Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya ingin menjadi mama yang baik
Hari ini Freya terkena demam tinggi setelah semalaman ia keluar dengan mama kandungnya, entah apa yang ia makan, tapi begitu pagi, seluruh tubuhnya langsung panas. Helena yang biasa membangunkan Freya juga Kenzo untuk sekolah terkejut karena untuk pertama kalinya ia melihat Freya yang jatuh sakit. Bahkan ketika di cek suhu tubuhnya menggunakan termometer, hampir mencapai 40 C°, Helena yang panik langsung berlari ke bawah dan mengambil baskom serta handuk kecil untuk mengompres Freya.
Kenzo yang saat itu sudah bangun lebih dulu dan mendapatkan kabar jika adiknya sakit, tanpa mengatakan sepatah kata langsung berlari ke kamar adiknya dan menemukan Freya yang wajahnya sangat pucat.
Kenzo yang tidak pernah marah ataupun membentak Helena, mama sambungnya, langsung meledak saat itu juga.
"Kenapa hanya di kompres? Yaya sakit demam setinggi ini harusnya langsung di bawa ke dokter bukannya malah di kompres," bentak Kenzo melihat Helena yang malah mengompres adiknya, padahal suhu tubuhnya sudah sangat panas.
"Maaf, mama sangat panik, jadi yang ada di pikiran mama langsung mengompresnya," lirih Helena menatap Kenzo yang wajahnya sangat memerah karena merah bercampur khawatir dengan keadaan adiknya.
"Minggir!" bentak Kenzo sedikit mendorong tubuh Helena hingga Helena langsung terjatuh karena duduk di pinggiran ranjang.
Kenzo langsung menggendong adiknya dan membawanya ke luar kamar, berteriak memanggil papanya jika Freya harus di bawa ke rumah sakit. Helena pun langsung ikutan berlari mengikuti Kenzo yang sudah lebih dulu sampai di tangga paling bawah.
"Ada apa Kenzo? Kenapa sepagi ini kamu sudah teriak-teriak?"
Farhan yang mendengar suara teriakkan putranya langsung keluar dari dalam kamar dan mengerutkan dahinya melihat Freya yang berada di dalam gendongan Kenzo.
"Papa, Yaya sakit, demam tinggi, sepertinya ia salah makan semalam," beritahu Kenzo tidak santai.
"Salah makan? Memangnya kalian makan apa semalam dengan mama kalian?" tanya Farhan ikut panik dan langsung menyambar kunci mobil serta mengambil alih Freya dari gendongan Kenzo.
Farhan langsung berlari keluar kamar diikuti Kenzo di belakangnya, Helena yang sempat mematung di ujung tangga ikut berlari keluar rumah, bermaksud untuk ikut dengan Kenzo juga suaminya, tapi baru saja ia keluar, suara deruman mobil sudah terdengar menjauh dari pekarangan rumah.
Helena menatap mobil hitam yang sudah jauh itu dengan tatapan nanar, ada rasa sedikit takut, was-was juga kecewa menjadi satu. Rasanya sangat campur aduk, hingga Helena sendiri tidak tahu yang mana yang lebih dominan.
"Apa aku salah?" lirih Helena menghela napas lelah, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
***
Farhan menelpon istrinya dan mengatakan jika Helena bisa pergi ke rumah sakit untuk menjaga Freya, karena dirinya akan ada meeting penting di jam satu siang sedangkan Kenzo harus masuk sekolah karena akan ada latihan untuk acara sekolah esok hari.
Helena menyiapkan semua kebutuhan yang sekiranya akan di butuhkan oleh Freya di rumah sakit, begitu semuanya sudah siap, ia langsung naik taksi yang sudah dipesankan oleh Farhan.
Selama perjalanan dari rumah sampai rumah sakit ternyata tidak membutuhkan sepuluh menit, Helena kira, Farhan akan membawa Freya ke rumah sakit yang lebih wow dari rumah sakit yang kini ada di hadapannya, nyatanya Farhan membawa Freya ke rumah sakit terdekat dari rumah.
Helena masuk ke dalam Lobby dan menanyakan di mana letak kamar rose nomor 52, kamar VIP Freya, begitu sudah mendapatkan petunjuknya, Helena langsung berjalan cepat ke lantai dua, karena Farhan dan Kenzo pasti sudah menunggunya.
"Assalamualaikum," ucap Helena begitu ia membuka pintu. Farhan langsung menjawab dalamnya dan tersenyum kecil kepada istrinya itu.
"Tolong jaga Freya ya, mas harus datang ke kantor karena ada meeting penting hari ini," pesannya seraya mengusap lembut kepala Helena yang kini sudah mulai terbiasa dengan hijab.
"Baik mas, Freya aman dengan aku," balasnya tersenyum manis, meyakinkan suaminya jika Freya akan baik-naik saja dengan dirinya.
"Mas pamit ya, Assalam'alaikum, Ayok Kenzo!"
"Iya, waalaikumsalam, mas ke zo hati-hagi, yaa," ucap Helena melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya ia berbalik dan menatap Freya yang belum terbangun sedari ia ketahuan demam olehnya.
Helena duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Freya lalu menatap anak tirinya lembut. Helena baru sadar jika ternyata untuk menjadi ibu yang baik itu ia masih belum mampu, belum bisa, entah apa lagi yang harus Helena lakukan agar disukai oleh kedua anaknya yang beranjak remaja itu.
Karena semua yang ia lakukan selalu salah di mata keduanya, Helena pikir cukup dengan menikah dengan pria yang ia cintai sudah bisa membuatnya hidup damai dan bahagia dengan berjauhan dengan keluarganya. Namun nyatanya, menikah dengan duda anak tiga malah semakin mendatangkan masalah baru dalam hidupnya.
Helena tidak mengatakan jika rumah tangganya juga anak-anak tirinya adalah sumber masalah untuknya, tapi maksud Helena kedatangan dirinya ke dalam rumah itu malah mendatangkan masalah untuk mereka juga untuk Helena yang masih buta mengurus anak dengan baik juga telaten.
Helena melebarkan matanya ketika Freya akhirnya membuka mata pelan-pelan, perasannya sangat berbunga-bunga melihat putrinya akhirnya membuka mata.
"Freya, apa ada yang sakit?" tanya Helena begitu Freya menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak sukanya.
"Kamu haus, mau minum," dengan gesit, Helena langsung mengambilkan gelas berisi air kepada Freya, tapi di tolak mentah-mentah oleh Freya.
"Aku tidak sudi minum dari gelas bekas dipegang tanganmu," sarkasnya.
Helena tersenyum getir. Apakah seburuk itu dirinya sampai Freya sendiri tidak ingin meminum dari gelas yang sudah di sentuh olehnya.
"Atau mau pakai sedotan? Pakai sedotan saja ya, biar Freya gak perlu bangun dari tidurannya," tawar Helena menulikan pendengarannya, berusaha tidak peduli dengan ucapan-ucapan pedas yang Freya lontarkan kepadanya.
"Dibilang enggak ya enggak, jangan memaksa aku," bentak Freya mendorong gelas itu sampai terjatuh ke lantai dan pecah.
Helena buru-buru merapikan serpihan kaca di lantai tersebut, dan mengumpukannya menjadi satu.
"Pergi dari ruangan aku!" usir Freya menunjuk pintu yang berada di belakang Helena.
"Kalau mama pergi, kamu nanti di sini sama siapa? sepi loh, kamu juga belum sarapan pagi kan? Mau sarapan sekarang?" tanya Helena mengalihkan topik awal.
"Aku tidak akan pernah mau memakan apapun yang sudah kamu sentuh saat di sini," ucap Freya yang dibalas anggukkan kecil oleh Helena.
"KELUAR!" teriak Freya kencang sampai wajahnya memerah, padahal ia masih sakit demam tapi lidahnya masih bisa memaki orang lain.
"Mama hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk kamu, Kenzo juga Nael, Freya," ucap Helena pelan sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Freya, karena Helena tidak ingin Freya nekat bangun dari tempat tidurnya karena ia tak kunjung keluar.