Aku berasal dari keluarga miskin di London, kemudian menjadi tulang pungung untuk keenpat adik perempuanku dengan berjualan koran dan menyemir sepatu, ayahku pemabuk dan ibuku sering menangis karena letih dan kesal.
Dari kecil aku suka latihan tinju, sampai suatu saat bertemu dengan mister penjual koran yang ternyata adalah seorang petinju dunia yang tidak terkalahkan, dan perjalanku di mulai .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romy rhamdani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Suka Pada Pandangan Pertama
Dia menjulurkan tanganya untuk menarik Chaterine yang sedang duduk di tanah, dengan cepat wanita ini meraih tangan Dampsey dan bangkit, " terima kasih atas pertolongan tuan, saya tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini " ujarnya lembut sambil menatap dalam pemuda yang sopan dan ramah ini.
" Seharusnya anda tidak berjalan seorang diri, anda tahu sendiri bagaimana keadaan kota London saat ini, maaf nama saya Dampsey, kebetulan sewaktu kejadian saya lagi minum coffe di sana " ujarnya menjelaskan sambil menunjuk caffe yang ada diseberang jalan.
" Saya Chaterine, dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan anda " ujarnya juga memperkenalkan dirinya.
" Oke saya rasa sudah aman anda bisa melanjutkan perjalanan kembali " kata Dampsey sambil pergi dengan acuh tak acuh, buat apa berlama lama dengan wanita asing, malah akan membuat masalah menjadi runyam, tujuan dia untuk rileks sebelum menjalani perebutan gelar kelas bantam.
" hai hai jangan pergi dulu, apakah anda mempunyai nomor ponsel " tanyanya dengan sedikit penasaran, bagaimana tidak, dia selalu di kerubungi oleh cowok cowok tampan, tapi pemuda ini seakan tidak tertarik pada dirinya dan terlihat acuh tak acuh, sebagai wanita cantik dan kaya dia sedikit merasa tersingung dibikin seperti itu.
" Maaf saya tidak punya ponsel " kata Dampsey sambil terus berlalu, pada kenyataanya memang dia tidak punya ponsel, terlalu repot mengunakan ponsel apalagi memperlajarinya.
" Tunggu sebentar, anda jangan kemana mana " teriak Chaterine sambil berlari ke seberang jalan, dia membeli ponsel mahal serta kartu dan pulsa untuk Dampsey, setelah dia menyimpan nomor di ponsel tersebut dia kemudian menyerahkan kepada pemuda itu.
" Ponsel sangat penting di zaman sekarang untuk menjalin komunikasi jika kamu sedang berjauhan dengan keluarga ataupun relasi, simpan ini dan pakai ini dengan baik, nomor saya sudah tercatat di sana, suatu saat kamu perlu aku silahkan untuk menelepon " katanya sambil menyerahkan ponsel baru tersebut.
Dampsey hanya bisa terdiam, tapi setelah menimbang masak masak dia akhirnya mengambil ponsel pemberian wanita itu, sambil mengucapkan terima kasih dia berlalu menuju caffe tempat dia semula minum coffe.
Dari kejauhan Chaterine memandang pemuda tampan itu, hatinya bergetar, pemuda itu seperti pahlawan yang entah datang darimana, muncul perasaan suka yang tumbuh secara tiba tiba. Menghela nafas dalam dalam dia kemudian menuju tempat pertemuan dengan partnernya.
Merasa sudah puas Dampsey kemudian berjalan ke toko ponsel, dia membelikan tiga ponsel satu untuk mister, ayah dan ibunya, ponsel dilengkapi dengan kartu dan pulsa, apa yang dikatakan oleh gadis itu benar, dengan adanya ponsel dia bisa menghubungi ayah dan ibunya kapan saja, dan ibu juga tidak lagi perlu khawatir dengan keadaan anaknya, sebelum pulang dia pergi ke tempat pengiriman barang untuk diantarkan ke rumah orangtuanya.
Mister sedang menerima tamu dan kelihatan berbincang dengan serius, Dampsey tidak mau menggangu karena dianggap tidak sopan jika tiba tiba ikut serta dalam perbincangan, biarlah semua diatur oleh mister. Melihat kedatangan Dampsey mister segera memangilnya dan memperkenalkannya kepada tamu.
Tamu yang datang adalah pemilik sasana terbesar di London, dia meminta Dampsey sebagai sparing partner anak didiknya Burnley yang merupakan juara senior dari kelas bantam lima puluh enam kilogram, kebetulan Dampsey juga berada di kelas junior bantam lima puluh enam kilogram.
Pemilik sasana menawarkan bayaran sebesar tiga ratus ribu pound untuk menjadi sparing partner dari Burnley, mister menanyakan kesediaan dan kesiapan dari Dampsey, dia tidak mau memaksa apalagi dua bulan kedepan akan menjalani pertarungan perebutan gelar , tentu mister tidak ingin dia mengalami cidera.
" Mister saya rasa tidak apa apa untuk kita ambil kesempatan ini, bukankah ini peluang emas untuk mengetahui kekuatan di kelas senior " katanya memberi persetujuan.
Dengan persetujuan anak didiknya maka mister pun membuat kesepakatan dengan pemilik sasana, dengan catatan Dampsey tidak memakai pelindung sebagaimana lawan yang tidak pakai pelindung, adapun jika terjadi cedera maka akan menjadi tanggungan mister dan Dampsey sendiri.
Keesokan harinya datang berkunjung ke sasana, tempat itu sangat moderen bahkan alat alat dan fasilitas sangat lengkap tidak heran menjadi sasana terbesar di London, bukan itu saja pukulan dan gerakan pemain dihitung dengan komputer.
Pemakaian komputer memang diperlukan untuk menghitung data data yang akurat sehingga meminimalisir tingkat kesalahan, dengan data yang diberikan oleh komputer maka pemain bisa melihat kelemahan apa saja yang mereka miliki, karena sejatinya ada program penilaian standar dari komputer sebagai pedoman mereka.
Hal yang bertolak jauh dengan tempat latihan mereka yang masih memakai alat tradisional dan cenderung kuno, tapi Dempsey dan mister justru berpendapat itulah yang terbaik, karena bisa merasakan langsung dan mengenali kekuatan tubuh sendiri daripada bergantung pada komputer.
Burnley seorang petinju tangguh yang belum terkalahkan dalam tiga puluh pertandingan di kelas bantam senior, dia seorang pendiam tapi sangat cermat dan juga kuat, sebagai orang yang cermat dalam bertarung sangat jarang sekali dia mendapat luka, cenderung mempermainkan emosi orang tapi kemudian mengendalikan dan mengkanvaskan lawan.
Badan kekar, otot lengan juga kuat, gerakan lincah dan yang paling mengerikan adalah pengamatannya, kali ini Dampsey berhadapan dengan orang yang dalam dunia tinju sangat tidak disukai karena tidak mau mengalami kerugian.
Keduanya naik ke atas ring saling tos pukulan dan berhadapan, mister duduk dengan tenang dan pelatih dari Burnley sibuk memberikan instruksi, Burnley heran kenapa sparing partnernya tidak memakai pelindung, tapi jika itu permintaan mereka biar saja dia tidak akan sungkan sungkan.
Bel pertama berbunyi, Burnley merangsek ke tengah berupaya merangsek dan memojokan Dampsey ke tali ring, dia mengangap lawan ini sebagai penantang pertama di kelasnya, tentu harus dijadikan bahan uji coba, Dampsey mengambil step memutar sambil melontarkan jab, menghindar sambil melepaskan pukulan agar Burnley mundur dan tidak mendesak dia lagi.
Tapi memang Burnley ini juara senior pengalaman bertarungnya sangat matang, begitu jab dilepaskan dia menunduk dan melepaskan pukulan swing samping ke arah Dampsey berlari menghindar.
Buuuuk...pukulan itu tepat mengenai rusuk sebelah kanan Dampsey, sakit tapi dia tidak terlalu menghiraukannya, dia membalas dengan pukulan straigh, tapi Burnley telah memperhitungkan dengan matang dan menghilang dari sudut mati dan kemudian melepaskan pukulan kedua yaitu liver blow.
Buuuuk kali ini tepat mengenai bagian tengah perut, Dampsey merasa perutnya mual, petinju ini memang sangat tangguh dan bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan, ini akan menjadi pertarungan sulit dan panjang, tapi membakar semangat juangnya.
Saat dia merasakan dampak pukulan dan membungkuk sebuah uppercut datang dari bawah, Dampseh menangkis dengan sikunya dan kemudian membalas dengan melepaskan hook ke arah titik akupuntur tubuh Burnley tanpa dapat dihindari, seketika Burnley terjatuh dan duduk, dia merasa oksigen dalam tubuhnya terkuras seketika begitu pukulan dari Dampsey mengenail tubuhnya.
"