NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Pintu: Clark dan Lucia

Suasana di kamar Clark terasa begitu sesak oleh ketegangan dan kerinduan yang meledak setelah satu bulan penuh penyiksaan dalam diam. Julius seolah tidak peduli lagi dengan citranya sebagai pewaris yang sempurna. Begitu pintu kamar tertutup, ia menarik Jane ke dalam dekapannya dengan posesif, seolah ingin memastikan bahwa gadis di depannya ini nyata, bukan sekadar bayangan.

Tanpa kata, Julius mencium Jane dengan intensitas yang jauh lebih berani daripada saat mereka di hutan. Ia merebahkan Jane di ranjang Clark yang rapi, mengunci tubuh mungil gadis itu di bawah kungkungannya. Ciuman itu dalam dan menuntut, menguras seluruh napas Jane hingga ia merasa dunia berputar.

Sentuhan Julius turun ke bawah, dan ketika jemari pria itu masuk ke balik baju Jane, menyentuh kulitnya yang hangat secara langsung, Jane tersentak hebat. Tubuhnya menegang karena ini adalah sensasi yang sama sekali baru baginya, sebuah keintiman yang belum pernah ia bayangkan akan ia rasakan dengan sang Matahari.

"Jane... dengarkan aku," bisik Julius tepat di telinga Jane, napasnya terasa panas dan memburu di kulit leher gadis itu.

"Bagaimana mungkin aku menghamili Grace? Malam itu, setiap malam, aku hanya memikirkanmu. Kau adalah wanita pertama yang kusentuh seperti ini. Bibirmu, tubuhmu... semua ini hanya milikmu, dan aku adalah orang pertama yang merasakannya. Maukah kau percaya padaku?"

Jane menatap mata Julius yang berkilat penuh emosi. Tidak ada lagi dingin di sana, hanya ada kejujuran yang mentah.

Julius kemudian menunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Jane, namun ia tiba-tiba berhenti dan menatap Jane kembali dengan seringai tipis yang penuh dendam terhadap takdirnya.

"Beri aku tanda, Jane," pinta Julius serak. "Buatlah tanda di leherku sebanyak mungkin. Aku ingin semua orang, terutama Grace dan ayahku, melihatnya besok. Aku ingin mereka tahu bahwa hatiku dan tubuhku sama sekali bukan milik mereka. Aku ingin memamerkan bahwa aku telah menjadi milikmu."

Jane tertegun. Permintaan itu adalah bentuk pemberontakan paling nyata yang pernah ia dengar. Dengan tangan gemetar, Jane melingkarkan lengannya di leher Julius, menarik pria itu mendekat, dan mulai meninggalkan jejak merah di kulit leher Julius yang putih bersih, sebuah tanda kepemilikan yang akan menghancurkan naskah sandiwara Grace besok pagi.

Sementara itu di ruang tamu, Clark hanya bisa menatap pintu kamarnya dengan pasrah. Ia mendengar suara-suara samar dari dalam yang membuatnya merasa sangat canggung.

"Itu ranjang gue, Jules... benar-benar nggak punya sopan santun," gumam Clark sambil menutup telinganya dengan bantal sofa.

Lucia menyesap kopinya dengan tenang, matanya menatap tajam ke arah pintu. "Biarkan saja, Clark. Julius butuh itu. Dia sudah hidup seperti robot selama 22 tahun. Biarkan dia merasakan hidup sebagai manusia malam ini, meskipun dia harus mengotori ranjangmu."

Suasana di dalam kamar Clark semakin memanas dan emosional. Julius, yang selama ini selalu tenang dan terkontrol, tampak benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia mencengkeram sprei ranjang dengan erat, menatap Jane dengan tatapan yang penuh keputusasaan sekaligus gairah yang tertahan.

"Jane... maukah kau tidur denganku malam ini?" bisiknya dengan suara yang bergetar. "Aku benar-benar takut, Jane. Aku takut jika malam ini berakhir, besok mereka akan menyeret tubuhku kembali ke naskah itu dan aku akan kehilanganmu selamanya."

Julius kembali merunduk, hendak menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih dalam, namun tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

"Julius! Cukup!" suara Lucia dari balik pintu terdengar tegas dan penuh peringatan. "Jangan nekat! Lo belum menang sepenuhnya, Jules. Kalau Grace atau orang suruhan bokap lo tahu Jane ada di sini malam ini, hidup Jane yang bakal hancur, bukan lo!"

Julius berhenti seketika. Tubuhnya menegang di atas Jane.

"Gue bakal balikin Jane ke apartemennya sekarang sebelum semuanya makin kacau!" lanjut Lucia dari luar.

Julius tiba-tiba melepaskan Jane dan bangkit berdiri. Ia mengacak rambutnya dengan kasar lalu berteriak sekeras-kerasnya ke arah pintu, meluapkan amarah yang selama ini ia pendam di balik jas mahalnya.

"GRACE SAJA BISA TIDUR DENGAN KEKASIHNYA DENGAN BEBAS, LUCIA! KENAPA AKU TIDAK?!" teriak Julius hingga urat lehernya menonjol. "Grace curang! Dia melakukan semua hal menjijikkan itu di belakangku tapi aku harus tetap berakting menjadi tunangan yang suci! Ini tidak adil!"

Julius kemudian jatuh terduduk di pinggir ranjang, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya gemetar. "Aku benar-benar pengecut... Aku hanya bisa berteriak di sini sementara aku tidak bisa menjamin keselamatan wanita yang aku cintai."

Jane, dengan pakaian yang sedikit berantakan dan napas yang masih belum stabil, mendekati Julius. Ia memeluk punggung pria itu dari belakang, menyandarkan pipinya di bahu Julius yang lebar namun terasa rapuh saat ini.

"Kau bukan pengecut, Julius," bisik Jane lembut. "Seorang pengecut tidak akan membawaku ke sini. Seorang pengecut tidak akan menciumku di depan api unggun."

Julius berbalik, menarik Jane ke dalam pelukan yang sangat erat, pelukan yang seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Jane akan menguap menjadi asap. Ia mencium kening Jane lama sekali.

"Pergilah bersama Lucia," ucap Julius akhirnya dengan nada yang sangat berat. "Selesaikan malam ini. Besok... lihatlah leherku di kampus. Itu adalah janji bahwa aku tidak akan pernah menjadi milik siapapun selain dirimu."

Lucia menunggu di depan pintu dengan wajah yang sulit diartikan. Ia menatap Jane yang keluar dari kamar dengan bibir yang sedikit bengkak dan wajah kemerahan. Tanpa kata, Lucia merangkul bahu Jane dan membawanya menuju lift.

Di dalam mobil, Lucia akhirnya berbicara setelah keheningan yang panjang.

"Jane, gue tahu lo sayang sama dia. Tapi Julius lagi ada di titik paling bahaya dalam hidupnya. Dia lagi mau menghancurkan dua dinasti sekaligus demi lo. Jadi gue mohon... besok, apapun yang lo liat, tetaplah kuat. Jangan goyah."

Jane mengangguk pelan. Ia menyentuh lehernya sendiri, membayangkan tanda-tanda merah yang ia tinggalkan di leher Julius. Itu bukan sekadar tanda cinta, itu adalah deklarasi perang.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!