Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jalan Ular dan Niat Pedang yang Membelah
Hutan di pinggiran Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang terasa sunyi secara tidak wajar. Burung-burung berhenti berkicau, dan angin seolah menahan napas.
Dua bayangan melesat di antara pepohonan raksasa.
Di depan, Ying bergerak dengan kelincahan seekor kucing hutan. Tubuhnya yang ramping meliuk menghindari akar dan dahan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Langkah kakinya seringan bulu.
Di belakangnya, Ye Chen mengikuti. Meskipun membawa pedang raksasa seberat 500 kilogram di punggungnya, kecepatannya tidak kalah. Namun, berbeda dengan Ying yang mengandalkan teknik meringankan tubuh, Ye Chen mengandalkan ledakan tenaga murni dari otot kakinya. Setiap pijakannya meninggalkan jejak tanah yang amblas sedalam satu inchi.
"Kita hampir sampai di perbatasan wilayah Lembah Ular Kabut," kata Ying tanpa menoleh. Suaranya datar dan profesional. "Ini adalah jalur penyelundupan tua yang jarang diketahui orang. Patroli Sekte Pedang Darah biasanya menghindari tempat ini karena racun alami di udara."
"Racun?" Ye Chen mengangkat alis. Dia bisa mencium aroma manis yang samar di udara—tanda adanya Miasma.
"Jangan khawatir. Nona Mu sudah memberiku pil penawar khusus," Ying melemparkan sebuah botol kecil ke arah Ye Chen.
Ye Chen menangkap botol itu, membukanya, dan mencium baunya. Herbal murni. Tanpa ragu, dia menelan satu butir.
"Kau percaya begitu saja?" tanya Ying, sedikit terkejut.
"Jika Mu Xue ingin membunuhku, dia tidak perlu repot-repot mengirimmu. Dia cukup membiarkanku terkubur bersama Han Yun," jawab Ye Chen santai.
Ying terdiam sejenak. "Nona Mu berkata kau orang yang pragmatis. Ternyata benar."
Mereka terus berlari selama sepuluh menit lagi hingga mencapai tepi sebuah jurang yang tertutup kabut ungu tebal. Di seberang jurang, terlihat samar-samar daratan aman yang menuju jalan raya kekaisaran.
"Jembatan gantungnya sudah putus bertahun-tahun lalu," kata Ying, menunjuk sisa-sisa tali tambang yang lapuk. "Kita harus melompat lewat pilar-pilar batu di tengah kabut itu. Tapi hati-hati, di bawah sana adalah sarang Ular Terbang Ekor Merah."
Ye Chen menatap kabut itu. Jarak antar pilar batu sekitar sepuluh meter. Bagi kultivator Pemadatan Qi, itu jarak yang mudah. Masalahnya adalah apa yang bersembunyi di dalam kabut.
"Aku duluan," kata Ying.
Wanita itu melompat. Tubuhnya seringan kapas, mendarat di pilar batu pertama, lalu langsung melenting ke pilar kedua. Gerakannya indah dan mematikan.
Ye Chen bersiap melompat. Namun, tepat saat kakinya menekuk...
BOOOOM!
Sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah belakang mereka—dari arah reruntuhan Makam Pedang yang berjarak lima mil jauhnya.
Tanah bergetar hebat. Burung-burung di hutan beterbangan panik.
Ying, yang berada di pilar batu kedua, hampir kehilangan keseimbangan. Dia menoleh dengan mata terbelalak. "Suara apa itu? Reruntuhannya meledak lagi?"
Wajah Ye Chen berubah serius. Dia bisa merasakan gelombang Qi merah yang familiar dan sangat marah dari arah ledakan itu.
"Dia selamat," gumam Ye Chen.
Dari kejauhan, sebuah pilar cahaya merah darah menembus langit. Di dalamnya, terdengar raungan yang mengguncang jiwa.
"ASURAAAAA!!!"
Suara Han Yun. Dia tidak mati tertimpa reruntuhan. Dia justru meledakkan jalan keluarnya.
"Monster itu benar-benar keras kepala," Ye Chen mendecih. "Ying! Cepat bergerak! Dia akan melacak aura kita!"
Ying tidak membantah. Dia mempercepat lompatannya. Ye Chen menyusul.
Hup! Hup!
Ye Chen melompat dari satu pilar ke pilar lain. Beban pedangnya membuat pilar batu itu retak setiap kali dia mendarat.
Tiba-tiba, desisan tajam terdengar dari dalam kabut di bawah mereka.
Sssshhh!
Seekor Ular Terbang Ekor Merah—ular bersayap selaput dengan panjang tiga meter—melesat naik dari kegelapan jurang, mengincar kaki Ye Chen yang sedang melayang di udara.
Ular itu berada di Tingkat 2 Menengah. Taringnya meneteskan racun korosif.
"Mengganggu!"
Ye Chen sedang berada di udara, tidak ada pijakan untuk menghindar.
Ying berteriak, "Awas!" Dia mencabut belatinya, hendak melemparnya untuk membantu Ye Chen.
"Tidak perlu."
Ye Chen tidak mencabut pedang raksasanya. Dia hanya menatap ular itu.
Di dalam matanya, kilatan perak Niat Pedang bersinar.
Dia mengarahkan dua jari tangannya membentuk pedang, lalu menebas udara kosong.
Teknik Pedang Asura: Niat Tak Kasat Mata.
Sing!
Tidak ada gelombang energi yang terlihat. Tidak ada ledakan cahaya.
Namun, ular yang sedang menerjang itu tiba-tiba berhenti di udara. Matanya membelalak.
Detik berikutnya, sebuah garis halus muncul di leher ular itu.
Crass!
Kepala ular itu terpisah dari badannya seolah dipotong oleh pisau laser yang tak terlihat. Darah menyembur, dan bangkai ular itu jatuh kembali ke dalam jurang.
Ying, yang melihat kejadian itu dari pilar batu terakhir, terpaku. Mulutnya sedikit terbuka di balik cadarnya.
"Itu tadi... Niat Pedang?" batin Ying terguncang. "Dia bisa memanifestasikan Niat Pedang tanpa mencabut senjata? Pemahamannya sudah mencapai tahap Master?!"
Ye Chen mendarat di sisi tebing seberang dengan dentuman berat.
"Kenapa bengong? Ayo jalan," kata Ye Chen, seolah baru saja menepuk nyamuk.
Ying menelan ludah. Dia mulai mengerti kenapa Nona Mu sangat menghormati—dan mewaspadai—pemuda ini. Potensinya mengerikan.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menembus hutan terakhir. Satu jam kemudian, mereka sampai di tepi jalan raya yang lebar.
Ini adalah Jalan Kerajaan, jalur perdagangan utama yang menghubungkan kota-kota besar di wilayah selatan.
"Kita berpisah di sini," kata Ying, berhenti di bawah pohon rindang. "Tugasku selesai. Dari sini, jika kau ke selatan, kau akan kembali ke Kota Angin. Jika ke utara, kau akan menuju Kota Awan Putih dan wilayah Akademi Bintang."
"Han Yun pasti akan kembali ke Kota Angin untuk memulihkan diri dan mengumpulkan pasukan," analisis Ye Chen. "Kota itu akan menjadi zona perang. Aku tidak bisa kembali ke sana sekarang."
Ye Chen menatap ke utara.
"Gou San sudah pergi ke Kota Awan Putih. Dan aku butuh tempat untuk mencerna warisan Dewa Pedang ini dengan tenang."
Ying mengangguk. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit.
"Ini adalah peta wilayah utara. Nona Mu juga menitipkan pesan: 'Jika kau ingin menjadi kuat dengan cepat, ikutlah seleksi murid Akademi Bintang bulan depan. Di sana, sumber daya kultivasi melimpah, dan Sekte Pedang Darah tidak berani bertindak gegabah di dalam akademi.'"
Ye Chen menerima peta itu. "Akademi Bintang..."
Dia pernah mendengarnya. Itu adalah satu dari empat akademi besar di kekaisaran. Tempat berkumpulnya para jenius muda dari berbagai klan dan sekte.
"Sampaikan salamku pada Mu Xue. Katakan padanya, lunas," kata Ye Chen.
Ying menatap Ye Chen sejenak, lalu membungkuk hormat—kali ini dengan rasa hormat yang tulus, bukan sekadar tugas.
"Semoga beruntung, Tuan Asura. Sampai jumpa lagi."
Ying berbalik dan menghilang ke dalam bayang-bayang hutan, kembali ke arah Kota Angin untuk melapor.
Ye Chen berdiri sendirian di pinggir jalan raya. Dia melihat karavan pedagang yang lewat di kejauhan.
Dia meraba dadanya. Jantungnya berdetak kuat. Di dalam dirinya, Benih Niat Pedang berdenyut, dan di Kantong Penyimpanan-nya, ada Peta Reruntuhan yang masih menyimpan rahasia lain.
"Han Yun, Han Feng... nikmatilah kemenangan semu kalian," gumam Ye Chen. "Saat aku kembali dari utara, aku tidak akan datang sebagai buronan. Aku akan datang sebagai bencana."
Ye Chen membetulkan letak pedang Pemecah Gunung di punggungnya, menarik caping bambu menutupi wajahnya, dan mulai melangkah ke arah utara.
Langkah kakinya tegap. Dia meninggalkan masa lalunya sebagai budak dan tuan muda yang jatuh.
Arc Kota Angin telah berakhir.
Perjalanan menuju puncak dunia kultivasi yang sesungguhnya baru saja dimulai.
[Interlude: Di Kedalaman Reruntuhan yang Runtuh]
Di bawah tumpukan batu ribuan ton bekas Makam Pedang.
Sebuah tangan raksasa berlumuran darah menyeruak keluar dari celah batu.
BRAK!
Batu-batu besar terlempar. Han Yun merangkak keluar. Baju zirahnya hancur total. Tubuhnya penuh luka mengerikan, kulitnya terkelupas, dan salah satu matanya tertutup darah beku.
Napasnya memburu seperti banteng sekarat.
"Asura..."
Han Yun memuntahkan gumpalan darah. Dia menatap tangannya yang gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang tak tertahankan.
Di sampingnya, Han Feng yang juga selamat (berkat perlindungan kakaknya) terbatuk-batuk. Kakinya patah, wajahnya penuh debu.
"Kakak... Peta itu... Warisan itu..."
Han Yun menoleh ke adiknya. Tatapannya begitu buas hingga Han Feng tersentak mundur.
"Persetan dengan peta," geram Han Yun.
Dia mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol.
"Dia mempermalukanku. Dia menggunakan kekuatanku untuk naik tingkat. Dia memotong rantaiku."
Han Yun mengambil sisa rantai putus di tanah.
"Adik, kirim pesan ke Sekte Utama. Aku butuh Pil Iblis Darah."
Mata Han Feng terbelalak. "Pil Iblis Darah? Kakak, itu akan memotong umurmu sepuluh tahun!"
"Aku tidak peduli!" raung Han Yun, suaranya menggetarkan reruntuhan. "Aku akan membunuhnya! Aku akan mencabik-cabiknya! Siapkan pasukan pemburu elit. Kita tidak akan kembali ke sekte sebelum kepala Asura ada di tanganku!"
Di kegelapan reruntuhan itu, aura dendam Han Yun membubung tinggi, menjanjikan badai darah yang akan mengejar Ye Chen ke ujung dunia.
(Akhir Bab 24 - Selesai Arc 1: Kota Angin)