Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27-bayangan gelap di tengah pertarungan
Kabut pagi masih menggantung di atas arena Sekte Batu Awan ketika murid-murid tingkat menengah dan tinggi berkumpul untuk ujian ketiga. Udara tebal, dingin, dan tajam—seperti menyadarkan semua yang hadir bahwa hari ini bukan sekadar latihan, tapi ujian nyata bagi mereka yang ingin menanjak ke tingkat atas.
Qing Lin berdiri di pinggir arena, tubuhnya tegak, wajahnya datar. Matanya yang dulu polos kini menatap dunia dengan tatapan dingin—tenang, fokus, dan seolah menimbang setiap langkah yang akan diambil. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, memberikan kekuatan, ketahanan, dan refleks yang lebih tinggi, namun kini ia merasakan sesuatu yang lain: dorongan gelap, seperti bisikan kecil yang mendorongnya untuk menyingkirkan lawan secepat mungkin, tanpa ampun.
“Ini… bagian dari proses,” gumamnya pelan, menarik napas dalam. “Tetap dingin. Tetap terkendali.”
Pertarungan pertama ditugaskan secara acak. Qing Lin dihadapkan pada murid tingkat menengah tinggi, seorang pemuda bernama Shen Qiao, terkenal dengan teknik serangan mematikan menggunakan pedang qi yang berputar cepat. Aura Shen Qiao berputar seperti badai mini, dan setiap serangannya memancarkan tekanan yang hampir bisa memecahkan batu.
Qing Lin menatapnya tanpa mengedip. Ia tidak merasa takut, hanya memperhatikan. Sutra Darah Sunyi merespons, aliran qi di tubuhnya bergerak, memperkuat otot, sendi, dan refleks. Namun kali ini ada sensasi berbeda—dorongan gelap di dalamnya ingin memaksakan kemenangan dengan cara cepat, tanpa ampun.
“Jangan biarkan dorongan itu mengambil alih,” gumamnya pelan. “Tetap dingin. Kontrol.”
Shen Qiao menyerang. Pedangnya melesat seperti angin, setiap pukulan membawa gelombang energi. Qing Lin menggeser kapak kayunya, menghindar, dan menahan serangan dengan gerakan sederhana tapi sempurna. Tidak ada agresi, hanya kontrol total.
Namun dorongan gelap semakin kuat. Qing Lin merasakan keinginan halus untuk menancapkan kapak lebih dalam, memanfaatkan momen untuk mengakhiri pertarungan dengan satu ayunan fatal. Ia menahan napas, menekan perasaan itu, tetap fokus pada kontrol, bukan kekerasan.
Setiap serangan Shen Qiao mengenai hampir tubuhnya, namun Qing Lin tetap stabil, Sutra Darah Sunyi menyerap energi lawan, menyebarkannya ke seluruh tubuh. Mata Qing Lin yang dingin kini menatap setiap gerakan Shen Qiao dengan presisi, menghitung, memperkirakan, menunggu celah yang sempurna.
Akhirnya, kesempatan itu datang. Shen Qiao menyerang dengan kombinasi kompleks, meninggalkan celah kecil di sisi kiri tubuhnya. Qing Lin bergerak, memanfaatkan momentum, menahan pedang lawan, dan menjatuhkan Shen Qiao ke tanah dengan presisi, tanpa melukai secara fatal.
“Dia… dingin, tapi terkontrol,” gumam seorang murid tingkat tinggi yang menonton dari balkon. “Tanpa akar spiritual… tapi kekuatan dan kontrolnya luar biasa.”
Qing Lin berdiri, napasnya teratur, mata tetap dingin. Ia tidak tersenyum, tidak sombong. Kemenangan ini bukan untuk menunjukkan dominasi, tetapi untuk membuktikan dirinya tetap terkendali—meski dorongan gelap dalam dirinya semakin jelas.
Pertarungan kedua lebih berat. Kali ini ia menghadapi dua murid tingkat tinggi secara bersamaan, sebuah ujian strategi dan kecepatan. Kedua lawan itu menyerang bersamaan, kombinasi serangan jarak dekat dan jauh, menguji refleks dan kemampuan adaptasi Qing Lin.
Sutra Darah Sunyi berdenyut di tubuhnya, mengalirkan energi ke setiap otot, menyebar ke seluruh tubuhnya. Qing Lin merasakan dorongan gelap yang sama, lebih kuat dari sebelumnya—ingin mengakhiri lawan secepat mungkin, tanpa memperhatikan risiko. Namun ia menahan diri. Ia harus tetap dingin, tetap mengontrol, dan menggunakan setiap teknik defensif yang telah ia pelajari.
Setiap serangan diarahkan ke titik yang tepat, setiap gerakan disesuaikan dengan momentum lawan. Kapak kayunya memutar, mengalihkan serangan pertama, menahan serangan kedua, dan akhirnya, dengan satu gerakan presisi, ia menjatuhkan kedua lawan tanpa melukai mereka secara serius.
Murid-murid lain terdiam. Mereka menyaksikan Qing Lin berdiri di tengah arena, wajah dingin, tubuhnya bertenaga, tapi tidak ada agresi yang berlebihan. Ia terlihat seperti bayangan, tenang, dan mematikan dalam keheningan.
“Ini… lebih dari sekadar pertahanan,” gumam seorang murid menengah. “Dia menggunakan kekuatan penuh, tapi tidak membunuh… dan tetap dingin.”
Qing Lin menatap lawannya sebentar, kemudian melangkah pergi tanpa sepatah kata. Dorongan gelap Sutra Darah Sunyi masih berdenyut, tapi ia menekannya, mengontrolnya. Ia tahu dunia ini keras, dan jika ia kehilangan kontrol, dorongan itu bisa membawanya ke jalan yang salah.
Malam tiba. Qing Lin kembali ke gubuknya. Bibinya menatapnya khawatir, melihat wajahnya yang dingin dan ekspresi yang jauh dari hangat.
“Lin… kau terlihat berbeda… terlalu dingin,” kata bibinya lirih. “Apakah semuanya baik-baik saja?”
Qing Lin menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. “Aku belajar… bertahan. Dunia tidak menunggu yang lemah.”
Mentor Bayangan muncul di ambang pintu, tersenyum samar. “Qing Lin… kau telah melangkah lebih jauh. Dingin dan terkendali, tapi jangan lupa kemanusiaanmu. Sutra Darah Sunyi memberimu kekuatan besar, tapi gelapnya bisa menelanmu jika kau tidak hati-hati.”
Qing Lin mengangguk lagi. Mata dinginnya menatap langit malam. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, semakin kuat, semakin gelap. Namun ia tetap polos dalam hati—ia masih ingin melindungi, bukan menghancurkan.
“Aku harus dingin… tapi tetap manusiawi,” gumamnya. “Jika aku kehilangan kendali, aku bukan diriku lagi. Tapi jika aku bisa mengendalikan dorongan gelap ini… aku akan lebih kuat dari sebelumnya.”