Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Gadis itu melirik sengit pria dewasa bermuka dingin yang nampak duduk sambil memainkan ponselnya. Mendadak otak kanannya mempunyai ide cemerlang yang harus dituangkan.
"Aku kerjain kamu, Om. ckckck," batin Wening tersenyum devil.
Sengaja menambahkan gula yang cukup sedikit dan kopi dengan takaran dua kali lipat. Sudah pasti rasanya pahit maksimal, bahkan tak ada manis-manisnya yang terasa sudah pasti ketilep rasa kopi yang lebih dominan.
Diam-diam Wening menyajikan di depan meja dengan langkah pasti. Bahkan, sedikit menyunggingkan senyum paripurna di bawah tatapan mertuanya.
"Kopinya Mas," ujar gadis itu dengan akting paling sempurna.
Seno mengalihkan tatapannya dari layar ponsel, menatap kopi yang tersaji lengkap dengan kepulan asapnya. Kembali melirik istri kecilnya yang saat ini mengulas senyum penuh kepalsuan.
Pria itu menyunggingkan alisnya, lalu tangan kanannya terulur mengambil cangkir dengan isi cairan hitam kecoklatan itu. Menghirup wanginya, meniup sejenak, lalu menyeruput dengan pelan. Pria pecinta cafein itu tidak bereaksi, membuat Wening yang sudah berancang-ancang menerima protesnya menanti tak percaya. Bahkan, ia menghabiskan hingga separonya. Membuat gadis itu nyengir sendiri menelan saliva gugup membayangkan pahit yang melanda indra perasanya.
"Dasar pria aneh!" gumam gadis pecinta rasa manis itu menggeleng tak percaya.
Mengabaikan sejenak apa yang terjadi. Karena merasa tidak ada kegiatan yang berarti berencana membantu kesibukan di dapur.
"Wening!" panggil Bu Yasmin menginterupsi.
"Iya Ma," sahut gadis itu memutar tubuhnya agar menghadap mertuanya.
"Mau ngapain?"
"Hmm, nggak ada Ma, bantuin aja di dapur, kali aja ada yang perlu Wening kerjakan," ujar gadis itu merasa sungkan. Sebenarnya sih capek, tetapi tak enak mau meninggalkan ruangan saat tengah acara ngumpul bersama.
"Nggak usah, ada pembantunya sendiri yang ngerjain, kamu di sini anak Mama, jadi jangan sungkan," ujar Bu Yasmin yang merasa bahagia mendapati mantu yang cantik dan imut itu. Impiannya mempunyai anak perempuan terealisasi juga.
Wening mengangguk canggung, merasa bersyukur ternyata mertuanya lebih baik dari bayangannya. Walaupun mempunyai bojo galak, setidaknya ia mempunyai mertua impian yang begitu lembut dan super ramah. Semoga akan tetap begini, tidak berubah walau keadaannya nanti bukan menantu baru lagi.
"Sini, Sayang, Mama mau bicara," ujar perempuan yang masih terlihat modis diusianya.
Wening mendekat, duduk dengan seksama di samping mertuanya.
"Besok, Wening tetap melanjutkan sekolah, tidak usah terlalu risau dengan status yang ada. Kamu bisa fokus saja belajar, untuk hari pertama akan ada Wahyu yang mengantar. Semuanya biar diurus sama dia, kalau ada apa-apa jangan sungkan membaginya dengan Mama," pesan Bu Yasmin serius.
Gadis itu mengangguk senang, di mana pun tempatnya, asal bisa melanjutkan pendidikannya lagi ia bersyukur tidak putus sekolah lantaran menikah.
Banyak diantara teman sekampungnya yang tidak lulus sekolah lantaran menikah, dan Wening tidak mau menjadi salah satunya.
Setelah mengobrol acara ramah tamah berlanjut di meja makan sembari makan malam. Gadis itu sudah menempati tempat duduk tepat di sebelah pria yang terlihat lebih muda dan begitu mirip dengan si arogan suaminya.
"Arka! Nggak sekalian ajak kakakmu makan malam? Panggil sekalian gih!" titah Bu Yasmin menginterupsi putra keduanya.
Pria itu terlihat lebih sopan, walau terlihat agak dingin, namun ada manis-manisnya mengangguk ramah dengan senyuman.
"Siapa dia? Kenapa saat proses pernikahan kemarin pria itu tak nampak di acara, apakah dia anggota keluarga ini juga."
Wening balas mengangguk ramah lengkap dengan senyumnya.
"Arka, kenalin itu Wening, istri kakakmu." Bu Yasmin memperkenalkan putranya pada menantu barunya.
"Iya Ma," sahut pria itu tersenyum ramah.
"Selamat datang di keluarga kami, semoga betah," ucap pria itu ramah.
Wening menggumamkan terima kasih seraya tersenyum sopan.
Bu Yasmin meminta tolong art-nya untuk menyuruh memanggil Seno di ruang kerja ayahnya. Tak berselang lama kedua pria berbeda generasi itu bergabung di meja makan.
Piring, sendok dan garpu saling bersahut berdentingan menyuarakan suara khas mereka. Menemani keluarga besar Ardiguna yang nampak khusuk bersantap malam. Hingga satu persatu menghabiskan isi piringnya.
"Makan yang banyak Wening, jangan sungkan ambil saja!" ujar Bu Yasmin menginterupsi.
"Iya Ma," jawab gadis itu mencoba bersikap normal walaupun sejujurnya sungkan setengah mati dengan orang-orang baru yang sekarang sudah menjadi aggota keluarga.
"Tidak usah repot membantu, kamu istirahat saja, pasti capek habis perjalanan. Ini semua biar bibik yang beresin," pesan Bu Yasmin menilik menantunya yang super rajin.
"Siap Ma," jawab gadis itu pamit meninggalkan ruangan. Begitupun dengan Seno yang merasa lelah, ia ingin segera beristirahat.
Sesampainya di kamar, Seno nampak melirik sengit istrinya sebelum pergi ke ruang ganti menukar dengan pakaian tidur. Sementara Wening yang sempat diperingatkan Seno untuk tidak menyentuh ranjangnya nampaknya tak mengindahkan. Gadis itu melenggang begitu saja dengan percaya diri menempati ranjang besar milik suaminya yang seakan melambai meminta diisi.