Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Ruang Pompa
Simbol di dinding ruang pompa itu tidak dibuat asal.
Goresannya dalam. Tidak ragu. Garisnya mengikuti pola lama yang hanya diketahui orang-orang yang pernah melihat denah sumur.
Aku berdiri cukup lama menatapnya. Bau besi, oli, dan kelembapan bercampur jadi satu. Suara mesin pompa berdengung rendah seperti napas yang dipaksa stabil.
“Yudi, CCTV di basement aktif semua?” tanyaku pelan.
“Harusnya aktif,” jawabnya. “Tapi dua kamera di lorong belakang sempat mati tiga jam tadi malam.”
Tiga jam.
Waktu yang cukup untuk menanam cerita.
Aku menyentuh simbol itu. Tidak ada panas, tidak ada getaran seperti dulu. Ini bukan pintu gaib. Ini pesan.
Dan pesan itu sengaja ditinggalkan.
⸻
Kami memeriksa rekaman CCTV di ruang keamanan.
Pukul 02.11 dini hari, kamera lorong mati mendadak.
Pukul 02.14 menyala kembali.
Empat menit kosong.
Arga yang ikut datang sore itu memperbesar rekaman sebelum dan sesudah mati.
“Lihat ini,” katanya.
Beberapa detik sebelum kamera padam, terlihat bayangan seseorang lewat cepat. Bukan transparan. Bukan aneh. Sosok manusia dengan hoodie gelap.
“Manusia,” gumamku.
Dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai, aku merasa marah yang sangat bersih.
Bukan pada makhluk.
Pada orang yang sengaja memelihara ketakutan.
⸻
Keesokan harinya aku mendapat pesan anonim.
“Kalau kamu bisa main di sumur, kami juga bisa main di gedung.”
Tidak ada nomor jelas. Hanya akun baru yang dibuat sehari sebelumnya.
Aku menunjukkan pesan itu pada Arga.
“Ini bukan residu,” katanya. “Ini balasan.”
Jaringan lama Pak Jaya belum benar-benar mati. Mereka mungkin kehilangan proyek utama, tapi mereka masih punya uang, koneksi, dan ego yang belum selesai.
Aku teringat simbol di ruang pompa.
Mereka mencoba menciptakan sumur buatan.
⸻
Malam berikutnya aku memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan:
berjaga sendirian di basement.
Bukan untuk menantang.
Untuk memastikan siapa yang datang.
Aku duduk di kursi plastik dekat ruang pompa, mengenakan hoodie sederhana agar tidak mencolok. Lonceng kecil kusimpan di saku, bukan sebagai alat, tapi pengingat.
Jam 01.57.
Basement hampir kosong. Hanya satu mobil tersisa dan suara lift jauh di atas.
Pukul 02.08, langkah terdengar.
Pelan. Hati-hati.
Aku pura-pura melihat ponsel.
Sosok itu muncul dari lorong belakang—hoodie hitam, masker, membawa tas kecil.
Dia berhenti tepat di depan simbol lama, mengeluarkan sesuatu dari tas—cat semprot.
Aku berdiri.
“Capek nggak sih bikin orang takut?”
Dia terkejut dan hampir menjatuhkan kaleng cat.
“Kamu siapa—”
Aku melepas hoodie.
Wajahnya pucat.
“Kamu… Raisa?”
Jadi mereka tahu.
⸻
Namanya Fadil. Usianya mungkin tidak jauh dariku. Mahasiswa teknik yang bekerja paruh waktu sebagai staf proyek apartemen.
Awalnya dia menolak bicara. Tapi ketika aku menyebut nama Pak Jaya, wajahnya berubah.
“Proyek itu gagal karena kamu,” katanya getir.
“Banyak orang kehilangan kerja.”
Aku mengerti.
Kemarahan yang tidak punya arah mudah berubah jadi sabotase.
“Jadi kamu pikir bikin orang panik akan mengembalikan pekerjaan?” tanyaku.
Dia diam.
Tangannya gemetar.
“Orang-orang butuh alasan kenapa proyek gagal. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”
Jadi ini bukan tentang hantu.
Ini tentang mencari kambing hitam.
⸻
Aku duduk kembali di kursi plastik.
“Fadil, kamu percaya sumur itu nyata?”
Dia ragu.
“Entahlah. Tapi cerita itu laku.”
Kalimat itu membuatku tersenyum pahit.
“Dan kamu menjualnya.”
Dia menunduk.
“Awalnya cuma iseng. Bikin simbol. Share video. Tapi makin viral, makin nggak bisa berhenti.”
Ketakutan modern tidak butuh makhluk.
Cukup algoritma.
⸻
Aku tidak membentaknya. Tidak mengancam.
Aku hanya berkata,
“Kalau kamu terus lakukan ini, kamu bukan lagi korban proyek gagal. Kamu jadi bagian dari sumur baru.”
Fadil terdiam lama. Lalu perlahan menyemprot simbol yang belum selesai dengan cat putih, menutupnya sendiri.
“Kalau aku berhenti… kamu berhenti juga?” tanyanya.
“Aku nggak pernah mulai.”
Dia pergi malam itu tanpa banyak kata.
Tapi aku tahu ini belum selesai.
⸻
Beberapa hari setelah kejadian basement, situasi kota tampak lebih tenang. Tidak ada lagi simbol baru, tidak ada lift ke lantai tiga belas.
Namun sesuatu berubah di dalam diriku.
Aku mulai menyadari betapa tipis batas antara gaib dan sosial. Antara makhluk dan manipulasi. Antara suara air dan suara media.
Suatu sore aku duduk di halte dekat terminal. Seorang anak kecil duduk di sebelahku.
“Kak,” katanya polos, “kalau orang takut, hantu senang ya?”
Aku tersenyum.
“Kadang bukan hantunya yang senang. Kadang orang yang bikin ceritanya.”
Anak itu mengangguk seperti memahami lebih dari usianya.
⸻
Namun malam itu, tepat pukul 02.17, sesuatu terjadi lagi.
Bukan di apartemen.
Bukan di rumah Mbah.
Di kamarku sendiri.
Aku terbangun karena suara lonceng kecil berbunyi pelan.
Padahal aku tidak menyentuhnya.
Aku duduk tegak.
Ruangan gelap, tapi tidak berat.
Lonceng berbunyi sekali lagi—lebih lembut.
Di cermin lemari kulihat bayanganku berdiri, tapi kali ini tidak terlambat, tidak aneh. Hanya menatapku serius.
“Apa?” bisikku.
Bayangan itu mengangkat tangan, menunjuk ke arah jendela.
Di luar, lampu kota tampak redup satu demi satu seperti napas panjang.
Tidak ada simbol.
Tidak ada ancaman.
Hanya perasaan bahwa sesuatu yang lebih besar sedang bergerak, bukan dari bawah, bukan dari manusia kecil seperti Fadil.
Lebih tinggi.
Lebih luas.
Seolah kota itu sendiri sedang belajar cara memanggil.
Aku memegang lonceng.
Tidak membunyikannya.
Hanya menggenggam.
Karena untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku merasa bukan hanya penjaga, bukan hanya pendengar—
tapi bagian dari sesuatu yang sedang tumbuh.
Dan pertumbuhannya belum tentu jinak.