NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Alasan Palsu

Kemarin, Addam dan Naya memutuskan untuk berangkat ke lokasi tujuan mereka secepatnya. Hingga mereka sepakat untuk berangkat dimalam harinya pada hari itu juga.

“Kak Addam,” Naya mengguncang sikut Addam. “Kita udah mau sampe di terminal.”

Kini, pada pagi hari yang cerah itu, Addam akhirnya terbangun dari tidurnya setelah Naya membangunkannya.

“Eh,” Addam terlihat memperbaiki posisi duduknya sambil mengucek matanya. “Ya ampun. Udah mau sampe, Nay?”

“Iya Kak. Ayo, siap-siap.”

Lalu saat itu keduanya terlihat lebih menjadi fokus, kesadaran dan konsentrasi mereka telah meningkat. Barang bawaan dan kelengkapan yang menempel di tubuh mereka pun dicek kembali kala kedua orang itu semakin dekat dengan tempat tujuan.

“Makasih, Pak” ucap Addam dan Naya pada sopir bus yang mengantar perjalanan panjang mereka.

Sekarang, tujuan mereka selanjutnya adalah pergi ke Dusun Q, sebuah desa yang katanya merupakan tempat Irvan berasal. Informasi lokasi itu Addam dapatkan selama penyelidikan yang ia lakukan sendiri tempo hari.

Perjalanan mereka ke Dusun Q memakan waktu sekitar tiga jam lamanya. Dan selama itu pula, Addam berulang kali membuka catatan tentang Irvan.

“Nay. Berarti kita dateng ke RT nya dulu ya.” kata Addam sambil melirik Naya sebentar.

“Iya Kak. Sesuai sama yang sudah kita rencanain…”

Saat itu Addam tidak terlalu khawatir mereka akan tersesat. Berbekal informasi yang diterimanya dari Mahesa, Addam merasa perjalanannya dengan Naya akan jauh lebih terarah.

“Thank you ya, Nay,” ucap Addam tiba-tiba, sedikit melenceng dari topik obrolan mereka saat itu.

“Hm? Kenapa, Kak?” Naya tentu tak memahami maksud ucapan Addam.

“Eh, enggak. Tiba-tiba aku kepikiran, ternyata Astrid beruntung punya temen sebaik kamu, Nay.”

Naya hanya tersenyum simpul. Ia tak tahu harus mengatakan kalimat apa untuk menjawab ucapan Addam barusan.

“Dek. Mau ke Dusun Q, kan?” kata sopir minibus yang mereka tumpangi.

“Iya, Pak. Kita-“ ucapan Addam keburu terhenti karena sopir minibus itu cepat sekali menyela.

“Oh, ya udah, adek berdua turun di persimpangan depan, nanti naik angkot 30,” katanya dengan cepat seolah diburu waktu.

“Ya, makasih, Pak.”

Lalu sesuai dengan arahan supir itu, Addam dan Naya akhirnya turun di sebuah persimpangan.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit lamanya untuk Addam dan Naya menunggu kedatangan transportasi terakhir mereka.

TOK! TOK! TOK!

Addam mengetuk pintu kayu dengan cat putih itu.

“Permisi...!” panggil Addam.

Tak butuh waktu lama, dari balik pintu itu muncul seorang pria berbalut kaos polo dan celana hitam.

“Benar dengan Pak RT Risman, ya?” tanya Addam dengan sedikit ragu.

“Iya. Saya sendiri. Adek berdua ini siapa, ya? Ada apa?” Pak Risman balik bertanya.

“Perkenalkan, Pak. Saya Addam,” kata Addam sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Pak Risman. “Ini teman saya, Naya. Kita berdua mau ke rumahnya Bu Sumarni, Pak”

Ada yang aneh. Pak Risman terlihat sangat terkejut setelah Addam mengatakan maksud tujuan kedatangannya. Kedua mata Pak Risman terlihat membulat terutama setelah Addam mengatakan nama orang yang ingin ditemuinya.

“Ayo masuk dulu dek, masuk,” Pak Risman mempersilakan kedua tamunya itu memasuki rumahnya.

“Adek berdua ini betul cari Bu Sumarni? Kalau boleh tahu, memangnya ada urusan apa kalian sama Bu Sum?”

“Anu, enggak, Pak.” Addam menggeleng cepat. “Sebenernya kita ini temen cucunya Bu Sum-”

“Temen cucunya Bu Sum? Kalian berdua ini bercanda apa toh...” Pak Risman menolak ucapan Addam.

“Maaf, Pak. Tapi betul. Kita dikirim dari kantor buat ucapin bela sungkawa langsung, karena Irvan sudah gak masuk selama satu minggu terakhir ini...” Naya mengungapkan kalimat fiktif itu dengan nada yang dibuat lesu.

“Bela sungkawa apa, dek? Irvan siapa?” jelas sekali Pak Risman merasa heran dengan penjelasan Naya.

Di sisi lain, Addam dan Naya juga tampak sama-sama keheranan melihat respon Pak Risman. Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat sama-sama kebingungan.

“Lho? Kita dapat kabar kalau sekitar beberapa hari lalu kalau neneknya Irvan meninggal, Pak. Namanya Bu Sumarni. Dan infonya beliau tinggal di dusun ini,” tutur Addam.

“S-sebentar, sebentar,” Pak Risman tampak mencondongkan tubuhnya ke arah Addam. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu yang serius. “Selama saya menjabat di dusun ini, setahu saya hanya ada dua orang yang namanya Sumarni. Satu, almarhum istrinya Kepala SD Dusun Q yang sudah meninggal TIGA TAHUN LALU. Anak-anak mereka belum ada yang menikah jadi mereka belum mempunyai cucu. Dan satu lagi, Mbok Sum yang rumahnya di dekat masjid. Baru tadi malem, dek, keluarganya gelar doa bersama peringatan satu tahun meninggalnya Mbok Sum…” tutur Pak Risman sejelas yang Ia bisa.

Addam dan Naya jelas sangat terkejut mendengar penuturan dari Pak Risman. Hal itu sangat tidak sejalan dengan garis waktu informasi yang diperoleh tentang Irvan soal alasannya izin kembali ke kampungnya.

“Tapi cucunya ada yang namanya Irvan kan, Pak?” tanya Naya dengan curiga.

Pak Risman menggelengkan kepalanya pelan. “Gak ada, dek. Cucu Mbok Sum tidak ada yang namanya Irvan. Cucu Mbok Sum keempat-empatnya cewek semua…”

“Tunggu, tunggu, Pak.” Addam meraih ponselnya dan menggulirnya dengan cepat. Beberapa saat kemudian Addam terlihat menunjukkan layar ponselnya pada Pak Risman.

“Bapak yakin pria ini bukan cucu Bu Sum?” saat itu Addam memperlihatkan potret pria yang berdiri di ujung barisan para guru yang pernah diposting Astrid di sosial medianya.

“Ini…” Pak Risman menyipitkan kedua matanya, mengorek kembali ingatannya tentang pria itu. “Lho ini Mas Adit, toh, dek. Dulu dia pernah ngajar SD di sini… Tapi memang gak lama. Yah mungkin cuma satu tahunan. Malah seinget saya tidak sampai satu tahun...”

“Dia pernah ngajar di daerah sini, Pak?” tanya Addam dengan kedua mata membulat.

“Iya, dek. Mungkin sekitar tiga tahun lalu? Karena gak lama setelah Bu Sum istri Pak Kepala meninggal, Mas Adit ini katanya pindah ke Jakarta…”

Addam dan Naya saling bertatapan. Mereka tentu sangat tidak menyangka bahwa mereka akan mendapatkan informasi sebesar itu.

“Oalah… Kalo gitu mungkin kita yang salah cari alamatnya nih, Pak…” Addam menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Sekali lagi Addam dan Naya saling bertatapan namun kali ini senyuman canggung muncul diantara tatapan mereka.

“Kita permisi ya, Pak. Maaf banget jadi repotin, nih. Jadi ganggu waktunya Pak Risman…” Addam perlahan berdiri dari duduknya diikuti Naya yang duduk di sebelahnya.

“Lho? Buru-buru benget, dek?” Pak Risman menatap Addam dan Naya yang telah berdiri.

“Iya, Pak… Kita gak bisa lama-lama soalnya udah ditungguin…” Naya berbohong dengan halus.

“Oalah… Ya sudah, hati-hati ya di jalannya…”

“Kita pamit ya, Pak. Mari…” pamit Addam.

“Makasih banyak ya Pak Risman. Permisi…” Naya segera menyusul Addam.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!