Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK INGIN CERAI
Laras sebagai adik ipar, menemani Maya yang terbaring lemah belum sadarkan diri setelah menjalani proses kuret untuk membersihkan rahimnya akibat pendarahan hebat.
Selain itu memar memar ditubuhnya juga sudah diobati.
Laras menangis terisak melihat istri dari kakaknya menjadi mengenaskan seperti ini. Kakaknya memang suka mengganggu dan susah menahan amarah, tapi ia tidak menyangka jika sampai melukai wanita hingga kehilangan janin dalam kandungan.
Sampai isakan tangisnya membuat Maya tersadar berlahan.
"La..Laras" panggilnya lirih.
"KAKAK!!!" seru Laras sambil memeluk Maya.
"Maafkan abangku!" ucapnya lagi.
Menyadari permintaan maaf sang adik ipar, Maya yakin terjadi sesuatu pada kandungannya.
Tes!
Air matanya mengalir sambil memeluk Laras.
"Maafkan abangku, Kak! Dia memang brengsek, maafkan dia" ujar Laras lagi.
"Apakah...apa anakku tidak selamat?" tanya Maya ingin memastikan apa yang ia duga.
Laras mengangguk dalam pelukan tanpa menjawab dengan suara.
Keduanya menangis sesengukan bersama hingga ada seseorang yang mengetuk pintu kamar inap.
Tok..tok..tok..
Laras melepaskan pelukannya dan menghapus air mata. Begitupun dengan Maya yang juga menyeka air matanya.
"Come in!" ucap Laras dari dalam kamar.
Ceklek.
Pintu terbuka, munculah seorang pria yang wajahnya masih terluka dan terlihat belum diobati.
"Siapa kamu? Kamu yang menghajar abangku di hotel kan?" tanya Laras tajam.
"Aku Riko, teman Maya" jawab pria itu.
"Riko" panggil Maya dan membuat Laras menoleh pada kakak iparnya.
"Bisakah aku berbicara dengan Maya saja?" tanya Riko sopan.
"Apa yang kamu bicarakan pada kakakku hah? Karena kamu muncul didepan abangku di busway tadi dia jadi seperti ini! Siapa kamu sebenarnya?" serang Laras.
Maya menahan tangan Laras untuk tidak mengatakan sesuatu lagi.
"Dia temanku, Laras. Dia yang menolongku dari amukan abangmu. Biarkan aku berbicara dengannya" minta Maya.
Laras masih curiga dan belum bisa meninggalkan Maya sendiri.
"Tapi kak?" tolaknya.
"Aku akan baik baik saja. Dia tidak akan menyakitiku" bujuk Maya dan akhirnya Laras bersedia keluar kamar.
"Awas kalau terjadi sesuatu pada kakakku! Aku yang akan menghajarmu!" ancam Laras sebelum meninggalkan ruangan lalu menutup pintu.
Riko tersenyum mendengarnya, lalu ia berjalan menuju kursi samping brankar dan duduk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya mengawali pembicaraan.
"Apa maksudmu datang kesini, menampakkan diri didepan kami hah? Ini rencanamu?" serang Maya langsung mengungkapkan isi hatinya.
Jika saja Riko tidak muncul dihadapannya, Juan tidak akan mengamuk dan calon anaknya tidak akan pergi.
Riko terlihat diam dan menatap wajah Maya sendu.
"Kamu pikir setelah aku kehilangan calon anakku dengan suami, aku akan kembali padamu? Tidak Riko, aku tidak akan kembali bersama pria yang menghancurkan pernikahanku apalagi sebagai alasan anakku pergi meskipun tidak secara langsung" lanjut Maya dengan derai air mata serta suara yang bergetar.
Melihat Maya yang berbicara dengan jiwa terguncang membuat Riko lemah.
"Maafkan aku..aku salah kali ini..caraku salah untuk mendapatkanmu" sahut Riko dengan raut menyesal.
"Aku tidak akan memaafkanmu. Kamu jadi alasan Mas Juan marah dan membunuh anak kami. Pergilah Ko, aku tidak ingin melihatmu" minta Maya.
"Ta..tapi aku menci.." belum juga selesai berbicara, tamparan mendarat di pipinya.
PLAK!
Maya berusaha mengerahkan tenaga di tangannya yang tidak diinfus untuk menampar Riko.
"Aku kehilangan calon anakku 3 kali, Ko. Bagaimana..bagaimana kamu tega hah? Cinta? Hahaha cintamu palsu seperti Mas Juan! Aku tidak mau bersama kalian. Kamu pergilah sebelum aku teriak" ucap Maya.
"Aku kesini untuk memberitau mu bahwa aku akan mengurus perceraian mu dengan Juan. Aku sudah minta tolong sama ayah mertuamu untuk membujuk putranya. Terimalah aku sebagai pengacara perceraian mu" sahut Riko.
"Dasar tidak tau malu, aku tidak akan bercerai dengan suamiku karena kamu! Mungkin ini adalah hukuman bagiku karena pernah mencintaimu, Riko!" ujar Maya dengan amarah yang meluap diwajahnya.
"Tapi kamu akan disakiti olehnya lagi! Aku tidak akan membiarkan mu disakiti olehnya lagi, paham! Mau tidak mau, kamu akan bercerai darinya. Entah nanti kamu menolak cintaku lagi, aku tidak peduli. Saat ini yang aku pedulikan adalah keselamatan mu" sahut Riko.
"Kamu benar benar..pria tidak tau diri, Riko. Kamu berniat menyelamatkan ku tapi membunuh jiwaku? Hahahhaa ya ya ya, dari awal seharusnya aku sadar bahwa cinta orang miskin penuh ambisi dan obsesi. Aku tidak sadar sudah takluk dengan itu lalu mengabaikan cinta suamiku hingga dia terluka dan membalasnya padaku" ucap Maya.
"Aku bilang pergi dari sini" lanjutnya.
"Aku tidak ingin melihat wajahnu lagi!" tambah Maya dengan suara sedikit lebih keras membuat Laras diluar mendengarnya lalu masuk dan mendorong Riko keluar.
"Apapun caranya, aku akan mengurus perceraian mu dengan Juan. Dengan ku atau tidak denganku, perceraian mu akan menjadi tanggung jawabku" ujar Riko lalu keluar kamar inap Maya.
Ia mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan kepada Tito untuk merencanakan aksi selanjutnya yaitu menginformasikan kepada keluarga Maya, jika putrinya terluka parah di Singapura karena suaminya sendiri.
Tito tau rencana Riko untuk mendapatkan Maya dengan berbagai cara yang ada. Sebagai sahabat yang mengetahui jalan hidup Riko, Tito membantunya melancarkan aksi ini.
Dokumen dokumen sudah sampai ke tangan Tito. Ia menggunakan dokumen visum Maya dan penangkapan Juan kepada Lingga karena firma hukum Hadiningrat sebagai konsultan hukum perusahaan Lingga.
Jika ditanya Lingga, "Kenapa kamu mendapatkan bukti bukti ini?"
Tito akan menjawab, "Kenalan di Singapura mengabari hal ini karena mengetahui bahwa Maya adalah adik Lingga Yudhistira. Ia mengabari ku hal ini"
Lingga pun percaya saja informasi dari Tito tanpa curiga karena terlanjur panik. Ia langsung berangkat ke Singapura bersama Hania, sang istri.
Orang tua mereka belum tau, karena jika tau Erlan akan mengamuk dan membahayakan jantungnya.
Kembali lagi diruang rawat inap Maya.
Laras kini ingin menanyakan siapa pria yang baru saja datang itu.
"Kak, apa boleh aku tau siapa sebenarnya pria itu? Bagaimana dia bisa membuat abang marah?" tanyanya.
"Dia adalah masa lalu kita. Katanya dia mencintaiku, tapi buktiknya cinta itu palsu. Dia membuatku kehilangan calon anakku" jawab Maya dengan perasaan kehilangan yang luar biasa.
Air matanya berderai kembali.
"Apakah kakak berselingkuh?" tanya Laras ragu tapi ingin memastikan tebakannya.
Maya terdiam. Selama ini apakah mencintai seorang pria lain secara diam diam meskipun sudah bersuami bisa dianggap selingkuh?
Jika itu belum bisa dipastikan, tapi ada satu hari dimana pertemuan Maya dan Riko bisa dikatakan selingkuh.
"Ya, aku berselingkuh dengannya tapi dengan cara mencintainya secara diam diam selama ini. Kita tidak bertemu selama 5 tahun tapi dia membuatku mengingatnya. Dia hadir di mimpi ku saat aku bersama abangmu. Aku memang berdosa, Laras. Aku sudah mengkhianati suami ku sendiri" ujar Maya membuat Laras menutup mulut tak percaya.
"Tapi..tapi apakah kalian sempat bertemu dan melakukan itu?" tanya Laras lagi.
"Tidak, kita tidak melakukan hal itu. Lagipula, pertemuan kita kembali setelah 5 tahun tak bertemu, saat aku sudah hamil anak abangmu. Tapi..tapi abangmu gak percaya" jawab Maya dengan isakan tangis.
Laras bisa melihat kesakitan yang dirasakan Maya melalui suara dan tangisan.
"Aku tidak membenarkan apa yang dilakukan kakak itu benar, tapi aku juga akan menyalahkan bang Juan karena dia tidak bisa mempertahankan serta melindungimu. Lebih baik kalian bercerai saja. Aku tidak tega melihat kakak seperti ini" ucap Laras yang ikut menangis mengatakan hal yang ingin ia sampaikan barusan.
"Mungkin hukuman ku karena mencintai pria lain saat sudah menikah, aku mendapatkan karmanya. Aku tidak akan bercerai dan tetap bersama Mas Juan" ujar Maya.
"KAKAK!! JANGAN MENYIKSA DIRIMU SENDIRI!!" seru Laras tidak terima.
"AKU MEMANG ADIKNYA TAPI KAKAK SUDAH JADI KAKAKKU SENDIRI! AKU TIDAK RELA KAKAKKU DISAKITI OLEH ORANG LAIN MESKIPUN ORANG LAIN ITU ADALAH ABANG KANDUNGKU!" lanjutnya.
Maya memegang tangan adik iparnya itu dan tersenyum.
"Mungkin kematianku nantinya akan jadi bukti bahwa pengabdian seorang istri itu tidak terbatas" ujar Maya.
Laras tak bisa berkata apa apa. Ia memilih memeluk kakak iparnya dan menangis di pundak Maya.