"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pengusiran Halus Sang CEO
Pagi itu, setelah drama "perang bawang" yang berakhir dengan kekalahan telak Devan di tangan wastafel dapur, serta kedatangan kakek Adiguna. Suasana meja makan kediaman Adiguna perlahan mulai kondusif.
Devan duduk dengan wajah sedikit pucat, menyesap teh jahe hangat yang dibuatkan Mama Widya untuk meredakan gejolak di perutnya. Di sampingnya, Shena tampak sangat lahap menikmati sup salmon tanpa sedikit pun rasa mual.
"Lihat itu, Devan," ujar Papa Surya sambil menyendok nasi gorengnya. "Istrimu tenang, bayimu tenang. Kenapa kamu yang mukanya seperti habis ikut wajib militer?"
"Ini bentuk empati biologis, Pa," jawab Devan membela diri. "Dokter Sarah bilang ini bukti kalau aku dan bayi di dalam sana punya ikatan batin yang kuat."
Baru saja Devan hendak menyandarkan punggungnya untuk beristirahat sejenak, suara bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, muncullah Rian, sang asisten setia, dengan langkah terburu-buru. Di tangannya terdapat sebuah tas koper besar dan setumpuk map dokumen yang tingginya hampir menutupi dagunya.
"Selamat pagi, Pak Devan. Selamat pagi, Pak Surya, Bu widya, Bu Ratna dan Bu Shena," sapa Rian dengan napas sedikit tersengal.
Devan langsung memicingkan mata. "Rian? Bukankah aku sudah bilang kemarin, kalau aku cuti satu bulan? Kenapa kamu masih berani menampakkan wajah di depanku membawa kertas-kertas itu?"
Rian meringis, meletakkan tumpukan dokumen itu di atas meja samping. "Maaf, Pak. Saya tahu Bapak sedang dalam misi 'suami siaga'. Tapi ini ada kontrak akuisisi lahan di Surabaya yang harus ditandatangani hari ini, laporan keuangan kuartal ketiga yang harus ditinjau, dan ada tiga surat keberatan dari investor karena Bapak tiba-tiba menghilang dari radar."
Papa Surya meletakkan sendoknya dengan dentingan yang cukup keras di atas piring porselen. Beliau menatap tumpukan dokumen itu, lalu beralih menatap anak laki-lakinya yang sedang mencoba bersikap seolah-olah dunia akan berakhir jika ia meninggalkan Shena selama lima menit.
"Rian, bawa dokumen itu ke ruang kerja Devan," perintah Papa Surya tegas.
"Baik, Pak Surya," jawab Rian patuh.
"Tunggu dulu!" interupsi Devan. "Pa, aku sudah bilang, aku tidak bisa ke kantor. Shena butuh aku di sini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba ingin sesuatu? Bagaimana kalau dia terpeleset? Bagaimana kalau—"
"Bagaimana kalau kamu diam saja dan dengarkan Papa?" potong Papa Surya dengan nada bicara yang tidak bisa dibantah. "Devan, kamu itu CEO Adiguna Group, bukan asisten rumah tangga pribadi Shena. Ada ratusan karyawan yang bergantung pada tanda tanganmu di kertas-kertas itu. Kamu mau perusahaan yang dibangun Kakekmu goyah hanya karena kamu mau menghitung berapa kali Shena bernapas setiap jamnya?"
Devan terdiam. Ia menatap Shena, berharap istrinya akan membelanya. "Shena, kamu mau aku di sini, kan?"
Shena, yang sebenarnya sudah mulai jengah dengan pengawasan ketat Devan sejak pagi tadi, hanya tersenyum tipis. "Mas, aku rasa Papa benar. Lagipula, di rumah ini ada Mama Widya, ada Ibu Ratna, ada Bi Inah, dan ada dua asisten kiriman Kakek yang akan datang sebentar lagi. Aku aman, Mas. Sangat aman."
Mama Widya yang sejak tadi diam, kini ikut bersuara sambil menuangkan teh.
"Mama juga setuju sama Papa kamu, Devan. Sejak kemarin kamu di rumah, rumah ini malah jadi berisik. Kamu teriak-teriak melarang ini dan itu. Bukannya Shena jadi sehat, yang ada dia jadi pusing dengar suara kamu."
Devan merasa dikeroyok. "Tapi Ma, ini kan anak pertamaku..."
"Iya, Mama tahu. Tapi kehamilan itu proses yang alami, Devan," ujar Mama Widya lembut tapi menusuk. "Kamu ke kantor sekarang. Mandi yang bersih, pakai parfum yang segar supaya mualmu hilang, dan urus bisnismu. Kalau kamu di sini terus, Mama khawatir kamu malah ikut-ikutan minta dipijat dan dipakaikan daster karena merasa hamil juga."
Rian menahan tawa sampai bahunya bergetar. Devan menatap asistennya itu dengan tatapan mengancam, namun Rian pura-pura sibuk merapikan dokumen.
"Tapi Pa, cutiku—"
"Cuti kamu dibatalkan oleh Dewan Penasihat Adiguna, yaitu Papa sendiri," ujar Papa Surya sambil bangkit dari duduknya. "Rian, siapkan mobil. Devan akan berangkat ke kantor dalam tiga puluh menit. Kalau dia tidak keluar dari kamar, seret saja dia."
Devan menghela napas panjang. Ia merasa martabatnya sebagai pemimpin perusahaan besar sedang berada di titik terendah di hadapan keluarganya sendiri. Ia menoleh ke arah Shena yang kini sedang asyik memakan potongan buah apel.
"Kamu benar-benar tidak keberatan aku tinggal, Sayang?" tanya Devan dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan.
Shena mengangguk mantap. "Sangat tidak keberatan, Mas. Malah aku mungkin bisa tidur siang dengan tenang tanpa ada yang membangunkan setiap sepuluh menit hanya untuk bertanya 'kamu haus tidak?'."
Kalimat Shena barusan benar-benar menjadi serangan terakhir bagi pertahanan Devan. Ia akhirnya berdiri dengan lunglai. "Baiklah. Aku kalah. Aku akan ke kantor."
Setengah jam kemudian, Devan sudah kembali ke "setelan pabrik"-nya. Ia mengenakan jas berwarna charcoal yang sangat pas di tubuhnya, rambutnya tertata rapi, dan aroma citrus yang segar kini menggantikan aroma minyak kayu putih yang tadi ia pakai. Meski wajahnya masih sedikit pucat, aura kepemimpinannya sudah kembali terpancar.
Saat hendak keluar rumah, Devan menyempatkan diri berlutut di depan Shena yang sedang duduk di sofa. Ia mencium kening istrinya, lalu menempelkan telinganya ke perut Shena yang masih rata.
"Nak, Papa berangkat kerja dulu ya. Jaga Mama baik-baik. Jangan nakal di dalam sana, jangan buat Mama mual kalau tidak ada Papa yang menemani," bisik Devan dengan tulus.
Shena mengelus rambut suaminya. "Sudah, Mas. Berangkat sana. Rian sudah menunggu di depan."
Devan berdiri, lalu menatap seluruh orang di ruangan itu satu per satu. "Pa, Ma... aku titip Shena. Kalau ada apa-apa, sekecil apapun itu, langsung telepon aku. Kalau perlu, aku akan bawa helikopter untuk pulang."
"Iya, cerewet! Sana pergi!" seru Papa Surya sambil melambaikan tangan seperti mengusir lalat.
Begitu mobil Rolls-Royce milik Devan keluar dari gerbang rumah, suasana di dalam kediaman Adiguna mendadak terasa lebih lapang dan sunyi. Papa Surya mengembuskan napas lega.
"Akhirnya... tenang juga rumah ini," ujar Papa Surya sambil kembali menyalakan televisi untuk melihat berita saham.
Mama Widya tertawa. "Kasihan juga Devan, Pa. Dia itu terlalu sayang, makanya jadi begitu."
"Sayang boleh, tapi jangan sampai otaknya ikut pindah ke perut istrinya," balas Papa Surya jenaka.
Sementara itu, Shena merebahkan tubuhnya di sofa dengan nyaman. Ia menatap langit-langit rumah dengan senyum kecil. Ia tahu, Devan memang sangat berlebihan, tapi ia juga tahu bahwa di balik sikap posesif yang menjengkelkan itu, ada seorang pria yang sangat mencintai keluarganya.
Namun, di dalam mobil menuju kantor, Devan tidak benar-benar tenang. Ia sedang menatap layar tabletnya, memantau kamera CCTV rumah yang sudah ia sambungkan ke perangkat pribadinya.
"Rian," panggil Devan.
"Ya, Pak?"
"Pastikan pengawal di gerbang depan tidak lengang. Dan hubungi restoran bintang lima, minta mereka siapkan menu makan siang paling sehat untuk dikirim ke rumah pukul 12 tepat. Pastikan tidak ada bawangnya!"
Rian menghela napas panjang. "Baik, Pak CEO. Laksanakan."
Ternyata, meski raga Devan ada di kantor, jiwa "suami siaga" miliknya tetap tertinggal di rumah, siap melakukan intervensi kapan saja.
...****************...