Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketuk Palu
Sebulan terakhir ini membuat fisik dan otak Berlian terperas.
Belum selesai urusan sidang cerai dengan Arya. Dirinya harus berkutat dengan sang bos dingin, lembur sebulan. Ada saja permintaan Dominic yang tak masuk akal.
Mengingat jasa nya, membuat Berlian tak bisa membantah.
"Berlian Putri Wiranata, hari ini aku antar pulang," seru tuan Dominic saat Berlian membereskan mejanya yang berantakan.
Berlian memutar kepalanya untuk bisa menatap Dominic, mencari keseriusan di mata sang bos.
"Maaf tuan bos, tapi saya ada janji dengan Maura," elak Berlian.
"Tak ada bantahan," tandas Dominic.
"Tuan Dominic yang terhormat, kenapa akhir-akhir ini saya merasa anda mendekati saya?" kesal hati Berlian.
Tepukan di jidat membuat Berlian bertambah kesal.
"Apa anda suka sama saya?" tanya Berlian sekenanya. Entah keberanian darimana dia bilang begitu. Rasa kesalnya sudah sampai ubun-ubun.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau jawab apa?" Dominic menyandarkan badan di kursi kebesarannya seraya mengulum senyum.
Bibir Berlian mencebik.
"Kalau bohong kira-kira tuan. Saya yang pernah gagal, tak mungkin percaya gitu aja," seloroh Berlian sambil menyambar tas yang ada di meja Dominic.
'Dominic Alexander suka sama Berlian Putri Wiranata, bahkan nyamuk pun akan menertawakannya. Suatu hal yang mustahil. Batin Berlian bermonolog.
Berlian menggelengkan kepalanya, mengingat hal itu.
"Kenapa kepalamu?" reaksi Berlian barusan memantik respon Dominic.
Sebelum tas tergapai, tangan Dominic menahan lengan Berlian.
"Aku antar pulang, bukannya besok kamu musti datang ke pengadilan?" kata Dominic.
'Eh kok dia tahu jadwalku?' kembali Berlian melamun, hingga sentilan jari Dominic kembali menyadarkan Berlian.
"Hubungi temenmu, bilang saja kamu capek," suruh Dominic.
"Temenku itu juga staf anda tuan," beritahu Berlian.
"Apa perlu kamu jelaskan?" tukas Dominic dengan wajah datar.
'Dasar pria balok es," gerutu Berlian.
Gagal meet up deh dengan Maura. Padahal ngobrol hal tak penting dengan sahabatnya itu bisa buat obat untuk menghilangkan penat pikiran. Pikir Berlian.
Tapi gimana lagi, bos besar kekeuh mengantarkan pulang. Anggap aja, mumpung ada gratisan.
.
Pagi hari, Berlian bersiap datang ke pengadilan. Meski bisa diwakilkan lewat pengacara, tapi Berlian ingin menghadiri langsung ke sana.
Berlian ingin melihat reaksi mantan suami dan madu nya saat mendengar keputusan akhir dan gono gini.
Berlian turun dari mobil yang dikendarainya.
Dia tak mengira secepat itu bertemu dengan Arya dan Intan. Tak jauh dari tempat mereka ada tuan Adrian Kusuma lengkap dengan ibu sambung Berlian.
Mereka berempat menghampiri Berlian.
Tuan Adrian yang berada paling depan.
"Kembalikan saham yang kamu ambil alih," todong tuan Adrian.
Berlian tersenyum sinis, "Ternyata ayah termasuk golongan orang serakah,"
"Tutup mulut kamu!" hardik tuan Adrian.
"Ayah, apa yang diberi oleh ibuku masih kurang? Hingga hak anakmu ini juga ayah minta?" terus Berlian.
"Tapi aku bukan ibu. Aku tak sebaik dirinya yang percaya begitu saja sama suaminya. Hak ku tetap lah hakku," lanjut Berlian.
"Aku tak akan menyerahkan walau secuil pun," tegas Berlian.
"Dasar anak tak tau diuntung. Kami ini keluargamu. Yang merawat kamu sampai seperti sekarang ini," nyonya Adrian ikutan maju menyerang.
"Apa perlu aku beritahu hak dan kewajiban orang tua nyonya? Sudah sepantasnya orang tua merawat anaknya. Jangan enaknya doang, mau harta nya tapi tak mau mengasuh" jawab Berlian lugas.
"Ingat, ibuku meninggal pasti ada andil anda bukan?" sorot mata Berlian mengandung ancaman. Meski ucapan Berlian hanya bisa didengar oleh sang ibu sambung.
Nyonya Berlian agak gugup tapi segera menetralisir ketegangan dirinya.
"Jangan asal bicara," ucap nyonya Adrian.
"Ada lagi yang ingin kalian bicarakan? Kalau tak ada, aku akan masuk duluan. Pengacaraku menunggu," seru Berlian.
"Idih, sombong banget," seru Intan yang menggandeng mesra lengan Arya.
"Tunggu saja habis ketuk palu nanti, apa kamu masih bisa berjalan dengan muka tegak," sindir Intan.
"Kita ke dalam aja mas Arya," ajak Intan manja.
"Hhhmm," gumam Arya menjawab.
"Ingat Arya, pertahankan yang jadi kepunyaan kamu. Jangan kasih apapun mantan istri yang mandul itu," kata nyonya Adrian mengingatkan.
"Tentu saja Mah. Dia sendiri yang kekeuh ingin pergi," Arya membenarkan ucapan mama mertuanya.
"Kita masuk," bilang tuan Adrian, mendahului yang lain.
Di dalam Berlian duduk tenang di samping pengacara. Bahkan pengacara yang dipilih Berlian tak kaleng-kaleng. Pengacara yang tergabung dalam Tania Lawyer and partner's.
"Makasih nyonya Tania, sudah hadir langsung di sini," basa basi penuh hormat Berlian.
Sebelum sidang putusan ini, Tania selalu diwakili oleh staf nya. Kehadirannya hari ini cukup membuat Berlian kaget dan juga lega. Lega karena sepak terjang lawyer di sampingnya tak diragukan lagi. Musuh yang berhadapan dengannya pasti langsung minder duluan.
(Sepak terjang Tania, silahkan mampir di "Tulisan Tinta Tania" )
Tania tersenyum.
"Bilang saja pada Dominic, dia punya hutang penjelasan sama gue," tukas Tania memamerkan deretan gigi putihnya.
"Anda kenal dengan bos saya?" telisik Berlian.
Selama ini Berlian tak melibatkan sang bos untuk mencari lawyer. Dia sengaja ke kantor 'Tania Lawyer and partner's' untuk membantu kasus hukum yang dihadapinya.
"Kebetulan, aku kenal baik sama pria datar itu," Tania terkekeh.
Berlian ikutan tersenyum.
"Baiklah, mari kita ikuti dan simak drama kehidupan kamu sayang," sentuhan hangat Tania membuat kegugupan Berlian mereda.
Arya duduk di tempatnya.
Saat melihat siapa yang di samping Berlian, Arya melotot tak percaya.
"What???? Tania Fahira? Kenapa dia hadir di sini? Apa Berlian mengganti lawyernya?" pandangan Arya belum beralih dari meja Berlian.
Sidang dimulai.
Berdasar bukti-bukti yang diajukan, kebanyakan memihak pada Berlian. Apalagi Tania sangat pandai memutar kata agar bukti yang ada semakin menguatkan tuntutan Berlian.
Bahkan untuk pembagian gono gini, pihak Arya dibuat membelalakkan mata.
Perjanjian pisah harta saat mereka akan menikah, ternyata masih disimpan rapi oleh Berlian.
Padahal sewaktu mereka berdua masih berstatus suami istri, Arya pernah berkata bahwa hartanya adalah harta istri juga dan perjanjian itu dirobek karena dianggapnya sudah tak ada guna.
"Apa maksudnya?" sela Arya di tengah sidang.
"Ya tuan Arya. Rumah utama yang sekarang anda tinggali, adalah hak klien kami. Hal itu bisa dibuktikan dengan kepemilikan atas nama klien saya. Apalagi saat pembelian, tak ada campur tangan anda sama sekali," Tania menyodorkan kuitansi pembelian rumah ke hadapan hakim.
"It's impossible," kata Arya tak percaya.
"Bukannya anda memilih beli kendaraan daripada beli rumah saat itu?" tandas Tania.
"Itu termasuk kesepakatan kami," bela Arya.
"It's oke. Itu artinya masalah clear. Klien saya mendapatkan rumah dan anda mendapatkan kendaraan," terang Tania.
"Tidak bisa. Harta yang didapatkan selama pernikahan harus dibagi sama. Bukankah itu ada aturannya," bela Arya yang juga ingin mempertahankan segalanya.
"Betul, kalau memang seperti itu maka anda lah yang harus membagi nilai kendaraan menjadi dua,' tandas Tania.
Arya mengernyit heran.
Tania maju ke hadapan hakim, kuitansi yang tadi diserahkan diambilnya kembali.
"Di sini tertulis tanggal pembelian adalah seminggu sebelum anda menikah. Ini semakin membuktikan bahwa anda sama sekali tak ada hak di sana. Beda halnya dengan kepemilikan mobil. Sampai di sini anda paham tuan Arya?" Tania mengembalikan kertas yang tadi diambilnya.
Berlian terbengong. Tak terbersit sedikitpun, jika Tania seteliti itu.
.
.
.
Ketuk palunya ntar aja ya, biar mereka perang duluan 🥱