Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN DI BALLROOM
Sabtu siang, Rajendra berdiri di depan cermin kamar kosnya, memakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam yang sama dengan yang dia pakai waktu sidang dan demo investor.
Tidak punya banyak pilihan pakaian formal. Tapi setidaknya kemeja ini masih bersih dan rapi setelah dicuci di laundry terdekat.
Ponselnya berdering, panggilan dari Dina.
"Halo?"
"Bos, gue udah siap. Lu kapan jemput?"
Rajendra melihat jam dinding. Pukul satu setengah siang.
"Sekarang. Tunggu di depan apartemen lu. Gue naik taksi."
"Oke. Gue tunggu."
Sambungan terputus.
Rajendra mengambil dompet dan ponsel, lalu keluar kamar. Turun tangga, keluar dari gedung kos, lalu berjalan ke jalan besar untuk cari taksi.
Taksi Blue Bird lewat, Rajendra lambaikan tangan. Taksi berhenti.
"Ke Cawang, Pak. Apartemen Green Pramuka."
"Siap."
Perjalanan dua puluh menit dengan traffic yang lumayan lancar untuk ukuran Sabtu siang.
Sampai di depan apartemen Dina, dia sudah berdiri di pinggir jalan, pakai dress hitam selutut dengan blazer abu-abu tipis, rambut diurai rapi, makeup natural tapi terlihat lebih fresh dari biasanya.
Rajendra turun dari taksi sebentar, membukakan pintu untuk Dina.
"Wah, formal banget lu," komentar Rajendra.
Dina tertawa kecil sambil masuk ke taksi.
"Emang. Ini networking event, bukan arisan. Harus keliatan profesional."
Rajendra masuk lagi, duduk di sebelah Dina.
"Ke Hotel Mulia, Pak," kata Rajendra ke supir.
Taksi jalan lagi, menuju Senayan.
Di dalam taksi, Dina bertanya.
"Lu udah pernah ke event kayak gini sebelumnya?"
"Belum. Pertama kali."
"Nervous?"
"Sedikit."
"Jangan keliatan nervous. Nanti orang mikir lu gak confident. Di event kayak gini, confidence is everything. Meskipun startup lu masih kecil, lu harus act like you belong there."
Rajendra menatapnya.
"Lu udah pernah?"
"Beberapa kali. Waktu kerja di agensi, gue sering dikirim buat represent klien di event-event bisnis. Trust me, yang penting bukan sebesar apa perusahaan lu, tapi seberapa bagus lu bisa pitch dalam tiga puluh detik."
"Elevator pitch."
"Exactly. Lu udah siapin?"
Rajendra mengangguk.
"Kurang lebih. LokalMart, marketplace untuk produk lokal Indonesia, fokus ke UMKM, sistem COD dan tracking real-time, baru dapet funding lima ratus juta, launch bulan depan."
"Good. Tapi tambahin satu kalimat lagi. Sesuatu yang bikin orang ingat. Sesuatu yang unique."
Rajendra berpikir sebentar.
"Kami bukan cuma jual produk. Kami angkat cerita di balik produk. Setiap produk di platform kami punya cerita seller-nya. Siapa mereka, dari mana mereka, kenapa mereka bikin produk ini."
Dina tersenyum lebar.
"Perfect. Itu human touch. Orang suka cerita. Use that."
Mereka sampai di Hotel Mulia jam dua lewat sepuluh menit.
Hotel mewah dengan lobby luas, lantai marmer mengkilap, chandelier besar di langit-langit, orang-orang berpakaian formal hilir mudik dengan name tag tergantung di leher.
Rajendra dan Dina masuk, menuju meja registrasi.
"Nama?" tanya resepsionis muda dengan seragam rapi.
"Rajendra Baskara. Plus one, Dina Kartika."
Resepsionis mengecek di laptop, lalu mengangguk.
"Ada. Ini name tag Anda berdua. Event di Grand Ballroom, lantai tiga. Silakan naik lift."
Mereka menerima name tag, menggantungnya di leher, lalu naik lift ke lantai tiga.
Pintu lift terbuka, langsung terdengar suara obrolan ramai dari dalam ballroom.
Ballroom besar dengan langit-langit tinggi, lampu-lampu warm tone, meja-meja koktail tersebar di berbagai sudut, standing table dengan finger food dan minuman, orang-orang berdiri berkelompok sambil ngobrol, sesekali tertawa.
Rajendra dan Dina masuk, langsung terasa aura berbeda.
Ini bukan dunia mereka.
Orang-orang di sini pakai jas mahal, jam tangan branded, sepatu kulit mengkilap. Mereka ngobrol dengan confidence tinggi, bahasa tubuh yang relax, senyum yang terlatih.
Rajendra merasakan sedikit out of place.
Tapi dia ingat kata-kata Dina tadi. Act like you belong here.
Dia tarik napas dalam, lalu berjalan masuk dengan postur tegak.
Dina berjalan di sampingnya, tersenyum ramah ke beberapa orang yang menatap mereka.
"Rajendra!"
Suara familiar dari samping.
Anton berjalan mendekat dengan segelas wine di tangan, senyum lebar di wajah.
"Datang juga. Saya kira kamu bakal telat."
"Tidak, Pak. Saya usahakan on time."
Anton menatap Dina.
"Ini Dina, marketing lead saya," perkenalkan Rajendra.
Dina mengulurkan tangan.
"Senang bertemu, Pak Anton."
Anton berjabat tangan dengan Dina.
"Senang bertemu juga. Rajendra beruntung punya tim yang solid."
"Terima kasih, Pak."
Anton menunjuk ke arah sudut ballroom.
"Richard ada di sana, lagi ngobrol dengan beberapa founder lain. Nanti setelah opening speech, kamu bisa join circle-nya. Good opportunity untuk expand network."
"Siap."
Anton menepuk bahu Rajendra.
"Enjoy the event. Jangan terlalu tegang. Ini bukan interview, ini networking. Have fun."
Anton pergi ke arah group lain.
Rajendra dan Dina berjalan ke standing table terdekat, ambil segelas jus jeruk masing-masing.
"Lu kenal banyak orang di sini?" tanya Dina sambil melihat sekeliling.
"Enggak. Cuma Anton dan Richard."
"Oke. Strategi kita gini. Kita split. Lu minggle dengan founder dan investor. Gue minggle dengan marketing dan PR people. Nanti kita regroup jam lima, share info."
"Split? Lu yakin?"
"Trust me. Kalau kita dua-duanya nempel terus, kita gak maksimal. Lu fokus ke funding dan partnership. Gue fokus ke marketing collaboration dan media exposure."
Rajendra mengangguk.
"Oke. Good luck."
"Lu juga."
Dina berjalan ke arah group perempuan yang terlihat sedang ngobrol tentang social media campaign.
Rajendra berdiri sendirian sebentar, melihat sekeliling, mencari target untuk approach.
Matanya berhenti ke seorang pria muda, sekitar usia dua puluhan akhir, berdiri sendirian di sudut, melihat ponsel dengan ekspresi bosan.
Rajendra berjalan mendekat.
"Halo," sapa Rajendra sambil mengulurkan tangan. "Rajendra Baskara. Founder LokalMart."
Pria itu mendongak, sedikit terkejut, lalu tersenyum dan berjabat tangan.
"Oh, hai. Fikri. Founder TechHub. Co-working space untuk startup."
"TechHub? Gue pernah denger. Di kawasan Kuningan kan?"
"Iya. Baru buka tiga bulan lalu. Masih kecil sih, baru sepuluh member. Tapi growing slowly."
Mereka ngobrol beberapa menit tentang bisnis masing-masing, challenge yang dihadapi, lesson learned.
Fikri ternyata orang yang easy going, tidak sombong meski backgroundnya dari keluarga kaya juga.
"Lu butuh office space?" tanya Fikri.
"Sekarang belum. Masih di ruko kecil di Tebet. Tapi mungkin beberapa bulan lagi kalau kita scale."
"Kalau butuh, kontak gue aja. Gue kasih harga spesial buat fellow founder."
"Deal."
Mereka tukar kartu nama.
Rajendra lanjut minggle dengan orang lain. Founder startup fintech. Founder startup logistik. Investor dari VC kecil. Journalist dari media bisnis online.
Setiap orang dia kasih elevator pitch yang sama. LokalMart, marketplace produk lokal, fokus ke UMKM, sistem COD, storytelling approach.
Beberapa orang tertarik, minta follow up. Beberapa orang cuma senyum sopan lalu pergi.
Normal untuk networking event.
Jam tiga, opening speech dimulai.
Semua orang berkumpul di depan panggung kecil di ujung ballroom.
MC naik ke panggung, perempuan muda dengan blazer merah, senyum lebar.
"Selamat sore semuanya. Welcome to Jakarta Startup Connect 2010..."
Speech pembuka berjalan lima belas menit. Lalu ada keynote speaker, founder startup e-commerce yang sudah lumayan besar, berbagi tentang journey-nya dari nol sampai dapet funding series A.
Rajendra mendengarkan dengan fokus, mencatat mental beberapa insight yang relevan.
Setelah keynote selesai, acara lanjut ke networking session lagi.
Rajendra berjalan ke arah circle dimana Richard berdiri, ngobrol dengan tiga founder lain.
Richard melihat Rajendra, tersenyum, lalu memberi isyarat untuk join.
"Eh, Rajendra. Come here. Kenalan sama teman-teman."
Rajendra join circle, Richard memperkenalkan satu per satu.
"Ini Budi, founder Tokomart. Ini Sinta, founder FashionKu. Ini Kevin, founder WarungTech."
Mereka semua berjabat tangan, senyum sopan.
"Rajendra founder LokalMart," perkenalkan Richard. "Baru dapet funding dari saya minggu lalu."
Budi menatap Rajendra dengan tatapan menilai.
"LokalMart? E-commerce juga?"
"Iya. Tapi fokus ke produk lokal. UMKM, pengrajin, petani kopi, semacam itu."
"Kompetitor kita dong," komentar Budi dengan nada setengah bercanda.
"Beda niche," jawab Rajendra tenang. "Tokomart lebih ke general marketplace kan? Kita lebih ke curated selection, quality over quantity."
Budi tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya friendly.
"Good luck. Niche market itu risky. Base customer-nya kecil."
"Tapi loyal," balas Rajendra. "Dan ready to pay premium kalau produknya bagus."
Sinta menambahkan.
"Gue setuju sama Rajendra. Niche market itu underrated. FashionKu gue mulai dari niche juga, fokus ke fashion muslim. Sekarang GMV gue udah dua miliar per bulan."
Budi tidak berkomentar lagi, hanya menyeruput wine-nya.
Kevin bertanya.
"Lu udah launch?"
"Soft launch minggu depan. Hard launch Agustus."
"Berapa seller yang udah onboard?"
"Lima. Target akhir bulan dua puluh."
Kevin mengangguk.
"Not bad untuk startup baru. Gue dulu mulai cuma tiga seller. Sekarang udah seratus."
Mereka ngobrol lebih lanjut, sharing tips tentang onboarding seller, handling customer complaint, managing logistik.
Richard mostly diam, hanya mendengarkan, sesekali tersenyum.
Tiba-tiba, dari sudut ballroom, Rajendra melihat seseorang yang familiar.
Dera Baskara.
Berdiri di dekat pintu masuk, pakai dress navy elegant, rambut di-blow kering rapi, makeup sempurna, senyum ramah ke beberapa orang yang menyapa.
Rajendra menegang.
Dera di sini? Kenapa?
Mata mereka bertemu sebentar.
Dera tersenyum, lalu berjalan mendekat.
Rajendra merasakan sesuatu dingin menjalar di punggungnya.
"Mas Rajendra," sapa Dera dengan nada manis, seperti tidak ada konflik di antara mereka. "Ketemu juga di sini."
Semua orang di circle menatap Dera, lalu menatap Rajendra, waiting for introduction.
Rajendra terpaksa perkenalkan dengan nada datar.
"Ini Dera. Adik saya."
Dera tersenyum lebar, mengulurkan tangan ke Richard dan yang lain.
"Dera Baskara. Senang bertemu semuanya."
Richard berjabat tangan dengan Dera, sedikit confused tapi tetap sopan.
"Richard Tanuwijaya. Investor di LokalMart."
"Oh, investor Mas Rajendra? Wah, bagus dong. Berarti Mas Rajendra serious dengan startup-nya."
Nada Dera terlalu manis. Terlalu fake.
Rajendra tahu Dera tidak datang ke sini untuk support.
Dia datang untuk observe. Atau lebih buruk lagi, untuk sabotase.
"Dera," kata Rajendra pelan tapi tegas. "Bisa kita bicara sebentar? Di luar?"
Dera menatapnya, masih dengan senyum manis.
"Tentu, Mas."
Rajendra pamit ke circle, lalu berjalan keluar ballroom dengan Dera mengikuti di belakang.
Mereka berhenti di koridor sepi di luar ballroom.
Rajendra berbalik, menatap Dera dengan tatapan dingin.
"Lu ngapain di sini?"
Dera masih tersenyum.
"Networking. Sama kayak Mas."
"Bullshit. Lu gak pernah tertarik sama startup. Lu gak pernah datang ke event kayak gini. Lu di sini buat apa?"
Dera menatapnya, senyumnya luntur perlahan.
"Mas Rajendra, kenapa jadi paranoid gini sih? Gue cuma mau connect dengan orang-orang di industri ini. Salah?"
"Salah kalau niat lu gak bersih."
Dera diam sebentar, lalu bicara dengan nada lebih serius sekarang.
"Oke. Kalau Mas mau jujur-jujuran, gue juga mau jujur. Iya, gue datang karena gue pengen tahu apa yang Mas lakuin. Gue pengen tahu siapa aja yang support Mas. Gue pengen tahu seberapa besar Mas udah berkembang tanpa keluarga."
"Kenapa? Mau sabotase gue?"
"Enggak. Gue cuma mau remind Mas, keluarga itu penting. Dan meskipun sekarang Mas benci sama kita semua, suatu hari nanti Mas akan sadar, kita tetap keluarga. Darah tetap lebih kental dari air."
Rajendra tertawa pahit.
"Darah lebih kental dari air? Lu bercanda? Lu sama Jessica yang khianatin gue di belakang, lu mau bilang tentang keluarga?"
Dera terdiam, wajahnya pucat sedikit.
"Mas... gue gak tahu Mas ngomong apa."
"Jangan pura-pura bodoh. Gue udah tahu sejak lama. Dan gue gak akan biarkan lu atau siapapun rusak apa yang gue bangun sekarang. So back off. Stay away from my life."
Rajendra berbalik, berjalan kembali ke ballroom.
Dera berdiri sendirian di koridor, wajahnya berubah dingin.
Senyum manisnya hilang sepenuhnya.
Digantikan dengan tatapan tajam, berbahaya.
Dia meraih ponselnya, mengetik pesan cepat ke Jessica.
"Rajendra udah tahu terlalu banyak. Kita harus move sekarang. Besok."
Pesan terkirim.
Lalu Dera berjalan keluar hotel, tidak kembali ke ballroom.
Misinya sudah selesai.
Dia sudah lihat siapa aja yang dekat dengan Rajendra.
Dan sekarang dia tahu siapa yang harus dia target berikutnya.
[ END OF BAB 20 ]