Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Cakra
Ketegangan di lantai sepuluh mendadak memuncak. Cakra, dengan rahang yang mengeras dan tatapan penuh obsesi, tidak bisa lagi membendung gejolak di dadanya. Masa bodoh dengan etika bisnis atau pandangan para staf, baginya, setiap detik yang terbuang adalah siksaan.
Di dalam ruangannya, Hana berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar. Bahunya tampak kaku. Indah, sekretarisnya, menyadari kegelisahan sang atasan.
"Ibu Hana, Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sangat pucat," tanya Indah khawatir.
Belum sempat Hana menjawab, suara ketukan keras terdengar. Indah melangkah untuk membuka pintu, namun baru saja daun pintu terbuka sedikit, sosok tegap Cakra sudah berdiri di sana dengan buket bunga mawar putih dan kotak perhiasan di tangannya.
"Tuan Cakra? Anda CEO dari Ardiwinata Grup?" tanya Indah terbata-bata, terkejut melihat investor besar itu datang tanpa janji temu. "Maaf, Tuan, Ibu Hana sedang tidak bisa diganggu..."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Cakra menerobos masuk. Ia menyenggol bahu Indah dengan kasar, matanya hanya tertuju pada satu titik, yakni wanita yang berdiri mematung di dekat jendela.
"Hana!" suara Cakra berat, penuh kerinduan sekaligus rasa bersalah yang amat dalam.
Hana membalikkan badannya. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak sesaat melihat Cakra sudah berada di dalam ruang pribadinya. Ia mengepalkan tangannya di balik jas birunya, mencoba mempertahankan kewibawaannya sebagai CEO.
"Indah, keluar. Tutup pintunya," perintah Hana dengan nada dingin yang menusuk.
"Tapi, Bu..."
"Keluar, Indah."
Indah menunduk dan segera menutup pintu, meninggalkan dua orang yang pernah berbagi hidup itu dalam keheningan yang menyesakkan.
Cakra melangkah mendekat, namun Hana segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Cakra berhenti. "Cukup di situ, Tuan Cakra Ardiwinata. Ada urusan bisnis apa, sehingga membuat Anda masuk ke ruangan saya tanpa izin? Jika ini soal kontrak, silakan hubungi Asisten Raka."
"Aku tidak ke sini untuk bisnis, Hana! Aku ke sini untukmu," ucap Cakra dengan suara bergetar. Ia menyodorkan mawar putih itu. "Enam tahun, Hana... Enam tahun aku mencari mu seperti orang gila."
Hana tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat pedih. "Mencari? Setelah membuangku ke jalanan seperti sampah tanpa mau mendengar sepatah kata pun penjelasanku? Jangan melucu, Tuan Cakra."
"Aku tahu aku salah! Aku baru tahu semuanya... tentang ibu, tentang Jesika, tentang fitnah itu," Cakra melangkah maju lagi, kali ini ia berlutut di depan Hana, menjatuhkan bunga mawar itu begitu saja dan membuka kotak perhiasan berisi kalung berlian yang ia simpan. "Maafkan aku... aku mohon, kembalilah padaku. Aku akan menebus semuanya. Jadilah Nyonya Ardiwinata lagi."
Hana menatap pria yang dulu sangat ia cintai itu dengan tatapan kosong. "Nyonya Ardiwinata? Gelar itu sudah mati sejak kau mengusirku dalam keadaan hamil, Cakra!"
Mata Cakra menundukkan kepalanya." Aku memang bodoh malam itu Hana, aku menyesal karena tidak mempercayaimu!"
" terlambat!" balas Hana emosi.
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras. Tama berdiri di ambang pintu dengan seragam polisinya yang masih lengkap, wajahnya terlihat sangat dingin. Ia melihat Cakra yang sedang berlutut di depan Hana.
Tama melangkah masuk dengan penuh otoritas, langsung berdiri di samping Hana dan merangkul pinggang wanita itu dengan protektif.
"Maaf mengganggu momen 'drama' ini," suara Tama terdengar berat dan penuh ancaman. "Tapi kurasa tunanganku sudah memintamu untuk pergi, bukan?"
Cakra tersentak. Ia berdiri dan menatap Tama dengan penuh amarah. "Tunangan? Apa maksudmu?!"
Hana sempat terkejut dengan tindakan Tama, namun ia segera menguasai diri. Ia menyandarkan tubuhnya pada Tama, mencari kekuatan. "Benar sekali Tuan Cakra. Perkenalkan, ini Mas Tama, calon suamiku. Dan soal anak yang kau tanyakan... dia adalah anakku. Hanya anakku."
Ruangan itu mendadak terasa sempit akibat ketegangan yang memuncak. Cakra menatap tangan Tama yang masih melingkar protektif di pinggang Hana dengan mata merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah yang nyaris meledak.
"Hana, ini tidak mungkin! Kau bohong... kau begitu sangat mencintaiku! Aku tahu itu!" teriak Cakra, suaranya bergema memenuhi ruangan.
Hana melepaskan diri dari rangkulan Tama hanya untuk melangkah maju, menantang tatapan Cakra dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Hah, cinta?" Hana tertawa getir, suaranya terdengar seperti sembilu. "Asal kau tahu, Tuan Cakra Ardiwinata, cinta yang dulu aku miliki padamu kini telah mati, dan hanya menyisakan kebencian yang mendalam. Jika kau masih ingin bekerja sama dengan perusahaan ini, jaga sikapmu! Aku bisa saja sewaktu-waktu memutuskan kontrak kerja sama kita. Aku tidak peduli jika harus rugi banyak, selama wajahmu hilang dari pandanganku!"
Cakra mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia seolah terpojok di sudut ring. Logikanya berteriak bahwa Ardiwinata Group sedang di ambang kehancuran dan hanya proyek Global Energi yang bisa menyelamatkannya, namun harga dirinya hancur berkeping-keping.
"Ok, aku akan pergi..." Cakra memungut buket mawar yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya ke tempat sampah di sudut ruangan. Ia berbalik, namun berhenti tepat di ambang pintu. "Tapi aku akan mencari El Barak. Dia adalah putraku!"
Deg!
Jantung Hana seolah berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi. Bagaimana bisa Cakra tahu nama lengkap putranya?
Cakra menoleh perlahan, menatap dingin ke arah Tama yang sejak tadi memasang kuda-kuda siaga. "Pantas waktu itu aku melihatmu di sekolah. Rupanya anak kecil yang kau bawa itu adalah putraku!"
"Kau jangan macam-macam dengan putraku!" kecam Hana dengan suara melengking, insting seorang ibu yang terancam langsung bangkit.
"Aku mungkin tidak bisa memilikimu sekarang, Hana. Tapi setidaknya aku bisa memiliki El. Walau bagaimanapun, dia adalah darah dagingku, pewaris sah Ardiwinata!" ucap Cakra dengan nada mengancam sebelum melangkah pergi dan membanting pintu ruangan dengan keras.
Hana limbung. Kakinya terasa lemas seperti jelly. Ia hampir terjatuh jika Tama tidak sigap menangkap tubuhnya. Hana langsung menyembunyikan wajahnya di dada Tama, tangisnya pecah seketika.
"Mas... bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana kalau dia benar-benar merebut El dariku?" isak Hana, suaranya teredam di seragam Tama.
Tama menghela napas panjang, ia membiarkan Hana menumpahkan ketakutannya. Tangannya yang besar bergerak ragu sejenak sebelum akhirnya mendekap punggung Hana dengan erat, mencoba memberikan rasa aman yang paling tulus.
"Hana, kamu yang sabar. Tenangkan dirimu," ucap Tama dengan suara berat dan menenangkan. "Aku berjanji, demi jabatanku dan demi nyawaku, aku tidak akan pernah membiarkan Cakra mengambil El darimu. Aku akan memperketat penjagaan di sekolah dan di mansion."
Hana semakin erat memeluk Tama, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pegangan di tengah badai yang kembali datang. "Terima kasih, Mas Tama... terima kasih banyak."
Di sisi lain, Tama merasakan jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ada rasa gugup yang menjalar saat merasakan kehangatan tubuh Hana di pelukannya. Ia sadar, sandiwara ini perlahan-lahan mulai mengikis batasan di hatinya sendiri.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ada aku di sini," bisik Tama sambil mengusap lembut kepala Hana yang masih terisak.
Bersambung...