Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan Di balik Janji
Persiapan pernikahan Bayu mulai merangkak masuk ke dalam rumah kami, membawa nuansa yang asing sekaligus menyesakkan. Rumah yang biasanya tenang kini dipenuhi pembicaraan tentang vendor katering, sewa tenda, hingga daftar tamu undangan. Sebagai adik, aku mencoba untuk ikut berbahagia. Aku membantu Ibu mencatat segala keperluan, namun di balik itu, aku merasakan tekanan finansial yang semakin nyata. Meski Bayu sudah menabung, ada saja biaya tak terduga yang akhirnya lari ke kantongku.
"May, ini uang muka untuk gedung kurang sedikit lagi. Bisa pakai uangmu dulu? Nanti Abang ganti setelah bonus turun," ujar Bayu suatu malam.
Aku mengangguk tanpa banyak tanya. Bagiku, membantu Bayu adalah cara untuk memastikan bahwa setidaknya ada satu orang di keluarga ini yang berhasil meraih kebahagiaan "normal". Namun, setiap rupiah yang keluar untuk pestanya berarti aku harus semakin memperketat ikat pinggang untuk cicilan rumah kami. Aku mulai merasa seperti sebuah sumur yang terus ditimba airnya, namun tak pernah ada yang bertanya apakah di dalamnya masih ada sisa air atau tinggal lumpur.
Di tengah kepenatan itu, rutinitas kantorku kedatangan warna baru. Namanya Aris. Dia adalah manajer proyek baru yang dipindahkan dari kantor cabang. Berbeda dengan pria-pria lain yang pernah mendekatiku dengan cara yang agresif atau penuh gombalan, Aris adalah pria yang tenang dan sangat menghargai batasan.
Pertemuan pertama kami terjadi di ruang rapat saat aku sedang memaparkan laporan anggaran tahunan. Dia tidak hanya fokus pada angka-angka yang kusajikan, tapi dia juga memberikan masukan yang sangat cerdas tanpa merendahkan posisiku.
"Laporan yang sangat detail, Maya. Saya tahu butuh kerja keras untuk menyusun ini sendirian," ucapnya sambil tersenyum tipis setelah rapat usai.
Hanya kalimat sederhana, tapi entah kenapa, jantungku berdegup dengan irama yang tak kukenali. Selama ini, orang-orang memujiku karena aku "kuat" atau "mandiri". Tapi Aris, dia mengakui "kerja keras"-ku. Dia melihat prosesnya, bukan hanya hasilnya.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai sering berinteraksi. Aris sering mengajakku berdiskusi soal pekerjaan di kafetaria kantor. Dia adalah pendengar yang baik. Dia tidak pernah mendesakku untuk bercerita tentang hal pribadi, namun kehadirannya memberikan rasa aman yang aneh. Rasa aman yang belum pernah kurasakan dari pria mana pun sejak kejadian di rumah panggung Nenek.
Suatu sore, hujan turun dengan sangat deras. Aku sedang menunggu taksi di lobi kantor ketika mobil Aris berhenti tepat di depanku.
"Mau bareng? Searah, kan? Lagipula susah cari taksi kalau hujan begini," tawar Aris sambil menurunkan kaca mobilnya.
Awalnya aku ingin menolak. Alarm di kepalaku berbunyi, mengingatkanku untuk tetap menjaga jarak. Tapi entah kenapa, rasa lelah yang menumpuk di pundakku hari itu membuat pertahananku luluh. Aku masuk ke mobilnya.
Di dalam mobil yang harum kayu cendana itu, suasana terasa sangat tenang. Aris memutar musik instrumental dengan volume rendah. Kami tidak banyak bicara, namun kesunyian itu tidak terasa canggung.
"Maya," panggilnya perlahan saat mobil terjebak macet. "Kamu sering kelihatan seperti sedang memikul beban dunia di pundakmu. Sesekali, nggak apa-apa kok kalau mau bagi beban itu sama orang lain."
Aku tertegun. Mataku memanas. Kalimat itu adalah hal yang paling ingin kudengar seumur hidupku, namun juga hal yang paling kutakuti. Aku ingin sekali bersandar, aku ingin sekali bercerita betapa lelahnya aku membayar cicilan rumah, mengurus Ayah, dan menyimpan rahasia kelam masa kecilku.
Tapi bayangan tetangga pria itu kembali muncul. Ingatan tentang siang sunyi itu seolah-olah berteriak: *"Jangan percaya siapa pun! Kamu itu kotor! Jika dia tahu siapa kamu sebenarnya, dia akan jijik!"
Aku menarik napas panjang dan memaksakan senyum kaku. "Aku baik-baik saja, Mas Aris. Aku sudah terbiasa mandiri."
Aris tidak membalas lagi. Dia hanya mengangguk pelan, seolah mengerti bahwa tembok yang kubangun terlalu tinggi untuk diruntuhkan hanya dalam satu sore.
Sesampainya di rumah, aku melihat keramaian. Saudara-saudara dari pihak Ibu datang untuk membicarakan seragam pernikahan Bayu. Ayah tampak senang, Ibu tampak bangga. Mereka tidak tahu bahwa putri mereka baru saja mengalami peperangan batin yang hebat di dalam mobil seorang pria.
Aku masuk ke kamarku, menatap cermin, dan bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku boleh mencintai? Apakah aku berhak mendapatkan Aris?
Aku melihat tanganku yang kini halus, tapi di mataku, tangan itu tetaplah tangan anak kecil yang penuh getah jambu monyet dan bau bawang. Aku merasa seperti seorang penipu. Di luar aku sukses dan disegani, tapi di dalam, aku masihlah Maya yang merasa jiwanya sudah cacat.
Cicilan rumah masih panjang, pernikahan Bayu sudah di depan mata, dan sekarang ada Aris yang mulai mengetuk pintu hatiku. Aku tidak tahu apakah aku harus membukanya atau justru menambah gemboknya lebih kuat lagi. Aku hanya tahu, malam ini, beban di pundakku terasa jauh lebih berat karena aku mulai berani memiliki harapan. Dan bagi wanita sepertiku, harapan terkadang jauh lebih menakutkan daripada penderitaan.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..