Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahar Pengganti Jiwa
Pagi itu, langit Jakarta seolah tidak ingin berdamai dengan suasana hati Andini. Mendung yang pekat menggantung rendah, membuat udara terasa sesak dan lembap. Setelah malam yang penuh dengan air mata, Andini memaksakan diri untuk bangkit. Ia mengantarkan Syifa ke sekolah dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Sepanjang jalan menuju sekolah, Syifa hanya diam. Gadis kecil itu terus menggenggam tali tasnya erat-erat, matanya menatap kosong ke luar jendela angkot. Saat tiba di depan gerbang sekolah, Syifa tidak langsung masuk. Ia berbalik, menatap ibunya dengan tatapan yang menghujam jantung.
"Ma," suara Syifa lirih, nyaris tertelan suara bising knalpot kendaraan. "Apa benar uang satu miliar itu bisa menghidupkan Ayah lagi?"
Andini terdiam. Lidahnya kelu. Ia ingin berteriak bahwa ia akan menukar seluruh uang di dunia ini hanya untuk satu pelukan dari Hilman, namun yang keluar hanyalah isak tangis yang tertahan. Ia hanya mampu mencium kening Syifa dan membisikkan kata maaf yang sudah tidak berarti lagi.
Setelah Syifa hilang di balik koridor sekolah, Andini memutar arah. Tujuannya satu: kantor asuransi jiwa di pusat kota. Ia harus menuntaskan apa yang telah dimulai oleh suaminya. Ia harus mengambil "mahar terakhir" yang dibeli Hilman dengan nyawanya.
Gedung Megah dan Jiwa yang Miskin
Kantor asuransi itu berdiri megah dengan dinding kaca yang berkilau. Di dalamnya, aroma parfum mahal dan udara dingin dari pendingin ruangan menyambut Andini. Ia merasa begitu kecil dan kotor dengan pakaian yang sudah ia pakai sejak kemarin. Di tangannya, ia mendekap tas plastik berisi berkas-berkas medis Hilman dan polis asuransi.
Seorang petugas layanan pelanggan yang rapi menyambutnya. "Ada yang bisa saya bantu, Ibu?"
"Saya... saya ingin mengurus klaim asuransi kematian suami saya. Hilman Bin Ahmad," suara Andini bergetar.
Petugas itu membawanya ke sebuah ruangan yang lebih tertutup. Seorang pria paruh baya mengenakan kacamata, Pak Prasetyo, duduk di balik meja kayu besar. Ia menatap Andini dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara profesionalisme dan rasa iba yang mendalam.
"Ibu Andini, kami sudah menunggu kehadiran Anda," ucap Pak Prasetyo sambil membuka sebuah map tebal berlabel kan nama Hilman.
Andini meletakkan berkas-berkasnya di atas meja. "Kapan uang itu bisa cair? Saya... saya membutuhkannya untuk biaya hidup anak saya."
Pak Prasetyo menarik napas panjang. Ia tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil sebuah amplop kecil dari dalam map tersebut. "Sebelum kita memproses administrasi senilai satu miliar rupiah itu, ada satu rekaman medis dan catatan pribadi yang diminta Almarhum Bapak Hilman untuk saya tunjukkan kepada Anda jika Anda datang ke sini."
Andini mengerutkan kening. "Catatan apa?"
Kebenaran yang Meremukkan
Pak Prasetyo memutar sebuah video singkat di layar komputernya. Video itu diambil di sebuah ruangan rumah sakit yang suram, enam bulan yang lalu. Di sana, Hilman duduk di tepi tempat tidur rumah sakit, wajahnya sangat kuyu, pipinya sangat cekung, dan tangannya penuh dengan bekas suntikan yang membiru.
Dalam video itu, Hilman bicara pelan, sesekali terhenti oleh batuk yang seolah ingin mengeluarkan paru-parunya.
"Pak Prasetyo... tolong pastikan Andini mendapatkan haknya. Dia tidak tahu kalau saya sakit kronis. Saya sengaja tidak berobat, Pak. Uang pengobatannya lebih baik saya gunakan untuk membayar premi asuransi ini agar preminya tidak hangus. Saya tidak mau mati sia-sia di atas ranjang rumah sakit dan meninggalkan hutang untuk istri saya..."
Hilman dalam video itu tersenyum getir, menatap ke arah kamera seolah-olah ia sedang menatap Andini.
"Andini, istriku... Maaf kalau Mas sering bohong bilang Mas lembur di pabrik. Sebenarnya Mas di sini, melakukan prosedur donor plasma darah dan sumsum tulang belakang secara rutin agar bisa menambah saldo deposito untukmu dan Syifa. Maaf kalau Mas sering pulang bau obat. Mas cuma ingin kamu punya masa depan yang indah, meskipun Mas tidak ada di dalamnya."
Andini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jeritannya tertahan di tenggorokan, namun air matanya tumpah membasahi meja kayu mahal itu. Ia teringat betapa sering ia memaki Hilman karena suaminya itu selalu pulang larut malam dengan tubuh yang lemah. Ia teringat pernah menuduh Hilman selingkuh karena ada bekas suntikan di lengannya.
"Andini, jangan sedih ya kalau Mas pergi. Mas sudah hitung semuanya. Uang asuransi ini,, cukup untuk kamu beli rumah di perumahan yang dulu kamu idam-idamkan saat kita lewat pakai motor butut kita. Mas cuma titip Syifa... tolong sayangi dia seperti kamu menyayangiku dulu, saat kita pertama kali menikah..."
Video itu berakhir. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Andini yang kian hebat.
Harta yang Terasa Seperti Api
"Ibu Andini," Pak Prasetyo berkata pelan. "Suami Anda adalah pria paling tangguh yang pernah saya temui. Dia mendaftarkan diri dalam program asuransi berisiko tinggi. Dia tahu bahwa dengan kondisi kesehatannya yang terus memburuk, klaim ini hanya akan cair jika dia meninggal dalam kondisi 'kelelahan kerja'. Itulah sebabnya dia terus bekerja di pabrik hingga detik terakhir hidupnya. Dia sengaja tidak membiarkan tubuhnya beristirahat, agar secara legal, kematiannya dikategorikan sebagai kecelakaan akibat beban kerja."
Pak Prasetyo mendorong selembar cek bernilai sangat besar ke depan Andini. "Ini adalah hasil dari penderitaan suami Anda selama bertahun-tahun. Ini adalah mahar yang ia beli dengan setiap tetes darahnya."
Andini menatap cek itu. Angka nol yang berderet banyak itu kini tampak seperti tetesan darah Hilman. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa uang itu sangat panas, seolah ingin membakar tangannya.
Ia teringat Reno. Pria yang ia anggap segalanya itu ternyata hanya mengincarnya untuk mendapatkan akses ke uang asuransi ini setelah mengetahui rahasia Hilman. Reno adalah iblis, sementara pria yang ia injak-injak harga dirinya selama tujuh tahun adalah malaikat yang menyamar sebagai buruh pabrik kusam.
Andini berdiri dengan tubuh yang limbung. Ia memeluk map asuransi itu erat-erat. Ia berjalan keluar dari kantor megah itu dengan langkah yang hancur.
Apakah yang akan Andini lakukan dengan uang satu miliar itu, agar nyawa Hilman tidak sia sia!