NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan Dimulai

Dua hari setelah aku menemukan file tentang ayah, semuanya berubah. Aku sedang sarapan sendirian, saat itu Damian masuk dengan ponsel di tangannya. Wajahnya begitu tenang, seperti sebelum badai datang.

"Ada yang perlu kau ketahui," katanya sambil duduk di seberangku.

Jantungku langsung berdetak cepat. Apa dia sudah tahu aku membuka brankasnya?

"Aku baru saja mengumumkan sesuatu di pertemuan lima keluarga tadi pagi," lanjutnya sambil menuangkan kopi. "Hadiah seratus juta dolar, bagi siapa yang membawa kepala Rafael Vasquez."

Cangkir di tanganku seketika pecah, dan jatuh di lantai. Kopi tumpah ke mana-mana.

"Apa?" bisikku.

Damian menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kau dengar dengan benar. Seratus juta dolar, untuk kepala ayahmu."

Aku berdiri dengan kaki yang gemetar. "Ta-tapi, kau bilang dia sudah mati, kau bilang kau sudah membunuhnya."

"Aku berbohong," katanya dengan nada yang sangat tenang. Seperti sedang membicarakan cuaca. "Tembakan di altar itu kosong, dan darah itu palsu. Tubuh yang jatuh itu boneka yang sangat mirip dengan ayahmu, sebenarnya dia sudah melarikan diri tiga hari sebelum pernikahan kita."

Dia menyesap kopinya.

"Tapi sekarang aku bosan dengan permainan ini," lanjutnya. "Sekarang, sudah waktunya dia benar-benar mati."

Aku tidak bisa bernapas, rangan terasa berputar. Lututku lemas, hingga aku jatuh kembali ke kursi.

"Kenapa?" suaraku keluar gemetar. "Kenapa harus sekarang?"

Damian meletakkan cangkirnya, lalu menatapku langsung.

"Karena aku ingin melihat pilihanmu," jawabnya dengan jujur yang menakutkan. "Aku ingin tahu, ketika ayahmu dalam bahaya yang nyata, dan bukan sandiwara lagi. Apakah kau akan mencoba menyelamatkannya?"

Matanya menatapku, dengan tatapan yang membuat darahku membeku.

"Atau, apakah kau akan tetap di sini, bersamaku, dan membiarkan dia mati?"

"Apa kau sudah gila," bisikku.

"Ya," jawabnya tanpa ragu. "Aku memang sudah gila, dan kau tahu itu sejak awal. Tapi kau tetap mencintaiku, kan?"

Dia berdiri, berjalan mengelilingiku. Tangannya menyentuh bahuku.

"Jadi sekarang," bisiknya di telingaku, "kau harus memilih. Ayah yang membantai keluargaku, atau suami yang mencintaimu dengan cara yang gila."

Tangannya mengencangkan cengkeraman di bahuku. Menyakiti.

"Pilih dengan bijak, Sayang," lanjutnya. "Karena pilihan ini akan menentukan masa depanmu."

Lalu dia pergi meninggalkanku yang masih duduk di sana, dengan pikiran yang kacau balau.

***

Sisa hari itu aku terkurung di kamar. Bukan dikurung oleh Damian, tapi dikurung oleh pikiranku sendiri.

Seratus juta dolar.

Jumlah yang sangat besar, cukup untuk membuat seluruh dunia bawah tanah bergerak. Dan mereka semua, sekarang sedang memburu ayahku.

Ayah yang bahkan tidak tahu, bahwa kepalanya dihargai sebesar itu. Yang bersembunyi di Bangkok, yang pikir dia akan aman. Aku harus memperingatkannya.

Tapi bagaimana? Aku tidak punya nomor telefonnya. Tidak tahu alamat persisnya. Dan bahkan kalau aku tahu, apa aku berani menghubunginya?

Kalau Damian tahu...

Aku mengingat tiga hari dikurung tanpa makanan. Mengingat rasa sakit. Rasa takut. Keputusasaan.

Apakah aku siap mengalami itu lagi? Atau lebih buruk?

Tapi ini ayahku sendri, walau dia seorang pembunuh, dan pengkhianat. Tapi dia tetap ayahku, ayah yang membesarkanku dan mencintaiku.

Atau apakah dia mencintaiku? Kalau dia benar-benar cinta, kenapa dia kabur meninggalkanku? Kenapa dia membiarkanku pikir dia mati?

Kenapa dia tidak pernah mencoba menghubungiku selama ini?

Pikiran itu membuat dadaku sesak, marah dan sedih bercampur jadi satu.

Malam datang. Damian tidak pulang untuk makan malam, dan tidak ada kabar kemana dia akan pergi.

Aku duduk di balkon, menatap kota yang berkelap-kelip, dengan ponsel di tangan. Marco sudah memberi tau aku, bahwa ada file lain di komputer ruang kerja. File dengan detail lokasi ayah, alamat, nomor telepon bahkan semuanya.

Dia memberitahuku dengan tatapan yang aneh, seperti dia tahu aku akan mencari informasi itu. Seperti bahwa dia ingin membantuku? Atau ini hanya jebakan lain?

Aku tidak tahu siapa yang harus dipercaya lagi. Tapi satu yang pasti, aku harus membuat keputusan yang cepat. Karena setiap detik yang berlalu, pemburu semakin dekat pada ayah.

***

Tengah malam, aku menyelinap ke ruang kerja Damian. Kali ini dengan hati-hati, memeriksa setiap sudut ada kamera.

Dan aku menemukannya, tiga kamera tersembunyi. Di sudut langit-langit, di balik buku, dan di dalam vas bunga. Semuanya merekam.

Tentu saja Damian tahu aku membuka brankas kemarin, dan dia melihat semuanya. Tapi dia membiarkanku, karena ini semua bagian dari ujiannya.

Aku menatap kamera-kamera itu, lalu aku tersenyum tipis. Dua bisa bermain permainan ini. Aku menyalakan komputer, membuka file yang Marco sebutkan. Dan benar saja, ada semua informasi tentang ayah.

Alamat apartemennya di Bangkok, nomor telepon, foto-foto terbaru, bahkan rutinitas hariannya. Semua yang kubutuhkan untuk menghubunginya, atau untuk membunuhnya.

Dengan jari yang gemetar, tanganku melayang di atas keyboard.

Haruskah aku menghubunginya? Memperingatkannya?

Atau haruskah aku menutup file ini dan kembali ke kamar? Berpura-pura tidak pernah melihat apapun?

Aku menatap kamera di sudut langit-langit. Bayangan Damian menonton dari suatu tempat, membuat keputusan ini semakin berat. Dia menunggu untuk melihat aku akan memilih apa, dan pilihanku akan menentukan segalanya.

Jariku akhirnya bergerak, mulai mengetik nomor telepon ayah di ponselku, lali menyimpannya tanpa nama. Aku menutup file, dan mematikan komputer. Aku keluar dari ruang kerja.

Aku kembali ke kamar, dengan nomor telepon tersimpan di ponsel. Tapi aku belum meneleponnya, dan belum mengirim pesan. Aku hanya menyimpan nomor ponselnya saja. Karena aku masih belum tahu, apa yang akan kulakukan.

***

Pagi berikutnya, berita sudah menyebar. Seratus juta dolar untuk kepala Rafael Vasquez. Setiap pemburu, setiap sindikat, setiap pembunuh bayaran di dunia berbicara tentang itu.

Marco membawa laporan ke kamar.

"Sudah ada lima puluh kelompok yang bergerak," katanya. "Yakuza dari Jepang. Triad dari Tiongkok. Kartel dari Meksiko. Semua sedang menuju Bangkok."

Dia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Ayah Nyonya tidak akan bertahan lama," lanjutnya pelan. "Mungkin seminggu, atau paling lama dua minggu."

"Kenapa kau memberitahu aku tentang ini?" tanyaku.

Marco diam sebentar. "Karena Nyonya punya hak untuk tahu. Dan, karena saya pikir Nyonya harus membuat keputusan, sebelum semuanya terlambat."

Dia berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba berhenti di depan pintu.

"Tuan Damian sedang menunggu," katanya. "Menunggu untuk melihat apa yang akan Nyonya lakukan. Dan apapun pilihan Nyonya nanti, itu akan ada konsekuensi."

Lalu dia pergi meninggalkanku dengan dilema yang menghancurkan. Menyelamatkan ayah berarti mengkhianati Damian. Dan aku tahu, apa yang akan Damian lakukan pada seorang pengkhianat.

Tapi membiarkan ayah mati, berarti aku benar-benar kehilangan sisa kemanusiaanku yang terakhir. Aku menatap ponsel di tanganku, nomor ayah tersimpan di sana. Tinggal satu panggilan, atau satu pesan.

Dan semua bisa berubah, atau semuanya akan berakhir. Tanganku gemetar ketika membuka kontak itu, jariku melayang di atas tombol panggil.

Haruskah aku?

Haruskah, atau tidak?

Air mata mulai mengalir, aku membenci diriku sendiri karena ragu. Ini ayahku, seharusnya aku tidak ragu. Tapi aku ragu. Karena aku takut pada Damian. Takut pada apa yang akan dia lakukan. Dan itu membuatku lebih membenci diriku sendiri.

Aku jatuh ke lantai, menangis dengan ponsel tergenggam erat di tanganku.

Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku harus memilih, antara ayah dan pria yang sudah menghancurkanku. Tapi ini juga satu-satunya yang membuatku merasa hidup?

Dan ketika tangisan mereda, aku menyadari sesuatu yang menakutkan. Aku sudah tahu pilihanku, jauh di dalam hatiku yang rusak, aku sudah tahu.

Dan pilihan itu akan mengubahku selamanya, mengubah menjadi monster yang tidak bisa kembali lagi.

Tapi sebelum aku sempat menekan tombol apapun, pintu kamar terbuka. Damian berdiri di sana. Menatap aku yang duduk di lantai dengan ponsel di tangan, dan air mata di wajah.

Dan senyum yang muncul di wajahnya, membuat darahku membeku. Karena senyum itu bilang, dia sudah tahu. Dia sudah tahu pilihan apa yang akan kubuat.

Dan dia sudah menyiapkan sesuatu, yang akan menghancurkan sisa jiwaku yang tersisa.

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!