Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Terlihat dan Bahu yang Berbicara
Sejak kepergian Ibu, rumah kami memang menjadi sepi, namun telingaku justru menjadi lebih "ramai". Di desa, kabar burung terbang lebih cepat daripada angin gunung. Saat aku berjalan ke warung atau sekadar duduk di depan rumah, bisik-bisik tetangga mulai menyelinap masuk ke gendang telingaku, tajam dan menyakitkan.
"Kasihan ya, harusnya suaminya yang berangkat, bukan istrinya yang dibiarkan jauh di kota," ucap seorang ibu di persimpangan jalan, suaranya sengaja dikeraskan seolah ingin aku mendengarnya.
"Iya, suaminya di rumah ngapain saja? Kok tega membiarkan perempuan cari nafkah," sahut yang lain sambil menggelengkan kepala.
Setiap kali mendengar kalimat-kalimat itu, langkahku terhenti. Rasanya seperti ada duri arbei yang tertancap langsung ke jantungku. Ingin rasanya aku berteriak di depan wajah mereka bahwa semua itu omong kosong. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak melihat apa yang kulihat setiap hari.
"Aku harus cepat besar," bisikku dalam hati, mengepalkan tangan erat-erat. "Aku harus segera kuat supaya bisa membela Ayah."
Suatu sore, aku melihat Ayah pulang dari arah Gunung Prau. Langkahnya gontai, badannya membungkuk memikul beban 2 ikat kayu bakar yang diikat dengan tali tambang usang di kedua bahunya. Aku berlari menghampirinya, bermaksud ingin menyambutnya seperti biasa. Namun, saat Ayah meletakkan beban kayu itu di tanah dengan suara gedubrak yang berat, aku melihat sesuatu yang membuat mataku memanas.
Kaus oblong Ayah yang sudah tipis tersingkap sedikit. Bahunya yang dulu kulihat mulus dan kokoh, kini dipenuhi luka lecet yang memerah. Di beberapa bagian, kulitnya mengelupas dan tampak melepuh karena gesekan pikulan yang dia bawa berkilo-kilo meter dengan beban kayu di kedua pundaknya, naik turun bukit di bawah terik matahari atau siraman hujan.
"Ayah... bahu Ayah luka," kataku pelan, jariku ragu-ragu ingin menyentuh lecet itu.
Ayah segera membenarkan posisi bajunya, menutupi luka itu dengan senyum yang dipaksakan. "Ah, ini cuma gatal sedikit, Nak. Biasa, namanya juga kerja di hutan."
"Tapi kata orang-orang... Ayah tidak..." Kalimat ku terhenti. Aku tidak sanggup mengulangi hinaan para tetangga.
Ayah berjongkok, menatap mataku dalam-dalam. Sorot matanya yang lelah namun tulus itu menenangkanku. "Jangan didengar, ya? Ayah tidak apa-apa. Selama kalian bisa makan, selama ada nasi di meja, Ayah tidak merasa sakit. Tadi Ayah dapat kayu yang bagus, nanti kalau laku, kita bisa beli lauk yang enak besok."
Aku memeluk leher Ayah erat-erat. Terasa sisa keringat dan aroma tanah yang menempel di tubuhnya. Orang-orang di luar sana mungkin melihat Ayah sebagai lelaki yang "gagal" hanya karena Ibu bekerja di luar kota. Namun bagiku, Ayah adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Mereka tidak tahu betapa beratnya mendaki Gunung Prau di pagi buta yang bahkan aku masih terlelap dalam mimpi. Mereka tidak tahu betapa berharganya uang beberapa ribu rupiah hasil menjual kayu bakar itu bagi kami. Mereka tidak tahu apa perjuangan ayah selama Ibu bekerja di luar kota. Mereka hanya tahu jika Ayah hanya menadah uang Ibuku saja dan tidak mau bekerja keras. Mereka tidak akan paham semua itu karena mereka tidak melihat sendiri bagaimana kerja keras dan usaha Ayah.
Di balik diamnya Ayah, ada cinta yang bersuara sangat lantang melalui luka-luka di bahunya. Sore itu, di bawah temaram langit senja, aku kembali berjanji pada diriku sendiri. Dunia boleh menghina Ayah, tapi aku akan selalu menjadi orang pertama yang tahu bahwa Ayah adalah lelaki paling hebat yang pernah diciptakan Tuhan untukku.
Aku menyadari satu hal, Ayah tidak butuh aku untuk membantah omongan tetangga dengan amarah. Ayah hanya butuh aku untuk tetap berdiri tegak di sampingnya.
Seiring berjalannya waktu, aku berhenti menundukkan kepala saat berpapasan dengan mereka yang suka mencela. Aku mulai berjalan dengan dada yang lebih lapang. Setiap kali ada yang bertanya dengan nada meremehkan tentang mengapa Ibu yang pergi jauh, aku hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Karena Ibu dan Ayah adalah satu tim yang hebat, dan aku adalah saksi betapa kerasnya mereka berjuang."
Mungkin dunia memang tidak akan pernah benar-benar paham, dan itu tidak masalah. Bagiku, pahlawan tidak selalu mereka yang pulang membawa piala atau jabatan. Pahlawan bisa saja ia yang pulang dengan bau matahari, kaus oblong yang tipis, dan luka memerah di bahu yang ia sembunyikan demi senyum anaknya.
Di bawah langit yang dingin, aku tidak lagi merasa kerdil. Aku tahu, selama aku memegang tangan Ayah, badai kabar burung sehebat apa pun tak akan mampu merobohkan rumah kami. Karena pada akhirnya, yang akan diingat sejarah bukan tentang apa yang dikatakan orang lain, melainkan tentang seberapa besar cinta yang kita berikan untuk satu sama lain di saat-saat tersulit.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰