Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Seluruh dapur mendadak jadi pusat perhatian. Para pelayan berdiri rapi. Koki utama, Luigi, terlihat tegang.
Sandrina berdiri di tengah dapur seperti jenderal perang. “Oke. Aku butuh nasi. Bawang putih. Bawang merah. Telur. Kecap manis. Cabai.”
Luigi mengernyit. “Cabai?”
“Spicy. Pedas. Hot.”
Luigi langsung mencari cabai dengan ekspresi ragu.
Sandrina mulai menggoreng bawang. Masalah pertama, dia lupa menurunkan api. Dalam sepuluh detik bawangnya gosong. Asap mengepul.
“Kenapa jadi hitam?!” pekik Sandrina.
Luigi panik mematikan api.
Patrick yang mengintip dari pintu dapur mulai tertawa kecil.
Sandrina mencoba lagi. Kali ini api lebih kecil. Ia mengaduk nasi dengan penuh percaya diri. Masalah kedua, ia terlalu banyak menuang kecap. Warnanya berubah sangat gelap, coklat hampir hitam legam.
Luigi berbisik pelan, “Apakah ini memang seharusnya seperti itu?”
Sandrina menatap wajan. “Ehm, biasanya tidak segelap ini.”
Sandrina menambahkan garam, lalu lada. Dia merasa nasinya terlalu kering dan keras, maka di tambah sedikit air.
Kesalahan semakin besar. Tekstur nasi berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Tidak kering. Tidak basah. Tidak lembek. Tidak juga keras. Sesuatu di antaranya.
Patrick berbisik pada Max, “Ini lebih mengerikan dari pertempuran di pantai.”
Beberapa puluh menit kemudian, nasi goreng disajikan di meja panjang. Warnanya unik. Aromanya eksperimental.
Alecio dan beberapa anak buahnya sudah duduk di meja makan. Dia duduk di ujung meja. Semua orang menatap piring masing-masing seperti sedang menilai bom waktu.
Sandrina berdiri dengan tangan di pinggang. “Ayo, makan!”
Alecio mengambil sendok.
Suasana hening. Semua mata tertuju kepadanya.
Alecio menyuap sedikit. Semua orang menahan napas.
Alecio mengunyah dengan sangat perlahan. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada ekspresi.
Itu justru menakutkan bagi anak buahnya.
“Bagaimana?” tanya Sandrina penuh harap.
Alecio menelan. Diam dua detik. Tiga detik.
“Mmmm, Menarik.”
Patrick hampir tersedak.
“Menarik itu artinya apa?” tanya Sandrina curiga.
Alecio menatapnya tenang. “Rasanya, kompleks.”
Luigi berbisik pelan kepada orang di sampingnya, “Kompleks seperti teka-teki.”
Max mencoba menyuap juga. Langsung batuk kecil.
Sandrina menoleh tajam. “Kenapa?!”
“Pedas,” jawab Max dengan mata berair.
Sandrina mencicipi sedikit dari piringnya sendiri. Diam. Keningnya berkerut.
“Kenapa rasanya kayak campuran kecap, asap, dan pahit?”
Patrick tertawa keras kali ini.
Alecio justru mengambil suapan kedua. “Tidak buruk.”
Semua orang menoleh padanya. “Serius, Bos?”
Alecio menatap Sandrina. “Kau memasaknya dengan rindu rumah.”
Sandrina terdiam. Itu kalimat paling lembut yang pernah ia dengar dari pria itu. Ia mendengus kecil untuk menutupi perasaan aneh di dadanya.
“Kalau tidak enak bilang saja.”
Alecio mengangkat bahu. “Aku pernah makan lebih buruk.”
Patrick spontan menjawab, “Kapan, Bos?”
Alecio menatapnya tajam. Patrick langsung diam.
Sandrina akhirnya tertawa kecil. “Ya, sudah. Besok aku belajar lagi.”
Alecio tersenyum tipis. “Besok ajari aku.”
Semua orang membeku.
“B-Bos ... mau masak?” tanya Patrick tak percaya.
Alecio menatapnya datar. “Masalah?”
Sandrina mengangkat dagu. “Kamu kuat, kan? Manusia kuat harus bisa masak.”
Alecio menyandarkan diri dengan percaya diri. “Tentu saja.”
Patrick berbisik pada Max, “Besok dapur kastil resmi jadi zona perang.”
Meja makan mafia itu dipenuhi suara tawa. Meski nasi gorengnya rasanya seperti hasil eksperimen ilmiah yang gagal.
Sore itu suasana kastil relatif tenang. Sandrina sedang duduk di taman belakang, mencoba membaca buku bahasa Italia dasar yang diberikan Marcela, meski lebih banyak mengeluh daripada belajar. Siang tadi, dia didatangkan seorang guru yang mengajarinya bahasa Italia.
Sementara itu di dalam ruang kerja utama, Alecio berdiri di depan jendela besar, memeriksa beberapa dokumen. Tiba-tiba pintu terbuka keras.
Patrick masuk dengan wajah tegang, napas sedikit memburu.
“Bos.” Nada suaranya tidak biasa.
Alecio menoleh perlahan. “Ada apa?”
Patrick mendekat. “Truk pengiriman ke kota perbatasan diserang.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Alecio tidak langsung bicara.
“Siapa?” tanya Alecio pelan.
“Serigala Putih.”
Nama itu menggantung di udara seperti ancaman lama yang bangkit kembali. Serigala Putih, kelompok mafia yang dikenal brutal, licik, dan oportunis. Mereka tidak sebesar Serigala Abu-abu, tetapi lebih tak terduga.
“Korban?” tanya Alecio dengan suara makin rendah.
Patrick menelan ludah. “Belum jelas. Tadi komunikasi terputus. Tim cadangan yang kita kirim bilang situasinya buruk.”
Rahang Alecio mengeras. “Siapkan mobil!”
Patrick mengangguk cepat.
Sebelum keluar, Alecio memanggil satu orang lagi. “Max.”
Max muncul dari koridor samping. “Ya, Bos.”
“Jaga Sandrina. Jangan sampai dia kabur dari kastil.”
Max melirik ke arah taman tempat Sandrina berada. “Siap.”
Alecio menatapnya tajam. “Apa pun yang terjadi.”
Max mengangguk lebih serius. Dia tahu maksud Alecio, jika perlu dengan mempertaruhkan nyawanya.
Mobil hitam melaju cepat membelah jalan raya menuju kota perbatasan. Langit mulai gelap.
Di dalam mobil, suasana hening. Patrick sesekali melirik ke arah Alecio yang duduk tegak, wajahnya seperti batu.
“Serigala Putih tidak biasanya menyerang pengiriman kita,” gumam Patrick.
“Mereka menguji batas,” jawab Alecio singkat.
“Atau ada yang membocorkan rute kita.”
Kalimat itu membuat udara makin berat. Alecio menatap lurus ke depan.
“Kalau ada pengkhianat aku akan menemukannya.” Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat siapa pun bergidik.
Beberapa kilometer sebelum perbatasan, mobil mereka berhenti. Lampu kendaraan lain sudah menyala. Beberapa anak buah Serigala Hitam berdiri di sekitar lokasi dengan wajah muram.
Di tengah jalan dua mobil pengawal rusak parah. Kaca pecah. Bodi penuh lubang tembakan. Asap tipis masih mengepul.
Alecio turun dari mobil tanpa berkata apa-apa. Sepatu hitamnya menginjak aspal yang masih hangat. Ia melangkah perlahan mendekati salah satu kendaraan.
Di sana ada dua anak buahnya tergeletak tak bergerak.
Wajah mereka masih memegang ekspresi terkejut. Patrick berdiri beberapa langkah di belakang, rahangnya menegang.
Di sisi lain jalan, tiga pria lain terbaring simbol Serigala Putih terlihat di jaket mereka.
“Pertempuran jarak dekat,” gumam Patrick.
Alecio tidak menjawab. Ia berjongkok di samping salah satu anak buahnya yang tewas. Tangannya mengepal.
“Truknya?” tanya Alecio tanpa menoleh.
“Sampai sekarang belum ditemukan,” jawab salah satu pria di lokasi. “Jejaknya mengarah ke jalan hutan.”
Alecio berdiri. Tatapannya berubah. Bukan lagi dingin, tetapi menyala penuh amarah.
“Mereka bukan hanya menyerang,” kata Alecio pelan. “Mereka ingin mencuri.”
Patrick mengangguk. “Isi truk itu bukan barang biasa.”
Alecio berjalan beberapa langkah, menatap bekas ban di aspal. “Serigala Putih tidak akan berani melakukan ini tanpa alasan.”
“Mereka mungkin pikir kita sedang lemah setelah insiden pantai,” ujar Patrick hati-hati.
Alecio tersenyum tipis. Senyum yang tidak membawa kabar baik bagi siapa pun.
“Kalau begitu, mereka salah besar.”
Salah satu anak buah mendekat dengan suara gemetar. “Bos, Enzo juga ada di dalam truk.”
Alecio berhenti. Enzo adalah salah satu orang lamanya. Setia sejak awal.
“Ada tanda-tanda dia hidup?” tanya Alecio.
Pria itu menggeleng pelan. “Tidak tahu.”
Angin malam berembus melewati lokasi kejadian, membawa bau darah dan karet terbakar. Patrick menatap Alecio hati-hati. Ia tahu ekspresi itu. Ekspresi pemimpinnya sebelum badai.
Alecio menoleh ke semua orang yang selamat. “Kumpulkan semua informasi. Cari saksi. Periksa setiap kamera di jalur ini. Aku ingin tahu ke mana truk itu dibawa.” Suaranya tetap tenang, tetapi penuh tekanan.
“Dan kirim pesan,” lanjut Alecio
“Kepada siapa, Bos?”
Alecio menatap ke arah kegelapan jalan hutan. “Kepada Serigala Putih.”
Dia melangkah kembali ke mobilnya sambil berkata, “Mereka baru saja menyatakan perang.”
Patrick membuka pintu mobil untuknya. “Balasan seperti apa yang kau rencanakan?”
Alecio masuk, lalu berkata pelan sebelum pintu tertutup, “Balasan yang membuat mereka menyesal pernah menyentuh wilayahku.”
Mobil melaju kembali, meninggalkan lokasi penuh mayat dan kendaraan rusak.
Malam itu bukan hanya darah yang tertumpah, tetapi juga harga diri seorang pemimpin yang dilukai.
Sementara di kastil, tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi, Sandrina masih duduk di tepi jendela kamar, memandangi langit yang mulai gelap. Dia tidak tahu bahwa badai lain sedang mendekat. Kali ini, bukan hanya bisnis Alecio yang terancam, tetapi juga keselamatannya.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu