Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Rasa ingin tahu datang pelan, tetapi bersifat menetap.
Aurellia baru menyadari saat ia duduk sendiri di dalam kamar, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca hal apapun. Di dalam pikirannya, sosok Alvaro muncul kembali—bukan Alvaro yang sedang memotret, ataupun Alvaro yang memberikan senyuman kecil saat mendengarnya bercerita, melainkan Alvaro yang tampak menjalani hidupnya secara terpisah.
Selama ini, ia mengetahui berbagai hal kecil tentang Alvaro. Jam bangun tidurnya. Cara ia menikmati kopi. Preferensinya yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Namun, ada satu bagian yang selalu terasa hampa.
Keluarga.
Setiap kali topik tersebut muncul dalam percakapan mereka, Alvaro selalu memberikan jawaban yang singkat. “Di kos. ” “Sendiri. ” “Udah lama. ”
Aurellia tidak pernah memaksa. Namun, rasa ingin tahunya pelan-pelan tumbuh.
Beberapa hari setelah malam di kafe itu, mereka kembali duduk di tempat yang sama—sebuah meja yang dekat dengan jendela, saat kafe mulai tenang. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma kopi dan sisa hujan.
“Kamu kenapa? ” tanya Alvaro tiba-tiba.
Aurellia menoleh. “Kenapa apa? ”
“Keliatan mikir. ”
Aurellia tersenyum tipis. “Keliatan banget ya? ”
Alvaro mengangguk. “Keliatan banget kok. ”
Ia menghela napas pelan. “Aku penasaran tentang kamu. ”
Alvaro mengangkat alisnya. “Bukannya itu hal positif? ”
“Iya,” jawab Aurellia. “Tapi yang ini agak… sensitif. ”
Alvaro terdiam. Ia tidak langsung memotong pembicaraan. Itu yang membuat Aurellia berani untuk melanjutkan.
“Selama ini aku cuma tau kamu tinggal di kos,” ucapnya. “Aku nggak tau kayak apa keluargamu. ”
Alvaro menatap lurus ke depan, bukan kepada Aurellia. Rahangnya sedikit mengencang, tetapi ia tidak menghindar.
“Kalo kamu nggak mau cerita, gapapa kok,” tambah Aurellia dengan cepat. “Aku cuma tanya. ”
Beberapa detik dalam keheningan.
“Boleh,” kata Alvaro akhirnya. “Aku bakal cerita. ”
Aurellia menoleh dengan harapan. “Serius? ”
“Iya,” jawab Alvaro pelan. “Tapi. . . aku agak canggung ngomongnya. ”
“Pelan-pelan aja,” kata Aurellia dengan lembut. “Aku bakal dengerin. ”
Alvaro menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
“Orang tuaku cerai,” ungkapnya.
Aurellia tidak terkejut, tetapi dadanya terasa hangat karena kejujuran tersebut. “Sejak kapan? ”
“Udah lama,” jawab Alvaro. “Waktu aku masih SMA. ”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Ibuku selingkuh. ”
Pernyataan itu keluar tanpa kesan marah atau dramatis. Justru karena itu, dampaknya terasa lebih dalam.
Aurellia tidak langsung memberikan reaksi. Ia hanya mengangguk kecil, tanda bahwa ia sedang mendengarkan.
“Awalnya aku nggak tau,” lanjut Alvaro. “Aku cuma ngerasain perubahan di rumah. Ayah sering diam. Ibu sering pergi. ”
Ia memberikan senyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Klasik. ”
“Apa ayah kamu dapet bukti sendiri? ” tanya Aurellia dengan hati-hati.
“Iya,” jawab Alvaro. “Terus abis itu… semuanya berubah dengan cepat. ”
Aurellia bisa membayangkan kekacauan yang terjadi, meski Alvaro tidak menjelaskan secara rinci. Ia tahu perasaan itu—runtuh tanpa suara, namun merusak dari dalam.
“Setelah perceraian,” kata Alvaro, “aku tinggal sama ayah. Adikku tinggal sama ibu. ”
Aurellia menoleh dengan cepat. “Kamu punya adik? ”
“Iya,” jawab Alvaro. “Perempuan, tiga tahun lebih muda. ”
“Deket? ” tanya Aurellia.
Alvaro tersenyum kecil, kali ini seakan lebih tulus. “Dulu. Sekarang… ya gitu. ”
Ia mengangkat bahu. “Kami nggak sering keteku. ”
“Karena…? ” Aurellia tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Karena hidup masing-masing,” jawab Alvaro. “Dan mungkin nggak semua orang mau mengingat masa lalu. ”
Aurellia menelan ludah. Ada satu pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi ia ragu. Namun, Alvaro lebih dulu menyela:
“Aku nggam benci ibuku. ”
Aurellia langsung menatapnya.
“Aku kecewa,” lanjut Alvaro. “Masih. Tapi membenci itu bikin capek. ”
Kalimat tersebut sederhana, namun memiliki nuansa kedewasaan.
"Gimana keadaan ayahmu sekarang? " tanya Aurellia.
"Dia udah nggak ada," jawab Alvaro dengan suara lembut.
Aurellia secara naluriah menahan napas. "Maafin aku. "
Alvaro mengangguk. "Udah beberapa tahun. "
Ia memandangi langit sejenak. "Sejak itu aku hidup sendiri. Kuliah, bekerja, tinggal di kos. Kayak biasa. "
Seperti biasa.
Dua kata itu terdengar ringan, tetapi Aurellia memahami maknanya yang dalam.
"Karena itu," lanjut Alvaro, "aku nggak terlalu baik kalo ngobrol tentang keluarga. Rasanya. . . nggak lengkap. "
Aurellia merasakan sesuatu di dadanya terasa sesak.
"Kamu bukan nggak lengkap," ujarnya tiba-tiba.
Alvaro menoleh ke arahnya.
"Kamu bukan nggak lengkap," ulang Aurellia dengan suara lebih pelan. "Mungkin bentuknya beda. Tapi kamu tetap utuh. "
Alvaro terdiam cukup lama.
"Aku ngerasa takut," katanya akhirnya dengan jujur, "cerita ini mungkin buat kamu mikir aneh. "
Aurellia cepat-cepat menggelengkan kepala. "Enggak. Justru ini yang buat aku lebih ngerti. "
"Ngerti apa? "
"Kenapa kamu bersikap hati-hati," jawab Aurellia. "Kenapa kamu jarang berjanji. Kenapa kamu dengerin orang dalam waktu yang lama. "
Alvaro memberikan senyuman kecil. "Kamu cukup peka. "
"Aku cuma. . . sayang," kata Aurellia.
Mata mereka bertemu sejenak, lalu mereka sama-sama mengalihkan pandangan karena terasa terlalu akrab.
"Aku nggak pernah cerita sepanjang ini ke orang lain," kata Alvaro pelan.
Aurellia tersenyum. "Aku ngerasa. . . dipercaya. "
"Bener," jawab Alvaro. "Aku emang percaya sama kamu. "
Pernyataan itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Namun Aurellia merasakan hal itu masuk ke dalam jiwanya dan menetap.
Mereka terdiam sejenak, menikmati sore yang kian meredup.
"Aku penasaran tentang satu hal lagi," kata Aurellia akhirnya.
"Apa itu? "
"Kamu pernah terpikir untuk mencari adikmu lagi? "
Alvaro mengangguk pelan. "Sering banget. "
"Gimana selanjutnya? "
"Aku masih mempersiapkan diri," jawabnya jujur. "Takut kalo aku mendekatinya, tapi dia udah nggak butuh aku lagi. "
Aurellia menoleh kepadanya. "Kalo suatu saat kamu pengen, aku berharap kamu punya keberanian. "
Alvaro tersenyum kecil. "Kamu berbicara seolah itu mudah. "
"Enggak kok," kata Aurellia. "Aku tau itu nggak gampang. Tetapi kamu nggak perlu hadepin semua ini sendirian. "
Alvaro menatapnya lama. Ada sesuatu dalam pandangannya yang lembut.
"Makasih ya," katanya pelan.
Ketika mereka berdiri untuk pulang, Aurellia menyadari satu hal penting:
Rasa ingin tahu bukan tentang mengetahui segalanya.
Namun tentang ingin tetap berada di dekat, meskipun kisahnya tidak selalu indah.
Dan malam itu, saat mereka berjalan berdampingan tanpa bersentuhan, Aurellia merasakan sebuah lapisan jarak di antara mereka runtuh—tanpa suara, tanpa paksaan.
Di dalam kamar, Aurellia melemparkan tas kerjanya ke lantai. Lampu masih dalam keadaan mati. Ia hanya duduk di tepi ranjang, membiarkan kegelapan menyambutnya terlebih dahulu. Kepalanya masih dipenuhi suara Alvaro—cara dia berbicara tanpa emosi, cara matanya kosong sejenak saat membahas tentang keluarganya.
Aurellia menutup matanya.
Kenapa aku harus tanya sejauh itu?
Pertanyaan itu terus berulang, semakin lama semakin membebani pikirannya. Ia memang mengaku ingin tahu. Namun sekarang, setelah kesunyian dan jarak mengambil alih, perasaan bersalah menggantikan kehangatan yang dirasakannya tadi.
Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. Aurellia bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Ia memahami betul bagaimana rasanya ketika luka lama muncul kembali. Meskipun Alvaro menyatakan, “Gapapa,” Aurellia khawatir kata tersebut hanyalah sopan santun belaka.
Ia berdiri, menyalakan lampu, lalu kembali duduk. Tangannya meraih ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur. Nama Alvaro masih tertera di layar obrolan terakhir. Belum ada pesan baru. Belum terlihat tanda-tanda apa pun.
Ia membuka aplikasi pesan, mengetikkan:
Maaf kalo aku terlalu banyak tanya tadi.
Jarinya terhenti di sana. Pesan itu terasa tidak cukup. Terlalu singkat. Terlalu ringan untuk konteks yang serius.
Ia menghapusnya.
Kalo aku buat kamu ngerasa nggak nyaman, aku beneran minta maaf.
Ketika suasana sunyi kembali, Aurellia menggigit bibirnya. Ia menatap layar ponsel terlalu lama, seolah berharap ponsel itu memberikan jawaban.
Kenapa aku nggak bisa diam aja?
Ia melemparkan ponsel ke ranjang dan merebahkan tubuh di sampingnya. Ia memandangi langit-langit kamar. Cahaya lampu menciptakan bayangan aneh di dinding, seperti pikiran yang berantakan.
Aurellia merasa egois. Di satu sisi, ia ingin mengenal Alvaro lebih dalam. Di sisi lain, ia lupa bahwa mengenal seseorang juga berarti siap menerima sisi yang paling rapuh dan tidak semua orang bersedia membukanya kapan saja.
Ia teringat bagaimana Alvaro menarik napas sebelum mulai bercerita. Cara dia menatap ke depan, bukan ke arahnya. Itu bukan pertanda ia merasa sepenuhnya nyaman. Melainkan tanda ia sedang menahan sesuatu.
“Aku seharusnya lebih peka,” ucapnya pelan.
Ia kembali duduk, mengambil ponsel, dan kali ini mengetik lebih lambat, lebih tulus.
Aku terus kepikiran obrolan kita. Aku khawatir udah nanyain hal yang terlalu pribadi. Kalo iya, aku minta maaf. Kamu nggak wajib cerita apa pun sama aku.
Ia membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan. Hanya perasaan yang ia akui.
Setelah agak ragu selama beberapa detik, ia menekan tombol kirim.
Ponselnya diletakkan kembali. Aurellia bersandar ke belakang ranjang. Dadanya terasa sedikit lebih ringan, meskipun rasa bersalah belum sepenuhnya hilang.
Ia menyadari satu hal di malam itu: peduli bukan hanya sekadar ingin tahu, tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti. Dan jika besok Alvaro memilih untuk diam, Aurellia bertekad—ia akan tetap di sini, tanpa menuntut penjelasan.