Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Matahari sudah lama terbenam saat mobil sedan mewah Putra memasuki pelataran Mansion Aditama. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa kelelahan yang menggantung berat di pundaknya setelah seharian penuh berkutat dengan rapat pemegang saham yang alot.
Biasanya, pada jam-jam seperti ini, ruang keluarga di lantai bawah akan dipenuhi oleh suara tawa melengking Putri dan Kinan yang sedang menonton Netflix atau bergosip dengan teman-teman sosialita mereka di telepon sambil memamerkan tas belanjaan baru. Namun malam ini, Mansion Aditama terasa luar biasa sunyi. Terlalu sunyi, bagaikan sebuah museum mati yang baru saja dilanda badai.
Saat Putra melintasi ruang makan menuju tangga pualam, ia berpapasan dengan Putri dan Kinan yang sedang berjalan menunduk menuju dapur untuk mengambil air minum.
Langkah Putra terhenti. Alisnya bertaut tajam melihat pemandangan tak biasa di hadapannya. Kedua adiknya, yang biasanya tampil paripurna dengan riasan tebal, perhiasan mencolok, dan pakaian desainer, kini hanya mengenakan piyama tidur berbahan katun biasa yang tampak kusut. Wajah mereka pucat pasi, mata mereka bengkak dan memerah parah seolah habis menangis berjam-jam, dan yang paling aneh, tidak ada sisa aura keangkuhan yang biasanya memancar dari mereka. Mereka tampak seperti anjing liar yang baru saja dipukuli habis-habisan.
"Ada apa dengan kalian?" tegur Putra dingin, menatap kedua adiknya bergantian dengan penuh selidik. "Kalian terlihat sangat menyedihkan. Seperti orang yang baru saja melihat hantu."
Putri dan Kinan terlonjak kaget mendengar suara bariton kakaknya. Tubuh mereka seketika menegang kaku. Mereka saling lirik dengan tatapan panik, berusaha mati-matian menyembunyikan rasa malu dan harga diri yang masih menggerogoti ulu hati mereka sejak siang tadi.
"Eh... ng-nggak ada apa-apa, Mas Putra," jawab Putri tergagap, suaranya parau. Ia memaksakan sebuah senyum yang justru terlihat sangat menyedihkan. "Kita berdua cuma... cuma lagi kurang enak badan aja. Mungkin masuk angin karena kecapekan habis pulang dari Bali kemarin."
"I-iya, Mas," tambah Kinan cepat, menundukkan pandangannya dalam-dalam, tidak berani menatap mata kakaknya yang tajam menelanjangi. "Kita mau ambil minum lalu langsung tidur. Permisi, Mas."
Keduanya bergegas setengah berlari menuju dapur, menghindari tatapan Putra seolah sedang dikejar monster.
Putra menyipitkan matanya. Insting bisnisnya yang tajam mengatakan ada sesuatu yang sangat tidak beres di rumah ini. Adik-adiknya tidak pernah bertingkah secanggung, sepengecut, dan setakut itu tanpa alasan yang fatal.
Baru saja Putra hendak menaiki anak tangga pertama untuk mencari tahu sendiri, suara berat dan sarat akan otoritas menghentikan langkahnya.
"Putra. Naik dan masuk ke ruang kerja Papa sekarang."
Putra menoleh ke arah balkon dalam di lantai dua. Pak Aditama berdiri di sana dengan rahang mengeras dan urat leher yang menonjol, menatap putranya dengan tatapan yang sangat serius dan menakutkan.
Tanpa banyak bicara, Putra segera naik dan menyusul ayahnya ke ruang kerja. Begitu pintu kayu jati itu ditutup rapat, Pak Aditama langsung duduk di kursi kebesarannya, menghembuskan napas kasar, dan menunjuk kursi di seberang meja.
"Duduk," perintah Pak Aditama singkat.
Putra menurut, duduk dengan punggung tegak. "Ada apa, Pa? Kenapa rumah sepi sekali malam ini? Dan kenapa Putri dan Kinan bertingkah aneh seperti pesakitan di bawah sana?"
Pak Aditama mendengus kasar, memijat pangkal hidungnya dengan raut kecewa yang teramat mendalam. "Adik-adikmu itu... benar-benar sudah kelewatan batas kewarasan, Putra. Otak mereka ternyata sama sekali tidak dipakai. Mereka nyaris membuat nama baik keluarga ini hancur menjadi bahan tertawaan pelayan jika saja istrimu tidak jauh lebih cerdas dari mereka."
Kening Putra semakin berkerut dalam mendengar kata "istrimu" dan "cerdas" disandingkan dalam satu kalimat oleh ayahnya. "Apa maksud Papa? Apa yang mereka lakukan pada Citra kali ini?"
Dengan nada suara yang masih menahan murka, Pak Aditama menceritakan secara runut insiden menjijikkan yang terjadi siang tadi. Mulai dari jeritan palsu Putri soal kalung Bvlgari yang hilang, penggeledahan paksa dengan gaya sok berkuasa di kamar utama, hingga penemuan dramatis kalung tersebut di dalam koper lusuh Citra.
Putra mendengarkan pemaparan itu dengan rahang mengeras kaku. Darahnya mendidih menyadari betapa bodoh, kotor, dan amatirannya cara adik-adiknya. Jika berita ini bocor ke telinga kolega bisnis, keluarga Aditama akan dicap sebagai keluarga tak beradab.
"Lalu... bagaimana Papa bisa tahu secara pasti kalau itu semua hanya jebakan? Mereka pandai bersandiwara," tanya Putra, suaranya memberat menahan emosi.
"Itulah yang membuat Papa tersadar bahwa istrimu bukanlah wanita sembarangan, Putra," jawab Pak Aditama, menatap tajam mata anak sulungnya dengan sorot kebanggaan yang ganjil. "Istrimu secara diam-diam membeli dan memasang kamera pengintai yang terkoneksi langsung ke ponselnya di dalam kamar kalian. Dia merekam semuanya selama dua puluh empat jam. Semua kelicikan adik-adikmu terekam dengan sangat jernih dan tak terbantahkan. Istrimu menelanjangi kebohongan mereka di depan mata Papa tanpa perlu berteriak apalagi menangis mencari simpati."
Tubuh Putra seketika membeku bagai disiram seember air es. Matanya sedikit melebar, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan.
Kamera pengintai? Terkoneksi ke ponselnya? Jantung Putra berdegup dua kali lebih cepat hingga menabrak tulang rusuknya. Citra memasang CCTV di dalam kamar utama? Sejak kapan? Dua hari yang lalu?
Ingatan Putra langsung terbang tanpa kendali pada malam di mana ia pulang dari club dalam keadaan mabuk parah. Malam di mana ia tertidur mengenaskan di atas karpet, bau alkohol, dengan noda lipstik di kemejanya. Dan yang paling mengerikan... malam di mana ia merintih, meracau, dan menangis memanggil nama Laura berulang kali.
Apakah malam itu juga terekam lensa kamera tersebut? Apakah Citra memegang bukti rekaman visual dan audio dari kehancuran egonya? Pikiran itu membuat perut Putra melilit mual karena panik.
"Papa sudah menghukum mereka dengan setimpal," lanjut Pak Aditama, sama sekali tidak menyadari gejolak kepanikan yang sedang meluluhlantakkan isi kepala putranya. "Papa blokir semua kartu kredit mereka, sita kunci mobil mereka, dan menghukum mereka tidak boleh keluar rumah selama tiga bulan. Dan yang terpenting, Papa memaksa mereka berlutut menangis meminta maaf tepat di bawah kaki Citra."
Pak Aditama mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja mahoni. Tatapannya menusuk tajam bak pedang ke arah Putra.
"Putra, dengar ucapan Papa baik-baik. Citra itu adalah istrimu yang sah. Dia menyandang nama Aditama di belakang namanya sekarang," tegas Pak Aditama dengan nada peringatan yang tak bisa ditawar sedikit pun. "Papa minta kamu lebih tegas pada kedua adikmu mulai hari ini. Jangan biarkan mereka menginjak-injak istrimu lagi. Kalau mereka tidak menghargai Citra, itu sama saja mereka menginjak-injak harga dirimu sebagai suaminya! Kamu adalah kepala keluarga bagi Citra. Lindungi istrimu, dan kendalikan kelakuan adik-adikmu!"
Putra menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Egonya terkoyak, namun ia tak berani membantah. "Baik, Pa. Putra mengerti. Putra akan memperingatkan mereka dengan keras."
"Bagus. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Istrimu pasti sangat kelelahan secara mental menghadapi drama kotor hari ini. Bersikaplah sebagai suami yang baik."
Putra pamit dan melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya dengan pikiran yang sangat kacau balau. Kakinya melangkah gontai menyusuri lorong menuju kamar utama.
Di satu sisi, ia sangat marah pada kebodohan paripurna adik-adiknya yang nyaris mempermalukan keluarga. Namun di sisi lain, ketakutan luar biasa yang jauh lebih besar kini menggerogoti akal sehatnya.
Wanita kampungan yang selama ini ia anggap tak lebih dari sekadar benalu tak berdaya itu ternyata memiliki akal yang sangat berbahaya dan mematikan. Citra tidak menangis saat ditindas, melainkan diam-diam menanam ranjau pengintai di dalam sangkar emasnya sendiri, menunggu mangsanya menginjak pelatuk.
Saat Putra memutar knop pintu kamar utama malam itu, ia tidak lagi merasa sedang memasuki wilayah kekuasaan absolutnya. Ia merasa sedang melangkah perlahan masuk ke dalam arena permainan mematikan, di mana sang istri yang selama ini ia siksa dan ia remehkan, tanpa disadarinya perlahan-lahan telah memegang kendali penuh atas papan caturnya.
Mohon klik suka dan tinggalkan komentar ❤🙏😘
yg penting uangnya lancar