Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
GEMURUH BINTANG TENGGARA: RUMAH DI MAKASSAR
Nama lengkapnya adalah Gemuruh Bintang Tenggara, namun semua orang yang mengenalnya selalu memanggilnya dengan nama panggilan – Tenggara. Lahir dan besar di Malang, Jawa Timur, dia telah pindah ke Makassar tiga tahun yang lalu untuk tinggal bersama kakek dan neneknya setelah kedua orang tuanya harus bekerja di luar negeri. Meskipun awalnya merasa sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan baru, kini dia mengaku lebih menyukai tinggal di Makassar dibandingkan dengan kampung halamannya.
Kakeknya, Haji Sulaiman Daeng Mattawang, adalah seorang mantan guru sejarah yang telah pensiun, sementara neneknya, Hj. Fatimah Daeng Nara, adalah seorang pengrajin tenun songket tradisional yang masih aktif mengajar kepada anak-anak muda di sekitar kampung mereka di kawasan Wajo, Makassar. Rumah mereka adalah rumah adat Sulawesi Selatan yang memiliki atap limas dan ornamen kayu ukir yang indah, dengan taman belakang yang penuh dengan tanaman palem dan bunga kenanga yang selalu mengeluarkan aroma harum sepanjang hari.
"Tenggara masih ingat bagaimana perasaanTenggara ketika pertama kali tiba di sini, Kakek," ujar Tenggara sambil membantu neneknya merapikan benang tenun di ruang tamu yang teduh.
"Tenggara merasaa sangat kehilangan karena harus pisah dengan orang tua dan meninggalkan semua teman Tenggara di Malang."
Kakek Sulaiman tersenyum sambil membuka buku sejarah yang selalu ada di mejanya. "Kita semua tahu bahwa perubahan itu tidak mudah, cucu. Tapi kamu sudah menunjukkan bahwa kamu bisa beradaptasi dengan baik dan bahkan mulai mencintai tempat ini seperti rumah sendiri."
Benar saja. Awalnya Tenggara merasa terkejut dengan perbedaan budaya dan bahasa di Makassar. Di Malang, dia terbiasa dengan suara keramaian kota yang sibuk dan makanan pedas yang khas Jawa, namun di Makassar dia menemukan kehangatan masyarakat yang luar biasa, makanan lezat seperti coto dan pallubasa, serta kekayaan budaya yang mendalam yang membuatnya semakin terpesona.
"Tenggarasuka bagaimana orang-orang di sini begitu ramah dan mudah akur," ucap Tenggara sambil mengambil secangkir kopi yang sudah disajikan neneknya.
"Di Malang, teman-teman ku memang baik, tapi di sini aku merasa seperti memiliki keluarga yang lebih besar. Selain itu, sejarah dan budaya di Sulawesi Selatan sungguh luar biasa menarik – itu sebabnya aku memilih mengambil jurusan sejarah di Universitas Hasanuddin."
Nenek Fatimah mengangguk dengan senyum bangga. "Kamu sudah seperti Bapakmu dulu, yang juga sangat menyukai budaya daerah ini. Ketika dia masih kecil, dia selalu suka mengikuti nenek ke pasar untuk membeli benang atau mengikuti kakekmu ke museum untuk belajar tentang sejarah kerajaan."
Tenggara sering menghabiskan waktu luangnya untuk membantu neneknya membuat tenun songket atau mengikuti kakeknya mengunjungi berbagai situs bersejarah di sekitar Makassar dan daerah sekitarnya. Ia juga aktif dalam klub sejarah kampusnya, di mana dia sering berbagi pengetahuan tentang budaya Sulawesi Selatan kepada teman-teman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
"Tenggara pernah mendapatkan tawaran untuk kembali belajar di Malang ketika orang tuaku kembali ke Indonesia," cerita Tenggara sambil melihat foto keluarga yang terpajang di dinding. "Tapi saya Tolakki(menolak) . Makassar sudah menjadi rumah bagi ku sekarang. ada Teman-teman baru yang baik, bisa belajar banyak hal dari kakek dan nenek , ada banyak hal yang bisa saya lakukan di sini untuk melestarikan budaya daerah ini."
Kakek Sulaiman menepuk bahu cucunya dengan penuh cinta. "Kita sangat bersyukur memiliki kamu di sini, Tenggara. Kamu membawa semangat baru ke dalam keluarga kita dan membantu kita untuk menjaga agar budaya kita tidak terlupakan oleh zaman."
Malam itu, mereka makan malam bersama dengan hidangan spesial – ikan bakar dengan bumbu rujak yang dibuat oleh nenek Fatimah, disertai dengan nasi hangat dan lalapan segar. Suasana rumah terasa sangat hangat dengan suara candaan dan cerita dari masa lalu yang diceritakan oleh kakek dan neneknya.
Tenggara merasa sangat bersyukur telah menemukan tempat yang bisa dia sebut sebagai rumah, jauh dari kampung halamannya namun penuh dengan cinta dan kehangatan yang sama besarnya.
"Berharap ka nek (saya berharap) bisa membawa orang tuaku untuk menjelajahi seluruh keindahan Makassar," ucap Tenggara sambil melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang terang. "Saya ingin mereka melihat betapa hebatnya tempat yang kini saya sebut sebagai rumah saya."