Ava Seraphina Frederick (20) memiliki segalanya kekayaan, kekuasaan, dan nama besar keluarga mafia. Namun bagi Ava, semua itu hanyalah jeruji emas yang membuatnya hampa.
Hidupnya runtuh ketika dokter memvonis usianya tinggal dua tahun. Dalam putus asa, Ava membuat keputusan nekat, ia harus punya anak sebelum mati.
Satu malam di bawah pengaruh alkohol mengubah segalanya. Ava tidur dengan Edgar, yang tanpa Ava tahu adalah suami sepupunya sendiri.
Saat mengetahui ia hamil kembar, Ava memilih pergi. Ia meninggalkan keluarganya, kehidupannya dan juga ayah dari bayinya.
Tujuh tahun berlalu, Ava hidup tenang bersama dengan kedua anaknya. Dan vonis dokter ternyata salah.
“Mama, di mana Papa?” tanya Lily.
“Papa sudah meninggal!” sahut Luca.
Ketika takdir membawanya bertemu kembali dengan Edgar dan menuntut kembali benihnya, apakah Ava akan jujur atau memilih kabur lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"Aku pikir bisa hidup tenang. Nyatanya, takdir kembali membawaku bertemu dengan Edgar."
Ava membasuh wajahnya di toilet, mencoba menghapus jejak kelelahan dan sisa air mata setelah melihat Luca dan Edgar di ruang perawatan.
Namun, saat ia berbelok menuju lorong VIP, langkahnya terhenti seketika.
Di depannya, berdiri seorang wanita paruh baya. Bibinya sendiri, wanita yang pernah menjadi bagian dari hidup yang ia buang tujuh tahun lalu.
Alana terpaku, tas tangan bermerek di genggamannya hampir merosot. Matanya melebar, menatap sosok di depannya seolah-olah sedang melihat hantu yang bangkit dari kubur.
"Ava seraphina?!" suara Alana bergetar, antara percaya dan tidak.
Ava berdiri tegak, dagunya terangkat dengan aura dingin yang menusuk. Tidak ada sedikit pun ketakutan di matanya.
"Lama tidak berjumpa, Bibi Alana," sapanya.
Alana melangkah maju, memindai penampilan Ava dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau... kau masih hidup? Bagaimana mungkin? Tujuh tahun aku menganggapmu sudah membusuk di suatu tempat!"
Ava tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Maaf jika keberadaanku mengecewakanmu. Aku tahu Bibi sudah sangat berharap bisa menghadiri pemakamanku bertahun-tahun yang lalu."
Alana tampak terguncang, wajahnya memucat di bawah polesan make-up tebalnya.
"Tapi Ivy bilang padaku bahwa hasil laboratorium tujuh tahun lalu menyatakan kau mengidap penyakit kronis. Dia bilang umurmu tidak akan lebih dari beberapa bulan! Dia bilang kau pergi untuk mati sendirian agar tidak mempermalukan nama Frederick!"
Mendengar nama Ivy disebut, kilatan kebencian melintas di mata Ava.
Jadi itu narasi yang dibangun sepupunya? Agar dia dianggap sekarat dan melarikan diri untuk mati?
"Ivy selalu punya imajinasi yang luar biasa jika itu menyangkut cara menyingkirkanku," sahut Ava dengan nada datar dan sangat dingin.
"Sayangnya, laporan medis itu sama palsunya dengan senyuman Ivy. Aku tidak mati, Bibi. Aku bertahan hidup untuk melihat bagaimana kalian menikmati hasil rampasan kalian," imbuh Ava dengan tangan terkepal erat.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alana meninggi, kecurigaannya mulai mengambil alih rasa terkejutnya. "Kenapa kau ada di koridor VIP ini? Jangan katakan padaku kau sedang menguntit Edgar! Ivy sedang mencari suaminya, dan sekarang aku menemukanmu di sini?"
Ava melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Alana dengan pandangan menghina.
"Aku tidak perlu menguntit siapa pun. Dan mengenai Edgar, sebaiknya Bibi simpan kecurigaan itu untuk diri sendiri."
"Kau pasti merencanakan sesuatu!" tuduh Alana, telunjuknya mengarah ke wajah Ava. "Kau muncul kembali tepat saat posisi Ivy sedang sulit. Kau ingin merebut Edgar kembali? Kau ingin merusak rumah tangga sepupumu sendiri setelah kau menghilang seperti pengecut?"
"Merusak?" Ava tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar sangat menyeramkan di koridor sunyi itu. "Bibi, aku tidak perlu merusak apa pun yang memang sudah busuk dari akarnya. Jika Bibi ingin tahu keberadaan Edgar, dia ada di dalam sana, baru saja memberikan sumsum tulangnya untuk putraku."
Alana terperanjat, mata hitamnya hampir melompat keluar.
"Apa?! Putra... putramu? Apa yang kau bicarakan, Ava?! Edgar memberikan sumsum tulang untuk anakmu? Jangan bilang kau menggunakan anak harammu untuk memeras Edgar!"
Wajah Ava seketika berubah menjadi sangat gelap. Aura dinginnya kini berubah menjadi kemarahan yang terkendali namun mematikan.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Alana mundur dengan ketakutan.
"Jaga bicaramu, Alana! Anakku bukan anak haram. Dia memiliki darah Edgar mengalir di nadinya, sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh Ivy meski dia memohon pada Tuhan selama seribu tahun."
"Kau gila! Itu tidak mungkin!" Alana menjerit tertahan.
"Pikirkan apa pun yang Bibi mau," pungkas Ava sambil kembali melangkah melewati Alana. "Tapi satu hal yang harus Bibi ingat. Aku bukan lagi Ava yang bisa kalian tindas atau kalian bohongi dengan hasil lab palsu. Jika Bibi atau Ivy berani menyentuh anak-anakku, aku tidak akan segan-segan meruntuhkan seluruh gedung ini di atas kepala kalian."
Ava terus berjalan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alana yang berdiri mematung di koridor dengan napas tersengal-sengal. Rahasia tujuh tahun itu telah meledak tepat di wajah wanita itu, dan Ava tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai.
"Dia masih hidup dan dia punya anak dari Edgar? Ini bencana. Ini benar-benar bencana!" gumam Alana dengan tangan gemetar, segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Ivy.
Sayangnya, ponsel milik Ivy masih tidak bsia dihubungi sama sekali.
"Ivy, angkat sayang! Mama mohon!"
pelan2 aja
lanjut Thor semangat 💪 salam sehat selalu ya ❤️🙂🙏
semangat kak senja.
up lagi😃😁😁