Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Apa yang Tersisa Setelah Pilihan
(POV: Alice)
Keputusan tidak pernah datang dengan suara keras.
Ia tidak berteriak, tidak menggelegar seperti badai. Ia datang pelan, lalu menetap—dan baru terasa beratnya setelah semuanya sunyi kembali.
Pagi itu, setelah orang-orang itu pergi, villa terasa asing. Bukan karena dingin, bukan karena salju yang masih menggantung di dahan pinus, tapi karena tidak ada lagi ilusi bahwa aku hanya singgah sementara.
Aku memilih tinggal.
Dan setiap pilihan menuntut sesuatu sebagai gantinya.
Aku berdiri di dapur, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Tanganku melingkari porselen retak, tapi aku tidak benar-benar merasakan hangatnya.
Pikiranku masih terjebak pada suara Marianne, pada kata menunggu, pada senyumnya yang terlalu yakin.
Mereka tidak akan memaksaku hari ini.
Atau besok.
Mereka akan menunggu sampai aku runtuh sendiri.
“Jika kau mau pergi, sekarang waktu terbaik.”
Suara Noah membuatku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu dapur, jaket sudah dikenakan, sepatu bot di tangannya.
“Aku akan mengantarmu sejauh jalan utama. Truk salju kota sudah mulai membuka jalur.”
Nada suaranya netral. Terlalu netral.
“Aku tidak pergi,” jawabku.
Dia mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabanku.
“Kalau begitu,” katanya, “kita perlu bicara soal hal-hal yang lebih praktis.”
Aku menghela napas. “Seperti?”
“Makanan. Uang. Pekerjaan. Dan fakta bahwa keluarga seperti punyamu tidak akan menyerah hanya karena kau membanting pintu.”
Aku tersenyum pahit. “Kau tidak memintaku tinggal.”
“Tidak,” jawabnya jujur. “Aku hanya tidak akan berpura-pura ini akan mudah.”
Itulah Noah.
Tidak pernah memberiku janji manis. Tidak pernah memintaku memilihnya. Tapi juga tidak mengusirku.
Dan entah kenapa, itu lebih menakutkan daripada ancaman keluargaku.
(POV: Noah)
Alice mulai hidup di Norden bukan dengan langkah anggun, tapi dengan jatuh tersandung.
Dan itu baik.
Hari pertamanya bekerja, dia pulang dengan tangan kotor dan lutut celana basah karena salju.
Dia membantu di toko roti kecil dekat bengkel tua—pekerjaan sementara, katanya. Pemiliknya, seorang wanita tua bernama Mrs. Halvorsen, memberinya tatapan curiga sebelum akhirnya mengangguk.
“Aku bisa belajar,” kata Alice waktu itu.
Aku melihat dari kejauhan. Dari cara dia berdiri terlalu tegak. Dari caranya tersenyum sedikit terlalu sering.
Dia tidak terbiasa meminta.
Dia pulang sore hari, wajahnya lelah, tapi matanya hidup.
“Aku membakar dua loyang roti,” katanya sambil melepas sepatu. “Dan menjatuhkan satu rak.”
“Ada yang terluka?” tanyaku.
“Harga diriku.”
Aku tertawa. Tawa sungguhan, yang tidak terasa seperti kewajiban sosial.
Alice berhenti, menatapku. Seolah terkejut aku bisa tertawa.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku sadar—dia tidak hanya lari dari keluarganya.
Dia sedang belajar menjadi seseorang yang tidak ditentukan oleh mereka.
(POV: Alice)
Malam-malam di Norden berbeda.
Tidak ada suara klakson. Tidak ada jadwal yang menuntut. Tidak ada pesta yang harus kuhindari dengan alasan palsu. Hanya suara angin, kayu berderak, dan langkah kaki Noah di lantai kayu villa.
Kami tidak banyak bicara.
Justru di situlah aku merasa paling dekat dengannya.
Suatu malam, saat hujan salju berubah menjadi hujan biasa, aku duduk di ambang jendela, memandangi lampu kota kecil di kejauhan.
“Apa kau pernah ingin pergi dari sini?” tanyaku.
Noah sedang memperbaiki radio tua. Tangannya berhenti sejenak.
“Dulu,” katanya. “Waktu aku masih cukup bodoh untuk percaya dunia akan lebih ramah di tempat lain.”
“Dan sekarang?”
“Aku tahu setiap tempat punya caranya sendiri untuk menghancurkanmu.”
Aku tersenyum kecil. “Kau pesimis.”
“Realistis.”
Aku menoleh padanya. “Kenapa kau tidak mengusirku?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa pelindung.
Noah tidak langsung menjawab.
“Karena kau tidak meminta diselamatkan,” katanya akhirnya. “Dan kau tidak datang untuk bersembunyi selamanya.”
Aku menelan ludah. “Bagaimana jika aku salah?”
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau akan tahu sendiri kapan harus pergi.”
Tidak ada janji di sana.
Dan justru itu membuat dadaku terasa sesak.
(POV: Noah)
Masalah datang bukan dari keluarga Blackwood lebih dulu.
Tapi dari Norden.
Beberapa orang mulai bertanya. Siapa Alice. Dari mana dia datang. Kenapa dia tinggal di villa tua yang bahkan penduduk lokal jarang dekati.
Aku mendengar bisikan itu di bengkel. Di kedai kopi. Di toko bahan bangunan.
Orang asing selalu mencurigakan di kota kecil.
Terutama yang terlalu pendiam.
Suatu sore, kepala polisi lokal mampir ke bengkel.
“Kau menampung tamu,” katanya ringan.
“Teman,” jawabku.
Dia mengangguk. “Pastikan dia tidak membawa masalah.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tidak yakin.
(POV: Alice)
Surat itu datang seminggu kemudian.
Tidak dikirim lewat pos biasa. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat pengirim.
Hanya diletakkan di meja dapur villa.
Tulisan tangannya rapi. Terlalu rapi.
Alice,
Kami menghargai usahamu mencoba hidup mandiri.
Namun, beberapa pilihan tidak bisa dinegosiasikan.
Kami menunggumu. Sampai kau lelah.
Tanganku gemetar.
Noah membacanya tanpa ekspresi.
“Mereka mulai menekan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dan kau masih ingin tinggal?”
Aku mengangkat kepala. Menatapnya lurus.
“Ya.”
Dia menatapku lama. Seolah mencoba melihat sejauh mana tekadku akan bertahan.
“Aku tidak bisa melindungimu dari segalanya,” katanya.
“Aku tidak memintanya.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Berat. Jujur.
Lalu Noah berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Tapi aku tidak akan berpura-pura kau sendirian.”
Dadaku terasa sesak. Bukan karena takut.
Karena lega.
(POV: Noah)
Malam itu, kami duduk di depan perapian lebih dekat dari biasanya.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada pengakuan.
Hanya dua orang yang tahu bahwa garis yang selama ini dijaga perlahan mulai memudar.
Alice menatap api.
“Jika suatu hari aku harus pergi,” katanya pelan, “aku ingin kau tahu—”
“Aku tidak ingin mendengar janji,” potongku.
Dia menoleh.
“Aku ingin kau jujur,” lanjutku. “Saat kau pergi, jika kau pergi.”
Matanya berkaca-kaca.
“Dan jika aku memilih tetap tinggal?” tanyanya.
Aku menelan ludah.
“Maka kau harus siap kehilangan dunia yang mengejarmu.”
Aku tidak mengatakan apa yang akan terjadi pada kami.
Karena untuk pertama kalinya, aku takut pada jawabannya sendiri.
Di luar, musim dingin perlahan melemah.
Tapi aku tahu—
Badai yang akan datang berikutnya tidak akan datang dari langit.
Ia akan datang dari pilihan terakhir yang belum kami ucapkan.
(POV: Noah)
Masalah tidak pernah datang dengan satu wajah.
Ia datang berlapis-lapis, saling menekan, sampai kau tidak lagi tahu mana yang harus dihadapi lebih dulu.
Pagi itu, bengkelku sepi. Terlalu sepi untuk hari kerja. Aku sedang mengangkat kap mesin truk tua ketika ponselku bergetar di saku.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengabaikannya.
Lalu bergetar lagi.
Dan lagi.
Akhirnya aku mengangkatnya, lebih karena kesal daripada penasaran.
“Ya?”
“Mr. Hale?” Suara pria, formal, dingin. “Nama saya Victor Lang. Saya perwakilan hukum keluarga Blackwood.”
Aku menutup kap mesin dengan keras.
“Apa urusanmu denganku?”
“Langsung ke intinya, ya,” katanya ringan. “Kami ingin Anda berhenti memberikan tempat tinggal dan pekerjaan informal kepada klien kami.”
“Dia bukan klienmu,” jawabku.
“Secara hukum,” katanya tenang, “dia masih berada di bawah perjanjian keluarga yang mengikat.”
Aku menggertakkan gigi. “Dia orang dewasa.”
“Dan orang dewasa bisa menandatangani kontrak yang tidak bisa dibatalkan,” balasnya. “Termasuk perjanjian pernikahan dan hak wali ekonomi.”
Dadaku mengeras.
“Kami tidak ingin ini menjadi rumit,” lanjut Victor.
“Kota kecil seperti Norden sangat… bergantung pada reputasi dan izin usaha, bukan?”
Itu ancaman.
Disampaikan dengan nada sopan.
“Jangan ganggu hidupku,” kataku pelan.
“Akan jauh lebih mudah jika Anda tidak ikut campur,” jawabnya. “Pikirkan baik-baik. Kami akan menghubungi Anda lagi.”
Panggilan terputus.
Aku berdiri lama di bengkel, tangan mengepal, mesin truk masih panas di depanku.
Untuk pertama kalinya, aku sadar—
Ini bukan lagi soal Alice kabur dari keluarganya.
Ini soal aku memilih untuk berdiri di jalur yang sama dengannya.