Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 Celoteh yang Menghangatkan
Suasana haru dan serius di dalam ruang ICU itu tiba-tiba pecah oleh suara derap langkah kaki yang tidak sabaran. Pintu besar itu terdorong kasar, dan sesosok gadis remaja dengan kerudung yang sedikit berantakan berlari masuk.
Itu Ila. Begitu melihat Rina sudah membuka mata, ia tidak peduli lagi siapa yang ada di depannya. Dengan kekuatan penuh, Ila mendorong Gus Azkar dan Bian hingga keduanya terhuyung ke samping.
"Ya Allah, Bak Rina! Aku kira Bak sudah metong!" seru Ila pecah dalam tangis. Ia langsung menghambur, memeluk Rina yang masih terbaring lemas dengan hati-hati namun sangat erat.
Gus Azkar dan Bian hanya bisa saling pandang, tak berkutik melihat aksi nekat gadis berusia 14 tahun itu.
Rina, meski tubuhnya masih terasa sangat berat, tak bisa menahan senyum kecilnya. Ia mengelus lembut kepala Ila yang terbenam di bahunya.
"Kalau Bak mati, yang ada Bak nggak akan bisa marah-marah lagi sama kamu," bisik Rina parau, mencoba bercanda di tengah rasa sakitnya. "Kamu itu sering banget bikin Bak kesel, sering narik-narik tangan Bak... malah cengkeramannya erat banget, udah kayak cowok tahu nggak."
Ila mendongak dengan wajah yang sudah ingusan dan mata sembap. "Ya kan biar Bak nggak pergi! Aku takut Bak beneran mau nyusul malaikat!"
Rina terkekeh lemah, lalu pandangannya beralih pada Gus Azkar yang sedang merapikan baju kokonya setelah didorong Ila tadi. Ada rasa hangat yang aneh di hati Rina melihat suaminya itu hanya diam dan tersenyum sabar menghadapi kelakuan sahabatnya.
Kesadaran Baru
"Gus..." panggil Rina pelan.
Azkar mendekat, kali ini ia berdiri di samping Ila. "Iya, Dek?"
"Makasih ya... udah nggak marah lagi," ucap Rina tulus.
Gus Azkar mengangguk, ia mengusap pucuk kepala Rina dan juga kepala Ila secara bergantian. "Mas yang harusnya makasih karena kamu sudah mau bangun. Sekarang, jangan pikirkan yang berat-berat dulu. Ada Ila di sini, ada Mas, dan ada Kak Bian juga. Kita semua akan jaga kamu."
Ila melepaskan pelukannya sebentar, lalu menoleh sinis ke arah Gus Azkar. "Awas ya Gus kalau bikin Bak Rina sedih lagi, aku laporin ke Pak Polisi!" ancamnya dengan gaya khas anak SMP.
Bian tertawa kecil melihat keberanian Ila, sementara Gus Azkar hanya bisa menghela napas pasrah. "Iya, Ila... Mas janji. Mas nggak mau berurusan sama polisi, apalagi sama kamu."
___________________________________________________
Suasana di kamar rawat menjadi jauh lebih hidup berkat kehadiran Ila yang ceplas-ceplos.
___________________________________________________
Suasana di ruang ICU yang tadinya tegang dan penuh drama, seketika berubah menjadi seperti pasar karena kelakuan Ila. Gus Azkar dan Bian hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan interaksi "kakak-adik" yang sangat kontras dengan suasana rumah sakit itu.
Ila mengusap air matanya dengan kasar ke lengan bajunya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Rina dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah sangat serius—ekspresi khas orang yang memegang rahasia besar.
"Bak Rina..." bisik Ila, suaranya naik turun penuh intrik.
Rina yang masih lemas hanya bisa mengerutkan keningnya. "Kenapa, Dek?"
"Bak tau gak? Aku punya gosip hot banget!" seru Ila, matanya berbinar-binar, seolah lupa kalau sahabatnya itu baru saja melewati maut.
Rina mengembuskan napas panjang, mencoba menahan senyum meski kepalanya masih sedikit pening. "Astaghfirullah, Dek... Embak baru bangun ini. Baru juga melek, sudah mau setor dosa. Gosip itu dosa, loh."