kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Dua tahun lalu, dunia mengenal Patricia Effendi sebagai matahari yang hanya terbit untuk kemewahan. Di kediaman megah keluarga Effendi, ia adalah permata. Sebagai putri bungsu dari Faisal Effendi dan adik kesayangan Hilman, yang saat itu ia yakini sebagai kakak kandungnya, Patricia hidup dalam gelembung emas yang membuatnya lupa akan napak tilas bumi yang ia pijak. Meski mama dan ayahnya tidak seharmonis pasangan lain pada umumnya, tapi Patricia tidak pernah kekurangan kasih sayang.
Sampai waktu kakak nya mengenalkan kekasihnya yang bernama Rubby itu , Patricia tidak suka, karena menurutnya kekasih kakaknya itu hanya seorang sekretaris yang asalnya miskin. Jadi ia dan mamanya bersepakat untuk memisahkan Hilman dengan Rubby.
***
Setiap kali mobil sport merahnya memasuki area parkir kampus, suasana seolah membeku. Patricia keluar dengan kacamata hitam high-end, tas bermerek terbaru yang harganya setara biaya kuliah dua semester, dan aroma parfum yang tercium dari jarak sepuluh meter.
Ia bukan hanya cantik, ia adalah standar kecantikan itu sendiri. Namun, kecantikannya setajam sembilu.
"Pat, lihat itu... si anak beasiswa itu mencoba menyapamu lagi. Dia ingin meminjam catatan kuliahmu." ucap teman geng nya.
Patricia melirik sinis ke arah seorang mahasiswa yang berpakaian sederhana. "Katakan padanya, kertas catatanku terlalu mahal untuk disentuh tangan yang berbau keringat angkutan umum. Kalau mau pintar, belajar sendiri, jangan jadi parasit sosial." balas Patricia dengan ketus.
Patricia sangat royal kepada teman-teman pilihannya. Ia sering mentraktir satu gengnya di restoran bintang lima hanya karena ia sedang bosan, namun ia tidak akan sudi mengeluarkan seribu rupiah pun untuk pengamen di lampu merah. Baginya, kemiskinan adalah penyakit yang menular.
Di mata Hilman Patricia adalah segalanya. Ia adalah adik satu-satunya meski lahir dari rahim yang berbeda, Apa pun yang Patricia tunjuk, Hilman akan membelikannya tanpa bertanya. Hubungan mereka sangat erat, namun didasari oleh pemanjaan yang berlebihan.
"Pat, Kakak dengar kamu baru saja menabrakkan mobilmu karena kesal melihat motor butut menghalangi jalan?" tanya Hilman menyipitkan sebelah matanya.
Patricia menjawab ambil merapikan kuku manicure-nya "Habisnya motor itu mengganggu pemandangan, Kak. Baunya asap, bikin aku mual. Lagipula, itu kan cuma mobil kecil, besok Kakak bisa belikan aku yang baru, kan?"
Hilman tertawa sambil mengacak rambut Patricia "Tentu saja. Untuk adik kesayangan Kakak, apa pun akan Kakak berikan."
Patricia tumbuh dengan pemikiran bahwa uang bisa menghapus semua kesalahan dan menyingkirkan semua orang yang tidak selevel dengannya.
Suatu hari, Patricia sedang mencoba gaun edisi terbatas di sebuah butik langganannya. Seorang pelayan baru secara tidak sengaja menumpahkan sedikit air mineral ke ujung sepatu Patricia.
Patricia berteriak histeris "Kamu tahu berapa harga sepatu ini?! Gaji kamu selama setahun pun tidak akan sanggup mengganti satu talinya! Panggil manajermu, aku mau orang ini dipecat sekarang juga! Aku tidak mau butik favoritku dikotori oleh orang ceroboh dan miskin seperti dia!"
Pelayan itu bersimpuh sambil menangis,
"Ampun nona...hiks , saya tidak sengaja" tangis pelayan itu tersedu-sedu karena baru beberapa hari bekerja, namun Patricia hanya melangkah melewatinya dengan wajah dingin tanpa penyesalan sedikit pun. Di matanya, orang miskin adalah entitas yang tidak memiliki perasaan.
Saat itu, Patricia hanya mau berteman dengan anak-anak pengusaha besar. Ia sering mengadakan pesta di penthouse ayahnya, Faisal, dan hanya mengundang orang-orang yang memiliki pengaruh.
Ia adalah sosok yang sangat percaya diri, menganggap dirinya adalah Ratu yang tidak akan pernah jatuh. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pria sederhana bernama Tono yang sesekali ia lihat di masa kecilnya adalah ayah kandungnya,
___
Pesta ulang tahunnya yang ke-20 digelar di ballroom hotel termewah di Jakarta. Patricia berdiri di tengah ruangan dengan gaun berlapis kristal, bersulang dengan para pewaris tahta perusahaan lain.
Patricia berpidato "Dunia ini milik mereka yang mampu membelinya. Dan aku bersyukur, aku lahir di sisi pemenang."
Ia tersenyum lebar, memegang gelas kristalnya tinggi-tinggi, .
___
Pagi harinya seperti biasa, Patricia mengendarai mobil sportnya untuk pergi ke kampus...
Alendra yang baru di semester 5 tahu persis jadwal Patricia. Jam 10 pagi adalah waktu Patricia turun dari mobilnya dengan gaya slow motion ala iklan sampo. Alendra sering sengaja duduk di kursi taman yang menghadap ke area parkir, berpura-pura membaca buku tebal hukum perdata, padahal bukunya terbalik.
"Alen, buku itu isinya pasal-pasal, bukan foto Patricia. Lagipula, kamu lihat tidak siapa yang berdiri di belakangnya?" ucap teman Alendra.
Alendra melirik sekilas. Di sana ada anak buah Hilman, sang pelindung yang tatapannya lebih tajam dari pisau bedah. Anak buah Hilman selalu mengawasi siapa pun yang berani menatap adiknya lebih dari tiga detik.
"Aku tidak mau mendekat, Bro...Aku hanya... mengapresiasi karya tuhan dari jauh. Dia cantik sekali, ya?" ucap Alendra tersenyum.
"Cantik sih iya, tapi sombongnya itu, Alen! Kemarin dia membuang kopi pemberian mahasiswa tingkat satu hanya karena kopinya bukan dari gerai internasional. Kamu yakin mau naksir cewek yang hatinya sedingin kulkas dua pintu begitu?" tanya teman Alendra.
"Mungkin dia cuma butuh seseorang yang bisa mencairkannya," jawab Alendra sambil tersenyum bodoh.
**""
Siang harinya keberuntungan atau kesialan menghampiri Alendra. Patricia sedang berjalan di kantin dengan langkah anggun, sementara Alendra sedang membawa nampan berisi bakso panas. Tiba-tiba, seorang mahasiswa berlari dan menyenggol Alendra.
BYURRR!
Kuah bakso itu nyaris mengenai sepatu stiletto mahal Patricia.
Patricia berhenti mendadak, menatap lantai dengan jijik "Aww! Are you blind?! Lihat, kuah menjijikkan ini hampir merusak sepatuku! Kamu tahu tidak, harga sepatu ini bisa membiayai makan kantinmu selama setahun?"
Alendra mematung. Bukannya marah karena dibentak, ia malah terpesona melihat wajah Patricia dari jarak 30 cm. Wah, bulu matanya asli, batinnya.
"M-maaf, Nona... saya tidak sengaja. Biar saya bersihkan..." Alendra mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
Patricia mundur selangkah dengan wajah geli "Jangan sentuh aku dengan kain kotor itu! Minggir! Benar-benar ya, kampus ini harusnya punya jalur khusus supaya orang-orang ceroboh sepertimu tidak menghalangi jalan orang seperti aku!"
Patricia pergi dengan mengibaskan rambutnya, meninggalkan Alendra yang justru senyum-senyum sendiri sambil memegang sapu tangannya.
"Wah, kamu baru saja dihina habis-habisan dan kamu malah kegirangan?" ucap temannya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan teman nya itu.
"Dia bicara padaku, Bro..! Dia bilang kamu. Itu kemajuan besar!"
___
Pernah suatu kali Alendra mencoba memberanikan diri menaruh sebotol cokelat dingin kesukaan Patricia di atas mejanya saat kelas kosong. Namun, belum sempat ia pergi, Hilman sudah masuk ke kelas dengan wajah sangar.
"Siapa yang menaruh ini di meja adikku?" tanya Hilman dingin.
Alendra langsung pura-pura membetulkan tali sepatunya di bawah meja.
"Dengarkan ya, siapa pun kalian yang mencoba mendekati Patricia, hadapi aku dulu. Adikku tidak butuh pemberian sampah dari kalian. Dia hanya pantas mendapatkan yang terbaik!"