NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Hitam 4

Warisan Mutiara Hitam 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:62.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kokop Gann

(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)

Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.

Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.

Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadilan di Ujung Kuali

Matahari perak di atas Kota Awan Putih baru saja mencapai puncaknya ketika suara derap langkah kaki berlapis besi mengguncang Gang Kabut Hitam. Kerumunan rakyat miskin yang sedang mengantre di depan Kedai Obat Bayangan tersentak kaget dan menyingkir ke tepi, wajah mereka pucat ketakutan.

Sepuluh prajurit Unit Penegak Hukum dari Sekte Kuali Awan, mengenakan zirah hijau zamrud yang mengkilap, berbaris membelah jalan. Mereka dipimpin oleh seorang pria bertubuh kurus dengan kumis tipis yang melengkung licik—Zhang. Di tangannya, ia memegang gulungan perintah penyegelan yang bersinar merah.

"Bubar!" bentak Zhang, suaranya diperkuat. "Tempat ini dinyatakan ilegal! Siapapun yang masih berada di sini dalam sepuluh hitungan akan dianggap sebagai kaki tangan pemberontak!"

Warga jelata gemetar. Mereka ingin lari, tapi mereka juga menatap ke arah meja kayu di mana Chen Kai duduk dengan tenang, masih memegang botol obat untuk seorang anak kecil.

"Tuan Tabib..." bisik ibu anak itu, matanya memohon.

Chen Kai tersenyum tipis di balik topeng kain hitamnya. Ia tidak berdiri. Ia tidak menarik senjata. Ia hanya melanjutkan menuangkan obat ke dalam mulut anak itu.

"Selesai. Minumlah air hangat setelah ini," kata Chen Kai lembut.

"Hei! Kau tuli?!" Zhang menghentakkan tongkat besinya ke meja Chen Kai.

PRAK!

Meja itu retak. Botol-botol obat berguling jatuh.

Chen Kai perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang gelap menatap Zhang dengan ketenangan yang tidak wajar.

"Meja itu sewaan," kata Chen Kai datar. "Kau harus menggantinya."

Zhang tertawa meremehkan. "Mengganti? Kau pikir kau siapa, Tikus? Aku datang untuk menutup praktik sesatmu. Kau menjual racun kepada warga kota atas nama pengobatan! Tangkap dia!"

Dua prajurit maju hendak menyeret Chen Kai.

"Tunggu!" teriak Mo Yan dari lantai atas. Dia turun dengan wajah pucat tapi penuh tekad. "Obat kami bukan racun! Kami menggunakan esensi murni!"

"Diam, pengkhianat!" Zhang menampar wajah Mo Yan hingga pria itu jatuh tersungkur. "Kau pikir kami tidak tahu kau adalah alkemis buangan? Obatmu pasti mengandung residu iblis!"

Zhang mengambil salah satu botol Pil Pemurni Hampa yang jatuh. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang melihat.

"Lihat ini! Warnanya abu-abu! Baunya seperti tanah kuburan! Ini adalah bukti bahwa dia menggunakan mayat untuk membuat pil!"

Kerumunan mulai berbisik-bisik ragu. Tuduhan menggunakan mayat adalah hal yang sangat tabu dan menakutkan.

"Benarkah itu?"

"Tuan Tabib menggunakan mayat?"

Chen Kai berdiri perlahan. Dia berjalan mendekati Zhang.

"Tuan," kata Chen Kai, suaranya tenang namun bergema ke seluruh gang. "Jika kau begitu yakin itu racun, kenapa kau tidak menelannya?"

Zhang terdiam. "A-apa?"

"Telan," ulang Chen Kai. "Jika itu racun, aku akan mati di tempat ini. Tapi jika itu obat... maka kau baru saja menuduh seorang tabib di depan pasiennya."

Zhang mendengus. "Aku tidak akan memakan sampahmu!"

Dia membanting botol itu ke tanah. PRANG!

Cairan obat itu tumpah. Namun, anehnya, cairan itu tidak meresap ke tanah. Cairan itu menguap menjadi asap putih yang berbau sangat harum—aroma bunga persik dan hujan pagi.

Seorang pengemis tua yang kakinya penuh luka borok secara tidak sengaja terkena uap itu.

"Ah!" Pengemis itu terkejut. Dia melihat kakinya. Luka borok yang sudah bertahun-tahun membusuk itu tiba-tiba mengering dan menutup di depan mata semua orang.

"Kakiku! Kakiku sembuh!" teriak pengemis itu sambil menangis bahagia.

Keheningan melanda. Semua mata tertuju pada keajaiban itu.

"Itu... bukan racun," bisik seorang wanita. "Itu obat dewa!"

Wajah Zhang berubah pucat. Dia baru saja membuktikan kehebatan obat lawannya sendiri.

"I-itu trik!" teriak Zhang panik. "Dia menggunakan ilusi! Hancurkan tempat ini sekarang!"

Para prajurit mengangkat senjata mereka, siap menghancurkan bengkel tua itu.

Namun, kali ini, rakyat tidak mundur.

"JANGAN SENTUH TUAN TABIB!" teriak ibu dari anak yang diobati tadi. Dia mengambil batu dan melemparnya ke arah prajurit.

BUK!

Itu adalah pemicunya.

Ratusan warga miskin, kuli, dan pengemis yang selama ini ditindas oleh harga obat yang mahal, tiba-tiba bergerak maju. Mereka membentuk dinding manusia di depan Chen Kai.

"Kalian mau menutup tempat ini? Langkahi dulu mayat kami!"

"Sekte Kuali Awan hanya memeras kami! Tuan Tabib menyelamatkan kami!"

Zhang mundur ketakutan. "Mundur! Kalian memberontak?! Kami akan membantai kalian semua!"

"Coba saja," suara dingin Chen Kai terdengar tepat di telinga Zhang.

Entah bagaimana, Chen Kai sudah berdiri di belakang Zhang tanpa ada yang melihat pergerakannya. Pisau bedah kecil menempel di lehernya.

"Kau..." Zhang gemetar. "Jika kau membunuhku, Patriark akan—"

"Aku tidak akan membunuhmu," bisik Chen Kai. "Itu terlalu mudah."

Chen Kai menyelipkan sebuah pil kecil ke dalam mulut Zhang yang terbuka karena kaget, lalu memaksanya menelan.

"Uhuk! Apa itu?!"

"Itu Pil Kejujuran," bohong Chen Kai (sebenarnya itu adalah Pil Gas Perut yang sudah dimodifikasi). "Mulai sekarang, setiap kali kau berbohong, perutmu akan terasa seperti dibakar api neraka."

Chen Kai mendorong Zhang ke arah kerumunan.

"Pergilah. Dan sampaikan pada tuanmu: Jika dia ingin menutup tempat ini, dia harus datang dengan obat yang lebih baik dan harga yang lebih murah. Bukan dengan pedang."

Zhang lari terbirit-birit, diikuti oleh pasukannya yang panik melihat amarah rakyat.

Sorak-sorai kemenangan meledak di Gang Kabut Hitam. Rakyat mengangkat Chen Kai dan Mo Yan.

"Hidup Tabib Bayangan!"

Di tengah perayaan itu, Chen Kai menatap ke arah menara pusat kota. Dia tahu ini baru permulaan. Dia telah menampar wajah singa tidur.

Dan singa itu pasti akan bangun dengan lapar.

"Kerja bagus, Nak," puji Yao. "Kau memenangkan hati rakyat. Itu adalah benteng yang lebih kuat dari baja."

"Sekarang," batin Chen Kai. "Saatnya menunggu undangan dari 'Tuan Rumah' yang sebenarnya."

1
Jeffie Firmansyah
tidak sabar tunggu update nya 💪💪💪💪👍👍👍👍
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
saniscara patriawuha.
sikattt manggg chennnn...
MyOne
Ⓜ️😏😏😏Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😎😎😎Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
Cak Rokim Dakas
jangan lama² nyambungnya Thor ..
Dobi Papa Sejati
✔️
nyoman suta wirawan
mantap
Wahyu Roro Ireng.
aku suka banget alur ceritanya ,ya walau terkadang penulisan nama aktor keliru ,iru wajar..

dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Sibungas
mantab
MF
💪/Drowsy/💪💪💪💪💪
Dian Purnomo
tetap setia sampai akhir thor
Dian Purnomo
up.. lanjutkan thor semangat💪💪💪
Jojo Firdaus
💪💪💪
jaka saba jati
/Bomb//Bomb//Bomb/
Jeffie Firmansyah
hadeuhhh .... jd ikutan sesek bacanya... seolah q ,jd ikutan perang
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪
rosidi didi
keren
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Taklukkan 🔥🌽
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!