanya Nina dramatis.

“mungkin Capek sih… tapi seru,” jawabku pelan.

Sindy mengangguk. “Aku lagi cari kos dekat kampus. sama Nina juga.”

“Iya!” Nina langsung menyambung. “Makanya aku kepikiran… Zahra mau nggak ngekos bareng? Biar kita bisa saling bantu. Seru loh!”

Aku terdiam.

Dadaku sedikit menegang.

Aku tersenyum ramah. “Maaf… aku nggak bisa.”

Nina langsung mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Aku tinggal nanti sama pamanku,” jawabku hati-hati.

“Paman?” Nina terlihat bingung.

Aku langsung panik dalam hati.

Aduh… gimana ya jelasinnya?

Belum sempat aku menjawab lebih jauh, Ayah tiba-tiba keluar dari ruang tengah. Sepertinya sejak tadi beliau mendengar obrolan kami.

“Iya,” kata Ayah santai sambil duduk. “Zahra memang tinggal sama pamannya. Pamannya yang tanggung jawab sama dia.”

Aku hampir menghela napas lega.

“Ohh…” Nina mengangguk-angguk. “Kirain kamu bebas pindah-pindah.”

Ayah tersenyum tipis. “Nggak bisa sembarangan. Pamannya cukup protektif.”

Aku menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecilku.

Sindy tertawa ringan. “Berarti aman banget ya kamu.”

Nina mendesah dramatis. “Yah padahal seru kalau bisa bareng.”

Aku tersenyum lembut. “Nanti sering main aja. Aku juga pasti sering ke kampus kok.”

Nina menatapku lagi dengan ekspresi penasaran.

“Tapi serius deh Zahra… kamu tuh kelihatan bahagia.”

Aku terdiam.

Bahagia?

Aku tersenyum kecil.

“Lumayan,” jawabku singkat.

Di dalam hati, aku tahu…

Walau hari ini aku masih merindukannya, walau dua hari terasa panjang… tetap saja ada sesuatu dalam diriku yang memang berubah. Aku tidak lagi sekaku dulu. Tidak lagi seragu dulu.

Tiba-tiba Nina mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“Eh Zahra, kemarin saudara laki-lakiku nanyain kamu.”

Aku mengerutkan kening. “Siapa?”

“Namanya Zaki.”

“Siapa dia? Kok bisa tahu aku?”

Nina langsung menjawab santai, “Kan waktu mau kelulusan itu aku kecelakaan. Kamu sempat jenguk kan?”

Aku mengangguk pelan. Aku ingat hari itu. Nina terbaring di rumah sakit, wajahnya pucat tapi tetap cerewet.

“Waktu aku di rumah sakit, dia yang jagain aku. Nah aku ceritain tentang kamu,” lanjut Nina.

Aku terdiam sebentar. “Oh gitu yaaa…”

“Iya. Dia nanya, ‘itu temen kamu yang pakai jilbab warna abu-abu itu siapa?’” Nina menirukan suara laki-laki dengan gaya berlebihan.

Sindy tertawa kecil.

Aku langsung merasa sedikit canggung. “Terus?”

“Terus ya aku bilang temen aku, Zahra. Anak baik, pinter, kalem.”

Aku memalingkan wajah sedikit. “Kamu ini lebay banget sih.”

Nina menyenggol lenganku. “Mau nomernya nggak?”

Aku langsung menjawab cepat, “Enggak perlu deh kayaknya.”

Nina mengerutkan kening. “Loh kenapa?”

“Ya… nggak perlu aja,” jawabku berusaha santai.

“Orangnya baik loh,” lanjutnya. “Biar kamu sekali-kali ngobrol sama cowok. Walaupun cuma online.”

Aku terdiam.

Kalimat itu terasa aneh di telingaku.

“Lagipula kemungkinan nanti dia kuliah di UI juga. Lagi proses,” tambah Nina lagi.

Aku menatap gelas tehku. Berusaha tetap tenang.

“Nanti deh ya… aku pikirin,” jawabku akhirnya.

Nina menatapku penuh selidik. “Kamu kenapa sih? Sensitif banget kalau bahas cowok.”

“Enggak,” jawabku cepat.

Sindy tersenyum tipis. “Mungkin Zahra lagi fokus kuliah.”

“Iya!” aku langsung mengangguk. “Fokus kuliah.”

Nina masih terlihat belum puas, tapi akhirnya ia mengangkat bahu. “Yaudah deh. Tapi kalau berubah pikiran bilang ya.”

Obrolan lalu beralih lagi ke kampus. Tentang dosen killer, tentang antrean panjang di kantin, tentang betapa ribetnya tugas kelompok.

Beberapa kali Nina masih memujiku.

“Serius Zahra, kamu sekarang beda banget. Lebih tenang, tapi juga lebih… berani.”

Aku hanya tersenyum.

Andai dia tahu alasan sebenarnya.

Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul empat sore.

“Ya ampun, kita lama banget,” kata Sindy sambil melihat jam.

“Iya, nanti kemaleman,” tambah Nina.

Ibu keluar dari dapur. “Sudah mau pulang?”

“Iya, Tante. Terima kasih ya.”

Aku mengantar mereka sampai ke depan pagar.

Sebelum naik motor, Nina menatapku lagi.

“Kalau kamu berubah pikiran soal Zaki, kabarin ya.”

Aku tersenyum kecil. “Iya.”

“Dan jangan ngilang lagi!”

“Siap.”

Motor mereka perlahan menjauh.

Aku berdiri sebentar di depan rumah, menghela napas.

Hari ini terasa lebih hidup dibanding kemarin.

Setidaknya ada tawa.

Setidaknya ada distraksi.

Aku kembali masuk ke dalam rumah. Ayah sedang duduk santai di ruang tengah.

“Temannya cerewet ya,” kata Ayah sambil tersenyum.

Aku tertawa kecil. “Dari dulu memang begitu.”

“Bagus. Kamu jadi nggak murung terus.”

Aku hanya mengangguk pelan.

Menjelang magrib, langit berubah oranye gelap. Suasana rumah kembali tenang.

Setelah membantu Ibu sebentar di dapur, aku kembali ke kamar saat malam benar-benar turun.

Aku duduk lagi di kasur.

Sunyi.

Tapi tidak seberat kemarin.

Ponselku kuambil.

Belum ada pesan baru.

Mungkin masih sibuk.

Aku berbaring pelan, menatap layar yang kosong.

Hari pertama sudah hampir selesai.

Masih ada satu hari lagi.

Dan entah kenapa, setelah mendengar nama laki-laki lain tadi… aku justru semakin sadar.

Hatiku tidak tertarik pada siapa pun.

Rindu ini terlalu jelas arahnya.

Aku memeluk bantal.

Malam semakin dalam.

Dan aku kembali menunggu—

dengan hati yang masih setia pada satu nama.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!