NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Jarum jam dinding di ruang tengah Mansion Aditama sudah merangkak naik ke angka sebelas malam.

Rumah mewah itu akhirnya kembali sunyi setelah drama makan malam yang kacau balau tadi. Aroma sisa makanan yang tumpah di lantai sudah berganti dengan aroma pembersih lantai beraroma lemon yang menyengat. Lantai dapur yang tadinya lengket dan penuh pecahan beling kini sudah bersih mengkilap, hasil kerja keras Citra selama satu jam terakhir sambil menahan air mata.

Tubuh Citra rasanya sudah mencapai batasnya. Kakinya gemetar hebat, betisnya kram seolah ditarik-tarik, dan matanya terasa panas serta berat karena menahan kantuk dan sisa tangis.

Gadis itu berjalan tertatih menuju ruang tengah. Ia menghempaskan tubuhnya sejenak di salah satu kursi makan yang keras, menyandarkan kepalanya di meja makan yang dingin. Ia hanya ingin memejamkan mata selama lima menit. Hanya lima menit untuk meluruskan punggungnya yang nyeri sebelum harus naik ke kamar dan tidur meringkuk di sofa sempit itu.

"Ya Allah... capek banget... tulang-tulang rasanya mau lepas..." desisnya pelan, memijat pelipisnya yang berdenyut.

Namun, sepertinya semesta belum mengizinkan Citra untuk bernapas lega barang sejenak.

Suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman, disusul suara pintu utama yang dibuka dengan kasar. Langkah kaki tegas dan berat menggema di lorong masuk, memecah keheningan malam.

Putra Mahesa Aditama pulang.

Pria itu baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis yang alot di luar kota dan langsung menyetir pulang sendiri karena sopirnya sakit. Besok ada rapat pagi di Jakarta, membuatnya harus memacu kendaraan di tengah kemacetan tol. Wajahnya kusut, dasinya sudah terlepas dari kerah, dan jasnya tersampir asal di lengan. Ia lelah, lapar, kepalanya pening, dan suasana hatinya sedang sangat buruk.

Begitu masuk ke ruang makan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Citra yang sedang duduk menelungkupkan kepala di meja makan dengan mata terpejam.

Bagi mata Putra yang sudah dikaburkan oleh kekesalan dan rasa capek, Citra terlihat seperti orang yang sedang bermalas-malasan menikmati fasilitas rumah mewah tanpa melakukan apa-apa.

"Bagus ya," suara dingin Putra memecah keheningan, nadanya penuh sarkasme yang tajam. "Suami pulang kerja banting tulang cari uang, istri malah enak-enakan tidur di meja makan."

Citra terlonjak kaget seolah tersengat listrik. Ia langsung berdiri tegak, jantungnya berpacu cepat. Matanya membelalak panik melihat sosok suaminya yang berdiri menjulang dengan tatapan tajam dan rahang mengeras.

"Mas Putra..." ucap Citra gugup, suaranya tercekat. "Mas sudah pulang? Maaf, saya... saya nggak tidur, Mas. Saya cuma istirahat sebentar..."

Putra mendengus sinis, melempar jas mahalnya ke sandaran kursi dengan kasar. "Istirahat? Dari apa? Bukannya seharian ini kamu cuma di rumah? Apa lelahnya duduk-duduk santai di mansion ber-AC sambil nunggu jatah uang bulanan?"

Dada Citra sesak mendengar tuduhan itu. Ingin rasanya ia berteriak bahwa ia juga bekerja seharian di restoran, berdiri melayani ratusan pelanggan, berdesak-desakan di angkot, lalu pulang ke rumah dan dijadikan pembantu oleh adik-adik iparnya yang manja. Tapi lidahnya kelu. Ia tahu Putra tidak akan percaya dan hanya akan menganggapnya membangkang.

"Saya... saya tadi habis beres-beres dapur, Mas," jawab Citra lirih, menyembunyikan tangannya yang lecet terkena pecahan piring di belakang punggung. "Dapur kotor sekali tadi..."

"Jangan banyak alasan. Saya muak dengar drama kamu," potong Putra kasar, tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Pria itu menarik kursi dan duduk dengan membanting tubuhnya. "Kepala saya sakit. Buatkan saya kopi hitam. Sekarang. Jangan pakai gula. Dan harus cepat. Saya tidak mau menunggu lama. Jangan bikin saya makin emosi."

"Ba-baik, Mas," jawab Citra patuh.

Dengan langkah seribu, Citra kembali berlari ke dapur yang baru saja ia tinggalkan. Padahal kakinya sudah menjerit minta diistirahatkan, tapi ia memaksanya bergerak demi melayani suami yang bahkan tak menghargainya.

Tangan Citra gemetar saat mengambil toples kopi di rak atas. Ia menyalakan dispenser, mengambil cangkir, dan menuangkan air panas. Pikirannya kacau, antara takut dimarahi dan menahan sakit di sekujur tubuh.

Awas tumpah, Cit. Fokus. Jangan sampai salah takaran, batinnya menyemangati diri sendiri.

Namun karena terburu-buru takut Putra berteriak lagi, saat mengaduk kopi, sedikit air panas terciprat mengenai punggung tangan Citra yang tadi sore juga terkena minyak panas di dapur restoran.

"Akh!" pekik Citra tertahan. Kulitnya melepuh merah seketika. Perihnya luar biasa, seperti ditusuk jarum panas.

"Lama sekali!" teriak Putra dari ruang makan, suaranya menggema. "Bikin kopi saja butuh waktu berapa tahun?! Kamu niat melayani suami tidak sih?"

"I-iya, Mas! Sebentar, ini sudah jadi!" sahut Citra panik, menelan rasa sakitnya.

Ia meniup tangannya sekilas, mengabaikan rasa perih yang berdenyut itu, lalu membawa cangkir kopi panas itu dengan nampan ke hadapan Putra. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir itu.

"Silakan, Mas..." Citra meletakkan kopi itu hati-hati di meja.

Putra langsung menyeruputnya sedikit. Panas dan pahit. Sesuai seleranya. Tapi dasarnya sedang ingin melampiaskan amarah, ia tetap mencari celah kesalahan istrinya. Pria itu meletakkan cangkir dengan bunyi keras, lalu menatap Citra dari ujung rambut sampai kaki dengan tatapan menyelidik.

"Kamu lihat penampilan kamu?" kritik Putra pedas, hidungnya sedikit mengernyit seolah mencium bau busuk.

Citra menunduk melihat seragam restorannya yang kusut, bau asap dapur, dan ada sedikit noda saus di ujung baju bekas membersihkan lantai tadi. Ia memang belum sempat mandi karena langsung dikerjai oleh Putri dan Kinan.

"Kenapa, Mas?" tanya Citra polos dan takut.

"Kucel. Bau keringat. Berantakan," hina Putra tanpa perasaan. Kalimatnya meluncur begitu saja, meruntuhkan harga diri Citra. "Kamu ini istri CEO atau gelandangan? Masa menyambut suami pulang kerja penampilannya seperti ini? Bikin sakit mata dan sakit hidung. Apa kamu tidak punya inisiatif untuk mandi dulu sebelum saya pulang?"

Air mata Citra yang sudah kering kembali menggenang di pelupuk mata. Rasa perih di tangannya yang melepuh tak sebanding dengan perih di hatinya.

"Maaf, Mas... Tadi saya belum sempat mandi karena..." Karena adik-adik Mas menyuruh saya masak dan membersihkan pecahan piring seperti pembantu, teriaknya dalam hati. Namun kalimat itu tak sanggup ia keluarkan.

"...karena saya sibuk," akhirnya Citra hanya menjawab singkat, menunduk dalam.

"Sibuk bermalas-malasan maksudmu?" Putra berdiri, menatap Citra dengan sorot mata yang mengintimidasi. "Dengar Citra, saya menikahi kamu bukan untuk melihat kamu jadi pajangan malas yang bau di rumah ini. Kalau bikin kopi saja lambat, penampilan kucel, apa gunanya kamu di sini? Dasar tidak berguna."

"Mas Putra jahat..." cicit Citra tak tahan lagi, satu tetes air mata lolos membasahi pipinya yang kusam.

"Saya tidak jahat. Saya realistis," balas Putra dingin, memalingkan wajah. "Sekarang minggir. Saya mau ke kamar. Jangan ikuti saya atau masuk ke kamar sebelum kamu mandi dan menghilangkan bau apek itu dari tubuh kamu. Saya tidak bisa tidur kalau ada bau sampah."

Putra melangkah pergi menaiki tangga dengan angkuh, meninggalkan Citra yang berdiri mematung di ruang makan yang dingin.

Citra menatap punggung suaminya yang menjauh, lalu beralih menatap tangannya yang melepuh merah. Ia dituduh pemalas, padahal ia bekerja lebih keras dari siapa pun di rumah ini. Ia dituduh bau, padahal ia berkeringat demi melayani keluarga suaminya.

"Sabar, Citra... Sabar..." bisiknya pada diri sendiri sambil terisak pelan, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. "Mungkin besok akan lebih baik. Mungkin suatu hari Mas Putra akan sadar."

Malam itu, Citra menangis lagi di bawah guyuran shower kamar mandi, menyamarkan suara tangis pilunya dengan suara air, agar tidak ada yang tahu betapa hancurnya hati sang menantu yang tak diharapkan itu. Ia menggosok kulitnya kuat-kuat hingga merah, berusaha menghilangkan "bau kemiskinan" yang begitu dibenci suaminya.

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!