Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pulang Ke Tegal
Siang mulai merangkak, bukan hanya Zaki saja yang meminta ijin, tapi di sini Anisa juga mulai meminta ijin untuk pengunduran diri, tidak ada pencegahan, majikannya itu langsung mengiyakan begitu saja permintaan Anisa, seolah ini memang yang diinginkan.
"Baik jika memang itu mau mu," kata majikannya itu. "Dan ini gaji mu bulan ini," ucapnya sedikit ketus, namun Anisa tidak mau ambil pusing.
Siang itu Anisa keluar dari rumah itu dalam keadaan baik-baik saja, ia tidak lagi menoleh ke belakang. Langkahnya lurus ke depan dengan tas yang ia selempang dan gaji yang ia kantongi. Anisa sedikit merasa lega meskipun tak tahu setelah ini kehidupannya akan seperti apa.
Saat Anisa sudah sampai di pintu gerbang langkahnya terhenti, senyumnya sedikit melebar saat tahu, Zaki berdiri di depan pagar rumah majikannya seperti janjinya semalam.
"Ah, lagi-lagi dia menepati janji," gumamnya pelan.
Anisa lalu mendekat ke arah Zaki, terik matahari membuat tangannya refleks menutupi sebagian pandangannya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Anisa.
"Lumayan," sahut Zaki.
"Maaf ya, tadi sedikit lambat."
"Gak apa-apa, ya sudah kalau begitu langsung ke kosan dulu," ajak Zaki.
Anisa sempat ragu, mendengar kata kos, ia tahu tempat itu ukurannya sempit, dan dia tidak mau jika nantinya akan terjadi hal-hal yang tidak ia ingin.
"Mas," panggilnya pelan.
"Iya."
"Yakin kita di kos?" tanyanya hati-hati. "Cuma berdua."
Seketika Zaki langsung tersadar dengan ucapannya barusan yang membuat Anisa berpikir terlalu jauh. "Maksudnya kita ke kos dulu, karena aku juga perlu siap-siap, setelah itu barulah kita siap-siap ke Tegal."
Mendengar penjelasan dari Zaki Anisa merasa lega, sebagai seorang gadis yang tak pernah merasakan dekat dengan lelaki manapun selain Zaki, Anisa juga butuh waspada dan hati-hati, apalagi selama 18 tahun ini ia benar-benar menjaga kehormatannya.
Setelah menyetujui keputusan itu, akhirnya keduanya sama-sama menaiki bus, dan berhenti di sekitaran lokasi kos Zaki. Sepanjang perjalanan tadi, Anisa hanya terdiam, tapi diamnya kali ini bukan sebuah penyesalan melainkan sebuah keputusan yang sudah ia ambil dengan matang.
"Mas, aku tunggu di luar saja ya," kata Anisa dengan sopan.
Zaki hanya mengangguk ia tidak memaksa, hanya menyediakan tempat duduk Anisa sebuah kursi plastik.
Saat Zaki berada di dalam. tanpa Anisa tahu laki-laki itu mulai menelpon seseorang yang pastinya masih saudara, entah apa yang dibicarakan, yang jelas suara itu samar, Zaki seperti meminta tolong pada saudara sepupunya itu untuk menemani dirinya di hari istimewanya nanti.
Semua sudah selesai beberapa baju Zaki sudah dimasukkan ke dalam tas, tidak banyak tapi cukup untuk beberapa hari berada di kampung Anisa.
Zaki keluar dengan kemeja lengan pendek dan juga celana jinsnya, dan juga tas yang digendong ke punggungnya. "Nis, ayo berangkat sekarang."
Anisa hanya mengangguk, sepanjang perjalanan menuju halte, lelaki itu selalu menggandeng tangan Anisa, tidak erat hanya memastikan jika gadis disampingnya baik-baik saja.
Setelah sampai di halte Anisa terkejut, dan ternyata ada dua saudara sepupu Zaki yang sudah sampai terlebih dahulu.
Anisa sempat mengerutkan keningnya hingga akhirnya Zaki mulai menjelaskan. "Nis ini kedua sepupuku, mereka nanti yang akan jadi saksi pernikahan kita," kata Zaki.
Di momen ini sungguh Anisa begitu terharu, ia tidak pernah berpikir sedalam itu Zaki mempersiapkan semua, meskipun tidak ada keluarga inti yang mendampingi setidaknya kehadiran dua saudara sepupunya itu bisa menjadi saksi nanti.
"Kenalin Nis, ini Ferdi dan Yazid," kata Zaki.
Anisa menyambut uluran tangan kedua sepupu Zaki itu, senyumnya masih kikuk dan malu-malu, apalagi saat kedua sepupu Zaki memuji dirinya.
"Cantik juga calon istrimu Bang," celetuk Ferdi.
"Yang namanya wanita itu pasti cantik, dan yang paling penting dia cantik luar dalam," puji Zaki.
Lagi-lagi Anisa dibuat takjub dengan sikap Zaki, bukan karena pujiannya, melainkan karena perlakuan lelaki itu yang beda dari lelaki mana pun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Bus yang mengantar mereka akhirnya sampai di terminal kota Tegal, Zaki turun terlebih dahulu, tak lupa mengulurkan tangannya untuk Anisa.
Rumah orang tua Anisa masih jauh, masih harus menaiki roda dua lagi, dan semua memutuskan untuk naik mobil grab, untuk menuju rumah Anisa.
Sesampainya di rumah Anisa, ketiga cowok kota itu dibuat takjub dengan pemandangan alam desa Padasari, pohon-pohon menjulang tinggi dan terlihat nyata rumah-rumah berdiri diatas bukit sana, menambah rasa takjub ketiganya.
"Wiiiih Zak, pemandangannya masyaallah," ungkap Yazid.
"Benar sekali aku saja baru kali ini melihat desa secantik ini," sahut Zaki.
"Ini desa Mas, beda dengan rumah kalian yang gedongan," timpal Anisa.
"Gak apa-apa justru di sini kelihatannya lebih adem dan damai," sahut Yazid.
Mobil yang mereka naiki akhirnya sampai ke tempat tujuan, semuanya turun dari mobil, dan lagi-lagi ketiganya dibuat takjub saat berjalan menaiki bukit tinggi untuk menuju rumah Anisa.
"Gimana Mas capek gak?" tanya Anisa pada semua.
"Capek ia tapi seru," sahut Ferdi.
Anisa hanya mengangguk kecil, ia merasa bersyukur kedua sepupu Zaki tidak menunjukkan, rasa risih ataupun canggung, meskipun keduanya dari kota, namun Anisa merasa jika kedua sepupunya itu menghargai keadaannya.
Sesampainya di rumah Anisa, kedua orang tuanya menyambut dengan ramah, ibu dan ayahnya berdiri di teras rumah, menunggu kedatangan anaknya yang ingin melangsungkan pernikahan.
Semuanya bersalaman, ada sedikit embun yang menggenang di mata ibu Anisa. "Mak, sehat?" tanya Anisa lembut.
"Emak sehat Nak, dan benar kamu mau menikah," kata Ibunya memastikan.
"Iya Mak, Nisa mau menikah," sahutnya pelan.
Ayah Anisa yang berdiri di samping ibunya turut menimpali. "Kamu Zaki?" tanyanya tegas.
"Iya Pak," sahut Zaki ia mengangguk hormat.
"Kamu benar mau menikahi anakku?" tanyanya kembali.
"Aku akan menikahi putri Bapak, secepatnya," sahut Zaki dengan yakin.
Air mata yang sejak tadi ditahan oleh kedua orang tua Anisa akhirnya pecah, mereka tidak menyangka jika anaknya akan secepat itu mendapatkan jodohnya.
"Baiklah Nak jika memang tujuan dan niat kalian baik, Bapak dan Emak mu akan merestui," ujar Mahsun.
Anisa dan Zaki mengangguk dengan bersamaan, begitu juga dengan kedua sepupunya, yang merasa bahagia, karena Zaki diterima dengan baik, meskipun sebaliknya keluarga Zaki yang tak bisa menerima kehadiran Anisa.
"Zak, selamat ya akhirnya kamu dapat restu dari kedua orang tua Anisa," ungkap Ferdi pelan.
Pintu kayu itu terbuka dengan lebar, hidangan sederhana ala desa keluar menyambut perut mereka, ketiga orang itu menerima dengan baik meskipun mereka berada dari kalangan menengah atas.
"Ayo Nak, di makan kuenya," kata Ibu Halima.
Zaki dan kedua sepupunya mengangguk dengan sopan.
"Makasih Bu, sudah repot-repot menjamu kami," sahut Zaki.
"Ini tidak repot, kalian dari jauh, jadi sudah sewajarnya kami menyambut," sahut ibu Anisa dengan ramah.
Suasana di rumah kecil itu terasa teduh, tidak ada kemewahan, hanya ketulusan yang tersaji bersama teh hangat dan kue-kue diatas meja itu.
Zaki menatap ke sekeliling rumah Anisa yang nampak sederhana, tidak besar juga tidak mewah, namun dalam hatinya ia menyadari, di rumah ini Anisa dibesarkan dengan kesederhanaan, dan kasih sayang yang utuh.
'Jika Anisa tumbuh di rumah yang sehangat ini, maka aku harus menjadi rumah yang lebih teduh dari ini," gumam Zaki dalam hati.
Di luar angin sore berhembus kencang, dan di dalam rumah kecil ini, sebuah keluarga baru akan segera lahir, dan Zaki benar-benar menyiapkan itu.
Bersambung
Pagi semua .... Jangan lupa komen ya biar aku terus semangat.