Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Valeri termenung di rooftop, ucapan Ozil masih membekas begitu dalam di hatinya. Sakit, namun tidak berdarah. Valeri memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Ozil merupakan definisi bahagia bagi Valeri, sejak kecil mereka berdua sudah bersahabat. Hingga pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menjalin hubungan, ketika beranjak remaja.
Hubungan mereka awalnya rukun dan baik-baik saja, namun ketika orang tua Ozil tahu jika dia berhubungan dengan Valeri. Saat itu juga mereka melarang Ozil bertemu Valeri, dan meminta pemuda itu mengakhiri hubungan mereka.
"Apa gue harus mati dulu, supaya dia bisa sadar sebesar apa rasa suka gue sama dia." Gumam Valeri parau.
"Nggak perlu."
Valeri membuka mata setelah mendengar suara seseorang dari balik punggungnya. Dia balik badan dan mendapati Seyra yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, gadis itu memposisikan rokok di bibirnya dan melangkah menghampiri Valeri.
"Lo ngapain di sini? Ngerokok lagi?" tanya Valeri serak.
Seyra tak menjawab, dia duduk di sebelah Valeri menatap bosan pada pembatas balkon. Kepulan asap keluar dari bibir gadis itu, mengabaikan tatapan Valeri yang seakan ingin menerkamnya.
"Lo merokok lagi, Sey? bukannya Papa udah melarang lo?" Valeri mengingat jelas jika adiknya itu sudah berjanji untuk tidak merokok lagi.
"Dia nggak ada di sini, jadi larangannya nggak berguna." Jawabnya acuh.
Valeri menggelengkan kepalanya pelan, "Ada-ada aja lo, terus kenapa lo ke sini?"
"Flora nyari gue sambil nangis-nangis, katanya lo mau bunuh diri." Seyra menoleh ke arah kakaknya. "Emang iya?"
Tadi sebelum dia datang ke rooftop, Flora memang mencarinya sambil menangis. Awalnya Seyra ingin acuh, tapi Flora mengatakan jika Valeri berniat bundir dan dia tak bisa membiarkan itu terjadi.
"Gue nggak bilang kayak gitu."
"Tapi lo ada niatan kayak gitu, kan?" Tanya Seyra.
Valeri menunduk lesu. "Gue..."
"Apa lo pikir dengan lo mati keadaan bisa berubah?"
"Sey, lo nggak tahu gimana rasanya jadi gue!" Valeri terkekeh sinis. "Lo punya cowok yang sayang dan cinta sama lo, sedangkan gue enggak. Lo nggak pernah ngerasain sakitnya jadi gue."
Seyra mengangguk-anggukan kepalanya. "Benar sih, karena gue nggak sebodoh itu tentang cinta sampai rela ngorbanin nyawa sendiri."
Valeri merasa tertampar dengan jawaban adiknya, selama ini dia memang menghabiskan sebagian waktunya untuk mengejar Ozil tanpa memperdulikan tingkahnya di depan umum yang memalukan.
Hening. Mereka sama-sama diam, membiarkan waktu berlalu tanpa suara. Seyra membuang rokoknya ke lantai, ketika melihat Valeri terbatuk.
"Kenapa lo segila itu sama Ozil? masih banyak cowok lain yang suka sama lo." Cetus Seyra tiba-tiba.
"Jangan bohong, kalo ada pasti gue udah bisa lupain Ozil."
"Lupain seseorang itu kehendak lo sendiri, bukan dari orang lain. Mau lo ketemu sama orang baru kalo lo belum selesai sama masa lalu yang lo miliki semua itu gak berguna, Val." Kata Seyra tenang.
Seyra baru saja mendapat gosip dari anak-anak di kelasnya, yang mengatakan jika Ozil sempat memaki-maki Valeri dan mengatakannya murahan di depan semua murid.
Seyra tak tahu jika alur novel milik Kana akan serumit ini, dia sudah tak peduli bagaimana waktu berjalan dan seperti apa akhir dari semua tokoh. Karena dia hanya mengingat sebagian adegan dalam novel milik sahabatnya itu, dan yang dia ingat jelas adalah kejadian naas yang nanti akan menyeret namanya.
'Gue rasa adegan itu ada di pertengahan, untungnya gue masih bisa nyegah Valeri bunuh diri gara-gara si brengsek Ozil.' Batin Seyra berpikir keras. Hingga dia kembali tersadar begitu Valeri mengeluarkan suara.
"Lo nggak tahu gimana rasanya jatuh cinta, Sey." Sahut Valeri menatap kosong ke arah depan.
"Cinta nggak bikin kenyang makanya gue nggak terlalu tertarik, yang ada cinta bikin depresi contohnya lo." Tunjuk Seyra sarkastik pada Valeri.
Valeri terkekeh miris, "Lo bener, lo yang di cintai ugal-ugalan sama Arthur pasti nggak pernah merasa sakit hati, kan?"
Seyra mengangkat kedua bahunya acuh, "Nggak juga, gue nggak tahu Arthur beneran suka atau cuma penasaran sama gue."
Salah satu alis Valeri terangkat, dia memiringkan kepalanya ke arah Seyra. "Lo ragu sama dia?"
"Gue cuma belum bisa percaya sama dia, itu aja."
"Padahal hubungan lo sama Arthur kelihatan baik-baik aja."
Seyra tak menjawab.Saat dia berdiri, dia menepuk pelan pundak Valeri. "Hidup lo bukan cuma milik Ozil, seenggaknya selagi lo masih bernapas jangan terpaku pada satu orang yang cuma bikin lo sakit hati dan rendah diri. Jangan memaksa sesuatu yang bukan milik lo, Val."
Setelah mengatakan itu Seyra pergi tanpa menoleh lagi pada Valeri, membiarkan gadis itu mencerna kata-katanya barusan.
apa milik bapak bapak dengan satu anak itu ya
sayang nya valeri bukan wanita kuat seperti adiknya
ngebut aq bacanya thor🤣