Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Bisa Menjadi Pusaka
Napas Sekar tertahan di kerongkongan.
Bukan karena gugup.
Melainkan karena lilitan kain stagen sepanjang lima meter yang kini membebat perut dan dadanya bagaikan ular piton yang sedang memangsa buruan.
"Tarik lagi, Bu Sasmi. Sedikit lagi," perintah GKR Dhaning.
Suara wanita itu terdengar lembut, semanis madu hutan, tapi memiliki aftertaste racun arsenik.
"Sendika, Gusti Putri," sahut Bu Sasmi.
Wanita paruh baya itu menarik ujung kain stagen dengan tenaga yang tidak wajar untuk ukuran nenek-nenek.
"Ugh..." Sekar mengerang pelan.
Dia merasakan diafragma-nya tertekan ke atas.
Kapasitas paru-parunya kini berkurang setidaknya 30%.
Secara biologis, ini penyiksaan.
Penurunan asupan oksigen akan memicu hipoksia ringan, membuat otak lebih lambat berpikir.
Sekar melirik pantulan dirinya di cermin besar berbingkai jati ukiran Jepara itu.
Gadis desa di cermin itu tampak asing.
Rambutnya disanggul tekuk gaya Yogyakarta, lengkap dengan tusuk konde penyu yang sederhana.
Dia mengenakan kebaya kutubaru berbahan beludru hitam pekat.
Tanpa payet.
Tanpa bros emas.
Sangat polos.
Terlalu polos untuk undangan minum teh resmi bersama Permaisuri.
"Sempurna," GKR Dhaning tersenyum, berdiri di belakang Sekar.
Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Sekar, menatap pantulan mereka berdua.
Kontras itu menyakitkan mata.
Dhaning mengenakan kebaya sutra berwarna merah marun dengan sulaman benang emas yang rumit, bros berlian tiga susun, dan riasan wajah yang flawless.
Sementara Sekar... dia terlihat seperti pelayan yang kebetulan lewat.
"Kanjeng Ibu tidak suka kemewahan yang berlebihan, Sekar," bisik Dhaning di telinga Sekar.
"Beliau menghargai kesederhanaan. Penampilanmu ini... sangat 'merakyat'. Pas sekali dengan asal-usulmu."
Sekar menangkap kilatan ejekan di mata Dhaning lewat cermin.
Analisis: Dhaning sedang melakukan framing visual. Dia ingin Sekar terlihat kusam, miskin, dan tidak selevel di hadapan Permaisuri.
Jika Sekar protes dan minta perhiasan, dia akan dicap "gadis desa serakah".
Jika dia diam, dia akan terlihat "gadis desa udik".
Skakmat visual.
"Terima kasih atas perhatiannya, Gusti Putri," jawab Sekar tenang.
Dia menegakkan punggungnya, melawan tekanan stagen itu.
"Kesederhanaan adalah fondasi. Semakin sederhana, semakin dekat dengan kebenaran."
Senyum Dhaning menipis sesaat.
"Ayo. Jangan membuat Kanjeng Ibu menunggu. Di Keraton, telat satu menit sama dengan penghinaan seumur hidup."
Perjalanan menuju Bangsal Keputren terasa seperti berjalan menuju ruang eksekusi.
Matahari Yogyakarta sedang terik-teriknya, tapi lorong-lorong batu Keraton terasa dingin.
Setiap langkah Sekar diiringi bunyi srek-srek halus dari kain jarik batiknya yang bergesekan.
Dia menghitung langkahnya.
Mengatur ritme napas agar detak jantungnya tetap di angka 70 bpm.
Dia tidak boleh terlihat berkeringat.
Keringat adalah tanda kelemahan.
Tanda ketakutan.
Mereka tiba di sebuah pendopo terbuka yang menghadap taman bunga teratai.
Di tengah pendopo, duduk seorang wanita yang auranya bisa membekukan air mendidih.
GKR Dyah Kusumawardhani.
Permaisuri Keraton Yogyakarta.
Ibu tiri Pangeran Arya.
Wanita itu sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kulit, ditemani secangkir teh yang uapnya mengepul tipis.
Dia tidak menoleh saat Sekar dan Dhaning masuk.
Dhaning segera melakukan sembah, gerakan menyatukan kedua telapak tangan di depan hidung, lalu berjalan jongkok mendekat.
"Sugeng siang, Kanjeng Ibu," sapa Dhaning halus.
Sekar meniru gerakan itu.
Otot pahanya yang kemarin baru saja disiksa latihan fisik, kini protes keras saat harus melakukan gerakan mlaku dodo, tapi Sekar mengatupkan rahangnya.
Permaisuri menutup bukunya perlahan.
Suara blug pelan saat buku itu tertutup terdengar seperti palu hakim.
Beliau menatap Dhaning sekilas, lalu matanya beralih pada Sekar.
Tatapan itu.
Sekar pernah melihat tatapan seperti itu di laboratorium lamanya.
Itu bukan tatapan kebencian.
Itu tatapan seorang peneliti yang sedang melihat bakteri di bawah mikroskop.
Dingin.
Menilai.
Mencari cacat.
"Jadi ini," suara Permaisuri rendah, namun resonansinya kuat.
"Gadis yang membuat Dhimas Arya berani melawan tradisi."
Sekar menunduk dalam, menatap motif lantai tegel kunci di bawahnya.
"Nama saya Sekar, Gusti Ratu," jawabnya pelan.
"Aku tidak tanya namamu," potong Permaisuri datar.
Hening.
Dhaning tersenyum tipis di sampingnya, menikmati pemandangan ini.
"Duduk," perintah Permaisuri.
Sekar duduk bersimpuh di lantai, di posisi yang sudah ditentukan, di bawah level kursi Permaisuri, namun sejajar dengan meja pendek.
Seorang abdi dalem wanita tua menuangkan teh ke cangkir porselen di hadapan Sekar.
Teh itu berwarna cokelat pekat. Aromanya sepet dan melati.
"Minumlah," titah Permaisuri.
Ini jebakan pertama.
Sekar tahu, di Keraton, minum teh bukan sekadar membasahi tenggorokan.
Ada tata caranya.
Kapan harus mengangkat cangkir.
Bagaimana memegang telinganya.
Kapan harus menyeruput.
Jika Sekar salah, dia akan dicap tidak punya tata krama.
Sekar melirik cangkir itu.
Porselen tipis. Panas.
Jika dia memegangnya dengan ragu, tangannya akan gemetar.
Sekar menarik napas.
Dia menggunakan prinsip leverage.
Ibu jari dan telunjuk menjepit bibir cangkir dan dasar cangkir, menahan panas di area kulit yang paling tebal kapalan-nya. Jari manis menahan beban di bawah.
Stabil.
Sekar mengangkat cangkir itu, menutupi bibirnya dengan punggung tangan kiri, sebuah gestur sopan santun klasik, lalu menyesapnya tanpa suara.
Tidak ada bunyi slurp.
Cairan pahit-manis itu mengalir di tenggorokannya.
Dia meletakkan kembali cangkir itu tanpa bunyi denting sedikit pun.
Mata Permaisuri menyipit sedikit.
Tidak menyangka gadis desa bisa sehalus itu.
"Lumayan," komentar Permaisuri singkat.
"Untuk ukuran orang yang biasa minum dari kendi."
Dhaning tertawa kecil.
"Sekar ini cepat belajar, Kanjeng Ibu. Katanya dia jenius di desanya."
Kata "jenius" diucapkan Dhaning dengan nada mencemooh, seolah itu lelucon.
Permaisuri kembali menatap Sekar. Kali ini lebih tajam. "Jenius, ya?"
Permaisuri mengambil buku tebal yang tadi dibacanya.
"Arya itu calon Raja, walau sekarang dia lebih suka main kamera seperti orang kurang kerjaan," ucap Permaisuri sinis.
"Tapi darahnya tetap darah biru. Istrinya kelak, haruslah wanita yang bisa menjadi Pusaka."
Permaisuri mencondongkan tubuhnya.
Tekanan udara di sekitar mereka terasa memberat.
"Pusaka bukan hanya soal cantik atau bisa masak, Nduk. Pusaka itu soal memori. Soal sejarah. Soal filosofi yang menjaga paku pulau Jawa ini tetap menancap di buminya."
Sekar merasakan keringat dingin mulai merembes di punggungnya.
Hormon adrenalin dan kortisol-nya melonjak.
Ini adalah respon fight or flight.
"Saya sadar diri, Gusti Ratu," jawab Sekar hati-hati.
"Saya hanyalah rakyat kecil yang kebetulan..."
"Kebetulan?" potong Permaisuri.
"Di dunia ini tidak ada kebetulan. Yang ada hanya takdir dan konsekuensi."
Permaisuri membuka halaman buku tua itu secara acak.
Kertasnya sudah menguning, rapuh dimakan zaman.
Aksara Jawa Kuno berderet rapat memenuhi halaman.
"Dhaning bilang kamu pintar," ujar Permaisuri.
"Kalau begitu, buktikan."
Jantung Sekar berdegup kencang.
Permaisuri memutar buku itu menghadap Sekar.
"Ini adalah salinan Serat Wulangreh pupuh Dhandhanggula. Naskah asli tulisan tangan Sri Susuhunan Paku Buwana IV."
Mata Sekar membelalak menatap deretan huruf keriting yang baginya tampak seperti kode enkripsi alien itu.
Di kehidupan lamanya sebagai Profesor Biologi, dia hafal struktur DNA mitokondria.
Dia bisa membaca hasil MRI dalam hitungan detik.
Tapi Aksara Jawa Kuno?
Ingatan tubuh asli Sekar si gadis desa hanya terbatas pada huruf latin dan hitungan matematika dasar pasar.
"Bacakan bait ketiga," perintah Permaisuri dingin.
"Dan jelaskan tafsir filosofisnya dalam konteks pemerintahan modern."
Dhaning tersenyum lebar sekarang. Kemenangan sudah di depan mata.
Mana mungkin gadis desa yang kerjaannya menanam melon bisa membaca sastra tinggi tingkat keraton, apalagi menafsirkannya?
Ini bukan sekadar tes.
Ini eksekusi publik.
Kanjeng Ratu bersandar nyaman di kursinya, menatap Sekar seperti elang menatap tikus sawah yang tersudut.
"Kenapa diam?" desak Kanjeng Ratu.
"Bukannya kamu jenius?"
"Atau..." Permaisuri menyesap tehnya perlahan.
"Otakmu hanya berisi lumpur sawah?"
Tangan Sekar yang berada di atas pangkuan mengepal erat hingga kukunya memutih.
Dia terpojok.
Secara logika, dia tamat.
Tapi, Sekar merasakan sensasi panas yang familiar di jari manis tangan kirinya.
Tanda lahir bulir padi itu berdenyut.
Ruang spasial merespons lonjakan stres pemiliknya.
Di dalam ruang dimensi lain itu, ada Pohon Kristal Data. Pohon yang menyimpan ribuan arsip kuno.
Sekar memejamkan mata sesaat.
Akses database, batinnya berteriak.
Keyword: Serat Wulangreh.
Seketika, rasa pusing menghantam kepalanya.
Bukan pusing sakit, tapi pusing karena download informasi berkecepatan tinggi yang langsung disuntikkan ke korteks serebralnya.
Sekar membuka matanya.
Tatapan matanya berubah.
Tidak lagi takut. Tidak lagi ragu.
Dia menatap deretan aksara Jawa itu.
Dan tiba-tiba, huruf-huruf itu seolah menyusun diri menjadi kalimat yang bisa dia pahami sejelas ketika ia membaca jurnal ilmiah.
Sekar mengangkat wajahnya, menatap lurus ke manik mata Permaisuri.
Sesuatu yang tabu, tapi dia lakukan dengan penuh percaya diri.
"Mohon ampun, Gusti Ratu," suara Sekar terdengar berbeda.
Lebih dalam. Lebih berwibawa.
"Bait ketiga Dhandhanggula dalam Serat Wulangreh ini... berbicara tentang Laku Prihatin."
Senyum Dhaning membeku.
Cangkir teh di tangan Permaisuri berhenti di udara.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄