#Mertua Julid
Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.
Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.
Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.
Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.
Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Salah cari lawan
.
Di halaman balai desa, Amelia, Bu Laras berbelanja sambil bercanda. Wajah Amelia memerah karena Bu Laras yang terus saja menggodanya. Safitri merasa kesal. Jelas-jelas dirinya dan Bu Laras lebih dulu bersama, karena mereka sesama warga asli desa Karangsono. Sedangkan Amelia hanya pendatang yang baru tinggal di desa mereka beberapa bulan yang lalu. Tapi, kenapa Bu Laras malah lebih dekat pada Amelia daripada dirinya?
Mengambil es cendol dalam kemasan plastik, mungkin manisnya es cendol gula aren bisa mendinginkan kepala yang hampir meledak. Mata Safitri memicing ketika di antara bungkusan es yang ada dalam termos es, ada juga es jamu kunyit dalam kemasan plastik. Melirik ke arah Amelia ide jahat muncul dalam otaknya.
Mbak sayur yang melihat gelagat Safitri, melirik ke arah Amelia dan Safitri yang sedang mengambil jamu kunyit bergantian. Mbak Nuri, nama tukang sayur itu mengerutkan kening merasa ada sesuatu yang aneh.
Selesai membeli jajanan, mereka kembali ke kantor. Safitri yang berjalan di belakang menyeringai licik. Tangannya mengambil jamu kunyit asam kemasan plastik dari kantong kresek yang ia bawa. Menggigit ujungnya seolah dia memang ingin minum jamu tersebut. Berjalan cepat sengaja menabrak punggung Amelia, dan…
Bruk!
Safitri jatuh terduduk di atas halaman berpaving yang panas. Aroma kunyit asam menguar memenuhi udara. Amelia menghentikan langkahnya, merasakan basah dan lengket pada punggungnya. Cairan jamu kunyit asam yang Safitri bawa tumpah semuanya ke atas baju seragam Amelia yang cerah.
Mbak Nuri menyimpan ponselnya ke dalam tas slempang lalu berlari mendekat, mengabaikan para ibu-ibu yang mungkin rumahnya dekat dengan kantor desa yang masih memilih belanjaan
Raka yang melihat kejadian itu dari dalam kantor, spontan berlari keluar, rasa khawatir langsung menyelimuti hatinya. Langkahnya lebar dan cepat, diikuti oleh beberapa perangkat desa lainnya yang juga penasaran.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Raka dengan nada cemas, meraih lengan Amelia dan memeriksanya dengan teliti.
Amelia menggeleng. “Aku baik-baik saja,” ucapnya.
Tangan pemuda tampan itu terkepal erat, rahangnya mengeras. Dari jauh, ia jelas melihat jika Safitri memang sengaja menabrak Amelia. Akan tetapi…
Hiks… hiks… hiks…
Suara isak tangis memecah keheningan. Safitri menengadah ke atas, menatap Amelia dengan air mata berurai. Wajahnya memerah dan bibirnya bergetar.
"Maaf," ucapnya dengan suara lirih, bergetar karena tangis. "Aku… aku tidak sengaja." Matanya menatap penuh rasa bersalah yang sejatinya palsu. Dalam hati gadis itu menggeram. Dia yang jatuh, kenapa yang dikhawatirkan oleh Raka malah Amelia?
Amelia masih berdiri di tempatnya dan masih dengan posisi ya yang membelakangi safitri. Dua tangannya yang terkepal erat, matanya terpejam sejenak lalu terbuka kembali. Ia mengambil nafas dalam melalui hidung dan mengeluarkan perlahan melalui mulut.
Amelia tahu Safitri jelas-jelas sedang playing victim, berusaha membuat semua orang merasa iba dan membela dirinya.
Ibu-ibu yang sedang berbelanja, seketika turut mendekat sehingga terjadi kerumunan. Tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat posisi Safitri yang sedang bersimpuh di halaman dengan wajah basah? Jelas, Safitri adalah korban. Itulah yang ada dalam benak mereka. Mereka mengira Amelia yang mendorong Safitri, dan kasak-kusuk pun mulai terdengar di antara mereka.
“Kamu…”
Raka hendak membela Amelia, namun Amelia menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa dia bisa menyelesaikan masalah itu sendiri. Raka pun terdiam, meskipun hatinya merasa tidak tenang. Begitupun Mbak Nuri yang sepertinya ingin bicara sesuatu.
Amelia membalikkan badannya, menatap datar ke arah Safitri yang masih terduduk di atas paving.
"Sudah?" tanya Amelia dengan nada dingin. "Sudah selesai aktingnya?" tanya Amelia lagi.
“Apa maksud Mbak Amel?" tanya Safitri menghentikan sejenak isak tangisnya. Wajahnya menghadirkan rasa iba.
Para ibu-ibu yang mendengar ucapan Amelia saling pandang dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.
"Mbak Amel ini bagaimana sih?" tanya salah satu dari mereka dengan nada sinis. "Mbak Safitri itu jatuh loh. Bukannya ditolong malah Mbak Amel kaya gitu sikapnya?
Amelia tidak peduli dengan ocehan ibu-ibu yang memenuhi telinganya. Matanya tetap tertuju pada Safitri, menunggu jawaban.
"Apa aku mendorongmu?" tanya Amelia dengan mata masih menatap datar ke arah Safitri, wajahnya tanpa ekspresi.
Safitri terlihat bingung. Kalau dia menjawab 'iya', itu akan tidak masuk akal, karena Amelia berada di depannya. Namun, jika dia menjawab 'tidak', maka semua usahanya untuk membuat Amelia terlihat bersalah akan sia-sia.
"Mbak Amel… aku…" ucap Safitri dengan suara bergetar, kembali mengeluarkan air mata palsu. Bersikap menyedihkan, berharap orang-orang akan merasa iba padanya.
Amelia mendengus sinis. "Aku yang punggungku basah dan lengket. Aku yang seragamku rusak. Kenapa kamu yang menangis?”
Semua orang seketika saling pandang, menyadari kejanggalan dalam situasi tersebut. Kebingungan jelas terpancar dari raut wajah mereka. Adegan playing victim Safitri tampaknya mulai terbongkar.
Amelia melangkah maju mendekati Safitri yang masih terduduk di atas paving. Dengan tenang, ia berjongkok di hadapan Safitri, membuat gadis itu semakin gugup.
"Safitri," panggil Amelia dengan nada lembut, namun penuh tekanan. Tak ada lagi sebutan " Mbak” sebagai bentuk sopan santun. "Aku tidak tahu apa masalahmu denganku, tapi sepertinya kamu selalu ingin mencari masalah denganku.” Amelia menatap lurus mata Safitri, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku bahkan tidak menyentuhmu sedikitpun." Tangan amelia terangkat ke atas memperlihatkan kantong belanjaan yang ia bawa. “Kamu sendiri yang sengaja menabrakku. Tapi kamu juga yang bersikap sebagai korban. Supaya apa? Apa agar semua orang menyalahkanku?"
Seketika angin berputar arah. Yang tadinya menyalahkan Amelia kini menghujat Safitri.
Amelia mendekatkan mulut tepat di depan wajah Safitri, hingga dua mata mereka saling beradu. "Kamu salah mencari lawan,” bisik Amelia pelan, namun setiap kata yang diucapkannya terdengar jelas di telinga Safitri.
Safitri menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak menyangka Amelia akan mengetahui semua rencananya.
Amelia kembali berdiri tegak. Postur tubuhnya yang memang lebih tinggi, menjulang di hadapan Safitri yang mendongak dengan tangan terkepal. Dengan santai ia berjalan meninggalkan kerumunan diikuti oleh Raka.
“Sebenarnya aku tadi lihat, Mbak ini memang sengaja menabrak Mbak Amel."
Suara Mbak Nuri terdengar mengeluarkan pembelaan untuk dirinya. Namun, Amel tak lagi peduli. Dia hanya terus berjalan menuju kantor desa.
Sesampai di dalam ruangan kerjanya, Raka melepas seragamnya dan memberikan pada Amelia. Bersihkan tubuhmu di kamar mandi!" titahnya. Untunglah dia selalu terbiasa mengenakan kaos putih sebagai dalaman seragamnya.
Amelia mau tak mau menerima itu. Ia juga tidak tahan dengan tubuhnya yang terasa lengket.
Sementara itu masih di halaman, suara cemoohan dari para ibu-ibu dan perangkat yang masih tertinggal di sana terdengar untuk Safitri yang masih berada dalam posisi bersimpuh.
Mbak Nuri yang sejak awal curiga dengan gelagat Safitri ternyata sengaja mereka saat Amelia, Bu Laras, dan Safitri berjalan setelah selesai belanja. Semua yang dilakukan oleh Safitri nampak jelas.
Ibu-ibu yang awalnya menaruh simpati mencibir lalu pergi tanpa ada satu pun yang berniat membantu Safitri untuk berdiri. Mereka berpikir jatuhnya pura-pura, pasti sakitnya juga pura-pura.
Tanpa mereka tahu, sebenarnya Safitri benar-benar kesakitan akibat pinggulnya yang menghempas paving dengan keras. Apalagi kakinya salah mengambil posisi saat jatuh. Mungkin mata pergelangan kakinya tengah terkilir.
Safitri berjalan tertatih sambil meringis, tapi para perangkat yang berjalan mendahuluinya seakan tak peduli. Hingga ia tiba kembali di depan pintu kantor. Tangan gadis itu terkepal makin erat, menyadari Amelia telah mengganti seragamnya yang kotor dengan seragam Raka yang tampak kedodoran. Terlihat imut, dan itu membuatnya semakin iri. Apalagi melihat para perangkat yang seakan semakin dekat dengan Amelia. Bercanda dan menggoda Amelia dan Raka yang mereka katakan begitu serasi. Rasa iri itu semakin besar.
Untuk kedua tokoh utama Amel dan Raka pun sama-sama memliki pemikiran dewasa, yang kalau ada apa-apa diselesaikan dengan pembicaraan baik-baik.
Amel yang selalu bisa menyelesaikan masalah dengan caranya. Raka yang selalu memprioritaskan istrinya.
Bahagia selalu untuk mereka berdua...
Semangat selalu untuk ceritanya, dan sukses selalu💪🥰❤❤❤
Sundari jangan sampai kau membuat kesalahan lagi ya! Klo gk pengen diusir