Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Lembah Magma dan Tiga Iblis Lahar
Angin panas yang membawa bau belerang menyengat menerpa wajah Ye Chen.
Dia berdiri di tepi tebing batu merah yang tandus. Di bawahnya, sekitar lima puluh meter ke dasar jurang, mengalir sungai-sungai magma kental yang bergejolak seperti darah bumi yang mendidih. Uap panas membubung tinggi, mendistorsi pandangan dan membuat udara bergetar.
Inilah Lembah Magma. Zona bahaya tingkat menengah yang terletak lima puluh mil di utara Akademi Bintang.
"Tempat yang cocok untuk kuburan," gumam Ye Chen.
Dia meraba dadanya. Liontin pedang hitam itu terasa dingin, kontras dengan suhu udara yang mencapai 60 derajat Celcius.
Ye Chen tidak terburu-buru turun. Dia memejamkan mata, memperluas indra spiritualnya (Soul Perception) yang telah diperkuat oleh energi Makam Pedang.
Di dalam kebisingan suara letupan gelembung magma, telinganya menangkap suara lain.
Detak jantung.
Bukan satu, tapi tiga. Dan detaknya tenang, teratur—tanda seorang pembunuh berpengalaman yang sedang menunggu mangsa.
Mereka bersembunyi di balik bebatuan vulkanik di jalur sempit menuju sarang Ular Sanca Api.
"Tiga orang. Satu di Pemadatan Qi Tingkat 8, dua di Tingkat 6," analisis Ye Chen. "Wang Long benar-benar niat membunuhku. Menyewa pembunuh bayaran tingkat ini pasti menghabiskan ribuan Batu Roh."
Ye Chen membuka matanya. Kilatan merah samar melintas.
Dia melompat turun dari tebing.
Wuuush!
Jubah putih seragam akademinya berkibar. Ye Chen mendarat di sebuah pilar batu yang menonjol di tengah aliran magma.
TAP.
Pendaratannya ringan berkat Sepatu Naga Awan. Namun, begitu kakinya menyentuh batu, dia sengaja membiarkan aura Qi-nya bocor sedikit.
Umpan telah dilempar.
"Sekarang!"
Teriakan serak terdengar dari balik batu besar di sebelah kiri.
Tiga jaring raksasa yang terbuat dari Benang Laba-laba Api melesat dari tiga arah berbeda, mencoba menjerat Ye Chen di atas pilar batu yang sempit itu. Jaring ini tahan api dan sangat lengket. Sekali terjerat, bahkan kultivator Tingkat 9 akan sulit lolos.
Tapi Ye Chen tidak bergerak. Dia bahkan tidak mencoba menghindar.
Dia mencengkeram kalung di lehernya.
"Besar!"
BOOOOM!
Dalam sekejap mata, liontin kecil itu berubah kembali menjadi Pedang Pemecah Gunung sepanjang dua meter.
Ye Chen tidak mengayunkan pedangnya untuk memotong jaring. Dia menancapkan pedang itu ke batu di bawah kakinya dan bersembunyi di balik bilah pedangnya yang lebar.
Sret! Sret! Sret!
Ketiga jaring itu menabrak bilah pedang hitam raksasa itu dan melilitnya.
"Kena kau!"
Tiga sosok melompat keluar dari persembunyian. Mereka mengenakan jubah merah gelap dengan topeng bermotif tengkorak terbakar.
Mereka adalah Trio Iblis Lahar—pembunuh bayaran terkenal yang spesialis beroperasi di lingkungan vulkanik.
"Tarik! Lemparkan dia ke magma!" perintah pemimpin mereka, Iblis Besar, seorang pria botak dengan kulit merah terbakar (Tingkat 8).
Ketiga pembunuh itu menarik jaring mereka serentak, berniat menyeret Ye Chen dan pedangnya jatuh ke sungai lahar.
Namun...
"Hnnggh!"
Wajah mereka memerah. Urat leher mereka menonjol.
Pedang itu tidak bergerak. Ye Chen berdiri santai di balik pedang, satu tangan memegang gagang, kakinya tertanam kokoh seperti paku bumi.
Berat 500 kilogram pedang + berat badan Ye Chen + Teknik Kuda-kuda Besi. Total beban itu hampir satu ton.
"Apa-apaan ini?! Kenapa berat sekali?!" teriak Iblis Ketiga (Tingkat 6).
Ye Chen melongok dari balik pedangnya, tersenyum mengejek.
"Kalian mau main tarik tambang? Baiklah."
Ye Chen tiba-tiba melepaskan cengkeramannya pada gagang pedang, lalu menangkap ketiga tali jaring itu dengan tangan kosong.
Tubuh Guntur Asura: Ledakan Tenaga!
Otot lengan Ye Chen membesar seketika. Listrik biru memercik.
"Kalian yang turun!"
Ye Chen menarik tali itu dengan sentakan brutal.
Ketiga pembunuh yang sedang mengerahkan tenaga untuk menarik ke arah berlawanan, tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat Ye Chen justru menarik mereka.
"Waaaa!"
Iblis Ketiga dan Iblis Kedua terlempar dari tempat pijakan mereka, melayang di udara menuju pilar batu tempat Ye Chen berdiri.
"Lepaskan jaringnya, Bodoh!" teriak Iblis Besar, memotong talinya sendiri dengan belati.
Tapi dua adiknya terlambat.
Mereka melayang ke arah Ye Chen. Dan Ye Chen sudah siap.
Dia mencabut pedang raksasanya (yang masih terlilit jaring) dan mengayunkannya seperti raket pemukul lalat.
WUUUUUNG!
"TIDAK!"
BLARR!
Hantaman itu mengerikan.
Tubuh Iblis Kedua dan Ketiga dihantam oleh permukaan lebar pedang besi hitam itu di udara. Tulang mereka remuk seketika. Mereka terlempar kembali ke arah tebing batu dengan kecepatan peluru meriam.
SPLAT!
Mereka menabrak dinding tebing dan jatuh merosot, meninggalkan jejak darah panjang sebelum tubuh mereka jatuh ke sungai magma di bawahnya.
Cessss...
Tubuh mereka terbakar habis dalam hitungan detik.
Hening.
Hanya suara magma yang meletup-letup.
Iblis Besar berdiri sendirian di atas batu seberang, memegang sisa tali jaring yang putus. Matanya melotot di balik topeng.
Dua adiknya... mati dalam satu tarikan napas?
"K-Kau... Informasi itu salah!" Iblis Besar gemetar. "Wang Long bilang kau hanya murid baru Tingkat 4 yang beruntung! Kekuatan fisik itu... itu setara Tingkat 9!"
Ye Chen perlahan melepaskan sisa jaring yang melilit pedangnya dan membuangnya ke magma.
"Wang Long memang bodoh," kata Ye Chen, berjalan meniti jembatan batu alami menuju Iblis Besar. "Dan kau lebih bodoh karena mempercayainya."
"Jangan remehkan aku!" Iblis Besar meraung. Dia tahu dia tidak bisa lari. Kecepatan Ye Chen tadi terlalu menakutkan.
Dia menepuk dadanya. Tiga jarum merah menusuk jantungnya sendiri.
Teknik Terlarang: Pengorbanan Darah Api!
Aura Iblis Besar melonjak. Kulitnya yang merah kini retak-retak, mengeluarkan api sungguhan. Qi-nya naik mendekati Tingkat 9.
"Aku akan membawamu mati bersamaku!"
Iblis Besar mengangkat kedua tangannya. Magma di bawah jembatan batu mulai bergejolak, merespons panggilan Qi-nya.
Gelombang Tsunami Magma!
Magma panas itu terangkat setinggi lima meter, membentuk ombak raksasa yang siap menggulung Ye Chen dan jembatan batu sempit itu.
Ini adalah teknik bunuh diri. Menghancurkan pijakan berarti mereka berdua akan jatuh.
Ye Chen berhenti melangkah. Dia menatap gelombang magma yang datang.
Panas. Sangat panas.
Tapi di dalam Lautan Kesadaran-nya, Ye Chen melihat sebuah gambaran. Gambaran seorang Dewa Pedang yang membelah lautan dengan sebatang lidi.
"Teknik Pedang Asura Gaya Kedua: Pembelah Langit."
Ye Chen belum menguasai teknik ini sepenuhnya. Dia baru mempelajarinya semalam dari gulungan yang dia curi. Tapi konsep dasarnya sudah ada di kepalanya: Kompresi dan Pelepasan.
Ye Chen mengangkat Pedang Pemecah Gunung vertikal di depan wajahnya.
Dia tidak menggunakan Qi Guntur. Dia tidak menggunakan Qi Darah.
Dia memusatkan seluruh Niat Pedang-nya ke satu garis tipis di mata bilah pedang tumpul itu.
"Kompresi..."
Udara di sekitar pedang Ye Chen terdistorsi. Suara bising magma seolah tersedot ke dalam pedang itu.
Iblis Besar merasakan bahaya yang membuat jiwanya membeku. "Apa yang dia lakukan?!"
Gelombang magma itu jatuh menimpa Ye Chen.
"LEPAS!"
Ye Chen menebas vertikal ke depan.
SHIIIIING!
Tidak ada ledakan. Hanya suara desingan tinggi yang menyakitkan telinga.
Sebuah garis cahaya perak tipis melesat dari pedang Ye Chen. Garis itu memanjang, membesar, dan menabrak gelombang magma.
Zrrrt!
Gelombang magma raksasa itu... terbelah.
Seperti memotong tirai kain dengan gunting tajam. Magma itu terpisah ke kiri dan kanan, melewati tubuh Ye Chen tanpa menyentuhnya sedikitpun.
Dan garis cahaya itu tidak berhenti di situ.
Cahaya itu terus melaju, membelah jembatan batu, dan membelah tubuh Iblis Besar yang berdiri di belakang gelombang itu.
Iblis Besar masih berdiri dengan tangan terangkat. Matanya kosong.
Di dahinya, muncul garis merah tipis yang memanjang ke bawah hingga ke pusar.
"Indah..." bisik Iblis Besar.
Bruk.
Tubuhnya terbelah dua, jatuh ke kiri dan kanan, masuk ke dalam magma.
Ye Chen menurunkan pedangnya. Napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat.
Satu serangan itu menguras 80% Niat Pedang dan Qi-nya.
"Gaya Kedua... Pembelah Langit," Ye Chen menatap pedangnya. "Aku baru bisa mengeluarkan 10% kekuatannya, tapi sudah bisa membelah elemen alam. Mengerikan."
Namun, Ye Chen tidak punya waktu untuk istirahat.
Getaran dari pertarungan tadi dan bau darah yang kuat telah membangunkan penghuni asli lembah ini.
Dari dalam gua di tebing seberang, sepasang mata kuning raksasa dengan pupil vertikal terbuka.
SSSSHHHAAAA!
Seekor ular sanca raksasa sepanjang dua puluh meter, dengan sisik merah menyala seperti batu delima, melata keluar. Panas tubuhnya membuat batu di sekitarnya meleleh.
Ular Sanca Api (Fire Python). Target misi Ye Chen.
Dan dia terlihat sangat marah karena tidur siangnya diganggu.
Ye Chen menelan dua butir Pil Pemulih Qi sekaligus. Dia menyeringai, meskipun tangannya gemetar kelelahan.
"Tamu tak diundang sudah pergi," kata Ye Chen, mengarahkan pedangnya ke ular raksasa itu. "Sekarang, giliran tuan rumah."
Pertarungan kedua dimulai.
(Akhir Bab 34)