Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Faris Mulai Sadar
#
**Dua tahun kemudian**
Faris sekarang udah berusia lima tahun. Anak yang cerdas dan aktif. Dia udah masuk TK Islam yang bagus. Seragamnya rapi. Tasnya branded. Uang jajannya banyak. Semua fasilitas terpenuhi.
Tapi ada yang dia perhatiin. Ada yang bikin dia bingung.
Pagi itu, hari Minggu. Naura lagi sholat Subuh sendirian di mushola kecil yang ada di rumah mereka. Mushola yang dibangun Zidan dua tahun lalu buat pamer ke tetangga. Tapi ironisnya, Zidan sendiri jarang sholat di sana.
Faris bangun. Keluar dari kamar sambil gosok mata. Dia liat Ibunya lagi sholat. Dia diem aja. Nunggu Ibunya selesai.
Setelah salam, Naura noleh. "Faris udah bangun? Ayo sini. Ikut Ibu doa."
Faris duduk di samping Ibunya. Naura pegang tangannya sambil doa.
"Ya Allah, jaga anak Ibu. Jaga Faris. Buat dia anak yang sholeh. Yang taat. Yang cinta sama Allah dan Rasul. Aamiin."
"Aamiin." Faris ikut ngucapin.
Mereka keluar dari mushola. Naura mau ke dapur masak. Tapi Faris nahan tangannya.
"Ibu, Faris mau tanya."
"Tanya apa sayang?"
"Kenapa Ayah nggak sholat sama kita?"
Naura langsung terdiam. Pertanyaan yang dia takutin akhirnya datang juga.
"Ayah... Ayah lagi tidur sayang. Capek kerja."
"Tapi kemarin kemarin juga Ayah nggak sholat. Faris nggak pernah liat Ayah sholat."
Naura berjongkok. Sejajar sama anaknya. "Ayah sholat kok. Cuma... cuma nggak bareng sama Ibu. Ayah sholat sendiri."
"Bohong." Faris menggeleng. "Tadi pagi Faris bangun mau pipis. Faris lihat Ayah tidur terus. Nggak bangun buat sholat."
Naura nggak bisa jawab. Hatinya perih. Anaknya yang masih lima tahun udah mulai sadar. Mulai ngeliat kenyataan yang dia coba tutupin selama ini.
"Faris sayang... Ayah... Ayah lagi sibuk banget. Capek. Jadi kadang sholat nya telat. Nanti juga Ayah sholat kok."
"Tapi kata Ustadz Amir di sekolah, sholat itu wajib. Nggak boleh ditinggalin. Kalau ditinggalin, Allah marah."
Perkataan polos Faris menusuk hati Naura kayak pisau. Dia peluk anaknya erat sambil air mata mulai jatuh.
"Iya sayang. Ustadz bener. Sholat itu wajib. Ibu... Ibu akan ingetin Ayah lagi. Oke?"
"Oke. Soalnya Faris nggak mau Allah marah sama Ayah."
Naura nangis makin keras sambil peluk Faris. Anaknya yang polos. Anaknya yang masih punya hati yang bersih. Khawatir sama Ayahnya.
"Ibu juga sayang. Ibu juga nggak mau Allah marah sama Ayah. Makanya Ibu selalu doa in Ayah."
Faris melepas pelukan. Ngeliatin wajah Ibunya yang basah air mata. "Ibu nangis? Kenapa?"
"Nggak sayang. Ibu nggak nangis. Ini cuma kemasukan debu."
"Bohong lagi. Ibu nangis. Faris lihat."
Naura lap air matanya cepet. "Udah. Ayo kita sarapan. Ibu masakin telur dadar kesukaan Faris."
Mereka ke dapur. Naura masak sambil sesekali lap air mata. Faris duduk di kursi meja makan sambil ngeliatin Ibunya.
"Ibu, temen Faris di sekolah bilang Ayahnya selalu sholat berjamaah di masjid. Kenapa Ayah Faris nggak?"
Naura berhenti motong bawang. Tangannya gemetar.
"Ayah Faris kan punya mushola di rumah. Jadi Ayah sholat di rumah."
"Tapi Faris nggak pernah lihat."
"Ya karena Ayah sholat kalau Faris lagi tidur atau lagi sekolah."
Faris diem sebentar. Mikir. "Ibu bohong lagi ya?"
Naura noleh. Kaget. "Kenapa Faris bilang gitu?"
"Soalnya kemarin Faris denger Ayah sama Ibu bertengkar. Ayah bilang Ayah nggak sempet sholat. Faris denger."
Naura langsung duduk di kursi depan Faris. Pegang tangan anaknya. "Faris sayang... dengar ya. Ayah dan Ibu lagi punya masalah. Tapi ini masalah orang dewasa. Faris nggak usah ikut campur. Faris cuma perlu doa in Ayah dan Ibu aja. Oke?"
"Tapi Ustadz Amir bilang kalau kita sayang sama orang tua, kita harus ingetin kalau mereka salah. Ayah salah nggak sholat. Faris harus ingetin."
Air mata Naura jatuh lagi. Anaknya yang baru lima tahun. Tapi pikirannya udah dewasa. Hatinya masih bersih. Masih takut sama Allah.
"Faris... Faris emang anak baik. Anak pintar. Ibu bangga sama Faris. Nanti Faris ingetin Ayah ya. Tapi ingetinnya harus sopan. Jangan marah marah. Oke?"
"Oke Ibu."
Mereka sarapan dengan tenang. Tapi hati Naura nggak tenang. Anaknya udah mulai sadar. Mulai ngeliat bahwa Ayahnya beda dari ayah ayah yang lain.
Jam sembilan pagi, Zidan bangun. Keluar kamar dengan kaos oblong sama celana pendek. Langsung duduk di sofa sambil buka handphone.
Faris yang lagi nonton TV langsung turun dari sofa. Jalan ke arah Ayahnya.
"Ayah."
"Iya. Kenapa?" Zidan nggak ngeliatin Faris. Matanya tetep di handphone.
"Ayah udah sholat Subuh?"
Zidan terdiam sebentar. Terus lanjut main handphone. "Belum. Nanti aja."
"Tapi Ayah... sekarang udah jam sembilan. Waktunya Subuh udah lewat. Ayah harus sholat sekarang."
"Iya iya. Nanti Ayah sholat. Jangan ganggu Ayah dulu."
"Tapi Ayah... Ustadz Amir bilang sholat itu wajib. Nggak boleh ditinggalin. Kalau ditinggalin, Allah marah."
Zidan akhirnya ngeliatin anaknya. "Faris, Ayah lagi sibuk. Nanti Ayah sholat. Sekarang kamu main aja."
"Tapi Ayah... Faris khawatir. Faris nggak mau Allah marah sama Ayah."
Zidan taruh handphonenya. Ngeliatin Faris dengan tatapan tajam. "Siapa yang suruh kamu mikirin hal kayak gitu? Ibu kamu ya?"
"Bukan. Faris sendiri yang mikir. Soalnya temen temen Faris di sekolah bilang Ayah mereka selalu sholat. Kenapa Ayah Faris nggak?"
Zidan diem. Nggak bisa jawab.
Naura keluar dari dapur. "Faris, sini sayang. Ayo main ke taman."
"Tapi Ibu, Faris lagi ngomong sama Ayah."
"Udah. Nanti aja. Ayah lagi capek. Ayo."
Faris akhirnya ikut Ibunya keluar. Tapi sebelum keluar, dia noleh lagi ke Ayahnya. "Ayah, jangan lupa sholat ya."
Pintu tertutup.
Zidan duduk sendirian di sofa. Kata kata anaknya terngiang di kepala.
"Faris nggak mau Allah marah sama Ayah."
"Kenapa Ayah Faris nggak sholat?"
Dia pegang kepala sambil napas berat.
"Anak gue... anak gue mulai nyadar. Mulai liat gue nggak sholat. Mulai khawatir sama gue."
Sekilas dia ngerasa bersalah. Sekilas dia pengen berdiri. Ambil wudhu. Sholat.
Tapi...
Dia lihat handphonenya. Ada notifikasi. Transfer masuk lima puluh juta dari klien pinjaman uang yang baru bayar bunga.
Rasa bersalah itu langsung hilang.
Digantikan senyum.
"Lima puluh juta. Dari satu klien doang. Gampang banget."
Dia lanjut main handphone. Lupa sama anaknya yang khawatir. Lupa sama istrinya yang nangis di taman. Lupa sama Allah yang udah kasih dia segalanya.
Di taman, Naura duduk di kursi sambil ngeliatin Faris yang lagi main ayunan. Air matanya nggak berhenti jatuh.
"Ya Allah... anakku udah mulai sadar. Dia udah liat kalau Ayahnya nggak sholat. Dia khawatir. Dia sedih. Ya Allah... ini sakit banget. Aku nggak mau anak aku tumbuh dengan contoh Ayah yang kayak gini. Tolong ya Allah. Tolong kembalikan suamiku. Demi anak kami. Demi Faris yang masih polos. Yang masih punya hati bersih. Tolong."
Sore harinya, waktu Zidan mau pergi lagi ke pesta temen bisnisnya, Faris nahan tangannya.
"Ayah mau kemana?"
"Ayah ada acara. Kenapa?"
"Ayah udah sholat Ashar?"
Zidan terdiam. "Belum. Nanti di jalan."
"Bohong. Ayah nggak akan sholat. Kayak kemarin kemarin. Ayah selalu bilang nanti tapi nggak pernah sholat."
Zidan jongkok. Sejajar sama anaknya. "Faris, Ayah janji akan sholat. Percaya sama Ayah."
"Faris nggak percaya. Soalnya Ayah sering bohong."
Kata kata itu kayak tamparan keras di wajah Zidan.
"Faris... jangan ngomong kayak gitu sama Ayah."
"Tapi emang bener. Ustadz Amir bilang orang yang janji tapi nggak ditepatin itu bohong. Ayah sering janji akan sholat tapi nggak pernah sholat. Berarti Ayah bohong."
Zidan berdiri. Napasnya berat. "Ayah pergi dulu."
Dia keluar rumah. Naik mobil. Tapi dia nggak langsung pergi. Dia duduk di mobil sambil pegang setir erat.
Kata kata Faris terngiang lagi.
"Ayah sering bohong."
"Faris nggak percaya sama Ayah."
Dia pukul setir dengan keras. "SIAL!"
Tapi dia tetep nggak sholat.
Dia gas mobilnya. Pergi ke pesta.
Ninggalin anaknya yang sedih.
Ninggalin istrinya yang nangis.
Ninggalin Allah yang udah kasih dia segalanya.
Dan hari itu, Faris belajar sesuatu.
Belajar bahwa Ayahnya beda.
Belajar bahwa Ayahnya nggak kayak ayah ayah yang lain.
Belajar bahwa Ayahnya nggak sholat.
Dan itu akan jadi luka.
Luka yang dalam.
Luka yang akan dia bawa sampai besar.
Luka yang akan jadi awal dari kehancuran hubungan Ayah dan anak.
Kehancuran yang dimulai dari hal kecil.
Dari pertanyaan polos.
"Kenapa Ayah nggak sholat sama kita?"