NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB LIMA BELAS: DEKLARASI SERIGALA

Pesan singkat dari Orion itu bagaikan sebuah bongkahan es yang tiba-tiba dijatuhkan ke dalam aliran darah Seraphina, membekukan seluruh sisa kehangatan dari tawa centil Giselle semalam. Jantungnya berdebar sangat kencang, dentumannya terasa memukul-mukul gendang telinganya hingga ia sulit mendengar ocehan Cika di depannya. "Hal penting yang harus kita bicarakan. Sendiri." Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata; itu adalah sebuah perintah mutlak, sebuah maklumat kematian bagi ketenangan jiwa Seraphina yang baru saja mencoba untuk pulih.

Sepanjang sisa jam kuliah seni rupa, Seraphina tidak lebih dari sekadar raga tanpa jiwa. Kata-kata dosen di depan kelas tentang sejarah seni abad pertengahan terdengar seperti dengungan lebah yang sangat jauh dan tidak bermakna. Pikirannya sepenuhnya tersita oleh bayangan Orion Valentinus: tatapan matanya yang sehitam lubang tanpa dasar, napasnya yang panas dan berbau alkohol mahal, sentuhan tangannya yang kasar namun mematikan, serta rasa perih yang menusuk di antara kedua kakinya yang belum sepenuhnya sembuh.

Cika dan Ciko terus berada di sekitarnya, melontarkan berbagai pertanyaan penuh rasa ingin tahu tentang kehidupan mewah barunya, namun Seraphina hanya mampu memberikan jawaban singkat yang hampa dan senyum palsu yang terlihat sangat rapuh. Ia merasa ada jurang pemisah yang sangat dalam dan gelap yang kini terbentang antara dirinya dan sahabat-sahabatnya. Mereka hidup di dunia yang penuh warna dan harapan, sementara ia sedang ditarik masuk ke dalam lubang hitam bernama keluarga Valentinus.

Saat jam pulang tiba, pemandangan yang sama kembali terulang. Jay sudah berdiri tegak di depan mobil Mercedes-Benz hitam yang terparkir mencolok di depan gerbang kampus. Seraphina menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang sarat akan keputusasaan. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah setiap langkahnya menyeret beban ribuan ton saat ia berjalan menuju mobil itu. Ia berpamitan pada Cika dan Ciko dengan lambaian tangan yang lemah, mengabaikan teriakan Cika yang menagih undangan makan malam di mansion mewah itu.

Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan menuju tempat eksekusi. Jay mengemudikan mobil dalam keheningan yang mencekam, dan Seraphina hanya bisa menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang mulai ditelan oleh kegelapan senja. Ia terus membayangkan apa yang akan terjadi di ruang kerja Orion. Apakah pria itu akan kembali memperkosanya? Apakah dia akan menyiksanya dengan cara yang lebih kejam? Perutnya terasa mual, rasa takut membuatnya ingin muntah saat itu juga.

Mansion Valentinus tampak lebih suram di bawah cahaya rembulan yang samar. Suasana di dalam rumah sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Giselle yang biasanya memenuhi ruangan dengan suaranya yang melengking. Sebuah kelegaan yang mengerikan menyergap hati Seraphina; jika Giselle tidak ada, itu berarti Orion benar-benar bisa melakukan apa pun padanya tanpa ada saksi mata.

Bibi Yani menyambutnya di lobi dengan wajah datar namun tersirat rasa iba yang dalam. "Nona Seraphina, Tuan Muda Orion sudah menunggu Anda di ruang kerjanya sejak satu jam yang lalu. Beliau berpesan agar Anda segera menghadap tanpa perlu mengganti pakaian terlebih dahulu."

Seraphina hanya bisa mengangguk kaku, kepalanya terasa pening. Langkah kakinya bergetar saat ia menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai atas, ke bagian sayap mansion yang paling tertutup dan jarang dikunjungi pelayan. Bagian itu adalah wilayah kekuasaan pribadi Orion, sebuah tempat yang terasa sangat asing, dingin, dan penuh aura maskulin yang menyesakkan.

Ia berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu jati tua dengan ukiran motif naga yang rumit. Tangannya yang dingin gemetar hebat saat ia mencoba mengetuk pintu itu. Suara "Masuk" yang berat, dalam, dan penuh otoritas terdengar dari dalam, membuat jantung Seraphina seolah-olah berhenti berdetak sesaat.

Seraphina membuka pintu dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, pintu itu akan menelannya hidup-hidup. Begitu ia melangkah masuk, aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya: campuran antara aroma kertas tua, kulit premium, tembakau mahal, dan parfum maskulin Orion yang sangat kuat. Ruangan itu didominasi oleh perabotan berwarna gelap, dengan rak buku raksasa yang mencapai langit-langit, sebuah meja kerja mahoni yang sangat besar, dan kursi kulit hitam yang terlihat sangat dominan.

Orion tidak sedang duduk di kursinya. Ia berdiri memunggungi pintu, menatap keluar melalui jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota yang kelap-kelip seperti kunang-kunang di kejauhan. Ia telah menanggalkan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang padat dan urat-urat yang menonjol—sebuah simbol kekuatan fisik yang mampu menghancurkan apa pun.

"Tutup pintunya, Seraphina. Dan kunci," Orion berkata tanpa sedikit pun menoleh. Suaranya datar namun mengandung perintah yang tak terbantahkan.

Seraphina menurut dengan gerakan mekanis. Suara klik dari kunci pintu yang berputar terasa seperti bunyi terakhir dari gerbang kebebasannya. Ia kini benar-benar terperangkap bersama sang predator.

Orion akhirnya berbalik perlahan. Matanya yang tajam dan gelap langsung mengunci sosok Seraphina, menelanjangi gadis itu dari atas hingga bawah dengan tatapan yang penuh dengan nafsu yang tertahan namun dingin. Ia berjalan mendekati meja kerjanya, mengambil sebotol scotch tua, dan menuangkannya ke dalam gelas kristal. Ia tidak menawarkan Seraphina; ia hanya meminumnya dengan sekali teguk, sementara matanya tetap tidak pernah lepas dari wajah pucat Seraphina.

"Duduklah," Orion menunjuk sebuah kursi kulit di depan mejanya.

Seraphina duduk dengan kaku, punggungnya tegak lurus, tangannya terkepal erat di atas pangkuan. Ia berusaha sekuat tenaga agar giginya tidak bergemeletuk karena ketakutan yang luar biasa.

"Bagaimana harimu di kampus? Apakah kau menikmati perhatian semua orang atas penampilan barumu?" Orion bertanya dengan nada santai, namun ada nada sarkasme yang tersirat di sana.

"Ba-baik, Tuan..." jawab Seraphina dengan suara yang nyaris hilang.

"Bagus," Orion menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak pernah mencapai matanya. Ia meletakkan gelasnya yang kosong dengan dentingan pelan di atas meja mahoni. "Aku ingin kita bicara dengan sangat jelas malam ini, Seraphina. Aku tidak suka ada gangguan, apalagi dari kegilaan ibuku."

Orion bangkit dari kursinya, berjalan memutar melewati meja, dan berhenti tepat di depan Seraphina. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Seraphina yang berair karena ketakutan. "Kau tahu, adopsi gila yang dilakukan ibuku... itu semua bukan karena dia kasihan padamu. Itu karena dia melihatmu sebagai boneka hidup yang sempurna. Dan bagiku, itu adalah berkah."

Seraphina tidak berani bernapas. Jarak antara wajah mereka hanya beberapa inci. Ia bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh Orion.

"Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini selamanya. Kau akan mendapatkan semua kemewahan yang tidak pernah kau impikan di panti asuhanmu yang berdebu itu," Orion melanjutkan, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang dalam dan serak, penuh dengan dominasi yang mematikan. "Tapi ingat satu hal, Seraphina Elara. Segala kemewahan ini memiliki harga yang sangat mahal. Dan harganya adalah dirimu sendiri."

Ia mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya membelai garis rahang Seraphina dengan gerakan yang sangat pelan namun menekan. "Di depan dunia, kau mungkin adalah putri angkat ibuku. Tapi di ruangan ini, di tempat tidurku, kau hanyalah milikku. Kau adalah properti pribadiku. Setiap helai rambutmu, setiap inci kulitmu, bahkan setiap tetes air mata yang kau keluarkan, adalah milik Orion Maximus Valentinus."

Orion mencengkeram dagu Seraphina, memaksanya untuk terus menatap matanya yang berkilat penuh gairah gelap. "milik ku yang malam itu merobekmu, itu akan menjadi penguasa tunggal atas setiap lubang di tubuhmu. lubang mu yang masih bengkak itu akan aku gunakan berkali-kali sampai kau tidak bisa lagi berjalan. Bibirmu akan menghisap milikku sampai kau kehabisan napas. Dan kau akan memohon, kau akan merintih, kau akan menangis meminta lebih."

"Ta-tapi... hiks... Nyonya Giselle..." Seraphina mencoba memprotes di sela isakannya.

"Mama?" Orion tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Mama tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di balik pintu ini. Dia terlalu sibuk dengan fantasinya sendiri. Baginya, kau adalah boneka yang cantik. Bagiku, kau adalah jalang yang akan aku hancurkan secara perlahan. Kau tidak punya pilihan lain, Seraphina. Tidak ada tempat untuk melarikan diri."

Orion melepaskan cengkeramannya, lalu tangannya turun ke bawah, meraba leher Seraphina dan menyentuh tanda merah keunguan yang sengaja ia tinggalkan di sana. "Ini adalah tanda bahwa kau telah diklaim. Dan aku berjanji padamu, setiap malam di mansion ini akan menjadi malam di mana kau akan menyadari betapa malangnya nasibmu karena telah menarik perhatian seorang serigala sepertiku."

Seraphina hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya bergetar hebat saat ia menyadari bahwa sangkar emas yang dijanjikan Giselle sebenarnya adalah sebuah makam bagi jiwanya, dan Orion adalah sipir penjara yang tidak akan pernah melepaskannya hingga ia hancur berkeping-keping.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!