"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
"Jadi, Om Arlan beneran sayang sama aku?" tanya Keyla sekali lagi.
"Keyla, ayolah. Cepat masuk mobil sebelum—"
"Tapi Om Arlan belum menjawab pertanyaanku." ucap Keyla memotong kalimat Arlan.
Dengan perasaan campur aduk, dan dengan ekspresi wajah merona yang seolah sulit untuk disembunyikan, Arlan dengan cepat langsung beranjak dan hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Om mau ninggalin aku disini!" teriak Keyla.
"Aku hitung sampai tiga, kalau tidak cepat masuk ke mobil maka akan aku tinggalkan kamu di halte ini sendiri." ucap Arlan sedikit mengancam.
Dengan perasaan sedikit kesal akhirnya Keyla langsung masuk ke dalam mobil Arlan.
"Kita mau ke mana, Om? Ini bukan jalan ke rumahku," tanya Keyla.
"Makan," jawab Arlan singkat. "Kamu belum makan siang, kan?"
"Tau aja. Tapi aku nggak mau makan di restoran mewah yang pelayannya pakai dasi kupu-kupu. Aku lagi pengen makan yang berminyak dan nggak sehat."
Arlan meliriknya sekilas, "Maksudmu?"
"Ketoprak! Di depan taman kota ada ketoprak yang enak banget, Om. Tapi ya gitu... makannya di pinggir jalan, pakai bangku plastik warna-warni. Om berani nggak?" tantang Keyla dengan senyum jahil yang mulai kembali.
Arlan menghela napas, tampak menimbang-nimbang antara harga dirinya sebagai CEO atau keinginan gadis di sampingnya. "Aku pakai kemeja seharga sepuluh juta, Keyla. Kamu mau aku duduk di trotoar?"
"Ih, sombongnya! Kemeja sepuluh juta nggak bakal luntur cuma karena kena bumbu kacang, Om. Ayo dong... katanya mau hibur aku?"
Arlan tidak menjawab, namun ia memutar setir ke arah taman kota.
Sesampainya di sana, pemandangan kontras pun terjadi. Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerobak ketoprak sederhana. Arlan keluar dari mobil, tampak sangat mencolok dengan setelan kantornya yang rapi di antara orang-orang yang hanya memakai kaos oblong.
"Duduk di sini, Om!" Keyla menarik tangan Arlan menuju bangku plastik kecil berwarna biru.
Arlan menatap bangku itu dengan ragu, seolah-olah benda itu bisa patah kapan saja jika ia duduki. Dengan hati-hati, ia melipat celana kainnya dan duduk. Kakinya yang panjang terlihat canggung karena posisi bangku yang sangat rendah.
"Pak, dua porsi ya! Yang satu pedasnya sedang, yang satu nggak pakai cabai tapi kasih cinta yang banyak!" seru Keyla pada penjualnya.
"Siap, Neng Geulis!" balas si penjual sambil tertawa.
Arlan memijat keningnya. "Cinta yang banyak? Kamu benar-benar tidak bisa serius sebentar saja?"
"Habisnya Om mukanya tegang banget. Santai aja, Om. Nggak ada wartawan di sini yang bakal foto Om lagi makan di pinggir jalan," Keyla menopang dagu, menatap Arlan dengan lekat. "Makasih ya, Om. Udah mau jemput dan dengerin aku tadi."
"Jangan dipikirkan lagi omongan Siska," ucap Arlan, suaranya melembut. "Dia hanya sedang tidak bahagia dengan hidupnya, jadi dia mencoba merusak kebahagiaan orang lain."
"Tapi Om... apa bener Om dulu sesuka itu sama dia?" tanya Keyla pelan, rasa ingin taunya muncul kembali.
Arlan diam sejenak saat piring ketoprak diletakkan di depan mereka.
"Dulu, aku pikir kami cocok karena kami berada di level yang sama. Tapi aku salah. Pernikahan bukan soal level, tapi soal siapa yang mau bertahan saat salah satunya sedang jatuh. Dia tidak bisa melakukan itu."
"Kalau aku, aku bakal bertahan, Om. Bahkan kalau Om jatuh ke lubang got sekalipun, aku bakal ikut nyemplung buat narik Om keluar," ucap Keyla.
Arlan menatap Keyla, lalu tersenyum tipis. "Kamu itu aneh. Dan berisik."
"Tapi Om suka, kan?"
"Makan ketoprakmu, sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu di sini."
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Arlan, yang biasanya makan di restoran berbintang, ternyata cukup menikmati makanan pinggir jalan itu. Meskipun sesekali ia harus menyeka keringat di dahinya karena udara sore yang gerah.
"Gimana, Om? Enak kan?"
"Lumayan. Meski terlalu banyak bawang putih," kata Arlan.
"Habis ini, kita ke taman ya? Aku mau naik bianglala!"
"Keyla, aku punya rapat online jam tujuh malam."
"Yah... sebentar aja, Om. Lima belas menit! Janji deh, habis itu Om boleh pulang dan jadi robot kantor lagi."
Arlan melihat jam di tangannya, lalu melihat mata Keyla yang berbinar penuh harapan. Seketika pertahanannya runtuh lagi. "Sepuluh menit. Tidak lebih."
"Yeay! Om Arlan terbaik!" Keyla menarik tangan Arlan, menyeret pria itu menuju area permainan di taman kota.
Di sana, di bawah lampu-lampu bianglala yang mulai menyala, Keyla merasa dunianya begitu indah. Ia tidak peduli lagi pada Siska, pada ibu tirinya, atau pada ujian yang melelahkan. Saat ini, hanya ada dia dan pria dingin yang ternyata punya sisi hangat yang luar biasa.
Saat bianglala mencapai puncak tertinggi, Keyla menatap pemandangan kota dari atas. Ia merasa sangat dekat dengan Arlan di dalam kotak kecil itu.
"Om..."
"Hm?"
"Jangan pernah dengerin apa kata orang ya? Termasuk Tante Siska. Cukup dengerin aku aja. Karena cuma aku yang tau gimana rasanya diperhatiin sama Om Arlan yang asli," Keyla menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
Arlan tidak menolak. Ia membiarkan kepala gadis itu bersandar di sana. Tangannya yang bebas bergerak ragu, sebelum akhirnya menepuk pelan bahu Keyla. "Kamu terlalu banyak bicara, Bocah."
"Biarin. Yang penting Om sayang."